Selasa, 19 Juli 2016

Ta’aruf Seumur Hidup


Bismillaahirrahmaanirrahiim..


Beberapa waktu lalu saya lihat di media sosial rata-rata teman-teman muda-mudi saya kompak posting mengenai ta’aruf dan menikah.. kadang sempat terpikir, “Apakah hal ini yang dirasakan muda-mudi usia 20 an ya?” tak sadar di berbagai pertemuan, obrolan-obrolan singkat menggiring pada argumentasi dari kelas ringan sampai berat terkait menikah..

Lucunya lagi, ada meme yang mengundang gelak tawa yang settingnya akhwat yang menyeret seorang ikhwan ke Kantor Urusan Agama (KUA), dengan berbagai macam setting nya menolak dinikahi,  ada yang cuma di PHP-in, ada yang belum kelar skripsi, ada yang belum bekerja, dan malah ada yang sudah menikah dan mau dijadikan yang kedua hehe..

Tak mau kalah, ada yang membuat meme tandingan ikhwan yang menyeret seorang akhwat ke KUA, dengan berbagai alasannya menolak dinikahi, ada yang belum bekerja, belum punya mobil, dan belum punya, belum punya lainnya.. Complete..

Obrolan singkat seputar menikah biasanya mengenai bagaimana kriteria calon ideal, pendidikan, fizikly (ala bahasa Malaysia gitu hehe), restu orang tua, keinginan setelah menikah, rencana pendidikan anak, hobby, ketrampilan, dll nya..

Baiklah.. saya ingin mengulas tulisan di Islampos (bersumber pada tulisan Salim A Fillah) oleh Eva Fatmah, mungkin saja anda tahu beliau ya? Menurut saya beliau ustadz faforit remaja hingga dewasa karena beliau aktif menulis (khususnya) tentang ta’aruf dan menikah.. tapi ndak cuma itu ya kawan, harus di garis bawahi lhoo hehehe..

Di tulisan tersebut diceritakan bahwa ada seorang  ikhwan yang ingin ta’aruf dengan akhwat, sebelumnya ikhwan tersebut telah mengetahui CV/biodata si akhwat. Akhwat tersebut bekerja di apotek sebagai asisten apoteker (AA) yang meracik obat di dalam. Ketika si ikhwan ingin melihat si akhwat, di setting sang ikhwan membeli obat di apotek, momennya sangat singkat karena si akhwatnya bekerja di belakang, dan hanya sebentar ke depan untuk mengantar obat racikannya. Itupun dengan wajah malu-malu (sepertinya dengan menunduk juga)..

“Lihatlah wanita yang akan kau nikahi itu, karena yang demikian lebih mungkin melanggengkan hubungan di antara kalian berdua.” (HR.An-Nasa’a/3235, At-Tirmidzi/1087)

Pertemuan awal belum berhasil, lalu dirancanglah untuk pertemuan kedua. Pertemuan kedua ini baru berhasil, karena meja ruang tamu tersebut terbuat dari kaca, beniiiing sekali..

Dibrondongilah si akhwat itu dengan berbagai pertanyaan, “Visi misi pernikahan menurut Anda?”, “Bagaimana konsep pendidikan anak yang tepat?”, “Apa pandangan Anda tentang istri yang berkarir?”, “Seperti apa proyeksi nafkah nantinya?”, “Bagaimana pendapat Anda tentang homeschooling?”, “Rencana tempat tinggal dan penataannya?” seperti ujian pendadaran hehe..

Yang mengagetkan di tulisan tersebut adalah pengakuan dari akhwat tersebut..

“Maaf, saya tidak bisa masak.”

Si pemuda bergumam dalam hati, “Ya Allah aku kemarin minta yang shalihah dan menshalihkan. Mengingati Ibunda ‘Aisyah, rupanya pandai memasak belum termasuk di situ. Ya Allah apakah Kau menguji kesungguhan kriteriaku?” Lalu dia kuatkan hati, “Tidak apa Ukhti. Di kota ini banyak rumah makan. Murah-murah lagi.”

“Saya juga tidak terbiasa mencuci.”

“Alamak”, batin hati si pemuda. Tapi mengingat hal yang sama, dia berkata lagi, “Tidak apa Ukhti. Di kota ini banyak laundry. Kiloan lagi.”

“Saya bukan mencari tukang masak dan tukang cuci. Melainkan seorang istri. Kalau diperkenankan, saya akan segera menghadap pada Ayah Anda.” Maka hari itu, tanggal lamaran pun ditetapkan pada enam hari kemudian, tepatnya 18 Juli.

Begitu percakan di tulisan tersebut..

Dan ditulisan itu ada pertanyaan yang sangat menarik untuk saya yaitu “Bagaimana ta’aruf yang hakiki?” ternyata jawabannya seperti ini kawan..

Ta’aruf itu seumur hidup. Sebab manusia adalah makhluk penuh dinamika. Dia sedetik lalu takkan persis serupa dengan kini adanya. Ta’aruf itu seumur hidup. Sebab kenal sejati adalah saat bergandengtangan dalam surgaNya.

Dua belas tahun berta’aruf, pemuda itu masih terus belajar mengenal istrinya. Dan selalu ada kejutan ketika prasangka baik dikedepankan. Misalnya, si dia yang mengaku tak bisa memasak itu, pada HUT RI ke-60 setahun kemudian, menjadi juara lomba masak Agustusan. Tingkat RT. Lumayan bukan?

Kisah romantis teman saya yang tak kalah menginspirasi yaitu ketika sang suami berkata pada istrinya, “Mengapa Allah tampakkan kekuranganmu dihadapanku?” sang istri mulai bersedih, ia khawatir jika suaminya tidak menyukainya lagi..

Dan apakah jawaban sang suami? “Jangan bersedih, Allah menampakkan kekuranganmu di hadapanku, dan menampakkan kekuranganku di hadapanmu, bukan karena aku kecewa terhadapmu, supaya apa? Supaya kita tahu bahwa hanyalah Allah Yang Maha Sempurna, supaya kita hanya cinta pada-Nya, dan kita dipersatukan karena cinta kita kepada Allah..” 

Sang istri kemudian memeluk erat suaminya dengan air mata bahagia..

Satu lagi, gombal manis nan romantis Siti Fatimah kepada Ali bin Abi Thalib..

“Maafkan aku jika sebelum menikah denganmu, aku telah jatuh cinta kepada seorang pemuda.”

(Ali mulai bersedih mendengar pernyataan itu)

“Lalu mengapa kau mau menikahiku?”

“Tahukah kau, pemuda itu adalah engkau..”


Eaaaaa.. pasti guling-guling bahagia...Rayakan cinta dengan yang halal.. semoga bermanfaat.. J

Sendiri


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus."

(QS.Al-Bayyinah:5)

Pernah saya membaca nasihat yang menarik tentang ikhlas dan sabar, seperti ini "bukan ikhlas jika masih ada rasa sakit, dan bukan sabar jika ada batasnya." Nasihat itu seketika membuat diri terhempas.. jauh.. mana ada orang yang ikhlas, coba anda ditendang, dipukul, dikeroyok beramai-ramai? Apakah anda akan membalasnya? Maybe yes, maybe no. Pernah juga anda memberikan sesuatu kepada orang lain, apakah yang anda harapkan? ingin didengar? dilihat? atau disanjung? Maybe yes, maybe no. Semua tergantung hati manusia.

"Hati ibarat raja, sedangkan anggota badan adalah pasukannya. Apabila baik rajanya maka baik pula pasukannya, apabila buruk rajanya maka buruk pula pasukannya."

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).” HR.Bukhori

Itulah hati.. Unik bukan?

Namun perlu kita ingat kawan, iman kita kadang naik, kadang turun. Kadang ingat, kadang alpha. Jika suatu saat timbul rasa aneh didalam hati, membuat gelisah, membuat takut, membuat khawatir, membuat kotor. Itulah indikasi hati kita mulai aneh pada Allah juga. Saya pun tidak memungkiri pernah mengalami hal tersebut. Tersiksa? Jangan tanya.. pasti iya!

Dosa adalah candu. Canduu yang ingin diulang terus-menerus, lagi dan lagi, tak pernah kenyang.. dan itu harus diakhiri, dan prosesnya sangatlah sulit, sangat sulit. Ibarat merehabilitasi korban NAPZA, perlu waktu dan tenaga yang kuat. Tekad yang kuat dari pelakunya.

Namun ingatlah..

Ketika kau sedang sendiri, sedang sakit, ada masalah, dalam situasi genting sekali..
Orang terdekatmu pun tak ada, sahabat karib, dosen, boss, atau orang yang selalu menari-nari dibenakmu ketika kau telah tumbuh dewasa..

Apakah mereka bersamamu?

Coba pikir.. Siapa yang ada? Adakah orang yang kau harapkan pujiannya ketika kau beri sesuatu yang akan datang merawatmu? Apakah mereka yang tertawa riang bersamamu ketika berkumpul? Ataukah mereka yang selalu kau ceritakan pada setiap orang dengan bangganya?

Saat kau sendiri.. tahukah kau? Kau hanya bersama Allah mu kawan, dzat yang sering kita lupakan di kala kita kejatuhan nikmat, dzat yang sangat romantis denganmu, ya.. Ia ingin bersamamu, berdua saja, tak ada yang mengganggu. Kau bisa tumpahkan seluruh air matamu, segala peluhmu, segala deritamu.

Betapa romantisnya Ia, Ia tuliskan asmanya yang indah di tanganmu, mata untuk melihat indahnya cinta-Nya, telinga untuk mendengar bait-bait nama-Nya, mulut manis mengucap asma-Nya..
Saat kau sendiri, saat kau bersama-Nya, kau akan tahu posisimu di hadapan-Nya, begitu hina, begitu banyak bintik-bintik noda bertambah di relung hatimu..

Saat itu, terasa sekali mengapa kita duakan Ia dengan suatu yang lain. Amat menyakitkan, amat tak adil, bagaimana tidak? Dikala teman yang kita harapkan hadirnya, namun hanya ada Ia saja. Ketika kita hujan nikmat kita meninggalkannya. Belum lagi penyakit hati yang sangat bermacam-macam menduakan keesaan-Nya. Apakah Ia meninggalkan kita? tidak bukan? tangan-Nya terbuka lebar, menerima kita, mengampuni kita, memeluk kita dalam kasih sayang-Nya, memberi kita rahmat, hikmah yang sangat indah dari masalah kita. Bukankah kita mendapatkan yang berlapis-lapis? Iya..

Saat kita mengeluh dan mengeluh, saat itu kita belum bisa membaca rencana-Nya, saat kita dapat menerima ketentuan-Nya, kita bahkan bisa tersenyum-senyum sendiri seperti anak kecil yang mendapat permen karena rencana-Nya buat kita yang sangaaaat indah dan spesial.. Pernah seperti itu? hehe

Ia hanya ingin hatimu untuk-Nya, dalam QS.Al-Kahfi:110

Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan denganTuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya."


Aku dan kamu bisa kawan.. semoga bermanfaat

Jumat, 24 Juni 2016

High Class Love


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

“Salah satu diantara mereka yang mendapatkan naungan Allah Subhanahuwata’ala di hari kiamat adalah orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul karena Allah, berpisahpun karena Allah.”

Let’s check it out!

Hari kiamat. Hari kiamat, Ya! Hari kiamat. Penjelasan mengenai hari kiamat sudah sangat sering kita dengar. Ingatkah anda di tahun 2012 lalu? Sebuah ramalan yang menggemparkan Indonesia, bahkan sampai “melancong” ke luar negeri. Filmnya pun sangat ngeri terasa, ya! “2012” Tentang terjadinya kiamat,  tergulungnya lautan, hancurnya alam semesta, runtuhnya jalan, jembatan, dan fasilitas umum lainnya. Semua orang berlari kencang, ada yang pakai mobil juga, berharap mereka mampu menyelamatkan diri dari kekacauan kiamat. Namun yang tersebut adalah versi film, versi aslinya tak ada yang mengetahui kapan pastinya, termasuk orang terkasih Allah Subhanahuwata’ala yaitu Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam sendiri..

Yuk mari saya mengajak pembaca memaknai arti “High Class Love” bagaimana anda sekalian memaknai istilah ini? Maknanya bermacam-macam, mungkin ada yang mengartikan cinta sejati,... yaaa, bolehlah J atau mencintai orang yang high/tinggi? Kalo itu kriteria mungkin iya.. apalagi ditambah putih, elok paras, berada, strata sosial yang wow.. siapa yang tak tertarik? Tapi kita tepiskan dulu pandangan itu ya...

High Class Love disini berarti cinta tingkat tinggi, cinta yang mana itu mah, Mbak? Cinta tingkat tinggi yaitu dimana dua orang/lebih yang saling mencintai karena Allah, mereka berpisahpun karena Allah juga.. So sweet kan? Misalnya begini, Abu Bakar dan Rasulullah adalah contoh simpelnya. Beliau berdua ibarat surat dan perangkonya, amplop dan lemnya, gelas dan tutupnya, yap tak terpisahkan. Sahabat tingkat tinggi, cintanya juga tingkat tinggi. Jika Abu Bakar melakukan suatu kesalahan, maka Rasulullah menasihatinya, Rasulullah melakukan ini, Abu Bakar juga ayuk, ketika Abu Bakar khawatir dalam kejaran kaum kafir ketika berada di gua, Rasulullah pun menenangkannya, “Innallaha ma’ana..” Sesungguhnya Allah bersama kita.. Do’anya untuk dua orang lho.. Bahkan anda pasti tahu Aisyah putri Abu Bakar, beliau dinikahkan dengan Rasulullah ketika usianya sangat belia.. Bukan main tingkat tingginya (persahabatannya)..

Dari kisah Rasulullah dan Abu Bakar kita dapat menarik kesimpulan, high class love adalah ketika kamu mencintai Allah, aku juga mencintaimu. Ketika kamu masih di koridor/ jalan Islam aku “yuk mari” sama kamu (akidah), kita adalah satu. Jika kamu salah, aku bertugas meluruskanmu. Jika aku salah, maka tolong luruskan aku. Jika kamu butuh bantuan, In Syaa Allah aku menolongmu selama dalam kebaikan dan untuk kepentingan Islam. Kita kuat karena Islam.. Terkadang ada kebingungan yang mengganjal antara meluruskan dan “kekuatan” untuk men-judge.

“Kamu itu gini ya ternyata, ga nyangka aku.”

“Kamu..! Yang kamu lakukan itu..*****! Pasti kamu ikut aliran ini kan?”

Kalimat itu hal sepele, tapi dalam maknanya. Terkadang untuk mengungkapkan sesuatu, namun jika salah bahasa/ penggunaan kalimat bisa jadi negative effect buat diri sendiri.

Alangkah lebih bagus jika kita menggunakan tutur kata yang lebih sopan dan ramah untuk meluruskan sesuatu. Misal, ada dua orang sahabat Adam dan Muhammad. Kisahnya begini. Adam adalah seorang yang berisbal (belum bercelana diatas mata kaki), nah sebagai sahabat yang baik Muhammad menyeru kepada yang haq (benar) untuk mengajak Adam mulai tidak berisbal (bercelana sedikit atas dari mata kaki).

Akhi Adam, oh ya kemarin saya dapat info dari ustadz saya ada kajian menarik di Masjid Sakinah lho..”

“Wah iya kah? Temanya tentang apa ya akhi Muhammad?”

“Wah itu rahasia, nanti ndak surprise lagi dong, In Syaa Allah kajiannya bermanfaat dan menarik. Ikut ya akhi, temani saya hehe, besok saya jemput dehh..” (kalimat ini menasihati secara tidak langsung (lewat kajian), tidak menjudge secara langsung, ada akhlaknya (tolong menolong)..

Teman mana yang tidak melting coba? Sudah diajak, dijemput, tambah di traktir lagi hehe.. berlapis-lapis berkahnya J Daaaaann keesokan harinya.. Taraaa...

“Akhi Adam, Alhamdulillaah antum semakin handsome sekarang, saya senang dengan perubahan akhi sekarang, In Syaa Allah akan berkah, saling mendo’akan ya Akhi..”

“Syukron ya akhi Muhammad, kajian kemarin sangat membekas di hati saya, do’akan saya istiqomah seperti ini ya Akhi..”

“Waiyyaka akhi Adam, semoga kita selalu diberi rahmat, ilmu, dan hikmah selalu Aamiin..”

“Wah, akhi Muhammad kapan-kapan saya mau dong diajak kajian lagi hehe..”

“In Syaa Allah, In Syaa Allah akhi.. saya sangat senang sekali.. Semoga Allah mempertemukan kita di hari kiamat, di naungan arsy Allah, dimana dua orang yang saling mencintai dan berpisah karena Allah. Aamiin, Aamiin, Aamiin..”

“In Syaa Allah akhi...” (ditambah jabat tangan, peluk, salam, daaaannn dobel dobel berkahnya) hehe
Semoga bermanfaat...

 “Change your word Friends J


Aku, Kamu, dan 1,5 Jam


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

“Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”

(QS.Al-Hajj:47)

Waktu.. adalah kesempatan yang tak terulang lagi, mahal, unik, dan tentunya satu yang harus diingat tanggung jawab. Mengapa seperti itu? Waktu itu tak bisa terulang kembali, dapatkah anda mengulang peristiwa sepuluh tahun lalu? Lima tahun lalu? Kemarin? Oh tidak usah jauh-jauh.. satu menit yang lalu.. saja? Bisa? Kita tidak bisa mengulangnya lagi. Lalu, mahal? Kenapa mahal? Karena waktu itu tak terkira harganya.. coba anda bayangkan ketika orang tua anda meninggal, tetapi saat itu anda tengah ada di luar kota, tempat yang berbeda.. Disaat sakaratul maut anda tidak bisa menemaninya, jika anda bisa, mungkin anda akan membayar beberapa puluh juta, bahkan ratus juta untuk waktu yang sangat singkat. Unik? Kenapa unik? Disetiap detik waktu memiliki momennya sendiri, tidak akan sama, mungkin bisa berkisah bahagia atau penuh air mata. Dan, terakhir penuh tanggung jawab, ini yang berat! Waktu yang diberikan kita tidak cuma-cuma, Allah akan meminta pertanggungjawabannya. Miris ya kawan, mungkin menurut saya, mengelola waktu bukan perkara mudah, terlebih lagi banyak godaan-godaan di luar sana yang sangat WOW, tapi marilah kita ingat sejenak 1,5 jam kawan, meski “aku dan kamu” bukanlah yang sempurna. Let’s check it out...!

“Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” Trus kok bisa 1,5 jam ya mbak? Mungkin ada sebagian orang yang sudah tahu asal 1,5 jam ini, tapi saya akan coba paparkan 1,5 jam ini seperti apa. Oke..

Asumsi kita mulai..

Satu hari akhirat = 1000 tahun dunia
24 jam akhirat = 1000 tahun dunia
Tiga jam akhirat = 125 tahun dunia
1,5 jam akhirat = 62,5 tahun dunia

Begitulah asumsinya kawan.. Umat Nabi Muhammad di prediksikan masa hidupnya hanya sekitar 63 tahun, seperti usia wafat Rasulullah. Terasa lama jika hidup selama 63 tahun di dunia ini. Tapi realitanya jika memakai perhitungan akhirat masa hidup kita hanya 1,5 jam saja. Kalau di dunia mungkin waktu 1,5 jam itu jika kita gunakan untuk reuni dengan teman-teman akan terasa cepat, pergi bersama, minum bersama, dan pulang lagi. Yah hidup kita juga seperti itu. Ibarat kata, kita ini musafir di padang pasir, hauuusss banget, terus nemu sumur di tengah Sahara, seneng? Ya tentu seneng dong? Sama! Kemudian musafir tersebut lanjut perjalanan. Kita menemukan dunia ini, mencari dunia ini penuh dengan kesenangan, tapi ujungnya kita akan kembali pada Allah...

Waktu yang kita peroleh dari Allah merupakan rizki juga. Jangan terus kita asumsikan RIZKI = UANG. Boleh seperti itu, tapi hendaknya kita harus jeli terhadap nikmat Allah. Jika kita tidak punya uang, Allah berikan gantinya waktu luang. Eeehh jangan salah ya kawan, waktu luang itu kalo kita cerdas manfaatin bisa jadi ladang amal buat kita lhoo. Kita bisa belajar, berdzikir, mengaji, menulis, dan membaca, asal tepat apa yang di belajarin, dzikirin, ngajiin, tulisin, dan yang di baca hehehe.. Daaan pahala akan mengalir dengan derasnya.. Kayak lautan aja mbak..

Ada satu lagi yang membuat saya khususnya takut.. mungkin anda juga ya? Bisa jadi.. “Kenapa takut mbak? Kayak ketemu Valak The Conjuring aja?” Begini kawan, maksiat kita definisikan sebagai perbuatan yang menjerumuskan pelakunya ke perbuatan dosa, meninggalkan yang wajib, dan melakukan yang haram, serem kan? Apa akibatnya? Tentu tak tanggung-tanggung lagi adalah Naar nya Allah, dijeburin, ditanyain, disiksa, balik lagi keawal, disiksa, balik lagi ke awal, disiksa lagi, begitu seterusnya..

Melakukan kemaksiatan adalah suatu kebodohan. Mengapa demikian? Karena orang yang melakukan maksiat ia tak sadar dilihat oleh Allah, berkurangnya kadar keimanan kita, mendapat kemurkaan Allah, dan satu hal yang penting lagi, yaitu terhambatnya rizki. Rizki itu banyak macamnya, kalo kita hitung rizki Allah susaaah banget. Bayangkan saja, Oksigen, jika Allah tidak menciptakan Oksigen (O2) lalu bagaimana air (H2O) akan diikat? Jika dalam suatu wadah (bayangkan saja Bumi), Hidrogen yang terlalu banyak bisa menyebabkan ledakan atau kehancuran.

Maksiat beragam macamnya seperti syirik/meragukan keesaan Allah, seperti percaya primbon, ramalan bintang, Capricorn, Aquarius, Pisces, Aries, dan teman-temannya, hari lahir, arah rumah, meski hanya iseng-iseng aja nih.. konsekuensinya sholat kita tidak diterima selama 40 hari. Sepele kan sepertinya? Tapi dampaknya luar biasa!

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS.Al-Bayyinah:5)

Lalu maksiat lain seperti mempermainkan hukum Allah. Ini juga sulit, sangat sulit. Berjalan di jalan kebenaran sangat banyak onak dan durinya, Misal kita ingin istiqomah di jalan Allah dengan memakai hijab, namun lingkungan sekitar tidak mendukung seperti keluarga, teman, lingkungan sekolah, akhirnya buka tutup hijab, nah disini pentingnya lingkungan yang baik untuk memantapkan iman kita, bergaullah dengan orang sholeh-sholehah supaya terjaga pula iman kita.


Jenis maksiat lainnya adalah seperti durhaka pada orang tua, membunuh muslim tanpa alasan yang jelas (alasan agama), berzina, berzina jangan diartikan hanya hubungan pasutri saja lho, zina juga ada banyak jenisnya seperti zina mata, tangan, jari, telinga, kaki, hati, dan banyak lagi. Zina hati (qolbi) yaitu dengan memikirkan lawan jenis dengan perasaan senang terhadapnya. Zina lisan (ucapan) yaitu membincangkan lawan jenis dengan perasaan senang terhadapnya. Zina Zadin (tangan) yaitu dengan memegang tubuh lawan jenis dengan perasaan senang terhadapnya. Zina mata dengan memandang, zina hidung dengan mencium, zina telinga dengan mendengarnya, zina kaki dengan melangkah ke tempat maksiat.. Banyak kan kawan? Saya pribadi juga belum bisa untuk total terbebas dari maksiat, tapi setidaknya kita berusaha, dan saling nasihat-menasihati dalam kebaikan. Saya berharap jika kelak kalian di surga, maka ingatlah aku, ajaklah aku bersamamu ya kawan, tak peduli siapapun kamu, apa latar belakangmu, yang terpenting adalah iman dan takwamu pada Allah. Peganglah tauhid dengan kuat, gigitlah dengan gigi gerahammu, karena sekarang perpecahan umat telah nampak adanya, Semoga bermanfaat... J

Minggu, 12 Juni 2016

Hijrah? Why Not?

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

“Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka terbunuh atau mati, sungguh, Allah akan memberikan kepada mereka rizki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah pemberi rizki yang terbaik.”
(QS.Al-Hajj:58)

Apa sih hijrah itu? “Eh gue pingin hijrah nih..”; “Aku harus hijrah!”; Lalu apakah hijrah itu? Hijrah dapat kita maknai perpindahan, meninggalkan, menjauhi. Hijrah dapat dimaknai secara fisik dan psikis (batin). Di zaman Rasulullah telah ada perintah hijrah, hijrah Rasulullah ini bermakna hijrah secara fisik dan psikis. Hijrah fisik kaum muhajirin dengan perpindahan dari Mekkah menuju Madinah. Sedangkan hijrah psikis kaum muhajirin dikarenakan keinginan untuk melepaskan diri dari nilai-nilai yang dianut kebanyakan kaum kafir di Mekkah.

Kawanku, disini kita akan membahas hijrah, hijrah disini adalah hijrah secara psikis (batin). Kehidupan juga mesti mengalami perpindahan, tentunya perpindahan ke arah yang lebih baik. Misal, dulunya preman , sekarang bertaubat. Ada lagi dulunya seorang jahiil, sekarang berkat semangat belajar menjadi seorang alim yang dapat mengeluarkan dirinya dan orang lain dari permasalahan. Dulunya tidak berhijab, sekarang menjadi berhijab syar’i. Dulu bekerja di dunia hiburan, sekarang sukses berwirausaha, dsb.

Kehidupan yang telah kita capai sekarang bukanlah perkara instan. Ibarat besi atau baja, mereka mengalami proses penyepuhan terlebih dahulu dengan api yang sangat panas untuk mendapatkan baju besi yang kokoh, keras, dan indah. Ibarat pelangi, pelangi muncul setelah adanya hujan atau bahkan ditambah badai. Ibarat bawang merah, untuk mendapat bawang merah yang bersih, ia harus merasakan sakit ketika dikuliti, pedih di mata ketika di kupas. Sama… hijrah juga demikian… terkadang seorang muallaf harus rela berpisah dengan keluarganya untuk mencicipi, menelan, mencerna, dan akhirnya mengalir di aliran darahnya dengan Islam. Seseorang yang memutuskan mengikuti sunnah nabinya, tak jarang mendapatkan judge fanatic, ekstrimis, dan bahkan aliran sesat.

Dapat kita simak perjalanan hijrah para sahabat nabi seperti Hamza Radhiyallahu’anhu. Di awal beliau memeluk Islam begitu mengejutkan. Siapa sangka beliau dulunya adalah seorang pemburu singa di padang pasir, beralih gelar menjadi singa Allah. Siapa sangka Khalid bin Walid yang dulunya pembenci Islam, beralih gelar menjadi pedangnya Allah. Bahkan Hindun dan Abu Sufyan yang dulunya musuh besar Islam berbalik menjadi memeluk Islam. Sungguh Allah benar-benar Maha Pembolak-balik hati. Terkadang kita berpikir apakah kita layak diterima oleh Allah, mengingat dosa-dosa kita yang mengucur begitu derasnya dari sela-sela jari tangan, kaki, hati, kerlingan mata, gerakan lidah, dan telingapun tak luput darinya.

Ada sajak menarik saya pikir, bunyinya sebagai berikut, “Meskipun kita tak sekaya Abu Bakar, seberani Umar bin Khaththab, setampan Utsman bin Affan, sebijaksana Ali bin Abi Thalib, apakah lantas kita berhenti menjadi hamba Allah yang terbaik? Bukankah status yang membuat kita bangga adalah ketika kita menyandang status hamba Allah, apapun latar belakangnya, apapun pekerjaannya, dan apapun-apapun lainnya.

Begitupula jika kita seorang wanita, tak ada batasan untuk menjadi Abdullah yang terbaik, meskipun kita tak sekaya Siti Khadijah, sejelita Siti Yulaikha, sekuat Siti Fatimah, secerdas Siti Aisyah, apapun gelarnya, apapun pekerjaannya, apapun latar belakangnya.

Pernah dahulu ada seorang akhwat berhijrah menjadi seorang muslimah, In Syaa Allah.. Ketika itu Allah pertemukan keduanya disebuah acara dakwah kampus. Si akhwat dan si ikhwan. Ikhwan tersebut menjadi pembicara. Si Ikhwan memiliki tutur bahasa yang sopan, terstruktur. It’s so perfect. Apalagi menurut informasi si ikhwan adalah seorang yang berprestasi, relatif baik parasnya, keturunan agamis. Saat itu dalam pandangan sang akhwat, “wah ini mungkin yang dikirim untuk saya dari Allah.”

Usut punya usut, ternyata si akhwat tadi satu kos dengan adik si ikhwan. Si akhwat pun baru dipertemukan dengan adik si ikhwan secara tidak sengaja di sebuah masjid. Beberapa bulan kemudian, si akhwat menyampaikan maksud hatinya untuk ta’aruf dengan ikhwan tersebut dengan perantara adik perempuan si ikhwan. Si akhwat mulai memantaskan diri untuk menjadi gadis shalihah seutuhnya. Memang diawal proses hijrah sangatlah tidak mudah, yang awalnya berbusana belum seutuhnya syar’i berusaha untuk lebih baik, mulai membiasakan dengan sapaan hangat pada teman sekitar, dan terus membekali diri dengan ilmu pengetahuan lainnya.. Namun kuasa Allah, si ikhwan dan si akhwat belum berjodoh..

Suatu saat, si akhwat membaca sebuah hadits Rasulullah yang berbunyi sebagai berikut:

“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).


Si akhwat mulai berpikir, apakah niat saya salah? apakah niat saya karena ingin ta’aruf saja? mengapa saya kesampingkan Allah? Seiring berjalannya waktu, si akhwat mulai memperbaiki niatnya, meluruskan semuanya, lama-kelamaan ia menikmati proses hijrahnya. Mungkin Allah memberikan hidayah kepada si akhwat melalui perantara si ikhwan tadi. Kesimpulannya jangan men-judge seseorang itu lebih buruk daripada kita, karena kita tak pernah tahu bagaimana usahanya untuk merubah dirinya menjadi lebih baik, tentunya dengan mengalahkan ego dirinya sendiri. Semoga bermanfaat..

Sabtu, 11 Juni 2016

Fase Tenar Uang Palsu

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Uang merupakan alat penukar yang dapat diterima secara umum. Mengapa kita menggunakan uang? Selain dapat diterima secara umum, uang juga lebih mudah dibawa, dan tahan lama. Untuk mencetak uang, Perum Peruri menggunakan kertas khusus yang harganya tak biasa (baca cukup mahal). Dalam peng-katagori-an uang, tentunya memiliki beberapa syarat yaitu:

1.      Acceptability (dapat diterima)
2.      Durability (tahan lama)
3.      Uniformity (kesamaan kualitas)
4.      Portable (mudah dibawa)
5.      Divisibility (mudah dibagi)
6.      Stability of value (stabil)
7.      Mendapat jaminan pemerintah
8.      Jumlahnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat
9.      Dan, terakhir Scarcity (tidak mudah dipalsukan)

Tapi mengapakah uang mudah dipalsukan? Tentunya dikarenakan kebutuhan yang sangat tinggi. Selain itu oknum-oknum pengedar uang palsu didasari faktor unemployment (pengangguran), inflasi (kenaikan harga barang), spekulasi (keuntungan, untuk dijual belikan), dsb. Uang palsu biasanya “tenar” di bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri seperti sekarang ini, tapi tidak menutup kemungkinan di hari-hari lain. Deputi Gubernur BI Ronald Waas, mengemukakan telah ditemukan 18.000 lembar uang palsu, yang mayoritas beredar di Pulau Jawa. (sumber:Tempo).

Untuk mengelabui korbannya agar tidak kentara salah satunya dilakukan dengan mengoplos uang asli dengan uang palsu di selang-seling. Biasanya di tempat-tempat penukaran uang,  masyarakat tidak mau mengantri, buru-buru, disanalah sasaran empuk oknum pengedar uang palsu. Untuk THR, silaturahim, anak-anak, pemilihan jabatan tertentu, dll

Ada dua kelompok masyarakat pencetak uang palsu:

Kelompok oknum, mereka adalah masyarakat pencetak uang palsu. Kedua adalah kalangan pejabat. Di Amerika latin, untuk membeli senjata, maka bisa menggelontorkan uang yang sangat besar, disana rawan pencucian uang, uang palsu, karena jumlah uang yang beredar sangat sedikit. Namun apabila jumlah uang beredar  sangat besar juga akan menghancurkan sistem perekonomian, apalagi uang itu uang palsu. Security untuk sistem uang palsu ini harus sangat kuat.

Mekanisme hubungan melambungnya jumlah uang beredar (JUB) terhadap kehancuran sistim perekonomian adalah sebagai berikut:

Harga barang akan dipengaruhi oleh perbandingan jumlah uang dan ketersediaan barang. Jika barang yang tersedia lebih besar daripada JUB, maka harga akan cenderung turun. Begitu pula sebaliknya, jika barang yang tersedia lebih sedikit dari JUB, maka harga akan cenderung naik (inflasi).

Lalu bagaimanakah jika suatu Negara terus-menerus mencetak uang? Meski terus mencetak uang, hasilnya Negara itu bukan berarti bertambah kaya, namun malah sebaliknya, inflasi, nilai uang tersebut cenderung semakin merosot. Di Indonesia pernah terjadi kegiatan mencetak uang besar-besaran di jaman Presiden Soekarno karena pajak yang dihasilkan dalam sistem perekonomian  masih sangat minim. Dampaknya adalah terjadi inflasi, kemiskinan, pengangguran, merosotnya pertumbuhan ekonomi, kriminalitas, dll sehingga rakyat menuntut penurunan harga di Tritura (Tri Tuntutan Rakyat).

Pandangan diatas merupakan selayang pandang tentang sistem perekonomian. Kembali ke ulasan utama terkait uang palsu. Uang ini beredar di masyarakat, maka masyarakat dihimbau. Masyarakat harius aware terhadap kasus ini. Namun masyarakat tidak perlu khawatir, lakukan analisa 3D, dengan dilihat, diraba, diterawang untuk mengetahui ke-orisinil-an uang.


Dilihat, kita melihat bentuk fisik uang tersebut. Bagaimanakah warnanya baik, ada tanda air, kertas, dan tali pengaman yang ada di uang tersebut. Diraba, bagaimanakah teksturnya, apakah kasar atau soft? Di gambar pahlawan dan nominal angka biasanya dicetak menonjol. Kita bisa raba-raba disini. Kemudian diterawang dengan bantuan lampu atau sinar matahari, lihatlah bagian tali pengaman dan tanda airnya. Jika dalam kondisi baik, maka diindikasikan uang tersebut adalah uang asli. Semoga bermanfaat..

Selasa, 17 Mei 2016

Tanda Orang Shalih

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Sesungguhnya seseorang hamba beroleh derajat yang shalih lagi shalihah karena ketinggian ilmunya akan ajaran syar’I yang lurus lagi mengikuti segala apa-apa yang diperintahkan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala dan meninggalkan segala apa-apa yang dilarang.
Berpenampilan syar’I, bertutur bahasa yang lembut lagi santun. Wajahnya bercahaya karena ibadahnya, lagi bersikap halus pada sesama..

1.Berakhlak mulia
Akhlak adalah sesuatu yang adanya didalam diri seorang hamba menurut pola pikir serta cara berpikirnya, yang sebagaimana orang lain menilai atas dirinya atau yang berarti dari luar diri ke dalam diri
Firman Allah Ta’ala
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.”
(QS.Al-Fath:29)

2. Beramal shaleh
Allah berfirman
“Kecuali yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh dan nasihat-menasihati supaya menta’ati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.”
(QS.Al-Asr:3)

3. Sedekah
Firman Allah Ta’ala
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.”
(Al-Baqarah:276)

4. Menjaga lisan
Dari Muadz bin jabal Radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Aku pernah berkata: Wahai Rasulullah beritakan kepadaku amal yang dapat memasukkan ke dalam surga dan menjauhkan dari neraka?”
singkatnya Rasulullah bersabda :Maukah kalian kuberitahu kunci dari semua itu?
Aku menjawab, “Mau wahai Rasulullah”
maka beliau menunjukkan lidahnya seraya bersabda, “Kendalikan ini.”
Aku bertanya, “Wahai nabiyullah apakah kami akan diminta pertanggungjawaban dengan apa yang kami katakan?
Beliau bersabda, “Celakalah engkau hai Muadz. Bukankah yang menjerumuskan manusia ke dalam api neraka dengan tersungkur adalah akibat lidah mereka.
(HR.Tirmidzi, dia berkata hadits ini hadits hasan)

5. Memberi Maaf
 Firman Allah Ta’ala:
“Dan bagi orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka member maaf.”
(QS.As-Syuura:37)

6. Memiliki Malu
Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Anshari Al Badri Radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Sesunguhnya Rasulullah bersabda: Sesungguhnya  sebagian dari apa yang telah dikenal orang dari perkataan kenabian yang pertama ialah, “bila engkau tidak malu (berbuat dosa) maka berbuatlah sekehendak hatimu.”
(HR.Bukhori)

7. Ikhlas
Firman Allah Ta’ala:
“Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah.”
(QS.An-Nisaa’:146)

8. Bersyukur
Firman Allah Ta’ala:
“Dan Kami akan member balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
(QS.Ali Imron:145)

9. Bersabar
Firman Allah Ta’ala:
“kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal shaleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.”
(QS.Huud:11)

10. Tawakkal
Artinya berserah diri sepenuhnya kepada Allah lagi rela atas apa-apa yang dikehendaki Allah atas dirinya

11. Shidiq
Yaitu senantiasa berperilaku yang benar dalam kesehariannya lagi senantiasa benar dalam perkataan dan perbuatannya

12. Tafakkur
Yaitu memikirkan lagi mengakui serta menyesali atas sekalian dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat hingga kemudian iapun segera bertaubat atas dosa-dosanya itu.

13. Taubat
Firman Allah Ta’ala:
“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang melakukan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(QS.An-Nisaa’17)

14. Tidak Marah
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menerangkan bahwa ada seseorang lelaki berkata kepada Nabi Sallallahu’alaihi wasallam, “Berilah aku nasihat,”
Beliau menjawab, “Jangan marah.”
maka diulanginya bertanya beberapa kali,
Kemudian nabi bersabda, “Jangan marah.”
(HR.Bukhori)

15. Tawadhu’ dan Tidak Takabbur
Tawadhu adalah sifat yang kiranya menunjukkan kekuasaan akal dan kebaikan pandangannya, sedang takabbur adalah perilaku amat buruk yang menunjukkan sifat yang keji lagi berlebih-lebihan adanya atas tiap-tiap sesuatu barang kehendaknya.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orng-orang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka mengucapkan kata-kata yang baik.”
(QS.Al-Furqaan:63)

16. Ta’at
Firman Allah Ta’ala:
“Dan barangsiapa yang ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah, bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.”
(QS.An-Nuur:52)

17. Zuhud
Yaitu lebih mengutamakan kehidupan akhirat yang kekal. Kehidupan di muka bumi hanya ia jadikan sebagai jalan untuk mempersipkan bekal menuju akhirat..