Bismillaahirrahmaanirrahiim..
“Dan orang-orang yang
berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka terbunuh atau mati, sungguh, Allah
akan memberikan kepada mereka rizki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah
adalah pemberi rizki yang terbaik.”
(QS.Al-Hajj:58)
Apa sih hijrah itu? “Eh gue pingin hijrah nih..”; “Aku harus hijrah!”; Lalu apakah hijrah
itu? Hijrah dapat kita maknai perpindahan, meninggalkan, menjauhi. Hijrah dapat
dimaknai secara fisik dan psikis (batin). Di zaman Rasulullah telah ada
perintah hijrah, hijrah Rasulullah ini bermakna hijrah secara fisik dan psikis.
Hijrah fisik kaum muhajirin dengan perpindahan dari Mekkah menuju Madinah.
Sedangkan hijrah psikis kaum muhajirin dikarenakan keinginan untuk melepaskan
diri dari nilai-nilai yang dianut kebanyakan kaum kafir di Mekkah.
Kawanku, disini kita akan
membahas hijrah, hijrah disini adalah hijrah secara psikis (batin). Kehidupan
juga mesti mengalami perpindahan, tentunya perpindahan ke arah yang lebih baik.
Misal, dulunya preman , sekarang bertaubat. Ada lagi dulunya seorang jahiil,
sekarang berkat semangat belajar menjadi seorang alim yang dapat mengeluarkan
dirinya dan orang lain dari permasalahan. Dulunya tidak berhijab, sekarang
menjadi berhijab syar’i. Dulu bekerja di dunia hiburan, sekarang sukses
berwirausaha, dsb.
Kehidupan yang telah kita capai
sekarang bukanlah perkara instan. Ibarat besi atau baja, mereka mengalami
proses penyepuhan terlebih dahulu dengan api yang sangat panas untuk
mendapatkan baju besi yang kokoh, keras, dan indah. Ibarat pelangi, pelangi
muncul setelah adanya hujan atau bahkan ditambah badai. Ibarat bawang merah,
untuk mendapat bawang merah yang bersih, ia harus merasakan sakit ketika
dikuliti, pedih di mata ketika di kupas. Sama… hijrah juga demikian… terkadang
seorang muallaf harus rela berpisah
dengan keluarganya untuk mencicipi, menelan, mencerna, dan akhirnya mengalir di
aliran darahnya dengan Islam. Seseorang yang memutuskan mengikuti sunnah nabinya,
tak jarang mendapatkan judge fanatic,
ekstrimis, dan bahkan aliran sesat.
Dapat kita simak perjalanan
hijrah para sahabat nabi seperti Hamza Radhiyallahu’anhu. Di awal beliau
memeluk Islam begitu mengejutkan. Siapa sangka beliau dulunya adalah seorang
pemburu singa di padang pasir, beralih gelar menjadi singa Allah. Siapa sangka
Khalid bin Walid yang dulunya pembenci Islam, beralih gelar menjadi pedangnya
Allah. Bahkan Hindun dan Abu Sufyan yang dulunya musuh besar Islam berbalik
menjadi memeluk Islam. Sungguh Allah benar-benar Maha Pembolak-balik hati.
Terkadang kita berpikir apakah kita layak diterima oleh Allah, mengingat
dosa-dosa kita yang mengucur begitu derasnya dari sela-sela jari tangan, kaki, hati,
kerlingan mata, gerakan lidah, dan telingapun tak luput darinya.
Ada sajak menarik saya pikir,
bunyinya sebagai berikut, “Meskipun kita tak sekaya Abu Bakar, seberani Umar
bin Khaththab, setampan Utsman bin Affan, sebijaksana Ali bin Abi Thalib,
apakah lantas kita berhenti menjadi hamba Allah yang terbaik? Bukankah status
yang membuat kita bangga adalah ketika kita menyandang status hamba Allah,
apapun latar belakangnya, apapun pekerjaannya, dan apapun-apapun lainnya.
Begitupula jika kita seorang
wanita, tak ada batasan untuk menjadi Abdullah
yang terbaik, meskipun kita tak sekaya Siti Khadijah, sejelita Siti Yulaikha,
sekuat Siti Fatimah, secerdas Siti Aisyah, apapun gelarnya, apapun
pekerjaannya, apapun latar belakangnya.
Pernah dahulu ada seorang akhwat
berhijrah menjadi seorang muslimah, In Syaa Allah.. Ketika itu Allah pertemukan
keduanya disebuah acara dakwah kampus. Si akhwat dan si ikhwan. Ikhwan tersebut
menjadi pembicara. Si Ikhwan memiliki tutur bahasa yang sopan, terstruktur. It’s so perfect. Apalagi menurut
informasi si ikhwan adalah seorang yang berprestasi, relatif baik parasnya,
keturunan agamis. Saat itu dalam pandangan sang akhwat, “wah ini mungkin yang dikirim untuk saya dari Allah.”
Usut punya usut, ternyata si
akhwat tadi satu kos dengan adik si ikhwan. Si akhwat pun baru dipertemukan
dengan adik si ikhwan secara tidak sengaja di sebuah masjid. Beberapa bulan
kemudian, si akhwat menyampaikan maksud hatinya untuk ta’aruf dengan ikhwan
tersebut dengan perantara adik perempuan si ikhwan. Si akhwat mulai memantaskan
diri untuk menjadi gadis shalihah seutuhnya. Memang diawal proses hijrah
sangatlah tidak mudah, yang awalnya berbusana belum seutuhnya syar’i berusaha
untuk lebih baik, mulai membiasakan dengan sapaan hangat pada teman sekitar,
dan terus membekali diri dengan ilmu pengetahuan lainnya.. Namun kuasa Allah,
si ikhwan dan si akhwat belum berjodoh..
Suatu saat, si akhwat membaca
sebuah hadits Rasulullah yang berbunyi sebagai berikut:
“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan
sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan.
Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat
pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena
dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka
ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al Bukhari dan
Muslim).
Si akhwat mulai berpikir, apakah niat saya salah? apakah niat
saya karena ingin ta’aruf saja? mengapa saya kesampingkan Allah? Seiring
berjalannya waktu, si akhwat mulai memperbaiki niatnya, meluruskan semuanya,
lama-kelamaan ia menikmati proses hijrahnya. Mungkin Allah memberikan hidayah
kepada si akhwat melalui perantara si ikhwan tadi. Kesimpulannya jangan men-judge seseorang itu lebih buruk daripada
kita, karena kita tak pernah tahu bagaimana usahanya untuk merubah dirinya
menjadi lebih baik, tentunya dengan mengalahkan ego dirinya sendiri. Semoga
bermanfaat..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar