Minggu, 12 Juni 2016

Hijrah? Why Not?

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

“Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka terbunuh atau mati, sungguh, Allah akan memberikan kepada mereka rizki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah pemberi rizki yang terbaik.”
(QS.Al-Hajj:58)

Apa sih hijrah itu? “Eh gue pingin hijrah nih..”; “Aku harus hijrah!”; Lalu apakah hijrah itu? Hijrah dapat kita maknai perpindahan, meninggalkan, menjauhi. Hijrah dapat dimaknai secara fisik dan psikis (batin). Di zaman Rasulullah telah ada perintah hijrah, hijrah Rasulullah ini bermakna hijrah secara fisik dan psikis. Hijrah fisik kaum muhajirin dengan perpindahan dari Mekkah menuju Madinah. Sedangkan hijrah psikis kaum muhajirin dikarenakan keinginan untuk melepaskan diri dari nilai-nilai yang dianut kebanyakan kaum kafir di Mekkah.

Kawanku, disini kita akan membahas hijrah, hijrah disini adalah hijrah secara psikis (batin). Kehidupan juga mesti mengalami perpindahan, tentunya perpindahan ke arah yang lebih baik. Misal, dulunya preman , sekarang bertaubat. Ada lagi dulunya seorang jahiil, sekarang berkat semangat belajar menjadi seorang alim yang dapat mengeluarkan dirinya dan orang lain dari permasalahan. Dulunya tidak berhijab, sekarang menjadi berhijab syar’i. Dulu bekerja di dunia hiburan, sekarang sukses berwirausaha, dsb.

Kehidupan yang telah kita capai sekarang bukanlah perkara instan. Ibarat besi atau baja, mereka mengalami proses penyepuhan terlebih dahulu dengan api yang sangat panas untuk mendapatkan baju besi yang kokoh, keras, dan indah. Ibarat pelangi, pelangi muncul setelah adanya hujan atau bahkan ditambah badai. Ibarat bawang merah, untuk mendapat bawang merah yang bersih, ia harus merasakan sakit ketika dikuliti, pedih di mata ketika di kupas. Sama… hijrah juga demikian… terkadang seorang muallaf harus rela berpisah dengan keluarganya untuk mencicipi, menelan, mencerna, dan akhirnya mengalir di aliran darahnya dengan Islam. Seseorang yang memutuskan mengikuti sunnah nabinya, tak jarang mendapatkan judge fanatic, ekstrimis, dan bahkan aliran sesat.

Dapat kita simak perjalanan hijrah para sahabat nabi seperti Hamza Radhiyallahu’anhu. Di awal beliau memeluk Islam begitu mengejutkan. Siapa sangka beliau dulunya adalah seorang pemburu singa di padang pasir, beralih gelar menjadi singa Allah. Siapa sangka Khalid bin Walid yang dulunya pembenci Islam, beralih gelar menjadi pedangnya Allah. Bahkan Hindun dan Abu Sufyan yang dulunya musuh besar Islam berbalik menjadi memeluk Islam. Sungguh Allah benar-benar Maha Pembolak-balik hati. Terkadang kita berpikir apakah kita layak diterima oleh Allah, mengingat dosa-dosa kita yang mengucur begitu derasnya dari sela-sela jari tangan, kaki, hati, kerlingan mata, gerakan lidah, dan telingapun tak luput darinya.

Ada sajak menarik saya pikir, bunyinya sebagai berikut, “Meskipun kita tak sekaya Abu Bakar, seberani Umar bin Khaththab, setampan Utsman bin Affan, sebijaksana Ali bin Abi Thalib, apakah lantas kita berhenti menjadi hamba Allah yang terbaik? Bukankah status yang membuat kita bangga adalah ketika kita menyandang status hamba Allah, apapun latar belakangnya, apapun pekerjaannya, dan apapun-apapun lainnya.

Begitupula jika kita seorang wanita, tak ada batasan untuk menjadi Abdullah yang terbaik, meskipun kita tak sekaya Siti Khadijah, sejelita Siti Yulaikha, sekuat Siti Fatimah, secerdas Siti Aisyah, apapun gelarnya, apapun pekerjaannya, apapun latar belakangnya.

Pernah dahulu ada seorang akhwat berhijrah menjadi seorang muslimah, In Syaa Allah.. Ketika itu Allah pertemukan keduanya disebuah acara dakwah kampus. Si akhwat dan si ikhwan. Ikhwan tersebut menjadi pembicara. Si Ikhwan memiliki tutur bahasa yang sopan, terstruktur. It’s so perfect. Apalagi menurut informasi si ikhwan adalah seorang yang berprestasi, relatif baik parasnya, keturunan agamis. Saat itu dalam pandangan sang akhwat, “wah ini mungkin yang dikirim untuk saya dari Allah.”

Usut punya usut, ternyata si akhwat tadi satu kos dengan adik si ikhwan. Si akhwat pun baru dipertemukan dengan adik si ikhwan secara tidak sengaja di sebuah masjid. Beberapa bulan kemudian, si akhwat menyampaikan maksud hatinya untuk ta’aruf dengan ikhwan tersebut dengan perantara adik perempuan si ikhwan. Si akhwat mulai memantaskan diri untuk menjadi gadis shalihah seutuhnya. Memang diawal proses hijrah sangatlah tidak mudah, yang awalnya berbusana belum seutuhnya syar’i berusaha untuk lebih baik, mulai membiasakan dengan sapaan hangat pada teman sekitar, dan terus membekali diri dengan ilmu pengetahuan lainnya.. Namun kuasa Allah, si ikhwan dan si akhwat belum berjodoh..

Suatu saat, si akhwat membaca sebuah hadits Rasulullah yang berbunyi sebagai berikut:

“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).


Si akhwat mulai berpikir, apakah niat saya salah? apakah niat saya karena ingin ta’aruf saja? mengapa saya kesampingkan Allah? Seiring berjalannya waktu, si akhwat mulai memperbaiki niatnya, meluruskan semuanya, lama-kelamaan ia menikmati proses hijrahnya. Mungkin Allah memberikan hidayah kepada si akhwat melalui perantara si ikhwan tadi. Kesimpulannya jangan men-judge seseorang itu lebih buruk daripada kita, karena kita tak pernah tahu bagaimana usahanya untuk merubah dirinya menjadi lebih baik, tentunya dengan mengalahkan ego dirinya sendiri. Semoga bermanfaat..

Sabtu, 11 Juni 2016

Fase Tenar Uang Palsu

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Uang merupakan alat penukar yang dapat diterima secara umum. Mengapa kita menggunakan uang? Selain dapat diterima secara umum, uang juga lebih mudah dibawa, dan tahan lama. Untuk mencetak uang, Perum Peruri menggunakan kertas khusus yang harganya tak biasa (baca cukup mahal). Dalam peng-katagori-an uang, tentunya memiliki beberapa syarat yaitu:

1.      Acceptability (dapat diterima)
2.      Durability (tahan lama)
3.      Uniformity (kesamaan kualitas)
4.      Portable (mudah dibawa)
5.      Divisibility (mudah dibagi)
6.      Stability of value (stabil)
7.      Mendapat jaminan pemerintah
8.      Jumlahnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat
9.      Dan, terakhir Scarcity (tidak mudah dipalsukan)

Tapi mengapakah uang mudah dipalsukan? Tentunya dikarenakan kebutuhan yang sangat tinggi. Selain itu oknum-oknum pengedar uang palsu didasari faktor unemployment (pengangguran), inflasi (kenaikan harga barang), spekulasi (keuntungan, untuk dijual belikan), dsb. Uang palsu biasanya “tenar” di bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri seperti sekarang ini, tapi tidak menutup kemungkinan di hari-hari lain. Deputi Gubernur BI Ronald Waas, mengemukakan telah ditemukan 18.000 lembar uang palsu, yang mayoritas beredar di Pulau Jawa. (sumber:Tempo).

Untuk mengelabui korbannya agar tidak kentara salah satunya dilakukan dengan mengoplos uang asli dengan uang palsu di selang-seling. Biasanya di tempat-tempat penukaran uang,  masyarakat tidak mau mengantri, buru-buru, disanalah sasaran empuk oknum pengedar uang palsu. Untuk THR, silaturahim, anak-anak, pemilihan jabatan tertentu, dll

Ada dua kelompok masyarakat pencetak uang palsu:

Kelompok oknum, mereka adalah masyarakat pencetak uang palsu. Kedua adalah kalangan pejabat. Di Amerika latin, untuk membeli senjata, maka bisa menggelontorkan uang yang sangat besar, disana rawan pencucian uang, uang palsu, karena jumlah uang yang beredar sangat sedikit. Namun apabila jumlah uang beredar  sangat besar juga akan menghancurkan sistem perekonomian, apalagi uang itu uang palsu. Security untuk sistem uang palsu ini harus sangat kuat.

Mekanisme hubungan melambungnya jumlah uang beredar (JUB) terhadap kehancuran sistim perekonomian adalah sebagai berikut:

Harga barang akan dipengaruhi oleh perbandingan jumlah uang dan ketersediaan barang. Jika barang yang tersedia lebih besar daripada JUB, maka harga akan cenderung turun. Begitu pula sebaliknya, jika barang yang tersedia lebih sedikit dari JUB, maka harga akan cenderung naik (inflasi).

Lalu bagaimanakah jika suatu Negara terus-menerus mencetak uang? Meski terus mencetak uang, hasilnya Negara itu bukan berarti bertambah kaya, namun malah sebaliknya, inflasi, nilai uang tersebut cenderung semakin merosot. Di Indonesia pernah terjadi kegiatan mencetak uang besar-besaran di jaman Presiden Soekarno karena pajak yang dihasilkan dalam sistem perekonomian  masih sangat minim. Dampaknya adalah terjadi inflasi, kemiskinan, pengangguran, merosotnya pertumbuhan ekonomi, kriminalitas, dll sehingga rakyat menuntut penurunan harga di Tritura (Tri Tuntutan Rakyat).

Pandangan diatas merupakan selayang pandang tentang sistem perekonomian. Kembali ke ulasan utama terkait uang palsu. Uang ini beredar di masyarakat, maka masyarakat dihimbau. Masyarakat harius aware terhadap kasus ini. Namun masyarakat tidak perlu khawatir, lakukan analisa 3D, dengan dilihat, diraba, diterawang untuk mengetahui ke-orisinil-an uang.


Dilihat, kita melihat bentuk fisik uang tersebut. Bagaimanakah warnanya baik, ada tanda air, kertas, dan tali pengaman yang ada di uang tersebut. Diraba, bagaimanakah teksturnya, apakah kasar atau soft? Di gambar pahlawan dan nominal angka biasanya dicetak menonjol. Kita bisa raba-raba disini. Kemudian diterawang dengan bantuan lampu atau sinar matahari, lihatlah bagian tali pengaman dan tanda airnya. Jika dalam kondisi baik, maka diindikasikan uang tersebut adalah uang asli. Semoga bermanfaat..

Selasa, 17 Mei 2016

Tanda Orang Shalih

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Sesungguhnya seseorang hamba beroleh derajat yang shalih lagi shalihah karena ketinggian ilmunya akan ajaran syar’I yang lurus lagi mengikuti segala apa-apa yang diperintahkan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala dan meninggalkan segala apa-apa yang dilarang.
Berpenampilan syar’I, bertutur bahasa yang lembut lagi santun. Wajahnya bercahaya karena ibadahnya, lagi bersikap halus pada sesama..

1.Berakhlak mulia
Akhlak adalah sesuatu yang adanya didalam diri seorang hamba menurut pola pikir serta cara berpikirnya, yang sebagaimana orang lain menilai atas dirinya atau yang berarti dari luar diri ke dalam diri
Firman Allah Ta’ala
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.”
(QS.Al-Fath:29)

2. Beramal shaleh
Allah berfirman
“Kecuali yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh dan nasihat-menasihati supaya menta’ati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.”
(QS.Al-Asr:3)

3. Sedekah
Firman Allah Ta’ala
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.”
(Al-Baqarah:276)

4. Menjaga lisan
Dari Muadz bin jabal Radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Aku pernah berkata: Wahai Rasulullah beritakan kepadaku amal yang dapat memasukkan ke dalam surga dan menjauhkan dari neraka?”
singkatnya Rasulullah bersabda :Maukah kalian kuberitahu kunci dari semua itu?
Aku menjawab, “Mau wahai Rasulullah”
maka beliau menunjukkan lidahnya seraya bersabda, “Kendalikan ini.”
Aku bertanya, “Wahai nabiyullah apakah kami akan diminta pertanggungjawaban dengan apa yang kami katakan?
Beliau bersabda, “Celakalah engkau hai Muadz. Bukankah yang menjerumuskan manusia ke dalam api neraka dengan tersungkur adalah akibat lidah mereka.
(HR.Tirmidzi, dia berkata hadits ini hadits hasan)

5. Memberi Maaf
 Firman Allah Ta’ala:
“Dan bagi orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka member maaf.”
(QS.As-Syuura:37)

6. Memiliki Malu
Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Anshari Al Badri Radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Sesunguhnya Rasulullah bersabda: Sesungguhnya  sebagian dari apa yang telah dikenal orang dari perkataan kenabian yang pertama ialah, “bila engkau tidak malu (berbuat dosa) maka berbuatlah sekehendak hatimu.”
(HR.Bukhori)

7. Ikhlas
Firman Allah Ta’ala:
“Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah.”
(QS.An-Nisaa’:146)

8. Bersyukur
Firman Allah Ta’ala:
“Dan Kami akan member balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
(QS.Ali Imron:145)

9. Bersabar
Firman Allah Ta’ala:
“kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal shaleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.”
(QS.Huud:11)

10. Tawakkal
Artinya berserah diri sepenuhnya kepada Allah lagi rela atas apa-apa yang dikehendaki Allah atas dirinya

11. Shidiq
Yaitu senantiasa berperilaku yang benar dalam kesehariannya lagi senantiasa benar dalam perkataan dan perbuatannya

12. Tafakkur
Yaitu memikirkan lagi mengakui serta menyesali atas sekalian dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat hingga kemudian iapun segera bertaubat atas dosa-dosanya itu.

13. Taubat
Firman Allah Ta’ala:
“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang melakukan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(QS.An-Nisaa’17)

14. Tidak Marah
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menerangkan bahwa ada seseorang lelaki berkata kepada Nabi Sallallahu’alaihi wasallam, “Berilah aku nasihat,”
Beliau menjawab, “Jangan marah.”
maka diulanginya bertanya beberapa kali,
Kemudian nabi bersabda, “Jangan marah.”
(HR.Bukhori)

15. Tawadhu’ dan Tidak Takabbur
Tawadhu adalah sifat yang kiranya menunjukkan kekuasaan akal dan kebaikan pandangannya, sedang takabbur adalah perilaku amat buruk yang menunjukkan sifat yang keji lagi berlebih-lebihan adanya atas tiap-tiap sesuatu barang kehendaknya.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orng-orang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka mengucapkan kata-kata yang baik.”
(QS.Al-Furqaan:63)

16. Ta’at
Firman Allah Ta’ala:
“Dan barangsiapa yang ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah, bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.”
(QS.An-Nuur:52)

17. Zuhud
Yaitu lebih mengutamakan kehidupan akhirat yang kekal. Kehidupan di muka bumi hanya ia jadikan sebagai jalan untuk mempersipkan bekal menuju akhirat..



Sabtu, 14 Mei 2016

Kriteria Jodoh Ideal

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shaleh, adalah mereka yang taat kepada Allah dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka)….”
QS.Annisa:34

            Kriteria suami yang ideal itu seperti apa sih? Yang Islami yang bagaimana? Mana kriteria yang berdasar iman dan yang mana yang berdasar syahwat. Ada seorang pemuda yang mengajukan biodata ta’aruf “Yang putih, cantik, tinggi, syukur-syukur sholihah” kriteria bukan agama tapi utama, misalnya lagi, “Yang S1” D1, D2, D3”, lewat.. ada yang SMA tapi hafidz Qur’an.. Ditolak…! Ada yang “harus mapan” kita harus open mindset. Dia mikirnya nikah itu bayangannya susah, maka dijadikan Allah susah. “Ukhti, nanti kalo sudah nikah, mungkin kita harus hidup susah dulu.” Kita menikahi seseorang karena kecantikannya, hartanya, nasabnya, atau karena agamanya. Maka yang kamu pilih adalah agamanya. Lainnya kalau perlu, kalau ada. Pernyataan diatas bukan berarti harus ada empat-empatnya, yang utama adalah agamanya.

Ada yang di biodata ta’aruf “Yang sholeh, tawadhu’, jujur, sabar, cantik…..” itu bukan kriteria prinsipal.. contoh kriteria prinsipal adalah ”Mau ikut suami, mau tinggal di Yogyakarta, tidak mau dipoligami..dsb” boleh boleh saja. Kalo di CV ta’aruf “Sholeh, jujur, cantik, sabar” itu sudah pasti setiap orang menginginkannya.

Syarat ideal bagi laki-laki sesuai dengan QS.Annisa:34

Tafsir dari kata Qawwum adalah pemimpin, yang bisa memimpin, ini adalah syarat agama. Suami jangan sampai menikmati ke-plegmatis-annya. Ada yang koleris adalah tipe yang semangat, grusa-grusu, ambisius, bawaannya tegang. Kalo sanguinis itu santai, ramaikan suasana, tapi ia pelupa, ia selalu dirindukan teman-temannya. Ada yang melankolis, ia perfeksionis, suka di perhatikan, orangnya sulit melupakan. Yang terakhir ini adalah plegmatis adalah yang cinta damai, ga pernah rebut, jadi tempat curhatan, ia pendengar setia yang baik. Nah kalo laki-laki jangan sampai seperti ini. Umar bin Khaththab bisa berubah, agama itu bisa merubah sifat. Umar adalah seorang koleris, tapi karena agamanya, terbimbing, setiap ia dengar ada yang menangis, ia ikut menangis.

Ketika ada yang ingin curhat  kepada Umar mengadukan istrinya yang sangat “crigis” ia malah terkaget-kaget, mengapa Umar di lur tampak berkuasa, kuat, tapi jika dirumah ia hanya diam saja ketika dimarahi istrinya. Umar diam karena istrinya telah menjaga hartanya, membutkannya makanan, susah payah menjaga anaknya, tidak tuntut apapun, juga telah menjaga keimanan Umar

Koleris ketemu koleris akan hancur. Ada yang suaminya Plegmatis, istrinya koleris, “Apa-apa kok aku terus.”  ia menikmati, masalah ekonomi kok juga biasa aja. Si istri juga mengingikan suami yang dapat memimpin, entah keputusan, ekonomi, dll

Yang kedua adalah suami dapat memberikan nafkah. Nafkah iman yang utama, yang kedua baru nafkah lahir. Suami di Kalimantan, istri di Surabaya, itu tidak akan berkah, suami-istri harus tinggal satu domisili. Ada yang mengatakan “Saya bahagia kok walaupun kami terpisah, soalnya kita malah damai, ga bertengkar.” Pilih mana pisah bahagia ataupun campur bahagia? Tentunya memilih campur bahagia. Diluar sana ada banyak godaan syaitan. Kita ga boleh sombong. Syaitan ahli neraka itu bisa ngalahin kita. Lalu dimana kita? Kita akan ada di kerak neraka…

Lalu bagaimana perempuan yang sholeh? Yaitu perempuan yang taat pada Allah, dan menjaga ketika suaminya tidak ada. Hanya taat kepada Allah. Berarti istri sholehah tidak harus taat pada suami, dengan catatan perintah suami menyimpang dari perintah Allah.

Dulu yang mengejar-ngejar Nabi Yusuf adalah Yulaikha. Namun setelah Yulaikha mendapat hidayah dari Allah berganti Yusuf yang mengejar Yulaikha. Sampai suatu saat Nabi Yusuf meminta untuk dilayani, namun Yulaikha tidak mau, akhirnya turunlah firman Allah, bahwa Yulaikha harus melayaninya. Yulaikha berkata, “Apakah itu benar perintah dari Allah?” Maka barulah Yulaikha melayaninya. Namun hal itu tidak berlaku untuk sekarang lho yaa.. ketika suami meminta dilayani, ya kita harus taat.

Yulaikha sangat mencintai Allah, ia tidak ngeh lagi dengan ketampanan Nabi Yusuf, karena ia sudah memiliki keimanan yang sempurna…

Contoh menjaga kehormatan dirinya (si istri). Ada sepasang suami istri, si istri bertanya, “Siapa orang yang engkau benci dan apa-apa saja yang tidak disukai?” Si suami menyampaikan “saya tidak suka si fulan, dan saya tidak menyukai hal ini… ini… dan ini…” Selama si suami menikah ia tak pernah mendapati bahwa istrinya memasukkan orang yang dibenci ke dalam rumah, dan tidak pernah melakukan sesuatu yang dibenci. Rumah tangga menjadi harmonis.. Wallahu ‘alam

Kajian Ust. Awan Abdullah

Sabtu, 07 Mei 2016

Allah, Aku, dan Sepotong Nasihat


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Allah telah memberikanku kemampuan terbaik, sudah selayaknya kuberikan yang terbaikku untuk-Nya juga

Allah membawaku di cerita kehidupan yang tak pernah terduga sebelumnya, sangat special
Dialah Tuhanku, tempatku bersandar, tetaplah denganku,

Dialah yang menjadikan aku tenang, tak kan tertukar rizkiku, cukuplah ku mengusahakannya saja..
Segala yang kucari hakikatnya untuk-Mu, lalu mengapa ku masih sulit melepas sesuatu?

Engkau jadikan teman-teman di sekelilingku, untuk membentuk kepribadianku, jadikanlah mereka beserta aku adalah hamba-Mu yang sholeh..

Engkau jadikan kesuksesan mereka masing-masing, ku tak perlu risau, motivasi dari-Mu akan jadi lebih baik. Buat rencana jitu dan laksanakan dengan maksimal..

Kenyataan terkadang tak sesuai harapan, Jangan putus asa.. Cari alternative..

Tahukah bumi ini lebih kecil dari matahari? Bagaimanakah matahari? Ia hanya seperti butiran debu di bandingkan alam semesta.. Apa yang ku sombongkan pada-Nya? Tak ada, dan tak kan pernah ada!

Penolakan yang kualami merupakan petunjuk Allah, bahwa aku tidak lebih baik jika kupertahankan pilihan itu.. Tahukah aku? Kurasa tidak

Allah membuat perupamaan dosa dan bau. Dosa diibaratkan bau. Semakin banyak kucetak dosa, semakin terasa busuk tubuhku,

Boleh jadi ku menyukai sesuatu, tapi itu tidak baik bagiku. Boleh jadi aku tak menyukai sesuatu, tapi di mata-Nya terasa begitu special. Semua ujian naik level.

Ujian naik level butuh bekal iman, sabar, ikhlas. Semua terasa berat, seperti ilmu tingkat tinggi, butuh ketahanan luar dan dalam!

Aku tak akan dikatakan beriman sampai aku diuji. Ibarat games Freeding frenzy yang berlevel-level itu..

Jika tak dapat berkata benar, lebih baik diam. Istighfar penjernih hatimu

Aku mampu mengenal Tuhanku itu lebih berarti dari apapun. Jika ku tak mengenal Tuhanku, maka yang ku kenal hanya emas dan berlian. Sedangkan jika Ia mau, Ia-pun akan memberiku lautan emas berlian itu

Bekerjalah untuk-Nya, Ia akan membayarmu. Apa konteks bekerja itu? Tentu saja amal ibadah dengan niat yang haniif

Jika usahaku terasa berat dan tiada dukungan siapapun, percayalah masih banyak urusan yang jauh lebih penting. Urusan umat dan dukungan Allah yang paling kuat !!

Jika shalat khusuk terasa susah, aku telah mengalami kegelisahan dihari-hariku.

Saat hidup terasa seperti terhalang batu yang amat bear, gelap, tiada jalan keluar. Allah adalah Maha Cahaya dan Maha Luas. Ia akan memberikan jalan keluar dari arah tak terduga

Zuhud ibarat angka nol= biasa aja kalii.. Jika susah senang ibaratnya biasa saja

Orang cerdas dapat mengeluarkan dirinya dari segala masalah dengan sumber daya yang ia miliki..

Tahukah kau bedanya balita dan seorang dewasa? Dewasa akan menyibakkan problem solving dari masalahnya, sebagai tanda kematangan pikirannya..

Aku dan Kamu Bisa Kawan



Selasa, 19 April 2016

Hoki dalam Islam


Bismillaahirrahmaanirrahiim..
“Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, Dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz).”
(QS.Ar-Ra’d:39)
Setelah ayat tersebut dibaca, para ulama’ kemudian berdo’a:
“Jika Engkau tetapkan yang baik untukku, maka jangan diubah (tetap), namun jika Engkau tetapkan yang tidak baik untukku maka ubahlah.”
Sehingga kita harus senantiasa melakukan perbaikan-perbaikan didalam hidup, agar menjadi lebih baik.

Dalam islam tidak ada sesuatu yang kebetulan. “Hoki nih, apes nih, “ seolah kebetulan.  Itu semua disebabkan tangan kita sendiri. Ada yang ingin hoki, maka ia membawa sesuatu, jimat misalnya. Hal tersebut dikhawatirkan menimbulkan  kesyirikan. Di sisi lain ada orang yang menginginkan keberuntungan terus-menerus di hidupnya, namun harus diingat, roda kehidupan itu berputar. Terkadang di posisi atas, terkadang di posisi bawah. Orang-orang  yang beruntung adalah orang yang ber khusnudzon (baik sangka) terhadap segala ketetapan Allah.
Allah akan menguji kita dengan berbagai macam cara. Misalnya ketakutan, keterbatasan harta benda, dll, sampaikan kabar gembira bagi orang yang bersabar. Jadi kalau hidup kita sulit,berarti Allah sedang menguji keimanan kita. Mereka yang dikaruniai kesenangan itu juga merupakan ujian, apakah ia akan menjadi hamba yang bersyukur, atau malah kufur nikmat. Jika Allah memberikan kita kesedihan, tetaplah berkhusnudzon, ingatlah, bukankah kesenangan yang diberikan Tuhanmu adalah lebih besar dari kesulitan yang diturunkan-Nya? Sungguh telah beruntung orang yang memeluk Islam diberi riski yg cukup  dan ia qanaah..
Ada suatu kisah study tour anak sekolah ke Pyramid Fir’aun. Sebelum ke Pyramid, mereka dibawa ke rumah mewah.
 Mereka bertanya, “Apakah yang memiliki rumah mewah ini adalah orang yang kaya?”
“Ya”
“Apakah ia beruntung?”
“Ya”
Setelah mereka mengunjungi rumah mewah tadi, mereka bergegas menuju Piramid. Mereka menanyakan hal yang sama.
Mereka bertanya, “Apakah yang memiliki (Piramid) ini adalah orang yang kaya?”
“Ya”
“Apakah ia beruntung?”
Apakah jawabannya? Fir’aun memang orang kaya, namun ia bukan termasuk Muslim. Ia tidak termasuk orang yang beruntung..
Ada kisah lain tentang seorang pemuda, ia hendak pulang dari suatu pesta, kemudian ia memanggil taksi, di sisi sana ia juga melihat kakaknya. Pemuda tadi, kakaknya, beserta temannya (berempat) masuk taksi. Perjalanan mereka lumayan panjang, di tengah perjalanan mereka mendengar adzan… “Hayya ala sholah, hayya ala sholah..Hayya alal Falaah, hayya alal Falaah..”
Tiba-tiba sopir taksi tersebut berkata, “Ayo kita sama sama solat.”
“Ngapain sholat, saya terbiasa tidak sholat.” (adik)
“Kalian kan seorang muslim, kenapa kalian tidak sholat?” dengan sedikit memaksa
“Nanti saya solat dirumah saja.” Padahal di dalam hati enggan untuk sholat
Lalu sang kakak mengajak adiknya untuk sholat, “Mari kita berempat sholat ashar bersama, tidak enak kan pak sopirnya sudah mengajak..”
Pemuda tadi mengikuti sholat tersebut, ketika sujud terakhir, tahiyyat, ternyata kakaknya yg sedang sholat tidak bangun lagi, walaupun sudah di gerak-gerakkan. Pemuda itu menangis sejadi-jadinya.
Sopir taksi itu berkata, “Sudah jangan menangis..”
“Pak kakak saya selama 20 tahun tidak pernah sholat, dan dia meninggal dalam keadaan sholat. Sedangkan kita yang sholat setiap hari belum tentu dipanggil dalam posisi mulia ini.”
Ada beberapa perkara yang tidak boleh ditunada-tunda. Perkara itu adalah menyegerakan sholat, tobat, hutang, nikah, dan menguburkan orang mati. Sukses atau tidaknya orang dilihat diakhir hayatnya, su’ul atau khusnul khotimah. Ada suatu nasihat pilihlah pekerjaan yang tidak mengganggu waktu sholatmu, In syaa Allah akan memberikan keberkahan.

 Janganlah kita menyalahkan ataupun meremehkan sesuatu amalan. Jangan engkau gampangkan satu pahala sholat, jangan engkau gadai, solat sunnah fajar pahalanya adalah lebih baik dari dunia dan segala isinya. Kok ga seperti dia.. ? Kaya.. terlalu sedikit jika kita bandingkan harta dengan pahala sholat ataupun yang lainnya. Balasan didunia tidak bisa dibandingkan dengan balasan akhirat.. Wallahu a’lam.. 

Senin, 11 April 2016

Allah Tahu yang Terbaik Untukmu

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Allah Subhanahuwata'ala mengingatkan di dalam Al-Qur'an
"...Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
(QS.Al-Baqarah:216)


            Seperti malam-malam sebelumnya seorang ibu melaksanakan shalat tahajud, witir, lalu ia berdoa. Ia kemudian mulai membuat tempe-tempenya, mengukus kedelai-kedelainya. Ia melakukan persiapan untuk berjualan tempe di pagi hari nanti di pasar. Selanjutnya ia memulai membaca Al-Qur'an. Subuh haripun datang, ibu tersebut membuka kukusan tempenya, namun apa yang terjadi? Ternyata... kedelai tersebut belum menjadi tempe, ia kembali menutupnya kemudian berdo'a, 
"Ya Allah, Ya Allah apakah engkau sedang mengujiku Ya Allah? Mengapa hal ini baru terjadi?" 

Ia tutup kembali dan berdo'a kembali "Ya Allah engkau sedang mengujiku aku harus bersabar." 

Namun, setelah shalat subuh fajarpun mulai menghilang dan matahari terbit. Ia berangkat ke pasar. Kembali ia membuka panci tersebut, namun apa yang terjadi? 

Alhamdulillaah.. belum menjadi tempe juga. "Ya Allah Engkau benar-benar mengujiku kali ini, ya Allah aku akan tetap bersabar." Ia tutup kembali. "Ya Allah aku harus segera berangkat ke pasar untuk menjual tempe ini. Kalau aku tidak menjualnya, apa yang akan aku beri makan pada keluargaku?" Ia tutup kembali tempenya, ia kembali berdo'a lebih khusuk."

"Ya Rahman Ya Rahiim bukakanlah pintu rizki-Mu kepadaku Ya Allah, jangan buat hambamu ini kecewa terhadap-Mu Ya Allah." 

Ia pun yakin, "Oh inilah yang terbaik buat saya" Ia buka lagi pancinya, dan apa yang terjadi? Alhamdulillaah belum menjadi tempe juga..

Ia pun terpaksa mengambil tempe yang belum jadi tersebut dan berangkat ke pasar. Sambil berdzikir, Subhanallah, Walhamdulillaah, Walaa ilaaha illallah, Allahu Akbar. "Ya Allah aku yakin rencana-Mu akan lebih baik. Aku tahu Engkau tidak akan melupakan hamba-Mu Ya Allah, Engkau tidak pernah menolak do'a-do'a hamba. Aku yakin, oh mungkin Allah akan mengabulkan do'a saya pas saya sudah di pasar, atau pas saya di tengah jalan, baru Allah kabulkan." Ia pun membawa keranjangnya, dan membawa tempe yang belum matang tadi. 

Sesampainya di tengah jalan, ia penasaran, "Ya Allah, apakah engkau sudah mengabulkan do'a saya?" Ia pun buka keranjangnya, dan apa yang terjadi? belum jadi tempe juga. Ia tutup lagi, dan kembali berjalan. Saat ini ia mulai ragu pada Allah dengan air mata yang berlinang "Ya Allah, Engkau tidak akan pernah meninggalkan aku, aku juga tidak akan pernah meninggalkan-Mu Ya Allah." 

Sesampainya di pasar ia pun berkata, "Kali ini pasti Allah sudah mengabulkan do'a saya. Aku tahu Allah tidak akan pernah mengecewakan  hamba-Nya, Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya, hamba-Nya lah sering meninggalkannya." 

Kali ini bagaimana Allah mengabulkan do'a ibu tadi? Ia kembali membuka keranjang tempenya, "Bismillaahirrahmaanirrahiim.." ternyata yang terjadi adalah keajaiban. Apa itu? belum jadi juga, belum jadi juga,, Ia kembali menutup tempenya. 

Lalu di sisi lain ada serang ibu berjalan, terlihat sangat sibuk berkeliling pasar. Kemudian ibu tersebut menemui ibu penjual tempe tersebut. 

"Assalaamu'alaikum.."
"Wa'alaikumussalaam.." sambil berlinang air mata
"Ibu, apakah ibu menjual tempe?"
"Betul saya menjual tempe, tapi...tapi..maafkan saya Bu.."
"Ibu, apakah ibu menjual tempe yang saya maksud adalah tempe yang  setengah matang Bu? Saya mempunyai anak yang kuliah di luar negeri dan saya ingin mengirimkan tempe setengah matang untuk dia, karena kalau saya kirimkan tempe yang sudah matang, nanti sampai disana sudah basi."

Dan inilah jawaban dari doa ibu tersebut. Kamu tidak menyukainya, padahal itu yang terbaik untukmu dari Allah. Allah selalu mengingatkan kita di dalam Al-Qur'an, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui..