Sabtu, 11 Juni 2016

Fase Tenar Uang Palsu

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Uang merupakan alat penukar yang dapat diterima secara umum. Mengapa kita menggunakan uang? Selain dapat diterima secara umum, uang juga lebih mudah dibawa, dan tahan lama. Untuk mencetak uang, Perum Peruri menggunakan kertas khusus yang harganya tak biasa (baca cukup mahal). Dalam peng-katagori-an uang, tentunya memiliki beberapa syarat yaitu:

1.      Acceptability (dapat diterima)
2.      Durability (tahan lama)
3.      Uniformity (kesamaan kualitas)
4.      Portable (mudah dibawa)
5.      Divisibility (mudah dibagi)
6.      Stability of value (stabil)
7.      Mendapat jaminan pemerintah
8.      Jumlahnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat
9.      Dan, terakhir Scarcity (tidak mudah dipalsukan)

Tapi mengapakah uang mudah dipalsukan? Tentunya dikarenakan kebutuhan yang sangat tinggi. Selain itu oknum-oknum pengedar uang palsu didasari faktor unemployment (pengangguran), inflasi (kenaikan harga barang), spekulasi (keuntungan, untuk dijual belikan), dsb. Uang palsu biasanya “tenar” di bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri seperti sekarang ini, tapi tidak menutup kemungkinan di hari-hari lain. Deputi Gubernur BI Ronald Waas, mengemukakan telah ditemukan 18.000 lembar uang palsu, yang mayoritas beredar di Pulau Jawa. (sumber:Tempo).

Untuk mengelabui korbannya agar tidak kentara salah satunya dilakukan dengan mengoplos uang asli dengan uang palsu di selang-seling. Biasanya di tempat-tempat penukaran uang,  masyarakat tidak mau mengantri, buru-buru, disanalah sasaran empuk oknum pengedar uang palsu. Untuk THR, silaturahim, anak-anak, pemilihan jabatan tertentu, dll

Ada dua kelompok masyarakat pencetak uang palsu:

Kelompok oknum, mereka adalah masyarakat pencetak uang palsu. Kedua adalah kalangan pejabat. Di Amerika latin, untuk membeli senjata, maka bisa menggelontorkan uang yang sangat besar, disana rawan pencucian uang, uang palsu, karena jumlah uang yang beredar sangat sedikit. Namun apabila jumlah uang beredar  sangat besar juga akan menghancurkan sistem perekonomian, apalagi uang itu uang palsu. Security untuk sistem uang palsu ini harus sangat kuat.

Mekanisme hubungan melambungnya jumlah uang beredar (JUB) terhadap kehancuran sistim perekonomian adalah sebagai berikut:

Harga barang akan dipengaruhi oleh perbandingan jumlah uang dan ketersediaan barang. Jika barang yang tersedia lebih besar daripada JUB, maka harga akan cenderung turun. Begitu pula sebaliknya, jika barang yang tersedia lebih sedikit dari JUB, maka harga akan cenderung naik (inflasi).

Lalu bagaimanakah jika suatu Negara terus-menerus mencetak uang? Meski terus mencetak uang, hasilnya Negara itu bukan berarti bertambah kaya, namun malah sebaliknya, inflasi, nilai uang tersebut cenderung semakin merosot. Di Indonesia pernah terjadi kegiatan mencetak uang besar-besaran di jaman Presiden Soekarno karena pajak yang dihasilkan dalam sistem perekonomian  masih sangat minim. Dampaknya adalah terjadi inflasi, kemiskinan, pengangguran, merosotnya pertumbuhan ekonomi, kriminalitas, dll sehingga rakyat menuntut penurunan harga di Tritura (Tri Tuntutan Rakyat).

Pandangan diatas merupakan selayang pandang tentang sistem perekonomian. Kembali ke ulasan utama terkait uang palsu. Uang ini beredar di masyarakat, maka masyarakat dihimbau. Masyarakat harius aware terhadap kasus ini. Namun masyarakat tidak perlu khawatir, lakukan analisa 3D, dengan dilihat, diraba, diterawang untuk mengetahui ke-orisinil-an uang.


Dilihat, kita melihat bentuk fisik uang tersebut. Bagaimanakah warnanya baik, ada tanda air, kertas, dan tali pengaman yang ada di uang tersebut. Diraba, bagaimanakah teksturnya, apakah kasar atau soft? Di gambar pahlawan dan nominal angka biasanya dicetak menonjol. Kita bisa raba-raba disini. Kemudian diterawang dengan bantuan lampu atau sinar matahari, lihatlah bagian tali pengaman dan tanda airnya. Jika dalam kondisi baik, maka diindikasikan uang tersebut adalah uang asli. Semoga bermanfaat..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar