Senin, 27 Oktober 2014

BERAPA IPK-MU?

Bismillaahirrahmaanirrahiim 
     Indeks Prestasi Kumulatif atau lebih kerennya digaungkan dengan sebutan IPK memang menjadi indikator menilai kejeniusan seseorang. Tak munafik, saat pola seleksi melamar pekerjaan paling tidak IPK menjadi senjata ampuh untuk lolos (paling tidak) seleksi administrasi. Tak hanya seleksi pekerjaan yang membutuhkan IPK yang tinggi, Allah juga memiliki standar IPK (Indeks Prestasi Ketakwaan). Jika kita menginginkan rahmat dan ridho Allah, maka kita akan dipermudah meniti jalan menuju surga-Nya kelak. Sekarang bagaimana meraih IPK tertinggi disisi Allah?
    Seorang mahasiswa apabila menginginkan IPK yang baik tentunya harus dengan usaha yang ekstra kuat. Mencari materi, bertanya dosen, mengerjakan tugas, atau dengan aktif dikelas. Sama halnya dengan meraih IPK sempurna disisi Allah, kita dapat mencari ilmu agama, bertanya seorang ulama atau guru agama kita, serta aktif dalam melakukan kebaikan ber(fastabiqul khoirat). Allah telah memberikan kita fasilitas yang sangat berlimpah untuk meraih semua itu. Mata, telinga, hidung, mulut, tangan, kaki, dan masih banyak lagi. Semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Allah berfirman dalam QS.Ar-Rahman:55, "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?"
    Allah telah memberikan Al-Qur'an dan hadist untuk menjadi pedoman hidup umat manusia. Nabi berpesan jika kita berpegang kepada keduanya, maka tidak akan menemukan kesesatan didalam kehidupan. Perkara yang paling kecil mulai kita bangun dari tidur saja sudah diatur, dan tentu saja perkara yang besar juga tercakup didalamnya. Disini tugas kita sebagai hamba Allah, yaitu bersemangat dalam mencari ilmu, tidak untuk dunia saja, tapi utamanya adalah ilmu untuk kehidupan di akhirat kelak. Kehidupan dunia hanya sementara saja ibarat pergantian pagi dan siang, atau siang berganti malam. Kehidupan akhiratlah kehidupan kita yang sesungguhnya.
    Mempertahankan IPK yang sempurna dimata Allah tentunya bukan perkara mudah. Kita harus berjuang melawan hawa nafsu yang setiap saat mengintai di relung qalbu. Sabar adalah senjata ampuh, dengan sabar menjalankan perintah-Nya dan sabar didalam menjauhi larangan-Nya. Semua perkara untuk muslim itu baik, jika ia diberikan kesenangan ia bersyukur, dan jika ia ditimpa kesenangan maka ia bersabar. Keduanya sama-sama baik dan memberikan pahala, alangkah sempurnanya agama Islam dari Allah ini.
     Kita sungguh beruntung terlahir dari keluarga yang memiliki latar belakang Islam. Tapi tidak lantas kita merasa lebih baik daripada orang lain. Kita perlu mendalami dan mematangkan apakah Diinul Islaam itu, bagaimanakah nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Akan terasa bahagia jika setiap langkah yang kita hentakkan di bumi Allah ini terniatkan untuk menggapai ridha Allah Ta'ala, tidak semata-mata hidup tanpa tujuan yang jelas kedepannya. Bukankah kehidupan akhirat adalah kehidupan yang pasti kita tempuh setelah kehidupan ini? Mari kita persiapkan dengan sebaik-baiknya.
    Allah memberikan begitu banyak nikmat, salah satunya adalah waktu. Disinilah letak kesulitan untuk mengelola waktu. Waktu ibarat bom atom yang terhitung mundur dan tinggal menunggu waktu kapan ia akan meledak. Waktu adalah kesempatan untuk beribadah, karena ibadah adalah nikmat yang sangat besar. Banyak orang yang telah meninggal ingin kembali ke dunia untuk kembali beribadah kepada Allah. Setiap tarikan nafas yang kita hirup mengandung oksigen yang apabila kita membelinya akan sangat mahal, tapi apakah Allah memerintahkan kita untuk membelinya? "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?"
    Malaikat maut senantiasa mengintai kita. Ia menunggu perintah Allah kapan ia akan merenggut nyawa kita. Tak ada yang bisa terlepas dari jeratan maut, sekalipun kita bersembunyi didalam lubang tikus sekalipun. Nabi Muhammad yang senantiasa terjaga dari perbuatan dosa sekalipun tetap merasakan bagaimana sakitnya maut. Lalu bagaimanakah kita yang masih tergoda dengan kenikmatan dunia yang begitu melenakan? semoga Allah selalu menjaga kita didalam meniti jalan kebenaran hingga kita menemukan indahnya khusnul khatimah.
    Kematian bukan akhir dari kehidupan, justru ia adalah permulaan kehidupan yang sesungguhnya. Kita masih menunggu di alam kubur, digiring ke padang mahsyar yang sangat panas, dihisab amal-amal kita, menyeberangi titian siratal mustaqim. Kita tahu surga tidak akan dibeli dengan harga yang murah, tiketnya pun sangat mahal. Kita harus diterpa badai cobaan di alam dunia, setelah kita lulus kemudian kita mengalami perjalanan sulit sebelum kita menapakkan kaki kita di tanah surga Allah yang telah Ia persiapkan bagi hamba-hamba Allah yang bertakwa. Marilah mulai dari sekarang kita persiapkan IPK terbaik kita sebelum kita menemui Tuhan kita yang agung, Allah Subhanahuwata'ala.

    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar