Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 November 2018

Iqtishaduna


Bismillaahirrahmaanirrahiim..


"The impossible takes just a little bit longer.."
Kemustahilan hanya butuh sedikit lebih lama (untuk berjuang)


Assalaamu'alaykum everyone.. 😃


Udah lama ga posting tentang ekonomi n bisnis nih.. sepertinya ada untungnya guee masuk UII wkwk, jadi paling ga harus tahu fiqh ekonomi sebelum memulai sebuah bisnis again.. Aku suka dengan kutipan Dahlan Iskan tentaaaang "Habiskan semua kegagalanmu di usia muda, sehingga saat tua kau kan berhasil.." Dan aku selalu merasa uwoow dengan sahabat Nabi yang satu ini nih. Ya! Abdurrahman ibn Auf (favorit gue nih) beliau selalu gagal untuk menjadi orang miskin, aneh bin ajaib kan brooo wkwk. Ibaratnya nih ya kalo Abdurrahman ibn Auf membuka sebuah batu, niscaya akan menemukan dirham dibawahnya.. Sehingga ia menjadi orang terakhir yang masuk surga, dari kalangan 10 sahabat yang dijamin surga oleh Allah, dengan merangkak, karena ia harus mempertanggungjawabkan hartanya yaang sangat banyak.. MasyaAllah..

Oh ya.. sebenernya dalam hati gue sangat ganjel masalah ini, karena uang berpotensi merenggut waktu dan pikiran kita dalam masalah ibadah pada Allah.. Menegakkan bisnis yang lurus sekarang ini agak sulit, ya secara yang namanya bisnis itu nantinya akan rawan ini itu.. belum lagi rentan bersenggolan dengan debu riba yang panasnya luar biasa.. tapi, berhubung untuk menegakkan agama juga butuh keperkasaan ekonomi, gue rasa ini bisa jadi hujjah kita di hadapan Allah kelak.. Semoga tidak terpeleset nantinya.. Aamiin



The impossible takes just a little bit longer..
bagus jugaa wkwk 😂



Eh tapi btw, kali ini gue akan berbagi tips bagus nih.. sekalian ntar kalo lupa gimana manage uang lagi. Amannya si tetep pake cara Islam.. Tapi yang pertama adalah  tentang lima prinsip perdagangan sahabat Utsman ibn Affan.. sahabat ini tak hanya terkenal dengan saudagar yang kaya, namun memiliki paras yang rupawan, serta mendapat jaminan 10 orang yang akan masuk surga.. MaasyaAllah..


Tips bisnis Pertama,
Saya langsung yang terjun urusi bisnis ini. Ya, ternyata rahasia bisnis Utsman adalah tidak mewakilkannya kepada orang lain. Beliau langsung yang menanganinya dan mengurusinya. Artinya apa, diawal bisnis memang butuh kita sendiri yang terjun sendiri, tidak dari awal sibuk gaji orang, sehingga ia akan punya banyak keahlian dan pengalaman. Seorang pemimpin ketika nanti ia harus memimpin anak buahnya, ia akan tahu seluk beluknya, tahu gelagat sekecil apapun, karena ia punya pengalaman. Selain punya interaksi dengan banyak orang karena jual beli, kalo dia punya pengalaman, punya interaksi dengan siapapun, dengan pembeli ataupun dengan penjual lain, insyaAllah lebih enak..


Tips bisnis Kedua,
Mengembangkan. Dan saya yang menumbuhkembangkan bisnis ini. Penjelasan para ahli ilmu dari kalimat ini adalah keuntungan yang saya dapatkan, tidak saya nikmati semua. Sebagiannya saya gunakan untuk modal, semakin membesarkan, semakin menumbuhkan, bahkan saya bisa merambah ke dunia yang lain. Jadi keuntungannya tidak dinikmati semuanya. Dan ini menarik, sesuai dengan hadits Rasulullah ketika Nabi menceritakan hadits tentang seseorang yang kebunnya dengan ajaib dihujani oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, sedangkan kebun kanan kirinya tidak dihujani. Kemudian ditanyakan kepada si pemilik kebun.. "Memang apa istimewanya kebun anda?" Ternyataaaa.. setiap ia panen, maka hasilnya dibagi 3.. sepertiga saya nikmati hasilnya termasuk untuk operasional, sepertiga saya kembalikan untuk modal sehingga jadi besar, dan sepertiganya saya shadaqahkan..Ini menarik, disaat yang lainnya tidak dihujani berkah, maka usaha kita akan mendapat keberkahan dari Allah kareeena shadaqah..


Tips bisnis Ketiga,
Tidak pernah meremehkan keuntungan. Apa artinya? ternyataa untung sekecil apapun saya ambil, saya tidak pernah menunggu untung yang besar, persis banget sama Abdurrahmaan ibn Auf.. semoga ayye nanti dapet pebisnis yaa.. aamiin hehe.. Ini jadi syukur saya sekecil apapun.. yaa.. karena untung.. ga ada kata-kata.. "Yaah untungnya dikit.." orang lain rugi, saya untung meskipun kecil, alhamdulillaah. Lihat barokahnya, ini juga menggambarkan berapa seseorang mengambil keuntungan.. kalo secara hukum fiqh, bisa ambil keuntungan tak terbatas, boleh kita lipatkan keuntungan 100%, 200%, boleeh..

Tapi, ada satu kalimat yang Nabi katakan. Nah, sahabat akan berhenti habis itu, inilah kebiasaan para sahabat. Seperti ini harus dilatih.. Rasulullah menyampaikan.. "Allah merahmati seseorang yang lapang saat menjual, dan lapang saat membeli.." maknanya adalah, kalo kita menjual, kan saudaranya membutuhan, saya perlu uang dia, dan dia butuh barang saya, maka Allah akan merahmati seseorang yang menjual dengan mudah (dia tahu, ia sudah mendapat untung meskipun kecil) naaah ini niih ternyata yang bikin berkaaah..


Tips bisnis Keempat,
Saya tidak membeli yang tua. Maknanya adalah kita tidak membeli stok yang lama. Tentu saja, orang yang mencari barang akan mencari yang baru. "Ini gandum kapan nih?" Ternyata Utsman tidak membeli yang lama, ternyata beliau mencari yang baru..


Tips bisnis Kelima,
Dan saya jadikan satu modal, jadi dua modal. Apa artinya? kalo saya letakkan uang saya, umpamanya punya uang 1000 dinar.. maka saya tidak akan letakkan uang saya pada satu bisnis ini, tapi saya akan pecah modalnya menjadi dua. Bisnis A dan bisnis B. Risiko ada, risikonya adalah tidak bisa terlalu menguasai modal di salah satunya, karena harusnya bisa 1000 dinar, jadi 500 dinar saja mungkin.. harusnya saya bisa kuasai saham sekian, ini ga bisa kuasai sekian. Saya jadikan seperti itu. Salah satu penjelasannya adalah jika salah satu rugi, maka yang lainnya tetap untung, bahkan bisa menutup kerugian yang tadi.. seperti ituu ya ternyataa hehe 😁

Alhamdulillaahilladzi bini'matihi tatimmusshalihaat
😂😂






Sabtu, 11 Juni 2016

Fase Tenar Uang Palsu

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Uang merupakan alat penukar yang dapat diterima secara umum. Mengapa kita menggunakan uang? Selain dapat diterima secara umum, uang juga lebih mudah dibawa, dan tahan lama. Untuk mencetak uang, Perum Peruri menggunakan kertas khusus yang harganya tak biasa (baca cukup mahal). Dalam peng-katagori-an uang, tentunya memiliki beberapa syarat yaitu:

1.      Acceptability (dapat diterima)
2.      Durability (tahan lama)
3.      Uniformity (kesamaan kualitas)
4.      Portable (mudah dibawa)
5.      Divisibility (mudah dibagi)
6.      Stability of value (stabil)
7.      Mendapat jaminan pemerintah
8.      Jumlahnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat
9.      Dan, terakhir Scarcity (tidak mudah dipalsukan)

Tapi mengapakah uang mudah dipalsukan? Tentunya dikarenakan kebutuhan yang sangat tinggi. Selain itu oknum-oknum pengedar uang palsu didasari faktor unemployment (pengangguran), inflasi (kenaikan harga barang), spekulasi (keuntungan, untuk dijual belikan), dsb. Uang palsu biasanya “tenar” di bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri seperti sekarang ini, tapi tidak menutup kemungkinan di hari-hari lain. Deputi Gubernur BI Ronald Waas, mengemukakan telah ditemukan 18.000 lembar uang palsu, yang mayoritas beredar di Pulau Jawa. (sumber:Tempo).

Untuk mengelabui korbannya agar tidak kentara salah satunya dilakukan dengan mengoplos uang asli dengan uang palsu di selang-seling. Biasanya di tempat-tempat penukaran uang,  masyarakat tidak mau mengantri, buru-buru, disanalah sasaran empuk oknum pengedar uang palsu. Untuk THR, silaturahim, anak-anak, pemilihan jabatan tertentu, dll

Ada dua kelompok masyarakat pencetak uang palsu:

Kelompok oknum, mereka adalah masyarakat pencetak uang palsu. Kedua adalah kalangan pejabat. Di Amerika latin, untuk membeli senjata, maka bisa menggelontorkan uang yang sangat besar, disana rawan pencucian uang, uang palsu, karena jumlah uang yang beredar sangat sedikit. Namun apabila jumlah uang beredar  sangat besar juga akan menghancurkan sistem perekonomian, apalagi uang itu uang palsu. Security untuk sistem uang palsu ini harus sangat kuat.

Mekanisme hubungan melambungnya jumlah uang beredar (JUB) terhadap kehancuran sistim perekonomian adalah sebagai berikut:

Harga barang akan dipengaruhi oleh perbandingan jumlah uang dan ketersediaan barang. Jika barang yang tersedia lebih besar daripada JUB, maka harga akan cenderung turun. Begitu pula sebaliknya, jika barang yang tersedia lebih sedikit dari JUB, maka harga akan cenderung naik (inflasi).

Lalu bagaimanakah jika suatu Negara terus-menerus mencetak uang? Meski terus mencetak uang, hasilnya Negara itu bukan berarti bertambah kaya, namun malah sebaliknya, inflasi, nilai uang tersebut cenderung semakin merosot. Di Indonesia pernah terjadi kegiatan mencetak uang besar-besaran di jaman Presiden Soekarno karena pajak yang dihasilkan dalam sistem perekonomian  masih sangat minim. Dampaknya adalah terjadi inflasi, kemiskinan, pengangguran, merosotnya pertumbuhan ekonomi, kriminalitas, dll sehingga rakyat menuntut penurunan harga di Tritura (Tri Tuntutan Rakyat).

Pandangan diatas merupakan selayang pandang tentang sistem perekonomian. Kembali ke ulasan utama terkait uang palsu. Uang ini beredar di masyarakat, maka masyarakat dihimbau. Masyarakat harius aware terhadap kasus ini. Namun masyarakat tidak perlu khawatir, lakukan analisa 3D, dengan dilihat, diraba, diterawang untuk mengetahui ke-orisinil-an uang.


Dilihat, kita melihat bentuk fisik uang tersebut. Bagaimanakah warnanya baik, ada tanda air, kertas, dan tali pengaman yang ada di uang tersebut. Diraba, bagaimanakah teksturnya, apakah kasar atau soft? Di gambar pahlawan dan nominal angka biasanya dicetak menonjol. Kita bisa raba-raba disini. Kemudian diterawang dengan bantuan lampu atau sinar matahari, lihatlah bagian tali pengaman dan tanda airnya. Jika dalam kondisi baik, maka diindikasikan uang tersebut adalah uang asli. Semoga bermanfaat..

Minggu, 10 April 2016

Bank Syariah, antara Konsep dengan Realita

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

"Orang orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni mereka, mereka kekal di dalamnya." 
(QS.Al-Baqarah:275)



          Sistem perekonomian tentu tak asing dengan istilah bank. Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana (dalam bentuk tabungan, giro, deposito) kemudian menyalurkannya kembali kepada nasabah (dalam bentuk kredit konsumsi, modal usaha, ataupun investasi). Di Indonesia aturan terkait bank ditentukan oleh Bank Indonesia. Bank Indonesia tak hanya mengatur tentang bank konvensional saja, namun juga bank syariah. Lalu apakah perbedaan keduanya? Mari kita simak ulasan berikut ini..

             Bank syariah adalah bank yang yang beroperasi dengan prinsip syariah, yaitu berlandaskan kepada Al-Qur'an dan hadist. Bank syariah lahir karena diadakannya lokakarya oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) di tahun 1991 karena pelarangan penerapan sistim riba (bunga). Kemudian pada tahun 1992 lahirlah bank syariah pertama di Indonesia yaitu Bank Muamalat. Jargon bank ini seperti sejarah pendiriannya yaitu "pertama, murni, syariah." Pada tahun 1998 terjadilah krisis ekonomi yang mengguncang Indonesia begitu dahsyatnya. Rupiah terpuruk, dollar menggeliat, dana dalam negeri mengalir kuat keluar. Orang berbondong-bondong berinvestasi dollar. Bank dalam negeri mengambil langkah untuk menarik dana investor dengan cara meninggikan bunga tabungan. Akibatnya bunga untuk kredit meninggi drastis. Pengusaha bingung bagaimana cara untuk mengembalikan dana bank dengan bunga yang sangat tinggi tersebut, sementara produktivitas dan daya beli masyarakat menurun drastis. Pengusaha gulung tikar, yang kaya makin kaya, dan yang miskin makin miskin. Banyak bank kolaps karena tidak mampu mengembalikan dana kepada pemilik dana dengan bunga yang sangat mencekik itu. Dari sanalah bank syariah mulai tumbuh dan berkembang.

              Bank syariah memiliki perbedaan mendasar dengan bank pada umumnya (konvensional). Perbedaan mendasar tersebut terletak pada sistemnya. Jika bank konvensional memakai prinsip bunga, maka untuk bank syariah sendiri menerapkan prinsip bagi hasil. Tentunya orang awam masih bingung dengan hal ini. Bukannya sama saja ya? mau bunga atau bagi hasil? itu kan cuma istilah untuk memperhalus bahasa saja, bank kan juga tetap ingin untung.. Memang tidak dapat dipungkiri keduanya beroperasi bertujuan untuk memperoleh profit (laba/keuntungan), namun ada satu hal lain yang menjadi tugas bank syariah selain memperoleh keuntungan tersebut, yaitu untuk dakwah islamiyah yang tidak dimiliki oleh bank konvensional. Di bank syariah juga terdapat istilah mudharabah, musyarakah, murabahah, ijarah, qardh, dll Semuanya memiliki fungsi yang berbeda. 

              Kembali ke prinsip bunga dan bagi hasil ya kawan, maksud dari bunga (bank konvensional) di analogikan begini, misalkan Musa meminjam dana ke bank konvensional untuk modal usaha sebesar 100 juta dengan bunga 10%, maka pengembalian adalah sebesar 100 juta + (10% x 100 juta) = 110 juta. Besarnya rupiah bunga ditentukan dari modal yang dipinjam, tidak mempedulikan berapa penghasilan yang didapat dari 100 juta tersebut, mau untung ataupun rugi bank tidak mau tahu, yang penting pengembaliannya sebesar 110 juta. Hal ini yang tidak diperbolehkan dalam Islam karena adanya unsur kedzaliman.

               Nah kalau di bank syariah perhitungannya seperti ini, misalkan Ibrahim meminjam dana ke bank syariah sebesar 100 juta juga untuk modal usaha. Bank syariah memiliki nisbah yaitu pembagian porsi sebesar 30%(bank):70%(nasabah). Misalkan dari dana tersebut diputar untuk usaha dan menghasilkan pendapatan sebesar 10 juta, maka inilah yang akan dibagi hasil antara nasabah dan bank. Pihak bank mendapatkan porsi 30% x 10 juta = 3 juta, pihak nasabah mendapatkan porsi 70% x 10 juta = 7 juta. Bank syariah mendasarkan perhitungan pada pendapatan yang diperoleh, bukan pada modal yang dipinjam. Jika pendapatan yang didapat tinggi, maka bagi hasil juga akan tinggi, begitu pula sebaliknya. Dalam aturan bamk, jika si mudharib (pengelola dana/peminjam) mengalami kerugian maka yang dibayar hanya sebatas pokok pinjamannya saja. Perhitungan konsep sederhananya seperti itu untuk membedakan bank syariah dan konvensional, namun mungkin pihak bank memiliki perhitungan uang lebih mendetail.

               Perbedaan antara bank syariah dan konvensional tidak hanya itu. Jika di bank konvensional maka ia akan terpengaruh kondisi makroekonomi seperti inflasi. Kondisi inflasi mencerminkan keadaan menurunnya keberhargaan mata uang. Bank akan mengambil suku bunga yang tinggi. Suku bunga yang tinggi akan mempengaruhi kredit nasabah. Teringat pada kondisi pengusaha yang gulung tikar akibat tak bisa mengembalikan dana bank dengan bunga yang sangat mencekik. Begitu memprihatinkan. Keadaan yang dicerminkan bank syariah adalah tergantung pendapatan yang diperoleh, jadi inflasi tidak akan mempengaruhi pembiayaannya.

             Terkait Dewan Syariah Nasional (DSN), jika di bank konvensional DSN ini tidak ditemukan, namun jika di bank syariah akan ada DSN ini yang bertugas untuk memantau sistem operasional bank syariah agar tetap pada alurnya (sesuai dengan Al-Qur'an dan hadist). DSN berada di bawah Majelis Ulama Indonesia (MUI).
       
           Berbicara tentang syariah atau tidaknya bank syariah, maka ada sebagian orang yang masih meragukannya. Prinsip syariah mengutamakan kepercayaan, namun realitanya di lapangan jika hendak mengajikan pembiayaan di bank syariah maka harus ada jaminan (collateral). Hal ini dikarenakan penilaian karakter nasabah yang terkadang mengkhawatirkan. Memakai jaminan saja masih mungkin terjadi pembiayaan macet, apalagi tidak memakai? bank juga tidak mau merugi.

            Dalam perhitungan angsuran mislanya, bank syariah juga membuat daftar angsuran sesuai dengan plafond pembiayaan dengan masa angsuran. Bank syariah juga memakai bentuk persen (%) untuk mempermudah nasabah membandingkan dengan bank konvensional meskipin niat bank syariah tidak untuk memungut bunga. Masih banyak masyarakat awam yang salah persepsi bahwa bank syariah itu sama saja denga bank konvensional, istilahnya saja yang di arab-arabkan.

             Dalam penentuan pendapatan yang diinginkan (saya) juga sempat terganjal dengan perjanjian yang dibuat oleh bank dan nasabah (seolah-olah) ditentukan oleh bank saja. Jika bank ingin pendapatan sekian juta, maka kalau nasabah oke ya terus, kalau tidak oke ya silakan cari yang lain, terkesan memaksa salah satu pihak. Memang ada pilihan untuk cari yang lain, tapi musyawarah akan jauh lebih baik dan terbuka. Ada salah satu alasan dari seorang dosen, jika pendapatan (nisbahnya;tabungan, giro, deposito) ditentukan bank saja itu untuk memudahkan sistem informasi bank menghitung bagi hasil. Nah kalo satu orang dngan yang lain beda-beda kan tugas bank lebih berat.

             Sistem operasional bank syariah di Indonesia memang belum sepenuhnya syariah. Ini menjadi tantangan cendekiawan muslim untuk menyelesaikan permasalahan bank syariah ini agar masyarakat tidak berpikir bank syariah sama dengan bank konvensional. Bank syariah sebetulnya menerapkan bagi hasil yang adil antara kedua belah pihak, adil disini tidak harus sama 50%;50%, boleh seperti itu, boleh 30%;70%, 40%;60%, 20%;80% asalkan keduanya sama-sama ridho dengan nisbah (porsi) yang ditetapkan di awal akad (perjanjian). Sebagai umat Islam sudah seharusnya kita mendakwahkan ekonomi Islam, meskipun belum sempurna.. kalau tidak kita siapa lagi kawan? :) 











Sabtu, 22 Agustus 2015

INDONESIA, KEMBALILAH PADA ISLAM UNTUK BALDATUN THAYYIBATUN

Bismillaahirrahmaanirrahiim..
      Akhir-akhir ini situasi Indonesia terguncang semakin kuat. Berbagai problematika terjadi silih berganti, krisis kepemimpinan, keguncangan perekonomian  ditengah instabilitas politik, ketidakseimbangan pasar, ambruknya rupiah, korupsi, apatis pada negara, dan masih banyak lagi. Sebenarnya apakah yang menyebabkan ini semua terjadi? Bukankah keinginan Indonesia adalah menjadi negeri yang baldatun thayyibatun seperti konsep Islam? Ya, memang Indonesia bukan negara Islam. Itu yang selalu digaungkan ketika terjadi problematika bangsa ini yang yang lebih memperhatikan kesatuan dan kesatuan banga. Itu tidak salah. Tapi, ingatlah wahai Indonesia, sekarang ini belum ada pemecahan untuk mengatasi masalah negara yang sangat krusial. Kiblatmu bukan Islam, tapi Amerika Serikat, dan negara-negara maju lainnya. Hal ini akan menyebabkan kemudharatan pada Indonesia sendiri seperti inflasi, pembengkakan utang negara, kemiskinan, ketidakadilan, karena kau menerapkan prinsip bunga yang jelas-jelas dilarang dalam Islam. Jika kau mempertahankan egomu untuk tetap tidak memilih sistim Islam, selamanya negara ini tidak akan mencapai baldatun thayyibatun seperti yang kau inginkan.
      Islam adalah agama yang sempurna. Allah memberikan pegangan hidup untuk kita berupa Al-Qur'an dan Al-Hadist. Pemecahan semua permasalahan di dunia ini ada di dalamnya. Cocok sekali untuk Indonesia dan seluruh negara di dunia. Dalam Islam menjadi muslim yang kaya (memiliki kemampuan finansial) itu sangat dianjurkan. Kita lihat saja sahabat nabi seperti Abu-Bakar, Umar, Utsman, semua adalah saudagar kaya.  Nabi kita juga merupakan orang yang mampu, dapat tercermin dari mahar Rasulullah yang diberikan pada Ummul Mu'minin Khadijah binti Khuwailid adalah berupa 20 ekor unta ditambah 12,5 ukiyah ons emas. Jika dikonversi dalam mata uang rupiah saat ini jumlahnya hampir Rp 500 juta.


      Indonesia perlu melakukan revolusi mental seperti yang sering digaungkan oleh Bapak Joko Widodo (presiden RI). Indonesia terlalu menelan mitos yang di-cap oleh negara lain. Misal, Indonesia selamanya tak akan maju, Indonesia selamanya menjadi negara agraris, 'Indonesia ini, Indonesia itu'. Jika mental itu tidak dirubah, Indonesia akan sulit untuk menjadi bangsa yang merdeka yang sesungguhnya. Bukan tidak membutuhkan negara lain dalam hidupnya, tapi kita perlu mengurangi ketergantungan kita pada negara lain sedikit demi sedikit. Tanamkanlah keyakinan dalam hati, Indonesia pasti bisa. Ditengah kekayaam alam, kelimpahan sumber daya manusia, didukung kemauan yang kuat, negara baldatun thayyibatun in syaa Allah akan menunggu di depan mata.
      Revolusi mental yang baik akan menciptakan psikologis kenegaraan yang baik pula. Namun saat ini keadaan psikologis kenegaraan Indonesia tengah goncang. Kita dapat melihat tandanya yaitu tak menyukai pemakaian produk dalam negeri, sindrom selebritis yang lebih condong peduli keranah keartisan dibanding permasalahan negara, dan yang paling menyeramkan adalah mistifikasi bangsa. Mistifikasi adalah masalah negara kita yang  menelan mentah-mentah mitos ketidakmampuan negara yang sebenarnya bisa teratasi. Ini merupakan konsep yang salah.
       Pada masa pemerintahan Nabi Yusuf di Mesir juga pernah dilanda krisis kepemimpinan bangsa, krisis ekonomi, krisis kepedulian, instabilitas politik. Hampir sama seperti keadaan Indonesia sekarang. Pertama yang dilakukan Nabi Yusuf adalah merubah konsep/pola berpikir. Mesir kembali menata kepemimpinannya, menegakkan keadilan, memberantas korupsi, memulai usaha, dan penghematan. Mesir pada masa yang akan datang akan mengalami krisis pangan, maka Nabi Yusuf yang kala itu menjadi bendahara negara (kalau di Indonesia Bappenas, Bulog) memerintahkan untuk melakukan produksi pangan selama tujuh tahun berturut-turut, tidak mengambil impor. Nah, ketika produktivitas mereka mengalami keuntungan maka akan ditambahkan ke modal negara untuk dijadikan modal produktivitas kembali. Bukankah itu semua cocok jika diterapkan di Indonesia? Menata ulang pemerintahan (memakai sistim Islam), revolusi pemikiran, memberantas kedzaliman, korupsi, menegakkan keadilan, mengurangi ketergantungan Indonesia pada negara lain (mengurangi dan bahkan mandiri dari impor), bukan tidak mungkin Indonesia akan damai dan makmur. Memang tidak gampang, perlu penanaman nilai agama ke saluruh lini masyarakat.
      Pada masa hijrah Rasul juga mengalami ketidakstabilan ekonomi. Orang-orang yang mengikuti nabi dari Mekkah ke Madinah mengalami ketidakstabilan ekonomi, penuh dengan ujian. Mereka juga melakukan perubahan yaitu dengan memulai bisnis di Madinah, sedikit demi sedikit mereka mampu mencapai kebebasan finansial. Selama ada kemauan, di situ pasti terdapat jalan. Nabi Muhammad memulai berdagang (berwirausaha) dengan pamannya (Abu Thalib) sejak usia 12 tahun. Jiwa kewirausahaan telah ditumbuhkan sejak dini hingga usia beliau mencapai kira-kira 27 tahun. Dari usia 27 tahun sampai menjelang 40 tahun merupakan perjalanan spiritual nabi. Pada usia 40 tahun sampai 63 tahun merupakan usia nabi untuk mendakwahkan ajaran Allah diseluruh muka bumi. 
       Islam juga mengajarkan umatnya untuk berbagi dengan mukmin lainnya. Jika seorang mukmin telah memiliki kemampuan finansial, maka ia wajib mengeluarkan zakat. Dalam Islam tidak ada istilah yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin (kedzaliman), namun yang ada adalah keadilan yang menciptakan kesejahteraan. Dari zakat yang terkumpul tersebut, disalurkan kepada pihak yang membutuhkannya (delapan asnaf) menjadi zakat konsumtif dan zakat produktif. Zakat konsumtif digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti pemenuhan pangan. Sedangkan zakat produktif merupakan zakat yang diberikan untuk memulai suatu usaha, sehingga tidak langsung habis. Jika usaha yang dilaksanakan berhasil, ia akan mampu dalam segi finansial, maka ia tak akan menjadi mustahiq zakat lagi, tapi sudah menjadi seorang muzakki yang siap menolong saudaranya. Konsep Islam begitu hebat, handal, sistematis, dengan tidak meninggalkan kepedulian terhadap orang lain di sekitarnya. Wallahu a'lam..

Jumat, 14 Agustus 2015

PELEMAHAN EKONOMI, SIAPKAH INDONESIA SONGSONG MEA?

Bismillaahirrahmaanirrahiim..
       Suatu negara tentunya memiliki kewibawaan masing-masing, konomi menjadi salah satu tolak ukur kewibawaan negara tersebut. Seperti yang kita tahu, Indonesia dalam beberapa waktu terakhir ini mengalami penurunan kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi terkesan masih lesu, harga-harga barang yang tidak stabil, daya beli masyarakat rendah, kinerja pasar modal tidak stabil, rupiah melemah, ketidakseimbangan neraca pembayaran, dan lain sebagainya. Pelambatan ekonomi Indonesia dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi Amerika Serikat dengan kebijakan moneternya disertai perbaikan keadaan ekonomi negara-negara Eropa. 
       Kita dapat mengambil contoh masalah pelemahan rupiah akibat perbaikan ekonomi negara maju seperti Amerika Serikat. Jika keadaan ini terus berlanjut, maka hutang luar negeri Indonesia akan terus membengkak yang mengakibatkan defisit pada neraca pembayaran. Ditambah lagi dengan devaluasi mata uang Yuan beberapa waktu lalu yang dilakukan oleh pemerintah China untuk meredam situasi ekonomi yang sulit untuk terus menggenjot ekspor China. Dilansir dari http://swa.co.id/business-strategy diperlukan evaluasi APBN  karena penggunaan APBN tidak mendukung sektor-sektor yang menyangkut hidup orang banyak ungkap. Selain itu, perjanjian multilateral harus dikaji ulang karena dinilai tidak berpihak pada kepentingan Indonesia. Indonesia hanya berperan sebagai fasilitator perdagangan bebas antar negara. Namun, tidak berpihak kepada kedaulatan Indonesia sendiri.
      Menurunnya perekonomian juga dipengaruhi ekspor Indonesia dan anjloknya konsumsi domestik. Seperti kita tahu, China rela men-devaluasi mata uangnya demi menggenjot pertumbuhan ekonomi dengan mempertahankan ekspornya.  Hal ini menyebabkan ambruknya nilai tukar rupiah karena adanya hubungan bisnis yang cukup kuat antara Indonesia dan China. Rupiah melemah menjadi Rp13.541 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp13.536 per dolar AS. (Antara)
     Fokus pemerintah Indonesia saat ini adalah perbaikan infrastruktur. Namun apakah ada yang salah? sebenarnya tidak, hal itu sah-sah saja karena visi dan misi yang diusung oleh setiap presiden tentunya berbeda-beda. Jika dinilai dengan keadaan Indonesia yang rasio pajaknya  kecil, yaitu sekitar 11 % dari PDB tentunya ini akan berdampak berat jika Indonesia terus-menerus menggenjot perbaikan infrastruktur. Infrastruktur merupakan hal penting untuk menunjang keberhasilan ekonomi suatu negara, namun karena dana APBN yang tersedia jumlahnya terbatas, maka pemerintah harus memilih skala prioritas yang mana yang harus didahulukan.


      Melihat masalah ekonomi diatas, ditambah dengan situasi politik yang kurang stabil akibat adanya perubahan susunan kabinet beberapa waktu lalu menambah sederet masalah yang dapat menurunkan kewibawaan pemerintah Indonesia. Sedangkan akhir tahun 2015 ini Indonesia harus siap dengan tantangan baru yaitu menyongsong era baru Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dengan keadaan yang masih belum stabil. Pada tanggal 7-11 Agustus lalu diadakan International Symposium di Singapura. Ahmad Almaududy Amri demisoner Koordinator Persatuan Pelajar Indonesia Dunia (PPI Dunia) periode 2014-2015 menjelaskan, untuk dapat bersaing dengan Negara ASEAN lainnya, Indonesia perlu memperbaiki tata kelola pemerintahan. Deklarasi ini dibagi dalam empat bagian, di antara fokus yang disepakati ialah bidang kewirausahaan, diaspora, kepemudaan, dan pendidikan.
        Butir kewirausahaan menjadi butir pertama dalam deklarasi ini yang menekankan kepada upaya pemerintah untuk fokus membenahi prosedur perizinan dalam mendirikan usaha di Indonesia yang selama ini terkesan mempersulit pebisnis, sehingga memakan waktu yang jauh lebih lama dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. Butir ke dua dalam deklarasi Singapura terkait Diaspora, pemerintah perlu lebih mendayagunakan sumber daya manusia dari Diaspora Indonesia sebagai motor penggerak kehidupan bangsa Indonesia. Butir ke tiga membahas persoalan pendidikan, PPI Dunia meminta agar pemerintah dapat menyusun dan menerapkan kurikulum berstandar internasional dengan tujuan menghasilkan lulusan yang berkompeten dan mampu berkompetisi di tingkat ASEAN.

Sumber :
http://ppidunia.org/?p=656
http://swa.co.id/business-strategy/tahun-2014-ekonomi-indonesia-dinilai-terus-memburuk
http://www.eramuslim.com/berita/analisa/australia-ekonomi-indonesia-akan-terus-memburuk.htm









Minggu, 24 Mei 2015

KEBIJAKAN FISKAL, BEDA NEGARA BEDA SOLUSI

Bismillaahirrahmaanirrahiim
       Salah satu solusi dalam mengatasi permasalahan makroekonomi suatu negara adalah dengan kebijakan fiskal. Kebijakan fiskal adalah kebijakan pemerintah dalam bidang pengeluaran dan pendapatannya dengan tujuan untuk menciptakan tingkat kesempatan kerja yang tinggi tanpa inflasi. Artinya, didalam bidang pengeluaran dapat diupayakan dengan penambahan atau pengurangan belanja agregat untuk sektor pemerintah (government) yang merangsang perekonomian negara, serta pengalokasian pendapatan pajak (tax) untuk sektor-sektor yang berkembang.

        Dalam kebijakan fiskal ada dua cara. Pertama, untuk mengatasi inflasi adalah dengan menaikkan pajak (tax), dengan demikian pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposable income) akan menurun, sehingga tingkat konsumsi juga menurun. Cara kedua untuk mengatasi inflasi yaitu dengan menurunkan belanja pemerintah, sehingga anggaran belanja pemerintah naik. Hal tersebut mengakibatkan pengeluaran masyarakat menurun, sehingga inflasi dapat teratasi. Nah, apabila yang terjadi adalah deflasi, maka hal yang dilakukan adalah sebaliknya dari sisi pajak dan pengeluaran pemerintahnya.
      Permasalahan makroekonomi yang tidak dapat disepelekan adalah pengangguran (unemployment). Di negara berkembang, permasalahan ini sulit diatasi. Pengangguran tidak dapat diselesaikan dengan menurunkan pajak dan menaikkan belanja pemerintah. Negara berkembang cenderung memiliki tenaga kerja yang berlebih sedangkan modalnya terbatas. Oleh karena itu, jika belanja pemerintah dinaikkan, termasuk penanaman modal, konsumsi rumah tangga, maka hal tersebut malah akan menimbulkan inflasi.
       Mengatasi inflasi, beda negara beda solusi. Jika di negara maju inflasi disebabkan karena full employment, sedangkan di negara berkembang inflasi disebabkan karena pengangguran luas, pajak cenderung rendah, sehingga gairah industri menjadi rendah, tanam modal rendah, dan akhirnya pengangguran akan meningkat. Kalaupun menerapkan pajak tak langsung, maka hal itu akan menaikkan harga barang, akhirnya menimbulkan inflasi juga. Kebijakan fiskal di negara berkembang dengan cara menyeimbangkan pengeluaran pemerintah, dengan demikian akan mengurangi spend berlebih. Hal tersebut akan mengurangi inflasi. Untuk mempengaruhi corak sumber daya, belanja pemerintah ditempatkan disuatu sektor yang dianggap menguntungkan. Galakkan tanam modal di sektor tersebut, namun pajak juga harus diatur besarnya agar tidak menurunkan gairah industri di sektor tersebut.
       Terakhir dengan memberikan perangsang fiskal. Misalkan dengan memberikan pinjaman modal yang bersyarat ringan, pembebasan sementara untuk membayar pajak, mempercepat depresiasi barang-barang modal, mengurangi pajak impor barang modal dan barang mentah yang digunakan. Akhirnya kebijakan fiskal dapat digunakan untuk menaikkan tanam modal, meninggikan pajak disektor-sektor tertentu asalkan tidak menurunkan perangsang untuk menaikkan produksi.
      

Kamis, 18 Desember 2014

BISNIS, SOLUSI PENYELAMAT PEREKONOMIAN INDONESIA

Bismillaahirrahmaanirrahiim
        Bisnis merupakan penopang utama perekonomian Indonesia. Sayangnya, peminat bisnis di Indonesia masih sangat minim yaitu sekitar 1,56 % penduduk Indonesia, padahal angka normal pengusaha di negara kita setidaknya 2,00 %. Salah satu penyebab minimnya angka pengusaha di Indonesia adalah mindset penduduknya tidak mau mengambil risiko dari sebuah usaha. Masih banyak perguruan tinggi yang ingin mencetak para lulusannya untuk menjadi pekerja kantoran. Memang tidak mengapa, itu sebuah pilihan masing-masing individu. Namun tak ada salahnya jika seorang pegawai juga memiliki sebuah usaha. Tentunya akan semakin memiliki manfaat bagi orang lain bukan?

        Bisnis bukan barang instan, diperlukan "penataan mental" untuk memulai sebuah bisnis. Seseorang yang terlahir dari keluarga seorang pengusaha/pedagang, sebagian besar akan memiliki mindset ingin menjadi seorang pengusaha. Menjadi pengusaha adalah hal mulia karena nabi besar kita Muhammad Sallallahu'alaihi Wasallaam juga mengajarkan kepada umatnya untuk menjadi insan yang mampu secara finansial dengan menjadi seorang pengusaha. Dengan menjadi seorang pengusaha maka akan menjadikan diri kita sepenuhnya menggantungkan rizki hanya kepada Allah Subhanahuwata'ala, bukan kepada manusia.
        Perguruan tinggi sangat berperan untuk "menggenjot" perekonomian negara kita, Indonesia. Beberapa perguruan tinggi telah menjadikan mata kuliah kewirausahaan menjadi mata kuliah wajib. Mata kuliah tersebut mengharuskan mahasiswa/mahasiswinya untuk membuat sebuah business plan yang harus direalisasikan  baik dibuat secara individu maupun kelompok. Hal ini disebabkan karena jika saat mahasiswa/mahasiswi tersebut telah lulus maka akan meminimalisir terjadinya pengangguran yang menjadi beban negara. Perguruan tinggi memiliki fungsi yang strategis disamping peran peningkatan prestasi akademik.
          Selain perguruan tinggi, peran pemerintah sangat dibutuhkan disini. Didalam UUD 1945 pasal 31 berkaitan tentang pendidikan, dana APBN yang digelontorkan dalam peningkatan pendidikan adalah sebesar 20% dari total APBN, angka yang fantastis. Pemerintah telah mengadakan suatu program khusus untuk mahasiswa dalam peningkatan kemampuan untuk berbisnis/berwirausaha. Selain pemberian dana, pemerintah sebaiknya juga melakukan pengawasan yang lebih intensif untuk menjaga keberlangsungan usaha, meskipun saat ini juga sudah dilakukan. Pemerintah sebagai regulator juga diharapkan dapat memberikan peran penting untuk mendukung situasi bisnis, khususnya bagi mahasiswa.
         Mahasiswa merupakan agen perubahan (agent of change) didalam masyarakat. Mahasiswa memiliki tingkat intelektual yang lebih baik, sehingga ilmu yang diperoleh dari bangku perkuliahan diharapkan dapat diaplikasikan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Perguruan tinggi yang telah membekali mahasiswanya dengan kewirausahaan, berarti telah menyiapkan lulusannya untuk dapat bertahan (eksis) walaupun lapangaan pekerjaan yang sedikit. Disinilah ketahanan mahasiswa diuji, bagaimana ia mempertahankan hidup setidaknya untuk dirinya sendiri, bahkan lebih baik lagi apabila dapat memberikan manfaat bagi masyarakat disekitarnya dengan penyerapan tenaga kerja dari pendirian sebuah usaha baru tersebut.
        Perguruan tinggi memiliki berbagai macam jurusan yang dapat dijadikan peluang bisnis. Misalkan saja jurusan teknik mesin, disana mahasiswa diharapkan dapat menciptakan inovasi dari mesin yang berguna bagi masyarakat. Salah satu produk teknik mesin adalah mesin pengolah sampah organik. Mesin tersebut dapat menghasilkan pupuk yang berguna bagi tanaman. Pupuk akan menjadi barang ekonomis yang dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah. Selain teknik mesin, jurusan yang tak kalah menarik adalah teknik kimia ataupun farmasi. Banyak penelitian-penelitian yang dilakukan, kemudian menciptakan produk pangan, kosmetik, ataupun obat-obatan yang dapat berguna bagi masyarakat. Hal itupun dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah pula.
           Indonesia masih mengalami keterbelakangan teknologi dibandingkan negara lain. Salah satu fungsi produksi yaitu dipengaruhi kemajuan teknologinya. Dengan teknologi mutakhir maka produk yang dihasilkan akan semakin tinggi, dan tingkat efektif dan efisiennya akan semakin besar. Hal tersebut akan mempengaruhi besarnya profit yang dihasilkan dari sebuah perusahaan. Perusahaan yang telah maju karena kemajuan teknologinya maka akan menjadi go public, perusahaan yang telah go public hendaknya menyisihkan sebagian profit yang didapat dari usahanya untuk Corporate Social Responsibility (CSR) yang akan dialokasikan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dibidang pendidikan, kesehatan, dan lainya.
          

Rabu, 15 Oktober 2014

KRISIS PANGAN DITENGAH PEMBANGUNAN INDUSTRI INDONESIA

Oleh : Ika Devi Silviana
      
     Pangan merupakan kebutuhan pokok manusia. Pangan tentunya dihasilkan dari sektor pertanian yang handal dan memerlukan pembaruan teknologi untuk produksi tanaman pangan yang berkualitas unggul. Indonesia beberapa puluh tahun yang lalu pernah menyandang julukan "Macan Asia" karena berhasil swasembada beras untuk kebutuhan pangan dalam negerinya sendiri. Pertanian yang berhasil memerlukan beberapa jenis faktor produksi yang mendukung satu sama lain. Dengan demikian ketahanan pangan untuk Indonesia akan tercapai dengan baik.
      Pertama, faktor yang diperlukan untuk swasembada pangan adalah sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang ahli akan menciptakan hasil yang maksimal pula. Kita dapat mempelajari sejarah pada masa lalu, Indonesia pernah menerapkan "Zaken Kabinet", yaitu kabinet yang ahli dibidangnya masing-masing. Dalam konteks ini tentunya ahli pertanian hendaknya ikut serta membangun pertanian yang handal dan mandiri untuk Indonesia. Tapi senyatanya minat lulusan pertanian dari berbagai universitas di negeri ini belum memiliki minat yang besar untuk mengembangkan pertanian. Hal ini menjadi penghambat untuk memajukan pertanian Indonesia.
      Kedua, faktor yang diperlukan untuk swasembada pangan adalah lahan pertanian. Namun dapat kita lihat di daerah Yogyakarta yang merupakan kota pelajar, tempat dimana ratusan universitas, akademi, sekolah tinggi berdiri, menjadikan lahan pertanian untuk kawasan ini akan semakin sempit. Ditambah lagi dengan pendirian berbagai macam mall yang "menyerobot" lahan pertanian kini kian pesat. Pemerintah telah mengatur plot daerah Yogyakarta untuk berbagai macam kepentingan. Misalkan daerah sebelah utara Yogyakarta digunakan untuk lahan pendidikan, yaitu dimana universitas-universitas besar berdiri, daerah sebelah timur Yogyakarta yang merupakan daerah tandus dikhususkan untuk lahan industri/usaha, daerah sebelah barat Yogyakarta sudah dikhususkan untuk produksi pangan. Namun apakah yang kini terjadi? Daerah barat yang seharusnya menjadi tempat produksi tanaman pangan lama kelamaan "kebobolan" digunakan untuk pembangunan industri mall. Faktor yang berpangaruh signifikan ini sudah tergadaikan, disinilah peran pemerintah untuk memainkan fungsi regulasinya.
     Ketiga, faktor yang diperlukan untuk swasembada pangan adalah modal kerja/kapital. Para petani merasa kesulitan jika mereka mengajukan pembiayaan modal usaha di bank, meskipun itu bank pemerintah sekalipun. Pihak bank akan berpikir dua kali untuk memberikan pinjaman, mereka akan cenderung berpikir uang yang mereka himpun akan lebih sedikit keuntungannya jika diberikan diberikan kepada mereka. Pihak bank tentunya juga akan memikirkan prinsip kelayakan pemberian pembiayaan modal usaha melalui prinsip 5C (Character, Capital, Capacity, Colateral, Condition). Para petani kebanyakan berasal dari kalangan menengah kebawah, sehingga dalam memperoleh modal relatif lebih sulit.
     Keempat, faktor yang diperlukan untuk swasembada pangan adalah kemajuan teknologi. Disinilah peran lulusan teknik untuk menciptakan teknologi mutakhir untuk pengembangan produksi pertanian. Apabila anak bangsa berhasil menciptakan teknologi yang handal, maka kuantitas produk pertanian yang dihasilkan akan semakin berlimpah pula. Namun masih terdapat masalah pada teknologi ini karena masalah pendidikan. Pendidikan yang ada di Indonesia belum fokus ke teknologi. Banyak universitas di Indonesia masih belum terbagi fokus penelitiannya kepada satu hal. Kebanyakan masih bersifat umum. Misalkan di negara maju seperti Belanda, mereka mempunyai sebuah universitas yang fokus meneliti tentang bunga tulip. Memang terlihat sepele, namun bunga tulip malah menjadikan Belanda menjadi ikon bunga cantik tersebut. Faktor-faktor diatas menjadikan terhambatnya perkembangan pertanian di Indonesia.
      Pertumbuhan penduduk di Indonesia sangatlah pesat. Diprediksikan sekitar tahun 2040, Indonesia akan mengalami krisis pangan. Apabila pertanian terus diabaikan, bukan tidak mungkin Indonesia akan mengalami musibah besar itu. Kekurangan pangan akan menjadikan Indonesia terus mengimpor kebutuhan primer untuk rakyat itu. Sebenarnya Indonesia memiliki potensi untuk menghasilkan tanaman pangan sendiri, tapi belum dapat mengelola dengan baik. 
      Ditengah pahitnya sektor pertanian Indonesia, sektor industri di negara ini kian melaju pesat. dapat kita lihat pertumbuhan mall-mall di kota-kota besar yang kian "bejibun" jumlahnya. Industri memang penyumbang besar bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Namun kita jangan lantas menutup mata, acuh dan tak acuh dengan pertanian Indonesia. Ratusan juta penduduk setiap harinya membutuhkan pangan dalam jumlah yang sangat besar. Hal itu bertolak belakang dengan ketersediaan lahan-lahan pertanian yang kian hari kian menyusut. Ditambah lagi dengan kualitas sumber daya manusia, modal kerja, dan teknologinya yang masih kurang mendukung. Bagaimanakah dengan keberadaan bangsa Indonesia dimasa mendatang?
       Indonesia In Syaa Allah tidak akan mengalami krisis pangan jika pribadinya sadar melakukan perubahan. Sumber daya manusia yang ahli hendaknya mereka memang terjun menerapkan ilmunya untuk kemaslahatan masyarakat. Ketersediaan modal usaha memerlukan bantuan serta kerjasama antara pemerintah dan lembaga keuangan untuk lebih pro kepada masyarakat menengah kebawah, khususnya para petani. Teknologi juga memegang peranan penting, karena tanpa teknologi kualitas dan kuantitas produk yang akan dihasilkan akan kalah saing dengan negara lain. Keterbelakangan teknologi dapat diatasi dengan peran pendidikan. Apabila hal diatas dapat terwujud, maka bukan tidak mungkin Indonesia akan terbebas dari krisis pangan, namun negeri ini akan memiliki peran kuat didunia ditahun 2040 nanti.

Selasa, 14 Oktober 2014

SATRIA PININGIT DAN REALITA

Oleh : Ika Devi Silviana

    Indonesia adalah negara pluralis yang memiliki keanekaragaman yang terdiri dari berbagai macam budaya, suku, etnis, ras, agama, dll. Tentunya disetiap keanekaragaman tersebut mereka memiliki adat, nilai, kebiasaan yang berbeda-beda pula. Adat, nilai, kebiasaan yang mereka pegang dengan kokohnya tersebut merupakan warisan nenek moyang mereka sejak bertahun-tahun yang lalu. Hal itu menjadikan doktrin bagi mereka dalam hidup dan berkehidupan. Disinilah peran nilai untuk masyarakat, apakah mereka dapat lebih maju atau bahkan terkungkung dalam nilai-nilai yang mereka yakini itu.
     Tidak semua nilai yang kita yakini itu buruk. Namun dengan nilai itu pula hendaknya kita tidak pasrah dengan takdir, kita harus tetap melihat realita yang ada. Sekarang Indonesia tengah menghadapi persaingan global yang begitu ketat, jika kita masih meyakini adanya "Satria Piningit" yang akan menyelamatkan Indonesia tanpa melakukan usaha akan sia-sia saja. Indonesia perlu melakukan pembenahan mental untuk berpikir maju dan realistis. Sebagai manusia yang dikaruniai akal dan pikiran hendaknya kita secara cerdas menggunakan nilai-nilai yang kita yakini itu untuk meraih kehidupan gemilang dimasa depan.
   Ada keterkaitan nasib dengan usaha. Didalam Q.S.Ar-Ra'du ayat 11 Allah berfirman "...Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri." Al-Qur'an menunjukkan keempirisan hubungan sebab akibat keduanya sejak ribuan tahun yang lalu. Dengan usaha yang maksimal serta diiringi do'a maka Allah akan memberikan hasilnya. Kita dapat mengaplikasikan firman Allah ini untuk mengatasi permasalahan yang tengah mendera Indonesia sekarang.
      Indonesia tengah terjadi krisis mental. Hal ini dapat menghambat laju pembangunan di Indonesia karena mentalitas rakyatnya sendiri. Selama ia masih terdoktrin dengan adat, mitos, maka mereka akan sulit untuk menerima perubahan zaman yang telah memasuki era modernisasi ini. Adat yang berkembang dimasyarakat tersebut tidak dapat dihilangkan dengan instan, karena tentunya mereka akan tetap mempertahankan adat dan mitos yang mereka percayai itu. Masalah krisis mental ini menjadi masalah yang mendasar bagi keberhasilan sebuah bangsa.
      Keseimbangan antara nilai dengan intelektualitas itu sangat penting. Nilai-nilai yang kita yakini kebenarannya akan menciptakan pola pikir untuk kita melangkah kedepan. Jika kita memiliki keyakinan yang kuat, maka kita akan meraihnya meski rintangan didepan mata menghadang. Dalam mengantisipasi adanya risiko yang ada, maka kita harus membekali diri kita dengan keilmuan (tentunya bukan ilmu hitam) salah satunya dengan pendidikan. Pendidikan yang berkualitas akan menciptakan generasi yang handal, istilahnya "Otaknya Jerman, dan Hatinya Al-Qur'an."

Senin, 13 Oktober 2014

PUNDI-PUNDI RUPIAH HADAPI AEC 2015

Oleh : Ika Devi Silviana


      Tahun 2014 ini merupakan dilema dalam menghadapi Asean Economic Community (AEC). Bagi mereka yang telah mempersiapkannya, AEC adalah kesempatan besar untuk meraih peluang. Namun bagi mereka yang belum bisa menangkap peluang itu, akan hancur tergilas persaingan. Memang tak dipungkiri, sebagian orang mulai risau terkait keberlangsungan hidup mereka. Mereka mulai memikirkan cara untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah diera revolusi ini. Hendaknya kita tidak stagnant diposisi sulit ini. Mengubah mindset merupakan salah satu solusi yang tepat. Setidaknya ada empat jenis Cashflow Quadran, yaitu dari kuadran mana kita akan mendapatkan penghasilan. Kita bisa memilih salah satunya, atau bahkan kita bisa mengkombinasikannya dengan cerdas.

Kuadran Pertama, Employ
Di kuadran ini adalah mereka yang usai menyelesaikan bangku pendidikannya, kemudian bekerja sebagai pegawai di sebuah instansi (perusahaan). Mereka bekerja diatur oleh system, tidak terlalu berkembang. Jika hanya mengandalkan kuadran ini, memang akan mendapatkan keamanan pekerjaan, namun kesempatan untuk saving akan tipis. Mereka harus menyusun skala prioritas kebutuhan untuk menghindari kebutuhan-kebutuhan tidak terduga yang membengkak.

Kuadran Kedua, Self Employ
            Di kuadran ini adalah mereka yang usai bangku pendidikannya bekerja untuk dirinya sendiri. Mereka tidak bekerja dengan system, sehingga bisa part time atau bahkan full time.  Kuadran jenis ini biasanya adalah mereka yang berprofesi sebagai dokter, psikolog, pengacara, dll.

Kuadran Ketiga, Business Owners
            Di kuadran ini adalah mereka yang berwirausaha dengan mendirikan lapangan pekerjaan sendiri. Sebagai pemilik bisnis mereka tidak perlu menghabiskan banyak waktunya, cukup mengontrol bisnis saja. Dengan memiliki usaha, pendapatan bisa kita raih sesuai dengan target yang diinginkan. Dimungkinkan pula pendapatan akan surplus, sehingga kita bisa saving.
            Menjadi seorang pemilik bisnis hendaknya memiliki mental baja. Disaat kondisi usaha yang terpuruk, ia harus senantiasa memiliki semangat seperti diawal pendirian usaha. Pemilik bisnis juga dituntut memiliki kreativitas tinggi untuk mengembangkan produknya. Kreativitas harus diasah sedari muda, karena sewaktu-waktu mengalami kegagalan mereka akan lebih mudah bangkit. Namun, ketika memasuki usia senja mereka akan cenderung mengingikan keamanan (menjauhi kerugian).

Kuadran Keempat, Investor
            Di kuadran ini menjadi seorang investor adalah mereka yang sadar akan masa depan. Memang disaat muda kita masih bisa bekerja, namun ketika usia mulai senja kesempatan itu sangatlah tipis. Bagi mereka yang memiliki surplus dana akan memanfaatkannya pada pos-pos investasi. Tentunya dalam berinvestasi kita harus cerdas dalam memilih. Salah-salah menginginkan keuntungan, malah kerugian yang menghadang.  Kita bisa memanfaatkan jasa reksadana syariah untuk berinvestasi, selain aman menurut syariat agama kita juga tidak perlu membuang banyak waktu. Pilihlah reksadana syariah yang telah terdaftar di Bapepam. Dengan reksadana syariah, maka dana kita akan dikelola oleh manager investasi kedalam portofolio efek seperti saham dan sukuk (obligasi syariah).

Tingkatan Keamanan Ekonomi
            Hakikatnya kita adalah manager investasi bagi diri kita sendiri. Bagaimana cara kita mengatur waktu dan dana untuk meraih keamanan ekonomi (berkecukupan). Ada tiga tingkatan keamanan ekonomi  yaitu : (1) Keamanan Pekerjaan, (2) Keamanan Financial, (3) Kebebasan Financial. Keamanan pekerjaan adalah mereka yang berkutat sebagai pegawai, mereka merasa aman dengan gaji yang mereka terima. Namun jika mereka tidak mampu me manage dengan baik, maka akan terjadi krisis ekonomi. Kedua, keamanan financial adalah mereka yang mengkombinasikan kuadran, seperti menjadi seorang employ dan investor, employ dan business owners, self employ dan investor, atau self employ dan business owners. Pendapatan mereka tidak hanya didapat dari satu kuadran saja, tapi menggandeng kuadran lain untuk mendapatkan keamanan financial. Terakhir adalah Kebebasan Financial adalah mereka yang dikatakan sangat aman dalam financial. Kebebasan Financial adalah mereka yang mengkombinasikan business owner dan investor. Mereka pada mulanya menjalankan suatu bisnis dengan baik, kemudian mengalokasikan sebagian dananya untuk berinvestasi. Dengan demikian uang akan bekerja untuk mereka.


GLOBALISASI VS PERKEMBANGAN BANGSA

  Oleh : Ika Devi Silviana   

        Indonesia saat ini telah terbuai dengan hingar bingar kehidupan globalisasi. Menurut Wikipedia, globalisasi sendiri memiliki makna  proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. Secara tidak langsung saat ini tidak ada batas-batas yang memisahkan antara Indonesia dengan bangsa lain. Hal ini tentunya membawa dampak yang saling bertolak belakang, bisa berpengaruh positif atau bahkan negatif. Indonesia seharusnya bisa memilah dengan baik dampak globalisasi tersebut.
      Globalisasi menjadikan Indonesia mau tidak mau terjun kedalamnya. Tidak bisa dipungkiri Indonesia itu seperti manusia pada umumnya, yang juga membutukan bantuan dari negara lain. Namun apakah selamanya Indonesia akan bergantung kepada negara lain? Dari istilah globalisasi sendiri salah satunya terdapat makna proses pertukaran produk antar negara di dunia. Hal ini dimungkinkan terjadinya aliran ekspor dan impor didalamnya. Aktivitas ekspor dan impor tersebut secara otomatis menyeret Indonesia ke dalam kancah perdagangan internasional.
      Hubungan Indonesia dengan negara lain kini menjadi lebih erat. Bisa bermakna positif yaitu berupa peningkatan teknologi karena mengadopsi atau menciptakan sendiri teknologi yang mutakhir tersebut, atau bahkan pahitnya malah menjadikan semacam simbiosis yang menyebabkan Indonesia tergantung pada teknologi negara lain. Dititik inilah kita tendensikan pengamatan kita kepada globalisasi untuk Indonesia. Sekuat apakah Indonesia apabila dilepaskan dari belenggu ketergantungan kepada pihak asing. Globalisasi ibarat lem yang membuat Indonesia tergantung akan harumnya dan akan selalu tertarik kuat.
     Menjadi bangsa yang cerdas itu penting. Sekarang Indonesia tengah dijajah oleh bangsa lain, namun pribadi-pribadinya belum tersadarkan akan hal itu. Indonesia sibuk membuka diri untuk bangsa lain, namun ia lupa dengan potensi yang dimilikinya itu sebenarnya lebih besar. Rasa tidak mau dikuasai dan dijajah oleh bangsa lain (tidak dengan kekerasan, namun dengan eksploitasi sumber daya alam negeri) merupakan wujud dari kepedulian terhadap bangsa. Salah satu solusi untuk mengimbangi kerasnya globalisasi adalah dengan pendidikan. Dengan demikian bangsa Indonesia akan maju dari segala segi.
       Indonesia seperti penari. Jika ia sudah tidak menarik lagi, apakah yang akan dilakukannya? tentunya ia akan membuka tirai penutupnya agar terlihat semakin menarik, padahal sebenarnya untuk menjadi penari yang menarik ia bisa menciptakan gerakan-gerakan yang lebih kreatif, inovatif, sehingga terkesan tidak monoton. Sama halnya dengan perekonomian di Indonesia. Indonesia sibuk membuka diri untuk investor asing, padahal sebenarnya ia bisa mengembangkan sumber daya yang ada di negeri yang subur itu, kemudian terciptalah suatu produk yang kreatif dan inovatif yang bisa memenuhi kebutuhannya di dalam negeri itu tanpa harus mengeluarkan kocek yang berlebih untuk membeli barang (impor) dari negara yang sebenarnya lebih kaya daripada kita. Namun disinilah permasalahan yang Indonesia tengah alami.
     Indonesia adalah negara berkembang, ia masih membutuhkan bantuan dari pihak asing. Indonesia belum mandiri dari segi kapital (modal) dan kualitas sumber daya manusianya. Dapat kita lihat contohnya, Indonesia memiliki industri tekstil. Untuk mencapai keefisienan industri tekstil tersebut lebih baik Indonesia mengimpor mesin dari luar negeri seperti negara Amerika atau Korea. Mesin yang mereka ciptakan tersebut adalah mesin yang digunakan untuk mengolah kapas berserat panjang, karena di negara-negara tersebut memiliki iklim sub tropis dimana kapas berserat pendek tidak dapat hidup disana. Indonesia adalah negara tropis, sehingga jenis kapas yang dapat hidup adalah kapas berserat pendek. Dengan demikian mau tidak mau Indonesia harus mengimpor kapas berserat panjang dari negara lain. Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat tinggi kepada negara lain.
     Globalisasi bukan berarti momok yang sangat menyeramkan. Kita dapat mengatasinya dengan meningkatkan kualitas pendidikan di negara kita. Dari contoh mesin dan kapas diatas dapat kita berikan solusinya. Disinilah peran pemerintah bersama anak bangsa yaitu dengan melakukan kemajuan teknologi dalam bidang pertanian, misalnya dengan rekayasa genetika dengan menciptakan bibit kapas yang berserat panjang namun dapat hidup di iklim tropis seperti Indonesia, atau dengan menciptakan teknologi terbaru berupa mesin pengolah benang untuk kapas berserat pendek yang tumbuh di Indonesia. Dengan demikian pengaruh ketergantungan kita kepada negara lain sedikit demi sedikit mulai berkurang.








Rabu, 26 Maret 2014

EKONOMI SYARIAH, SOLUSI BIJAK DARI ALLAH

EKONOMI SYARIAH, SOLUSI BIJAK DARI ALLAH
oleh : Ika Devi Silviana
 
 
Bismillaahirrahmaanirrahiim…
“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada posisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).”
(QS.Ar-Ruum:39)
      Sistem ekonomi liberal kapitalis saat ini tengah merajai dunia. Namun  disayangkan sistem ini belum dapat mengentaskan permasalahan umat manusia. Dapat kita ingat permasalahan perekonomian Indonesia pada krisis moneter 1998 silam. Terjadinya inflasi besar-besaran, kenaikan harga-harga barang, penutupan bank-bank yang perlahan tapi pasti membunuh kehidupan bangsa. Saat itu mulai terjadi kenaikan mata uang dollar karena terjadinya permainan dollar oleh seorang hartawan George Soros. Ia membeli dollar besar-besaran, sehingga persediaan dollar mulai menipis. Dollar manjadi langka dan rupiah semakin melemah. Bank terpaksa menaikkan tingkat suku bunga bank untuk mengimbangi inflasi yang terjadi supaya mereka yang memiliki dana di bank tidak pergi dan kemudian menempatkan dana mereka pada investasi dollar. Saat itu terjadi keadaan yang sangat ekstrim, yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Bagi mereka yang memiliki dana di bank, tentunya mereka seperti di atas angin, karena tingkat suku bunga bank yang tinggi. Dampaknya terjadi pada para pengusaha yang mengambil kredit kepada bank. Bank juga memberikan suku bunga pinjaman yang amat tinggi untuk membayarkan bunga simpanan pada penabung. Akhirnya pengusaha gulung tikar, PHK besar-besaran, kemiskinan, kejahatan pun terjadi. Betapa dahsyatnya dampak sistem perekonomian liberal.
      Disisi lain terdapat kekuatan kecil ditengah badai krisis moneter yang melanda Indonesia 1998 silam. Sebuah bank syariah cetusan Majelis Ulama Indonesia yang berdiri sekitar tahun 1992 tetap kokoh dalam menjalankan kegiatan usahanya yaitu Bank Muamalat. Bank ini adalah bank syariah yang pertama hadir di Indonesia, murni menegakkan syariat Islam. Setelah keberadaan Bank Muamalat yang lolos dari terpaan badai krisis moneter 1998, maka mulai bermunculan bank-bank syariah seperti Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah, BRI Syariah, BTN Syariah. Bank syariah merupakan cikal bakal ekonomi syariah di Indonesia
      Ekonomi Islam (syariah) menurut Muhammad Abdul Mannan adalah ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang diilhami oleh nilai-nilai Islam. Sedangkan ekonomi konvensional seperti yang terjadi pada ekonomi liberal akan cenderung memisahkan ilmu dan nilai yang akan mengantarkan  manusia kedalam kehancuran.
      Sudarsono (2002) juga mengungkapkan bahwa masyarakat lebih mengenal konsep dan praktek ekonomi konvensional. Hal tersebut dikarenakan ekonomi konvensional lebih dahulu diterapkan. Dapat kita lihat bank-bank konvensional yang berada disetiap kecamatan, dan bahkan desa. Keberadaannya seperti jamur dimusim hujan. Mereka ikut melebur didalam kehidupan masyarakat, membantu aktivitas perekonomian rakyat. Namun disisi lain terdapat ekonomi syariah yang mempunyai keunggulan dan ketangguhan yang lebih baik dibandingkan dengan ekonomi konvensional.
      Ekonomi syariah adalah ekonomi yang tangguh dengan mengenal prinsip-prinsip universal. Pertama, prinsip keadilan yakni memberikan porsi pendapatan sesuai dengan usaha yang dilakukannya. Prinsip kebersamaan yang menekankan kepada kerja sama, semangat kemitraan, tidak ada kata “boss” dan “bawahan”, semua memiliki kedududakan yang sama dalam bersyirkah (kerja sama). Prinsip saling ridha (‘an taradin) yang menimbulkan keikhlasan yang hakiki dari dalam hati, tidak ada kedzaliman. Prinsip tolong menolong (ta’awun) yang membantu saudara kita keluar dari situasi sulit perekonomian, sehingga ia dapat mandiri untuk melanjutkan kehidupannya. Serta yang terakhir, bebas dari unsur MAGRIB. MAGRIB merupakan Maysir, Gharar, dan Riba. Maysir yaitu judi/spekulasi, Gharar yaitu mengandung unsur-unsur ketidakjelasan dari mana asalnya, apakah dzatnya halal ataukah haram, dan bagaimana akad yang dilakukannya, apakah telah memenuhi syarat dan rukunnya. Terakhir riba yaitu adanya tambahan dari pokok, besarnya telah disepakati diawal perjanjian. MAGRIB inilah yang menyebabkan hilangnya keberkahan dari Allah, mencekik kehidupan rakyat, dan cenderung merugikan salah satu pihak (hilangnya prinsip keridhaan).
      Dalam rangka pembangunan ekonomi umat, ekonomi syariah tidak lepas dari peran zakat. Zakat adalah menyerahkan sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Supadie (2013) menandaskan, zakat dapat menimbulkan multiplier effects bagi perekonomian Indonesia. Apabila seluruh penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam sadar untuk menunaikan zakat, betapa mandirinya negeri ini. Selain itu didukung para pengelola zakat yang handal dalam manajemen, memiliki sifat-sifat nabi shidiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), serta fatanah (cerdas). Perputaran harta akan lebih dinamis, dana tidak hanya berkutat di tangan mereka yang berkuasa saja, namun zakat juga akan menyelesaikan permasalahan sosial seperti pendidikan, kesehatan, pencurian, kelaparan dll. Setelah perekonomian mereka mandiri, mereka akan mampu menunaikan zakat dan akan membantu saudaranya yang masih membutuhkan.
      Hendaknya zakat disalurkan kepada orang-orang yang tepat seperti yang tertuang didalam QS.At-Taubah(9):60) :
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
      Keunggulan ekonomi syariah memang tidak perlu diragukan. Ia memiliki peran dalam mengentaskan masalah kemiskinan. Ekonomi syariah yang dekat dengan rakyat salah satunya adalah BMT. BMT merupakan lembaga keuangan seperti bank, namun BMT bukan bank. Disinilah yang membedakan BMT dengan lembaga keuangan lainnya, BMT mengandung pengertian Baitul Maal (rumah zakat) dan Baitul Tamwil (rumah usaha). Baitul Maal merupakan penghimpunan zakat, infak, dan sedekah, kemudian disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan produksi (modal usaha). Sedangkan Baitul Tamwil berarti BMT menjalankan kegiatan usaha pembiayaan konsumsi, investasi, dan modal kerja. Dari kegiatan pembiayaan tersebut akan dihasilkan pendapatan, kemudian pendapatan akan dibagi hasil sesuai nisbah (porsi) yang telah disepakati. Peran BMT menjadi strategis dengan berkecimpung di usaha sektor mikro, karena tidak semua masyarakat kecil mampu mengakses bank yang skala pembiayaannya sudah makro (besar) dan memiliki ketentuan dan syarat yang rumit.
      BMT memiliki beberapa produk pembiayaan. Untuk langkah penyelamatan ekonomi umat dapat melalui pembiayaan Qardhul Hasan. Qardhul Hasan merupakan pinjaman kebajikan yang diambil dari pengumpulan zakat, infak, maupun sedekah. Pinjaman ini sesuai untuk disalurkan kepada masyarakat kurang mampu yang ingin memulai usaha untuk meningkatkan taraf hidupnya.  Peminjam tidak harus memberikan bagi hasil, namun ia bertanggung jawab mengembalikan pokok pinjamannya kepada pihak lembaga keuangan syariah. Lembaga keuangan syariah khususnya BMT juga melakukan pengawasan dan pembinaan agar usaha yang dijalankan tetap berjalan.
      Allah telah memberikan solusi perekonomian yang bijak, yaitu ekonomi syariah. Namun sampai saat ini permasalahan perekonomian Indonesia tidak kunjung berakhir dikarenakan terjebak dalam naungan politik ribawi yang menghancurkan. Indonesia masih mengandalkan pinjaman dari World Bank, dimana ia memberikan suku bunga pinjaman yang tinggi, Hutang negara dari tahun ke tahun semakin membengkak, kemiskinan tidak kunjung terselesaikan, dan kejahatan masih saja merajalela. Alasan pemerintah mempertahankan ini dikarenakan kepentingan politik. World bank memiliki negara-negara anggota yang memiliki posisi strategis untuk menjalin atau memutuskan hubungan kerjasama disegala bidang, baik ekonomi, politik, sosial, budaya, dll. Diperlukan langkah perubahan untuk hal ini. Memang tidak secepat membalikkan telapak tangan, namun kita hendaknya ikut meluruskan sistem perekonomian yang saat ini masih jauh dari kebenaran.
      Untuk mewujudkan ekonomi syariah yang tangguh diperlukan beberapa langkah. Langkah awal kita memulai dengan menggalakkan gerakan berzakat, aktif mensosialisasikan ekonomi syariah yang dapat merangkul diseluruh lapisan masyarakat. Memperbanyak dan meningkatkan kualitas instansi-instansi pendidikan yang lebih fokus pada perekonomian syariah itu sendiri. Dengan demikian terciptalah sumber daya manusia yang  mengerti apakah hakikat ekonomi syariah itu, sehingga mereka dapat memperbaiki dan bahkan memberikan solusi bagi permasalahan perekonomian syariah di Indonesia. Selain itu, lembaga keuangan syariah juga harus aktif dalam kegiatan sosialisasi, sehingga masyarakat akan tahu tentang kegiatan lembaga keuangan syariah itu. Masih banyak orang beranggapan ekonomi syariah dengan ekonomi konvensional adalah sama, padahal hakikatnya berbeda. Kita perlu memperbaiki sistem yang ada dalam lembaga keuangan syariah, karena dikhawatirkan lembaga keuangan berlabel syariah, namun dalam sistem operasionalnya tidak jauh berbeda dengan apa yang ada di dalam lembaga keuangan konvensional. Hal tersebut akan memperburuk citra perekonomian Islam. Terakhir, dibutuhkan dukungan kuat dari pemerintah. Beberapa tahun silam telah diluncurkan GRES (Gerakan Ekonomi Syariah) oleh presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Peran serta pemerintah sangat penting, karena hal ini memberikan perkembangan positif terhadap ekonomi syariah di Indonesia melalui peraturan-peraturan yang dikeluarkannya.

Gambar : Hubungan Islam dalam perekonomian negara
Referensi Bacaan :
Sholahuddin, M, 2007. Asas-Asas Ekonomi Islam, Jakarta : Rajawali Pers
Sudarsono, Heri, 2002. Konsep Ekonomi Islam :Suatu Pengantar, Yogyakarta : Ekonisia
Supadie, Didiek Ahmad, 2013. Ekonomi Syariah Dalam Pemberdayaan Ekonomi Rakyat, Semarang : Pustaka Rizki Putra
Suwiknyo, Dwi, 2010. Ayat-Ayat Ekonomi Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.