Senin, 13 Oktober 2014

GLOBALISASI VS PERKEMBANGAN BANGSA

  Oleh : Ika Devi Silviana   

        Indonesia saat ini telah terbuai dengan hingar bingar kehidupan globalisasi. Menurut Wikipedia, globalisasi sendiri memiliki makna  proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. Secara tidak langsung saat ini tidak ada batas-batas yang memisahkan antara Indonesia dengan bangsa lain. Hal ini tentunya membawa dampak yang saling bertolak belakang, bisa berpengaruh positif atau bahkan negatif. Indonesia seharusnya bisa memilah dengan baik dampak globalisasi tersebut.
      Globalisasi menjadikan Indonesia mau tidak mau terjun kedalamnya. Tidak bisa dipungkiri Indonesia itu seperti manusia pada umumnya, yang juga membutukan bantuan dari negara lain. Namun apakah selamanya Indonesia akan bergantung kepada negara lain? Dari istilah globalisasi sendiri salah satunya terdapat makna proses pertukaran produk antar negara di dunia. Hal ini dimungkinkan terjadinya aliran ekspor dan impor didalamnya. Aktivitas ekspor dan impor tersebut secara otomatis menyeret Indonesia ke dalam kancah perdagangan internasional.
      Hubungan Indonesia dengan negara lain kini menjadi lebih erat. Bisa bermakna positif yaitu berupa peningkatan teknologi karena mengadopsi atau menciptakan sendiri teknologi yang mutakhir tersebut, atau bahkan pahitnya malah menjadikan semacam simbiosis yang menyebabkan Indonesia tergantung pada teknologi negara lain. Dititik inilah kita tendensikan pengamatan kita kepada globalisasi untuk Indonesia. Sekuat apakah Indonesia apabila dilepaskan dari belenggu ketergantungan kepada pihak asing. Globalisasi ibarat lem yang membuat Indonesia tergantung akan harumnya dan akan selalu tertarik kuat.
     Menjadi bangsa yang cerdas itu penting. Sekarang Indonesia tengah dijajah oleh bangsa lain, namun pribadi-pribadinya belum tersadarkan akan hal itu. Indonesia sibuk membuka diri untuk bangsa lain, namun ia lupa dengan potensi yang dimilikinya itu sebenarnya lebih besar. Rasa tidak mau dikuasai dan dijajah oleh bangsa lain (tidak dengan kekerasan, namun dengan eksploitasi sumber daya alam negeri) merupakan wujud dari kepedulian terhadap bangsa. Salah satu solusi untuk mengimbangi kerasnya globalisasi adalah dengan pendidikan. Dengan demikian bangsa Indonesia akan maju dari segala segi.
       Indonesia seperti penari. Jika ia sudah tidak menarik lagi, apakah yang akan dilakukannya? tentunya ia akan membuka tirai penutupnya agar terlihat semakin menarik, padahal sebenarnya untuk menjadi penari yang menarik ia bisa menciptakan gerakan-gerakan yang lebih kreatif, inovatif, sehingga terkesan tidak monoton. Sama halnya dengan perekonomian di Indonesia. Indonesia sibuk membuka diri untuk investor asing, padahal sebenarnya ia bisa mengembangkan sumber daya yang ada di negeri yang subur itu, kemudian terciptalah suatu produk yang kreatif dan inovatif yang bisa memenuhi kebutuhannya di dalam negeri itu tanpa harus mengeluarkan kocek yang berlebih untuk membeli barang (impor) dari negara yang sebenarnya lebih kaya daripada kita. Namun disinilah permasalahan yang Indonesia tengah alami.
     Indonesia adalah negara berkembang, ia masih membutuhkan bantuan dari pihak asing. Indonesia belum mandiri dari segi kapital (modal) dan kualitas sumber daya manusianya. Dapat kita lihat contohnya, Indonesia memiliki industri tekstil. Untuk mencapai keefisienan industri tekstil tersebut lebih baik Indonesia mengimpor mesin dari luar negeri seperti negara Amerika atau Korea. Mesin yang mereka ciptakan tersebut adalah mesin yang digunakan untuk mengolah kapas berserat panjang, karena di negara-negara tersebut memiliki iklim sub tropis dimana kapas berserat pendek tidak dapat hidup disana. Indonesia adalah negara tropis, sehingga jenis kapas yang dapat hidup adalah kapas berserat pendek. Dengan demikian mau tidak mau Indonesia harus mengimpor kapas berserat panjang dari negara lain. Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat tinggi kepada negara lain.
     Globalisasi bukan berarti momok yang sangat menyeramkan. Kita dapat mengatasinya dengan meningkatkan kualitas pendidikan di negara kita. Dari contoh mesin dan kapas diatas dapat kita berikan solusinya. Disinilah peran pemerintah bersama anak bangsa yaitu dengan melakukan kemajuan teknologi dalam bidang pertanian, misalnya dengan rekayasa genetika dengan menciptakan bibit kapas yang berserat panjang namun dapat hidup di iklim tropis seperti Indonesia, atau dengan menciptakan teknologi terbaru berupa mesin pengolah benang untuk kapas berserat pendek yang tumbuh di Indonesia. Dengan demikian pengaruh ketergantungan kita kepada negara lain sedikit demi sedikit mulai berkurang.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar