Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Uang merupakan alat
penukar yang dapat diterima secara umum. Mengapa kita menggunakan uang? Selain dapat
diterima secara umum, uang juga lebih mudah dibawa, dan tahan lama. Untuk
mencetak uang, Perum Peruri menggunakan kertas khusus yang harganya tak biasa
(baca cukup mahal). Dalam peng-katagori-an
uang, tentunya memiliki beberapa syarat yaitu:
1.
Acceptability
(dapat diterima)
2.
Durability
(tahan lama)
3.
Uniformity
(kesamaan kualitas)
4.
Portable
(mudah dibawa)
5.
Divisibility
(mudah dibagi)
6.
Stability
of value (stabil)
7.
Mendapat jaminan pemerintah
8.
Jumlahnya dapat memenuhi kebutuhan
masyarakat
9.
Dan, terakhir Scarcity (tidak mudah dipalsukan)
Tapi mengapakah uang
mudah dipalsukan? Tentunya dikarenakan kebutuhan yang sangat tinggi. Selain itu
oknum-oknum pengedar uang palsu didasari faktor unemployment (pengangguran), inflasi (kenaikan harga barang),
spekulasi (keuntungan, untuk dijual belikan), dsb. Uang palsu biasanya “tenar” di bulan Ramadhan dan menjelang
Idul Fitri seperti sekarang ini, tapi tidak menutup kemungkinan di hari-hari
lain. Deputi Gubernur BI Ronald Waas, mengemukakan telah ditemukan 18.000
lembar uang palsu, yang mayoritas beredar di Pulau Jawa. (sumber:Tempo).
Untuk mengelabui
korbannya agar tidak kentara salah satunya dilakukan dengan mengoplos uang asli dengan uang palsu di
selang-seling. Biasanya di tempat-tempat penukaran uang, masyarakat tidak mau mengantri, buru-buru,
disanalah sasaran empuk oknum pengedar uang palsu. Untuk THR, silaturahim,
anak-anak, pemilihan jabatan tertentu, dll
Ada dua kelompok
masyarakat pencetak uang palsu:
Kelompok oknum, mereka
adalah masyarakat pencetak uang palsu. Kedua adalah kalangan pejabat. Di
Amerika latin, untuk membeli senjata, maka bisa menggelontorkan uang yang
sangat besar, disana rawan pencucian uang, uang palsu, karena jumlah uang yang
beredar sangat sedikit. Namun apabila jumlah uang beredar sangat besar juga akan menghancurkan sistem perekonomian,
apalagi uang itu uang palsu. Security
untuk sistem uang palsu ini harus sangat kuat.
Mekanisme hubungan
melambungnya jumlah uang beredar (JUB) terhadap kehancuran sistim perekonomian
adalah sebagai berikut:
Harga barang akan dipengaruhi
oleh perbandingan jumlah uang dan ketersediaan barang. Jika barang yang
tersedia lebih besar daripada JUB, maka harga akan cenderung turun. Begitu pula
sebaliknya, jika barang yang tersedia lebih sedikit dari JUB, maka harga akan
cenderung naik (inflasi).
Lalu bagaimanakah jika
suatu Negara terus-menerus mencetak uang? Meski terus mencetak uang, hasilnya Negara
itu bukan berarti bertambah kaya, namun malah sebaliknya, inflasi, nilai uang
tersebut cenderung semakin merosot. Di Indonesia pernah terjadi kegiatan
mencetak uang besar-besaran di jaman Presiden Soekarno karena pajak yang
dihasilkan dalam sistem perekonomian masih sangat minim. Dampaknya adalah terjadi
inflasi, kemiskinan, pengangguran, merosotnya pertumbuhan ekonomi,
kriminalitas, dll sehingga rakyat menuntut penurunan harga di Tritura (Tri
Tuntutan Rakyat).
Pandangan diatas
merupakan selayang pandang tentang sistem perekonomian. Kembali ke ulasan utama
terkait uang palsu. Uang ini beredar di masyarakat, maka masyarakat dihimbau.
Masyarakat harius aware terhadap
kasus ini. Namun masyarakat tidak perlu khawatir, lakukan analisa 3D, dengan
dilihat, diraba, diterawang untuk mengetahui ke-orisinil-an uang.
Dilihat, kita melihat
bentuk fisik uang tersebut. Bagaimanakah warnanya baik, ada tanda air, kertas,
dan tali pengaman yang ada di uang tersebut. Diraba, bagaimanakah teksturnya,
apakah kasar atau soft? Di gambar
pahlawan dan nominal angka biasanya dicetak menonjol. Kita bisa raba-raba
disini. Kemudian diterawang dengan bantuan lampu atau sinar matahari, lihatlah
bagian tali pengaman dan tanda airnya. Jika dalam kondisi baik, maka
diindikasikan uang tersebut adalah uang asli. Semoga bermanfaat..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar