Sabtu, 22 Agustus 2015

INDONESIA, KEMBALILAH PADA ISLAM UNTUK BALDATUN THAYYIBATUN

Bismillaahirrahmaanirrahiim..
      Akhir-akhir ini situasi Indonesia terguncang semakin kuat. Berbagai problematika terjadi silih berganti, krisis kepemimpinan, keguncangan perekonomian  ditengah instabilitas politik, ketidakseimbangan pasar, ambruknya rupiah, korupsi, apatis pada negara, dan masih banyak lagi. Sebenarnya apakah yang menyebabkan ini semua terjadi? Bukankah keinginan Indonesia adalah menjadi negeri yang baldatun thayyibatun seperti konsep Islam? Ya, memang Indonesia bukan negara Islam. Itu yang selalu digaungkan ketika terjadi problematika bangsa ini yang yang lebih memperhatikan kesatuan dan kesatuan banga. Itu tidak salah. Tapi, ingatlah wahai Indonesia, sekarang ini belum ada pemecahan untuk mengatasi masalah negara yang sangat krusial. Kiblatmu bukan Islam, tapi Amerika Serikat, dan negara-negara maju lainnya. Hal ini akan menyebabkan kemudharatan pada Indonesia sendiri seperti inflasi, pembengkakan utang negara, kemiskinan, ketidakadilan, karena kau menerapkan prinsip bunga yang jelas-jelas dilarang dalam Islam. Jika kau mempertahankan egomu untuk tetap tidak memilih sistim Islam, selamanya negara ini tidak akan mencapai baldatun thayyibatun seperti yang kau inginkan.
      Islam adalah agama yang sempurna. Allah memberikan pegangan hidup untuk kita berupa Al-Qur'an dan Al-Hadist. Pemecahan semua permasalahan di dunia ini ada di dalamnya. Cocok sekali untuk Indonesia dan seluruh negara di dunia. Dalam Islam menjadi muslim yang kaya (memiliki kemampuan finansial) itu sangat dianjurkan. Kita lihat saja sahabat nabi seperti Abu-Bakar, Umar, Utsman, semua adalah saudagar kaya.  Nabi kita juga merupakan orang yang mampu, dapat tercermin dari mahar Rasulullah yang diberikan pada Ummul Mu'minin Khadijah binti Khuwailid adalah berupa 20 ekor unta ditambah 12,5 ukiyah ons emas. Jika dikonversi dalam mata uang rupiah saat ini jumlahnya hampir Rp 500 juta.


      Indonesia perlu melakukan revolusi mental seperti yang sering digaungkan oleh Bapak Joko Widodo (presiden RI). Indonesia terlalu menelan mitos yang di-cap oleh negara lain. Misal, Indonesia selamanya tak akan maju, Indonesia selamanya menjadi negara agraris, 'Indonesia ini, Indonesia itu'. Jika mental itu tidak dirubah, Indonesia akan sulit untuk menjadi bangsa yang merdeka yang sesungguhnya. Bukan tidak membutuhkan negara lain dalam hidupnya, tapi kita perlu mengurangi ketergantungan kita pada negara lain sedikit demi sedikit. Tanamkanlah keyakinan dalam hati, Indonesia pasti bisa. Ditengah kekayaam alam, kelimpahan sumber daya manusia, didukung kemauan yang kuat, negara baldatun thayyibatun in syaa Allah akan menunggu di depan mata.
      Revolusi mental yang baik akan menciptakan psikologis kenegaraan yang baik pula. Namun saat ini keadaan psikologis kenegaraan Indonesia tengah goncang. Kita dapat melihat tandanya yaitu tak menyukai pemakaian produk dalam negeri, sindrom selebritis yang lebih condong peduli keranah keartisan dibanding permasalahan negara, dan yang paling menyeramkan adalah mistifikasi bangsa. Mistifikasi adalah masalah negara kita yang  menelan mentah-mentah mitos ketidakmampuan negara yang sebenarnya bisa teratasi. Ini merupakan konsep yang salah.
       Pada masa pemerintahan Nabi Yusuf di Mesir juga pernah dilanda krisis kepemimpinan bangsa, krisis ekonomi, krisis kepedulian, instabilitas politik. Hampir sama seperti keadaan Indonesia sekarang. Pertama yang dilakukan Nabi Yusuf adalah merubah konsep/pola berpikir. Mesir kembali menata kepemimpinannya, menegakkan keadilan, memberantas korupsi, memulai usaha, dan penghematan. Mesir pada masa yang akan datang akan mengalami krisis pangan, maka Nabi Yusuf yang kala itu menjadi bendahara negara (kalau di Indonesia Bappenas, Bulog) memerintahkan untuk melakukan produksi pangan selama tujuh tahun berturut-turut, tidak mengambil impor. Nah, ketika produktivitas mereka mengalami keuntungan maka akan ditambahkan ke modal negara untuk dijadikan modal produktivitas kembali. Bukankah itu semua cocok jika diterapkan di Indonesia? Menata ulang pemerintahan (memakai sistim Islam), revolusi pemikiran, memberantas kedzaliman, korupsi, menegakkan keadilan, mengurangi ketergantungan Indonesia pada negara lain (mengurangi dan bahkan mandiri dari impor), bukan tidak mungkin Indonesia akan damai dan makmur. Memang tidak gampang, perlu penanaman nilai agama ke saluruh lini masyarakat.
      Pada masa hijrah Rasul juga mengalami ketidakstabilan ekonomi. Orang-orang yang mengikuti nabi dari Mekkah ke Madinah mengalami ketidakstabilan ekonomi, penuh dengan ujian. Mereka juga melakukan perubahan yaitu dengan memulai bisnis di Madinah, sedikit demi sedikit mereka mampu mencapai kebebasan finansial. Selama ada kemauan, di situ pasti terdapat jalan. Nabi Muhammad memulai berdagang (berwirausaha) dengan pamannya (Abu Thalib) sejak usia 12 tahun. Jiwa kewirausahaan telah ditumbuhkan sejak dini hingga usia beliau mencapai kira-kira 27 tahun. Dari usia 27 tahun sampai menjelang 40 tahun merupakan perjalanan spiritual nabi. Pada usia 40 tahun sampai 63 tahun merupakan usia nabi untuk mendakwahkan ajaran Allah diseluruh muka bumi. 
       Islam juga mengajarkan umatnya untuk berbagi dengan mukmin lainnya. Jika seorang mukmin telah memiliki kemampuan finansial, maka ia wajib mengeluarkan zakat. Dalam Islam tidak ada istilah yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin (kedzaliman), namun yang ada adalah keadilan yang menciptakan kesejahteraan. Dari zakat yang terkumpul tersebut, disalurkan kepada pihak yang membutuhkannya (delapan asnaf) menjadi zakat konsumtif dan zakat produktif. Zakat konsumtif digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti pemenuhan pangan. Sedangkan zakat produktif merupakan zakat yang diberikan untuk memulai suatu usaha, sehingga tidak langsung habis. Jika usaha yang dilaksanakan berhasil, ia akan mampu dalam segi finansial, maka ia tak akan menjadi mustahiq zakat lagi, tapi sudah menjadi seorang muzakki yang siap menolong saudaranya. Konsep Islam begitu hebat, handal, sistematis, dengan tidak meninggalkan kepedulian terhadap orang lain di sekitarnya. Wallahu a'lam..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar