Sabtu, 03 Januari 2015

HIDUP ADALAH KESEMPATAN

Oleh : Ika Devi Silviana
      Pernahkah kalian mendengar seseorang yang mati bunuh diri karena suatu permasalahan? Kasus ini sering terjadi di tengah masyarakat, bisa karena permasalahan perekonomian, atau bahkan karena cinta buta. Memang jalan pikir manusia sulit ditebak, hanya Allah lah yang tahu. Bunuh diri merupakan tindakan yang amat berdosa karena mendahului takdir yang telah Allah tetapkan. Ancamannya pun tak main-main, yaitu neraka. Alangkah menyesalnya mereka, karena anggapan mereka yang menginginkan kematian untuk mengakhiri masalah justru menimbulkan masalah baru yang sangat besar.
     Allah memberikan nikmat kita untuk hidup. Selama manusia hidup, maka pintu rizki akan selalu terbuka, contoh kecilnya kita dapat bernafas tanpa harus membayar tagihannya. Allah juga memberikan rizki kepada kita berupa suara agar kita mempergunakannya di jalan kebaikan dengan menyebutkan hal-hal yang bermanfaat. Alangkah mulianya apabila setiap kata yang terucap adalah kalimat mutiara, kalimat yang terpuji, kalimat yang disukai oleh Allah. Nikmat hidup adalah kesempatan untuk manusia menjadi insan yang sukses di dunia maupun di akhirat.
      Apabila kita melewati kuburan, maka yang terbesit didalam benak kita adalah kematian. Kematian adalah pemutus amal-amal kita. Banyak orang yang telah meninggal, ingin kembali hidup di dunia untuk kembali beribadah kepada Allah. Allah telah menunjukkan kekuasaannya kepada orang-orang yang mati suri. Mereka telah sakitnya kematian, kemudian mengunjungi alam kubur, sehingga mereka mengetahui apa saja yang ada disana termasuk nikmat dan siksa kubur itu sendiri. Banyak orang yang telah mengalami mati suri mereka kembali ke jalan Allah serta menasihati saudara-saudaranya yang masih diberi kesempatan untuk hidup di dunia untuk senantiasa beribadah dan taat kepada Allah. Mengapa kita tidak mengambil pelajaran dari kuasa Allah tersebut.
      Kembali pada kasus bunuh diri diatas. Orang-orang yang telah memilih jalan mereka untuk bunuh diri, berarti mereka belum mengerti apakah tujuan hidup di dunia. Manusia diciptakan oleh Allah bukan tanpa tujuan yaitu sebagai khalifah untuk kemakmuran bumi (QS.Al-Baqarah:30), beribadah kepada Allah (Adz-Dzariyaat:56), kemudian sebagai penyeru kebaikan/dai untuk sesama manusia (QS.Ali Imron:104). Jika kita tahu apakah maksud Allah menciptakan manusia, tentunya mereka akan berpikir ulang untuk bunuh diri. Tugas manusia sungguh berat, kita pengemban amanah dari Allah.
      Manusia diciptakan Allah bermacam-macam, ada yang selalu berfastabiqul khairat, biasa-biasa saja, atau bahkan membangkang perintah Allah. Semua ada perhitungannya dimata Allah. Orang yang selalu berfastabiqul khairat atau orang yang senantiasa berbuat kebaikan akan menuai nikmat yang sangat besar di akhirat kelak, begitupula dengan orang yang biasa-biasa saja, atau bahkan membangkang perintah Allah, semua ada balasannya. Bisa kita bayangkan apabila kita beramal biasa-biasa saja, maka Allah juga akan memperlakukan kita biasa-biasa saja. Relakah jika teman kita yang mendapatkan perlakuan yang lebih istimewa dari Allah karena ia senantiasa berfastabiqul khairat dibandingkan dengan diri kita sendiri yang biasa-biasa saja? tentu tidak bukan? Mari senantiasa perbaiki diri agar menjadi insan yang disayangi tidak hanya oleh penduduk bumi, tapi juga oleh seluruh penduduk langit. Alangkah bahagianya diri ini, jika seluruh kesempatan yang Allah berikan berupa nikmat-nikmat tersebut dapat kita pergunakan untuk meraih kasih sayang dari Allah.

Kamis, 18 Desember 2014

BISNIS, SOLUSI PENYELAMAT PEREKONOMIAN INDONESIA

Bismillaahirrahmaanirrahiim
        Bisnis merupakan penopang utama perekonomian Indonesia. Sayangnya, peminat bisnis di Indonesia masih sangat minim yaitu sekitar 1,56 % penduduk Indonesia, padahal angka normal pengusaha di negara kita setidaknya 2,00 %. Salah satu penyebab minimnya angka pengusaha di Indonesia adalah mindset penduduknya tidak mau mengambil risiko dari sebuah usaha. Masih banyak perguruan tinggi yang ingin mencetak para lulusannya untuk menjadi pekerja kantoran. Memang tidak mengapa, itu sebuah pilihan masing-masing individu. Namun tak ada salahnya jika seorang pegawai juga memiliki sebuah usaha. Tentunya akan semakin memiliki manfaat bagi orang lain bukan?

        Bisnis bukan barang instan, diperlukan "penataan mental" untuk memulai sebuah bisnis. Seseorang yang terlahir dari keluarga seorang pengusaha/pedagang, sebagian besar akan memiliki mindset ingin menjadi seorang pengusaha. Menjadi pengusaha adalah hal mulia karena nabi besar kita Muhammad Sallallahu'alaihi Wasallaam juga mengajarkan kepada umatnya untuk menjadi insan yang mampu secara finansial dengan menjadi seorang pengusaha. Dengan menjadi seorang pengusaha maka akan menjadikan diri kita sepenuhnya menggantungkan rizki hanya kepada Allah Subhanahuwata'ala, bukan kepada manusia.
        Perguruan tinggi sangat berperan untuk "menggenjot" perekonomian negara kita, Indonesia. Beberapa perguruan tinggi telah menjadikan mata kuliah kewirausahaan menjadi mata kuliah wajib. Mata kuliah tersebut mengharuskan mahasiswa/mahasiswinya untuk membuat sebuah business plan yang harus direalisasikan  baik dibuat secara individu maupun kelompok. Hal ini disebabkan karena jika saat mahasiswa/mahasiswi tersebut telah lulus maka akan meminimalisir terjadinya pengangguran yang menjadi beban negara. Perguruan tinggi memiliki fungsi yang strategis disamping peran peningkatan prestasi akademik.
          Selain perguruan tinggi, peran pemerintah sangat dibutuhkan disini. Didalam UUD 1945 pasal 31 berkaitan tentang pendidikan, dana APBN yang digelontorkan dalam peningkatan pendidikan adalah sebesar 20% dari total APBN, angka yang fantastis. Pemerintah telah mengadakan suatu program khusus untuk mahasiswa dalam peningkatan kemampuan untuk berbisnis/berwirausaha. Selain pemberian dana, pemerintah sebaiknya juga melakukan pengawasan yang lebih intensif untuk menjaga keberlangsungan usaha, meskipun saat ini juga sudah dilakukan. Pemerintah sebagai regulator juga diharapkan dapat memberikan peran penting untuk mendukung situasi bisnis, khususnya bagi mahasiswa.
         Mahasiswa merupakan agen perubahan (agent of change) didalam masyarakat. Mahasiswa memiliki tingkat intelektual yang lebih baik, sehingga ilmu yang diperoleh dari bangku perkuliahan diharapkan dapat diaplikasikan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Perguruan tinggi yang telah membekali mahasiswanya dengan kewirausahaan, berarti telah menyiapkan lulusannya untuk dapat bertahan (eksis) walaupun lapangaan pekerjaan yang sedikit. Disinilah ketahanan mahasiswa diuji, bagaimana ia mempertahankan hidup setidaknya untuk dirinya sendiri, bahkan lebih baik lagi apabila dapat memberikan manfaat bagi masyarakat disekitarnya dengan penyerapan tenaga kerja dari pendirian sebuah usaha baru tersebut.
        Perguruan tinggi memiliki berbagai macam jurusan yang dapat dijadikan peluang bisnis. Misalkan saja jurusan teknik mesin, disana mahasiswa diharapkan dapat menciptakan inovasi dari mesin yang berguna bagi masyarakat. Salah satu produk teknik mesin adalah mesin pengolah sampah organik. Mesin tersebut dapat menghasilkan pupuk yang berguna bagi tanaman. Pupuk akan menjadi barang ekonomis yang dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah. Selain teknik mesin, jurusan yang tak kalah menarik adalah teknik kimia ataupun farmasi. Banyak penelitian-penelitian yang dilakukan, kemudian menciptakan produk pangan, kosmetik, ataupun obat-obatan yang dapat berguna bagi masyarakat. Hal itupun dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah pula.
           Indonesia masih mengalami keterbelakangan teknologi dibandingkan negara lain. Salah satu fungsi produksi yaitu dipengaruhi kemajuan teknologinya. Dengan teknologi mutakhir maka produk yang dihasilkan akan semakin tinggi, dan tingkat efektif dan efisiennya akan semakin besar. Hal tersebut akan mempengaruhi besarnya profit yang dihasilkan dari sebuah perusahaan. Perusahaan yang telah maju karena kemajuan teknologinya maka akan menjadi go public, perusahaan yang telah go public hendaknya menyisihkan sebagian profit yang didapat dari usahanya untuk Corporate Social Responsibility (CSR) yang akan dialokasikan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dibidang pendidikan, kesehatan, dan lainya.
          

Senin, 17 November 2014

KETIKA HUJAN MENYAPA

Bismillaahirrahmaanirrahiim
      Tetesan air langit itu membasahi bumi yang menghampar. Telah nampak kuasa-Nya menurunkan rizki kepada penduduk di bumi. Tanaman yang begitu merindukan hujan, laksana seorang ibu yang menantikan kedatangan buah hatinya, ikan di laut berenang dengan lincahnya memainkan atraksi dengan siripnya, begitupula manusia yang merupakan insan yang diciptakan sempurna oleh sang khalik, Allah Subhanahuwata'ala pun juga merindukan hujan untuk keberlangsungan kehidupannya. Seluruh penduduk bumi hendaknya mensyukuri rahmat yang menimbulkan "multiple effect" ini.
      Hujan terjadi karena peristiwa penguapan oleh matahari. Air sungai, air laut, bergerak ke atas menjadi butiran-butiran kristal air, kemudian tertampung menjadi awan-awan, dan setelah mencapai kapasitas maksimal ia akan turun ke bumi berbentuk rintik-rintik hujan. Peristiwa hujan melibatkan begitu banyak ciptaan Allah seperti matahari, angin, awan, air hujan, air laut, dan masih banyak lagi. Ciptaan-ciptaan Allah tersebut adalah untuk kemaslahatan manusia. Hujan merupakan bukti kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berpikir dan menjadi pembelajaran yang penting untuk kita.
       Ketika hujan menyapa, itulah salah satu waktu yang berharga. Dimana ketika hujan diturunkan, maka segala do'a yang kita panjatkan In Syaa Allah akan diijabah oleh Allah. Janganlah kita sia-siakan hujan karena inilah waktu yang baik untuk kita lebih mendekat kepada-Nya. Allah tempat kita meminta, menyampaikan segala gundah dihati. Allah lah pemilik segalanya, penentu segalanya, tak ada kekuatan yang lebih dahsyat selain kekuatan milik-Nya. Semuanya berada digenggaman-Nya.
     Manusia adalah makhluk yang dikaruniai akal dan pikiran sehingga ia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Peristiwa hujan menjadi sebuah "sarana" kita untuk mengenal Rabb yang agung. Melalui hujan, Allah hendak menyampaikan pesan pada manusia betapa Allah sangat mencintai manusia. Hujan akan menyuburkan tanah yang gersang dan tandus menjadi tanah yang penuh dengan kesuburan. Bisa kita bayangkan, andaikan Allah tidak menurunkan hujan bagaimanakah kehidupan kita akan berlangsung? Tentunya kelaparan akan merajalela karena krisis pangan yang disebabkan tak adanya pengairan. Tak hanya kelaparan, kejahatan pun akan merajalela karena "urusan perut" tak terselesaikan.
    Segala yang Allah turunkan tidak ada yang sia-sia, termasuk hujan sekalipun. Hujan dalam intensitas normal (cukup) maka akan menyuburkan tanah. Tetapi jika hujan dalam intensitas abnormal (sering) maka akan menimbulkan banjir. Keduanya sama-sama bernilai baik jika kita mau berkhusnudzon (berbaik sangka) kepada Allah. Saat hujan dalam intensitas normal, maka akan menyuburkan tanah, menjadikan pohon-pohon berbuah lebat. Buah tersebut adalah rizki yang diberikan Allah kepada manusia, maka kita haruslah bersyukur. Saat hujan dalam intensitas sering, maka akan menimbulkan bencana banjir. Harta benda kita akan lenyap terbawa arus banjir itu, maka kita hendaknya bersabar dan berintropeksi diri, apakah bencana yang diturunkan Allah adalah akibat kelalaian manusia untuk menjaga bumi, sehingga Allah menegur kita agar kembali ke jalan yang benar. Semua perkara adalah baik bagi setiap muslim.
     
     

Jumat, 14 November 2014

AGENT OF CHANGE IN FAMILY

Oleh : Ika Devi Silviana
     Keluarga adalah tempat dimana kita mencurahkan segala isi hati tentunya setelah Allah Subhanahuwata'ala. Keluarga merupakan nikmat yang Allah berikan kepada kita untuk melengkapi hidup kita di dunia. Didalam keluarga tentunya masing-masing memiliki karakter pembawaan yang berbeda-beda. Ada yang sabar, pendiam, pentaat, pemaaf, acuh tak acuh,  sampai yang paling menyeramkan sekalipun. Semuanya saling melengkapi satu sama lain, nah disinilah peran kita sebagai "penyelamat" yang akan membawa keluarga kita selamat tidak hanya dalam tataran dunia, namun juga akhiratnya.
       Islam memerintahkan umatnya tidak hanya sekedar memiliki iman, tapi kita juga memiliki ilmu. Setiap manusia adalah "agen of change" yang bermanfaat untuk keluarga melalui ilmu yang dimilikinya. Rasulullah bersabda, “Barang siapa di antara kamu melihat suatu kemungkaran maka ubahlah kemungkaran itu dengan tangannya, jika tidak mampu dengan lisannya, dan jika tidak mampu dengan hatinya. Dan yang demikian itu selemah-lemahnnya iman.” (HR. Muslim). Kaitan iman dan ilmu sangatlah kuat, karena dengan iman maka kita akan berilmu, dan karena dengan berilmu maka kita akan menegakkan keimanan.
       Setiap keluarga tentunya berharap akan sukses dunia dan akhiratnya. Tetapi tidak setiap keluarga membekali harapannya itu kemauan yang kuat untuk bergerak kearah yang lebih baik. Dibutuhkan pola dakwah melalui suri tauladan yang baik didalam keluarga. Misalkan seorang ayah atau ibu yang menginginkan anaknya menjadi anak yang sholeh atau sholehah, tentunya keduanya harus memberikan contoh yang baik terlebih dahulu. Keluarga juga dapat kita ibaratkan seperti sebuah bahtera yang tergantung pada pengemudinya, bagaimana sang pengemudi itu dapat menaklukan ujian angin dan badai agar seluruh isi bahtera dapat berlayar dengan selamat.
      Menjadi agent of change bukan suatu perkara yang instan. Dibutuhkan proses yang cukup panjang untuk menemukan bahwa sebenarnya dirinya merupakan agen perubahan yang akan "menularkan virus-virus" kebaikan. Mari kita lihat kisah nabi Ibrahim Alaihissalaam yang memiliki ayah yang sangat mencintai berhala-berhala tandingan Allah. Nabi Ibrahim selalu mengingatkan ayahnya untuk segera bertaubat dan senantiasa mendo'akan agar hatinya tergerak. Namun ayahnya masih mempertahankan berhala-berhala itu. Kegigihan untuk merubah harus sangat kuat, namun setelah itu kita serahkan hasilnya kepada Allah Subhanahuwata'ala. Jika rasa putus asa dalam dakwah mendera, yakinlah Allah adalah maha yang membolak-balikkah hati manusia yang akan memberikan hidayah kepada manusia untuk mengarah kearah yang lebih baik.
         Ilmu adalah jalan kita menemukan kebenaran. Ilmu yang kita tuntut tidak sekedar ilmu untuk kebahagiaan dunia saja, namun juga ilmu untuk meraih kebahagiaan akhirat karena kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan di alam akhirat.  Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim dari ia dibuai oleh ayah dan ibu, sampai saat kita sudah ada di liang lahat. Keterlambatan bukan akhir dari segalanya selama Allah masih memberikan kesempatan untuk kita berubah. Mari bersama-sama mengajak keluarga kita untuk menggapai keselamatan hidup didunia dan diakhirat dengan didasari pengharapan meraih ridho Allah Subhanahuwata'ala. Wallahua'lam..
     
       

Minggu, 02 November 2014

AIB DAN GHIBAH

Oleh : Ika Devi Silviana
      Pergaulan merupakan suatu hal yang tidak dapat kita elakkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita akan bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan berbagai sifatnya. Disinilah letak kita untuk lebih cerdas mengelola hubungan itu. Terkadang disebuah perkumpulan secara tidak sengaja kita membicarakan suatu hal yang akan "berbuntut" pada ghibah (menggunjing). Perbuatan menggunjing ini telah diibaratkan Allah seperti kita memakan bangkai saudara kita sendiri. Alangkah menjijikannya.
     Allah mengaruniakan kita sebuah organ mungil dibawah hidung, yaitu mulut. Mulut itu lebih tajam daripada pedang. Organ inilah yang kebanyakan membawa pemiliknya terjerembab di dalam panasnya neraka. Tak dapat dipungkiri bahwa hal-hal yang dilakukan oleh mulut inilah yang sangat melenakan, khususnya bagi kaum hawa. Menahan hawa nafsu adalah salah satu caranya. Memang bukan perkara mudah didalam hawa nafsu, karena kita harus berperang melawan syaitan yang selalu mengintai kita disegala sisi.
      Setiap diri manusia tentunya memiliki kekurangan dan kelebihan. Kita lebih banyak menilai kekurangan orang, daripada kebaikan yang telah diberikan kepada kita. Itulah kelemahan manusia yang pada akhirnya menjadikan mereka menggunjing kelemahan orang lain. Apakah kita sendiri sadar bahwa kita tentunya memiliki banyak kekurangan. Relakah kita digunjing sebagaimana kita menggunjing orang lain? Tentunya tidak. Allah telah berbaik hati menyembunyikan kekurangan yang ada didalam diri kita dengan memberikan hal yang baik, entah itu dengan wajah yang cantik, tubuh yang tinggi, otak yang cerdas, dan harta yang melimpah.  Lalu mengapa perbuatan ghibah itu masih terasa nikmat, cobalah melakukan intropeksi diri.
     Didalam pergaulan tentunya tidak mudah menjadi seseorang yang idealis mempertahankan ajaran Al-Qur'an dan Hadist. Namun kita harus belajar sedikit demi sedikit. Memang semua itu membutuhkan proses yang sangat panjang, tidak instan. Terkadang kita dianggap "sok" suci, tetapi inilah peran kita untuk mengajak saudara kita untuk melakukan perbuatan yang baik. Relakah kita jika kita memasuki surga sendirian sementara saudara kita terpeleset ke dalam neraka. Jika terasa sulit menahan hawa nafsu untuk berghibah, maka ingatlah Allah telah menutup aib kita didepan orang lain, jika kita tetap berghibah berarti kita belum memiliki rasa malu kepada Allah. Semoga Allah mengaruniai perasaan malu seperti Khalifah Ustman bin Affan Radhiyallahu'anhu. Aamiin..

ANDAI WAKTU MEMANGGIL

Oleh : Ika Devi Silviana
      Allah adalah Rabb tempat kita bergantung melebihi ketergantungan kita pada siapapun. Ia lebih dekat dari urat leher manusia. Itu berarti, jika tidak ada Allah didalam hidup kita, maka kita tidak akan hidup seperti saat ini. Sampai manusia akan diterjang kematian pun seharusnya yang kita ingat adalah Allah. Namun, Allah memegang seluruh kendali didalam hidup kita, termasuk keimanan di dalam hati. Hati dapat berbolak-balik, bisa saja saat ini hidup dalam keimanan namun pada akhirnya kita akan meninggalkan keimanan itu, atau bahkan sebaliknya sekarang kita hidup jauh dari keimanan namun pada akhirnya Allah memberikan khusnul khatimah yang begitu indah.
    Dunia ibarat fatamorgana, dilihat ada, namun jika ditangkap ia akan hilang. Sama seperti kehidupan kita sekarang yang penuh dengan kesenangan yang melenakan, tetapi jika kita telah meninggalkanya ia tidak akan menyertai kita, yang tersisa hanyalah amal-amal kita. Jika selama kita hidup senantiasa berbuat keshalihan, maka amal itu akan datang dengan wujud rupa yang elok. Jika selama kita hidup didominasi dengan perbuatan maksiat, maka ia akan mendatangi kita dengan rupa yang menyeramkan. Kita masih diberikan waktu oleh Allah untuk memperbaiki sebelum semuanya terlambat.
      Kematian akan memberikan efek yang bertolak belakang saat sakaratul maut menjemput. Disaat detik itu datang, kita akan diingatkan dengan masa lalu kita. Tak aneh jika saat menjelang kematian ada yang tersenyum dan bahkan sebaliknya. Kita perlu berdo'a kepada Allah, karena tidak ada satupun manusia yang dapat menjamin kita untuk mendapatkan khusnul khatimah itu. Nafsu jiwa yang membuncah, seringkali menutupi mata hati seperti akan terlupa bahwa nafas akan terhenti. Astaghfirullah..
     Kematian adalah permulaan kita menjalani kehidupan yang sesungguhnya. Setelah kita meninggal, kita akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita selama di dunia. Setiap derap langkah, setiap gelak tawa, setiap ucapan, dan bahkan hal terkecil dalam kehidupan kita yaitu bernafas. Kita juga akan menunggu disuatu alam yaitu alam kubur. Di alam kubur ini kita juga akan diberikan "pelayanan" sesuai dengan amal kita. Ibarat sebuah hotel, jika hotel itu mahal maka pelayanannya akan "mahal", begitupula sebaliknya. Ada segala macam pelayanan dialam kubur, dari yang paling "memukau" nikmatnya, sampai pada "WOW" siksanya. Allah menyediakannya semua.
      Alam kubur adalah alam transisi sebelum alam yang sesungguhnya (surga dan neraka). Kita harus "mencicipi" panasnya alam mahsyar, tempat seluruh manusia dikumpulkan menunggu diadili perbuatannya. Ibarat seorang terdakwa pelaku kriminalitas, disana ada hakim agung, yaitu Allah Subhanahuwata'ala, lengkap dengan segala saksi yang entah akan meringankan atau memberatkan timbangan amal baik kita. Tak lupa kita juga akan menerima catatan "rapor" amal kita. Dengan tangan kanankah atau dengan tangan kiri kitakah akan diberikan rapor itu. Luka, sepi, air mata tidak akan berarti lagi. Tiada dusta diri yang tak terhakimi pada saat itu.
    Setelah di alam mahsyar, kita akan meniti jembatan siratalmustaqim. Jembatan itu sangat mengerikan, karena dibawah jembatan itu telah membentang neraka yang membuat tubuh kita meleleh karena panas yang begitu dahsyat. Meniti jembatan ini juga tergantung dengan amal perbuatan kita di dunia. Jika kita melakukan amal kebajikan, maka Allah akan memberikan "pelita"nya untuk menuntun jalan kita dengan lancar sampai ke surganya yang baunya sangat harum. Tetapi jika amal baik kita ringan, maka bersiap-siaplah untuk terjerembab dalam panasnya neraka.
      Rasa cita kita kepada Allah akan menjadi penolong bagi kita untuk melewati semua itu. Cinta kepada Allah menjadikan kita mudah disegala hal. Akan terasa indah jika segala hal yang kita lakukan itu didasari cinta kepada sang khalik. Tidak ada yang namanya "cinta bertepuk sebelah tangan". Allah akan mencintai hamba-hamba-Nya yang juga mencintainya. Dengan demikian kita tidak akan pernah merasa amal yang kita lakukan sia-sia dan tidak dihargai. Allah selalu menilai segala amal manusia, termasuk hal sangat kecil sekalipun seperti senyuman yang tulus kepada sesama.

Senin, 27 Oktober 2014

BERAPA IPK-MU?

Bismillaahirrahmaanirrahiim 
     Indeks Prestasi Kumulatif atau lebih kerennya digaungkan dengan sebutan IPK memang menjadi indikator menilai kejeniusan seseorang. Tak munafik, saat pola seleksi melamar pekerjaan paling tidak IPK menjadi senjata ampuh untuk lolos (paling tidak) seleksi administrasi. Tak hanya seleksi pekerjaan yang membutuhkan IPK yang tinggi, Allah juga memiliki standar IPK (Indeks Prestasi Ketakwaan). Jika kita menginginkan rahmat dan ridho Allah, maka kita akan dipermudah meniti jalan menuju surga-Nya kelak. Sekarang bagaimana meraih IPK tertinggi disisi Allah?
    Seorang mahasiswa apabila menginginkan IPK yang baik tentunya harus dengan usaha yang ekstra kuat. Mencari materi, bertanya dosen, mengerjakan tugas, atau dengan aktif dikelas. Sama halnya dengan meraih IPK sempurna disisi Allah, kita dapat mencari ilmu agama, bertanya seorang ulama atau guru agama kita, serta aktif dalam melakukan kebaikan ber(fastabiqul khoirat). Allah telah memberikan kita fasilitas yang sangat berlimpah untuk meraih semua itu. Mata, telinga, hidung, mulut, tangan, kaki, dan masih banyak lagi. Semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Allah berfirman dalam QS.Ar-Rahman:55, "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?"
    Allah telah memberikan Al-Qur'an dan hadist untuk menjadi pedoman hidup umat manusia. Nabi berpesan jika kita berpegang kepada keduanya, maka tidak akan menemukan kesesatan didalam kehidupan. Perkara yang paling kecil mulai kita bangun dari tidur saja sudah diatur, dan tentu saja perkara yang besar juga tercakup didalamnya. Disini tugas kita sebagai hamba Allah, yaitu bersemangat dalam mencari ilmu, tidak untuk dunia saja, tapi utamanya adalah ilmu untuk kehidupan di akhirat kelak. Kehidupan dunia hanya sementara saja ibarat pergantian pagi dan siang, atau siang berganti malam. Kehidupan akhiratlah kehidupan kita yang sesungguhnya.
    Mempertahankan IPK yang sempurna dimata Allah tentunya bukan perkara mudah. Kita harus berjuang melawan hawa nafsu yang setiap saat mengintai di relung qalbu. Sabar adalah senjata ampuh, dengan sabar menjalankan perintah-Nya dan sabar didalam menjauhi larangan-Nya. Semua perkara untuk muslim itu baik, jika ia diberikan kesenangan ia bersyukur, dan jika ia ditimpa kesenangan maka ia bersabar. Keduanya sama-sama baik dan memberikan pahala, alangkah sempurnanya agama Islam dari Allah ini.
     Kita sungguh beruntung terlahir dari keluarga yang memiliki latar belakang Islam. Tapi tidak lantas kita merasa lebih baik daripada orang lain. Kita perlu mendalami dan mematangkan apakah Diinul Islaam itu, bagaimanakah nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Akan terasa bahagia jika setiap langkah yang kita hentakkan di bumi Allah ini terniatkan untuk menggapai ridha Allah Ta'ala, tidak semata-mata hidup tanpa tujuan yang jelas kedepannya. Bukankah kehidupan akhirat adalah kehidupan yang pasti kita tempuh setelah kehidupan ini? Mari kita persiapkan dengan sebaik-baiknya.
    Allah memberikan begitu banyak nikmat, salah satunya adalah waktu. Disinilah letak kesulitan untuk mengelola waktu. Waktu ibarat bom atom yang terhitung mundur dan tinggal menunggu waktu kapan ia akan meledak. Waktu adalah kesempatan untuk beribadah, karena ibadah adalah nikmat yang sangat besar. Banyak orang yang telah meninggal ingin kembali ke dunia untuk kembali beribadah kepada Allah. Setiap tarikan nafas yang kita hirup mengandung oksigen yang apabila kita membelinya akan sangat mahal, tapi apakah Allah memerintahkan kita untuk membelinya? "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?"
    Malaikat maut senantiasa mengintai kita. Ia menunggu perintah Allah kapan ia akan merenggut nyawa kita. Tak ada yang bisa terlepas dari jeratan maut, sekalipun kita bersembunyi didalam lubang tikus sekalipun. Nabi Muhammad yang senantiasa terjaga dari perbuatan dosa sekalipun tetap merasakan bagaimana sakitnya maut. Lalu bagaimanakah kita yang masih tergoda dengan kenikmatan dunia yang begitu melenakan? semoga Allah selalu menjaga kita didalam meniti jalan kebenaran hingga kita menemukan indahnya khusnul khatimah.
    Kematian bukan akhir dari kehidupan, justru ia adalah permulaan kehidupan yang sesungguhnya. Kita masih menunggu di alam kubur, digiring ke padang mahsyar yang sangat panas, dihisab amal-amal kita, menyeberangi titian siratal mustaqim. Kita tahu surga tidak akan dibeli dengan harga yang murah, tiketnya pun sangat mahal. Kita harus diterpa badai cobaan di alam dunia, setelah kita lulus kemudian kita mengalami perjalanan sulit sebelum kita menapakkan kaki kita di tanah surga Allah yang telah Ia persiapkan bagi hamba-hamba Allah yang bertakwa. Marilah mulai dari sekarang kita persiapkan IPK terbaik kita sebelum kita menemui Tuhan kita yang agung, Allah Subhanahuwata'ala.