Oleh : Ika Devi Silviana
Pergaulan merupakan suatu hal yang tidak dapat kita elakkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita akan bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan berbagai sifatnya. Disinilah letak kita untuk lebih cerdas mengelola hubungan itu. Terkadang disebuah perkumpulan secara tidak sengaja kita membicarakan suatu hal yang akan "berbuntut" pada ghibah (menggunjing). Perbuatan menggunjing ini telah diibaratkan Allah seperti kita memakan bangkai saudara kita sendiri. Alangkah menjijikannya.
Allah mengaruniakan kita sebuah organ mungil dibawah hidung, yaitu mulut. Mulut itu lebih tajam daripada pedang. Organ inilah yang kebanyakan membawa pemiliknya terjerembab di dalam panasnya neraka. Tak dapat dipungkiri bahwa hal-hal yang dilakukan oleh mulut inilah yang sangat melenakan, khususnya bagi kaum hawa. Menahan hawa nafsu adalah salah satu caranya. Memang bukan perkara mudah didalam hawa nafsu, karena kita harus berperang melawan syaitan yang selalu mengintai kita disegala sisi.
Setiap diri manusia tentunya memiliki kekurangan dan kelebihan. Kita lebih banyak menilai kekurangan orang, daripada kebaikan yang telah diberikan kepada kita. Itulah kelemahan manusia yang pada akhirnya menjadikan mereka menggunjing kelemahan orang lain. Apakah kita sendiri sadar bahwa kita tentunya memiliki banyak kekurangan. Relakah kita digunjing sebagaimana kita menggunjing orang lain? Tentunya tidak. Allah telah berbaik hati menyembunyikan kekurangan yang ada didalam diri kita dengan memberikan hal yang baik, entah itu dengan wajah yang cantik, tubuh yang tinggi, otak yang cerdas, dan harta yang melimpah. Lalu mengapa perbuatan ghibah itu masih terasa nikmat, cobalah melakukan intropeksi diri.
Didalam pergaulan tentunya tidak mudah menjadi seseorang yang idealis mempertahankan ajaran Al-Qur'an dan Hadist. Namun kita harus belajar sedikit demi sedikit. Memang semua itu membutuhkan proses yang sangat panjang, tidak instan. Terkadang kita dianggap "sok" suci, tetapi inilah peran kita untuk mengajak saudara kita untuk melakukan perbuatan yang baik. Relakah kita jika kita memasuki surga sendirian sementara saudara kita terpeleset ke dalam neraka. Jika terasa sulit menahan hawa nafsu untuk berghibah, maka ingatlah Allah telah menutup aib kita didepan orang lain, jika kita tetap berghibah berarti kita belum memiliki rasa malu kepada Allah. Semoga Allah mengaruniai perasaan malu seperti Khalifah Ustman bin Affan Radhiyallahu'anhu. Aamiin..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar