Rabu, 15 Oktober 2014

JODOH DAN BERJODOH

 Oleh : Ika Devi Silviana
     Allah adalah pembuat "megaserver" yang sudah tercantum dalam kitab "Lauhil Mahfudz." Semuanya telah tersusun rapi disana, umur, rejeki, kematian, termasuk jodoh. Tentunya semua orang berharap jodoh yang terbaik untuk hidupnya. Ada berbagai kriteria yang diinginkan, entah karena rupanya, nasabnya, kekayaannya, atau agamanya. Entah siapa berjodoh dengan siapa, tak akan ada yang tahu, kecuali Allah Subhanahuwata'ala. Jodoh adalah rahasia Allah yang penuh tanda tanya.
       Terkadang, Allah menurunkan seseorang kepada kita untuk menguji kekuatan kita. Apakah kita kuat untuk tetap beriman kepada Allah atau bahkan terpuruk meninggalkan Allah. Inilah yang sulit. Terkadang Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan pada saat itu juga, karena Allah tahu ini belum saatnya. Mungkin menurut Allah kita perlu berbenah diri, sebelum Allah memberikan yang terbaik untuk kita. Memantaskan diri untuk mendapatkan jodoh terbaik dari Allah adalah hal yang logis. Kalau kita mengupayakan hal-hal yang baik, maka Allah akan memberikan yang baik pula. Adil kan? Jika kita berjodoh dengan orang yang kita inginkan, maka Allah mengabulkan do'a kita. Jika Allah memberikan jodoh yang tidak sesuai dengan kriteria kita (dilihat dari segi rupa, harta, atau nasab) maka Allah memberikan yang terbaik untuk kita, karena dengan agamanya maka ia akan menuntun kita kepada jalan-Nya. Jika Allah memberikan jodoh yang keempat kriterianya kurang memenuhi, maka Allah sedang memberikan ujian untuk meningkatkan derajat kita disisi-Nya. Semua perkara itu baik.
     Kemungkinan itu selalu ada tentang bagaimana Allah akan memberikan jodoh untuk kita. Tentunya kita menginginkan jodoh yang keempatnya benar ada. It's so perfect, tapi apakah Allah akan memberikannya dengan cuma-cuma saja? Kita harus berusaha untuk mendapatkannya, terus melakukan pembenahan diri. Namun jika Allah tidak memberikannya, maka jangan lantas kita menghujat Allah. Mungkin Allah memberikan hikmah yang baik untuk kita. Allah Maha Pemberi kebaikan.
      Senjata paling ampuh setelah berusaha adalah dengan berdo'a. Allah adalah penguasa isi hati manusia, dengan mudahnya Allah dapat membolak balikkan isi hati manusia itu. Jika kita berdo'a maka tidak mungkin Allah mengacuhkannya. Allah akan tetap mengabulkannya, mau sekarang, nanti, atau bahkan kita akan mendapatkannya yang lebih indah karena Allah menangguhkannya di akhirat kelak. Tak ada perkara yang sia-sia bagi seorang muslim, semuanya baik.
     Masa panantian adalah masa sulit sebelum kita menemukan jodoh yang tepat untuk kita. Terkadang kita merasa sepi karena tidak ada tempat mencurahkan isi hati kita (konteks ini adalah manusia). Eits, tenang saja masih ada Allah tempat kita bersandar meluapkan isi hati. Allah akan menerima apapun keadaan Allah sehingga hati kita akan menjadi tenang. Jika kita menginginkan Allah berbicara kepada kita, maka bacalah Al-Qur'an. Jika kita ingin berbicara kepada Allah, menumpahkan segala perasaan yang ada didada maka shalatlah. Dengan demikian kita akan terjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Semoga bermanfaat..

KRISIS PANGAN DITENGAH PEMBANGUNAN INDUSTRI INDONESIA

Oleh : Ika Devi Silviana
      
     Pangan merupakan kebutuhan pokok manusia. Pangan tentunya dihasilkan dari sektor pertanian yang handal dan memerlukan pembaruan teknologi untuk produksi tanaman pangan yang berkualitas unggul. Indonesia beberapa puluh tahun yang lalu pernah menyandang julukan "Macan Asia" karena berhasil swasembada beras untuk kebutuhan pangan dalam negerinya sendiri. Pertanian yang berhasil memerlukan beberapa jenis faktor produksi yang mendukung satu sama lain. Dengan demikian ketahanan pangan untuk Indonesia akan tercapai dengan baik.
      Pertama, faktor yang diperlukan untuk swasembada pangan adalah sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang ahli akan menciptakan hasil yang maksimal pula. Kita dapat mempelajari sejarah pada masa lalu, Indonesia pernah menerapkan "Zaken Kabinet", yaitu kabinet yang ahli dibidangnya masing-masing. Dalam konteks ini tentunya ahli pertanian hendaknya ikut serta membangun pertanian yang handal dan mandiri untuk Indonesia. Tapi senyatanya minat lulusan pertanian dari berbagai universitas di negeri ini belum memiliki minat yang besar untuk mengembangkan pertanian. Hal ini menjadi penghambat untuk memajukan pertanian Indonesia.
      Kedua, faktor yang diperlukan untuk swasembada pangan adalah lahan pertanian. Namun dapat kita lihat di daerah Yogyakarta yang merupakan kota pelajar, tempat dimana ratusan universitas, akademi, sekolah tinggi berdiri, menjadikan lahan pertanian untuk kawasan ini akan semakin sempit. Ditambah lagi dengan pendirian berbagai macam mall yang "menyerobot" lahan pertanian kini kian pesat. Pemerintah telah mengatur plot daerah Yogyakarta untuk berbagai macam kepentingan. Misalkan daerah sebelah utara Yogyakarta digunakan untuk lahan pendidikan, yaitu dimana universitas-universitas besar berdiri, daerah sebelah timur Yogyakarta yang merupakan daerah tandus dikhususkan untuk lahan industri/usaha, daerah sebelah barat Yogyakarta sudah dikhususkan untuk produksi pangan. Namun apakah yang kini terjadi? Daerah barat yang seharusnya menjadi tempat produksi tanaman pangan lama kelamaan "kebobolan" digunakan untuk pembangunan industri mall. Faktor yang berpangaruh signifikan ini sudah tergadaikan, disinilah peran pemerintah untuk memainkan fungsi regulasinya.
     Ketiga, faktor yang diperlukan untuk swasembada pangan adalah modal kerja/kapital. Para petani merasa kesulitan jika mereka mengajukan pembiayaan modal usaha di bank, meskipun itu bank pemerintah sekalipun. Pihak bank akan berpikir dua kali untuk memberikan pinjaman, mereka akan cenderung berpikir uang yang mereka himpun akan lebih sedikit keuntungannya jika diberikan diberikan kepada mereka. Pihak bank tentunya juga akan memikirkan prinsip kelayakan pemberian pembiayaan modal usaha melalui prinsip 5C (Character, Capital, Capacity, Colateral, Condition). Para petani kebanyakan berasal dari kalangan menengah kebawah, sehingga dalam memperoleh modal relatif lebih sulit.
     Keempat, faktor yang diperlukan untuk swasembada pangan adalah kemajuan teknologi. Disinilah peran lulusan teknik untuk menciptakan teknologi mutakhir untuk pengembangan produksi pertanian. Apabila anak bangsa berhasil menciptakan teknologi yang handal, maka kuantitas produk pertanian yang dihasilkan akan semakin berlimpah pula. Namun masih terdapat masalah pada teknologi ini karena masalah pendidikan. Pendidikan yang ada di Indonesia belum fokus ke teknologi. Banyak universitas di Indonesia masih belum terbagi fokus penelitiannya kepada satu hal. Kebanyakan masih bersifat umum. Misalkan di negara maju seperti Belanda, mereka mempunyai sebuah universitas yang fokus meneliti tentang bunga tulip. Memang terlihat sepele, namun bunga tulip malah menjadikan Belanda menjadi ikon bunga cantik tersebut. Faktor-faktor diatas menjadikan terhambatnya perkembangan pertanian di Indonesia.
      Pertumbuhan penduduk di Indonesia sangatlah pesat. Diprediksikan sekitar tahun 2040, Indonesia akan mengalami krisis pangan. Apabila pertanian terus diabaikan, bukan tidak mungkin Indonesia akan mengalami musibah besar itu. Kekurangan pangan akan menjadikan Indonesia terus mengimpor kebutuhan primer untuk rakyat itu. Sebenarnya Indonesia memiliki potensi untuk menghasilkan tanaman pangan sendiri, tapi belum dapat mengelola dengan baik. 
      Ditengah pahitnya sektor pertanian Indonesia, sektor industri di negara ini kian melaju pesat. dapat kita lihat pertumbuhan mall-mall di kota-kota besar yang kian "bejibun" jumlahnya. Industri memang penyumbang besar bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Namun kita jangan lantas menutup mata, acuh dan tak acuh dengan pertanian Indonesia. Ratusan juta penduduk setiap harinya membutuhkan pangan dalam jumlah yang sangat besar. Hal itu bertolak belakang dengan ketersediaan lahan-lahan pertanian yang kian hari kian menyusut. Ditambah lagi dengan kualitas sumber daya manusia, modal kerja, dan teknologinya yang masih kurang mendukung. Bagaimanakah dengan keberadaan bangsa Indonesia dimasa mendatang?
       Indonesia In Syaa Allah tidak akan mengalami krisis pangan jika pribadinya sadar melakukan perubahan. Sumber daya manusia yang ahli hendaknya mereka memang terjun menerapkan ilmunya untuk kemaslahatan masyarakat. Ketersediaan modal usaha memerlukan bantuan serta kerjasama antara pemerintah dan lembaga keuangan untuk lebih pro kepada masyarakat menengah kebawah, khususnya para petani. Teknologi juga memegang peranan penting, karena tanpa teknologi kualitas dan kuantitas produk yang akan dihasilkan akan kalah saing dengan negara lain. Keterbelakangan teknologi dapat diatasi dengan peran pendidikan. Apabila hal diatas dapat terwujud, maka bukan tidak mungkin Indonesia akan terbebas dari krisis pangan, namun negeri ini akan memiliki peran kuat didunia ditahun 2040 nanti.

Selasa, 14 Oktober 2014

SATRIA PININGIT DAN REALITA

Oleh : Ika Devi Silviana

    Indonesia adalah negara pluralis yang memiliki keanekaragaman yang terdiri dari berbagai macam budaya, suku, etnis, ras, agama, dll. Tentunya disetiap keanekaragaman tersebut mereka memiliki adat, nilai, kebiasaan yang berbeda-beda pula. Adat, nilai, kebiasaan yang mereka pegang dengan kokohnya tersebut merupakan warisan nenek moyang mereka sejak bertahun-tahun yang lalu. Hal itu menjadikan doktrin bagi mereka dalam hidup dan berkehidupan. Disinilah peran nilai untuk masyarakat, apakah mereka dapat lebih maju atau bahkan terkungkung dalam nilai-nilai yang mereka yakini itu.
     Tidak semua nilai yang kita yakini itu buruk. Namun dengan nilai itu pula hendaknya kita tidak pasrah dengan takdir, kita harus tetap melihat realita yang ada. Sekarang Indonesia tengah menghadapi persaingan global yang begitu ketat, jika kita masih meyakini adanya "Satria Piningit" yang akan menyelamatkan Indonesia tanpa melakukan usaha akan sia-sia saja. Indonesia perlu melakukan pembenahan mental untuk berpikir maju dan realistis. Sebagai manusia yang dikaruniai akal dan pikiran hendaknya kita secara cerdas menggunakan nilai-nilai yang kita yakini itu untuk meraih kehidupan gemilang dimasa depan.
   Ada keterkaitan nasib dengan usaha. Didalam Q.S.Ar-Ra'du ayat 11 Allah berfirman "...Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri." Al-Qur'an menunjukkan keempirisan hubungan sebab akibat keduanya sejak ribuan tahun yang lalu. Dengan usaha yang maksimal serta diiringi do'a maka Allah akan memberikan hasilnya. Kita dapat mengaplikasikan firman Allah ini untuk mengatasi permasalahan yang tengah mendera Indonesia sekarang.
      Indonesia tengah terjadi krisis mental. Hal ini dapat menghambat laju pembangunan di Indonesia karena mentalitas rakyatnya sendiri. Selama ia masih terdoktrin dengan adat, mitos, maka mereka akan sulit untuk menerima perubahan zaman yang telah memasuki era modernisasi ini. Adat yang berkembang dimasyarakat tersebut tidak dapat dihilangkan dengan instan, karena tentunya mereka akan tetap mempertahankan adat dan mitos yang mereka percayai itu. Masalah krisis mental ini menjadi masalah yang mendasar bagi keberhasilan sebuah bangsa.
      Keseimbangan antara nilai dengan intelektualitas itu sangat penting. Nilai-nilai yang kita yakini kebenarannya akan menciptakan pola pikir untuk kita melangkah kedepan. Jika kita memiliki keyakinan yang kuat, maka kita akan meraihnya meski rintangan didepan mata menghadang. Dalam mengantisipasi adanya risiko yang ada, maka kita harus membekali diri kita dengan keilmuan (tentunya bukan ilmu hitam) salah satunya dengan pendidikan. Pendidikan yang berkualitas akan menciptakan generasi yang handal, istilahnya "Otaknya Jerman, dan Hatinya Al-Qur'an."

Senin, 13 Oktober 2014

PUNDI-PUNDI RUPIAH HADAPI AEC 2015

Oleh : Ika Devi Silviana


      Tahun 2014 ini merupakan dilema dalam menghadapi Asean Economic Community (AEC). Bagi mereka yang telah mempersiapkannya, AEC adalah kesempatan besar untuk meraih peluang. Namun bagi mereka yang belum bisa menangkap peluang itu, akan hancur tergilas persaingan. Memang tak dipungkiri, sebagian orang mulai risau terkait keberlangsungan hidup mereka. Mereka mulai memikirkan cara untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah diera revolusi ini. Hendaknya kita tidak stagnant diposisi sulit ini. Mengubah mindset merupakan salah satu solusi yang tepat. Setidaknya ada empat jenis Cashflow Quadran, yaitu dari kuadran mana kita akan mendapatkan penghasilan. Kita bisa memilih salah satunya, atau bahkan kita bisa mengkombinasikannya dengan cerdas.

Kuadran Pertama, Employ
Di kuadran ini adalah mereka yang usai menyelesaikan bangku pendidikannya, kemudian bekerja sebagai pegawai di sebuah instansi (perusahaan). Mereka bekerja diatur oleh system, tidak terlalu berkembang. Jika hanya mengandalkan kuadran ini, memang akan mendapatkan keamanan pekerjaan, namun kesempatan untuk saving akan tipis. Mereka harus menyusun skala prioritas kebutuhan untuk menghindari kebutuhan-kebutuhan tidak terduga yang membengkak.

Kuadran Kedua, Self Employ
            Di kuadran ini adalah mereka yang usai bangku pendidikannya bekerja untuk dirinya sendiri. Mereka tidak bekerja dengan system, sehingga bisa part time atau bahkan full time.  Kuadran jenis ini biasanya adalah mereka yang berprofesi sebagai dokter, psikolog, pengacara, dll.

Kuadran Ketiga, Business Owners
            Di kuadran ini adalah mereka yang berwirausaha dengan mendirikan lapangan pekerjaan sendiri. Sebagai pemilik bisnis mereka tidak perlu menghabiskan banyak waktunya, cukup mengontrol bisnis saja. Dengan memiliki usaha, pendapatan bisa kita raih sesuai dengan target yang diinginkan. Dimungkinkan pula pendapatan akan surplus, sehingga kita bisa saving.
            Menjadi seorang pemilik bisnis hendaknya memiliki mental baja. Disaat kondisi usaha yang terpuruk, ia harus senantiasa memiliki semangat seperti diawal pendirian usaha. Pemilik bisnis juga dituntut memiliki kreativitas tinggi untuk mengembangkan produknya. Kreativitas harus diasah sedari muda, karena sewaktu-waktu mengalami kegagalan mereka akan lebih mudah bangkit. Namun, ketika memasuki usia senja mereka akan cenderung mengingikan keamanan (menjauhi kerugian).

Kuadran Keempat, Investor
            Di kuadran ini menjadi seorang investor adalah mereka yang sadar akan masa depan. Memang disaat muda kita masih bisa bekerja, namun ketika usia mulai senja kesempatan itu sangatlah tipis. Bagi mereka yang memiliki surplus dana akan memanfaatkannya pada pos-pos investasi. Tentunya dalam berinvestasi kita harus cerdas dalam memilih. Salah-salah menginginkan keuntungan, malah kerugian yang menghadang.  Kita bisa memanfaatkan jasa reksadana syariah untuk berinvestasi, selain aman menurut syariat agama kita juga tidak perlu membuang banyak waktu. Pilihlah reksadana syariah yang telah terdaftar di Bapepam. Dengan reksadana syariah, maka dana kita akan dikelola oleh manager investasi kedalam portofolio efek seperti saham dan sukuk (obligasi syariah).

Tingkatan Keamanan Ekonomi
            Hakikatnya kita adalah manager investasi bagi diri kita sendiri. Bagaimana cara kita mengatur waktu dan dana untuk meraih keamanan ekonomi (berkecukupan). Ada tiga tingkatan keamanan ekonomi  yaitu : (1) Keamanan Pekerjaan, (2) Keamanan Financial, (3) Kebebasan Financial. Keamanan pekerjaan adalah mereka yang berkutat sebagai pegawai, mereka merasa aman dengan gaji yang mereka terima. Namun jika mereka tidak mampu me manage dengan baik, maka akan terjadi krisis ekonomi. Kedua, keamanan financial adalah mereka yang mengkombinasikan kuadran, seperti menjadi seorang employ dan investor, employ dan business owners, self employ dan investor, atau self employ dan business owners. Pendapatan mereka tidak hanya didapat dari satu kuadran saja, tapi menggandeng kuadran lain untuk mendapatkan keamanan financial. Terakhir adalah Kebebasan Financial adalah mereka yang dikatakan sangat aman dalam financial. Kebebasan Financial adalah mereka yang mengkombinasikan business owner dan investor. Mereka pada mulanya menjalankan suatu bisnis dengan baik, kemudian mengalokasikan sebagian dananya untuk berinvestasi. Dengan demikian uang akan bekerja untuk mereka.


GLOBALISASI VS PERKEMBANGAN BANGSA

  Oleh : Ika Devi Silviana   

        Indonesia saat ini telah terbuai dengan hingar bingar kehidupan globalisasi. Menurut Wikipedia, globalisasi sendiri memiliki makna  proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. Secara tidak langsung saat ini tidak ada batas-batas yang memisahkan antara Indonesia dengan bangsa lain. Hal ini tentunya membawa dampak yang saling bertolak belakang, bisa berpengaruh positif atau bahkan negatif. Indonesia seharusnya bisa memilah dengan baik dampak globalisasi tersebut.
      Globalisasi menjadikan Indonesia mau tidak mau terjun kedalamnya. Tidak bisa dipungkiri Indonesia itu seperti manusia pada umumnya, yang juga membutukan bantuan dari negara lain. Namun apakah selamanya Indonesia akan bergantung kepada negara lain? Dari istilah globalisasi sendiri salah satunya terdapat makna proses pertukaran produk antar negara di dunia. Hal ini dimungkinkan terjadinya aliran ekspor dan impor didalamnya. Aktivitas ekspor dan impor tersebut secara otomatis menyeret Indonesia ke dalam kancah perdagangan internasional.
      Hubungan Indonesia dengan negara lain kini menjadi lebih erat. Bisa bermakna positif yaitu berupa peningkatan teknologi karena mengadopsi atau menciptakan sendiri teknologi yang mutakhir tersebut, atau bahkan pahitnya malah menjadikan semacam simbiosis yang menyebabkan Indonesia tergantung pada teknologi negara lain. Dititik inilah kita tendensikan pengamatan kita kepada globalisasi untuk Indonesia. Sekuat apakah Indonesia apabila dilepaskan dari belenggu ketergantungan kepada pihak asing. Globalisasi ibarat lem yang membuat Indonesia tergantung akan harumnya dan akan selalu tertarik kuat.
     Menjadi bangsa yang cerdas itu penting. Sekarang Indonesia tengah dijajah oleh bangsa lain, namun pribadi-pribadinya belum tersadarkan akan hal itu. Indonesia sibuk membuka diri untuk bangsa lain, namun ia lupa dengan potensi yang dimilikinya itu sebenarnya lebih besar. Rasa tidak mau dikuasai dan dijajah oleh bangsa lain (tidak dengan kekerasan, namun dengan eksploitasi sumber daya alam negeri) merupakan wujud dari kepedulian terhadap bangsa. Salah satu solusi untuk mengimbangi kerasnya globalisasi adalah dengan pendidikan. Dengan demikian bangsa Indonesia akan maju dari segala segi.
       Indonesia seperti penari. Jika ia sudah tidak menarik lagi, apakah yang akan dilakukannya? tentunya ia akan membuka tirai penutupnya agar terlihat semakin menarik, padahal sebenarnya untuk menjadi penari yang menarik ia bisa menciptakan gerakan-gerakan yang lebih kreatif, inovatif, sehingga terkesan tidak monoton. Sama halnya dengan perekonomian di Indonesia. Indonesia sibuk membuka diri untuk investor asing, padahal sebenarnya ia bisa mengembangkan sumber daya yang ada di negeri yang subur itu, kemudian terciptalah suatu produk yang kreatif dan inovatif yang bisa memenuhi kebutuhannya di dalam negeri itu tanpa harus mengeluarkan kocek yang berlebih untuk membeli barang (impor) dari negara yang sebenarnya lebih kaya daripada kita. Namun disinilah permasalahan yang Indonesia tengah alami.
     Indonesia adalah negara berkembang, ia masih membutuhkan bantuan dari pihak asing. Indonesia belum mandiri dari segi kapital (modal) dan kualitas sumber daya manusianya. Dapat kita lihat contohnya, Indonesia memiliki industri tekstil. Untuk mencapai keefisienan industri tekstil tersebut lebih baik Indonesia mengimpor mesin dari luar negeri seperti negara Amerika atau Korea. Mesin yang mereka ciptakan tersebut adalah mesin yang digunakan untuk mengolah kapas berserat panjang, karena di negara-negara tersebut memiliki iklim sub tropis dimana kapas berserat pendek tidak dapat hidup disana. Indonesia adalah negara tropis, sehingga jenis kapas yang dapat hidup adalah kapas berserat pendek. Dengan demikian mau tidak mau Indonesia harus mengimpor kapas berserat panjang dari negara lain. Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat tinggi kepada negara lain.
     Globalisasi bukan berarti momok yang sangat menyeramkan. Kita dapat mengatasinya dengan meningkatkan kualitas pendidikan di negara kita. Dari contoh mesin dan kapas diatas dapat kita berikan solusinya. Disinilah peran pemerintah bersama anak bangsa yaitu dengan melakukan kemajuan teknologi dalam bidang pertanian, misalnya dengan rekayasa genetika dengan menciptakan bibit kapas yang berserat panjang namun dapat hidup di iklim tropis seperti Indonesia, atau dengan menciptakan teknologi terbaru berupa mesin pengolah benang untuk kapas berserat pendek yang tumbuh di Indonesia. Dengan demikian pengaruh ketergantungan kita kepada negara lain sedikit demi sedikit mulai berkurang.








Jumat, 10 Oktober 2014

60 Sahabat di Sekeliling Rasulullah Sallallahu'alaihi Wasallaam

Terasa begitu nikmat bertemu dengan wajah Rasul yang lembut, teduh, dan menenteramkan. Alangkah beruntungnya mereka yang ada disekililing Rasulullah. Akhlaqul Karimah senantiasa mewarnai hari-hari mereka, ingin rasanya berada dalam lingkaran orang-orang sholih ini..

1.  Musha'ab Bin Umar, duta Islam yang pertama.
2.  Salman Al-Farisyi, sang pencari kebenaran.
3.  Abu Dzar Al-Ghifari, tokoh gerakan hidup sederhana.
4.  Bilal Bin Rabah, muadzin Rasulullah serta lambang persamaan derajat.
5.  Abdullah bin Umar, tekun beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah.
6.  Sa'ad Bin Abi Waqqas, singa yang menyembunyikan kukunya.
7.  Shuhaib Bin Sinan, Abu Yahya yang selalu mendapat laba.
8.  Mu'adz Bin Jabal, cendekiawan muslim yang paling tahu halal haram.
9.  Miqdad Bin 'Amr, pelopor barisan berkuda dan ahli filsafat.
10.Said Bin Amir, pemilik kebesaran dibalik kesederhanaan.
11.Hamzah Bin Abdul Muthalib, singa Allah dan panglima syuhada.
12.Abdullah Bin Mas'ud, yang pertama kali mengumandangkan Al-Qur'an dengan merdu.
13.Hudzaifah Ibnul Yaman, seteru kemunafikan, kawan keterbukaan.
14.Ammar Bin Yasir, tokoh penghuni surga.
15.Ubaidah Bin Shamit, tokoh yang gigih menentang penyelewengan.
16.Kabbabb Bin Arats, guru besar dalam berkurban.
17.Abu 'Ubaidah Ibnul Jarrah, orang kepercayaan umat.
18.Utsman Bin Mazh'un, yang pernah mengabaikan kesenangan duniawi.
19.Zaid bin Haritsah, tidak ada orang yang dicintainya daripada Rasulullah.
20.Ja'far Bin Abu Thalib, jasmani dan perangainya menyerupai Rasulullah.
21.Abdullah Ibnu Rawahah, "Wahai diri jika kau tidak gugur di medan juang, kau akan tetap mati walau diatas ranjang."
22.Khalid Ibnul Walid, selalu waspada dan tidak membirkan orang lengah dan alfa.
23.Qeis Bin Sa'ad Bin 'Ubadah, kalau tidak karena Islam, ia lah ahli tipu muslihat Arab yang paling lihai.
24.Umeir Bin Wahab, jagoan Quraisy yang berbalik membela Islam dengan gigih.
25.Abu Darda', seorang budiman dan ahli hikmat yang luar biasa.
26.Zaid Ibnul Khaththab, rajawali Pertempuran Yamamah.
27.Thalhah Bin Ubaidillah, pahlawan Perang Uhud.
28.Zubeir Bin Awwam, sang pembela Rasulullah.
29.Khubaib Bin 'Adi, pahlawan yang syahid di kayu salib.
30.Umeir Bin Sa'ad, tokoh yang tiada duanya.
31.Zaid Bin Tsabit, penghimpun kitab suci Al-Qur'an.
32.Khalid Bin Sa'id Bin 'Ash, anggota pasukan berani mati angkatan pertama.
33.Abu Aiyub Al-Anshori, pejung diwaktu senang maupun susah.
34.Abbas Bin Abdul Muthalib, pengurus air minum untuk kota suci Mekkah dan Madinah.
35.Abu Hurairah, otaknya menjadi gudang perbendaharaan dimasa wahyu.
36.Al Barra' Bin Malik, Allah dan surga.
37.Utbah Bin Ghazwan, "Esok hari akan kalian lihat pejabat pemerintahan yang lain daripadaku."
38.Tsabit Bin Qeis, juru bicara Rasulullah.
39.Usaid Bin Hudlair, pahlawan Hari Saqifah.
40.Abdurrahman Bin 'Auf, "Apa sebabnya anda menangis, Hai Abu Muhammad?"
41.Abu Jabir Abdullah Bin 'Amr Bin Haram, seorang yang dinaungi malaikat.
42.Amr Ibnul Jamuh, "Dengan cacat pincangku ini, aku bertekad merebut surga."
43.Habib Bin Zaid, lambang kecintaan dan pengorbanan.
44.Ubai Bin Ka'ab, "Selamat bagimu, Hai Abu Munzir atas ilmu yang engkau capai."
45.Sa'adz Bin Mu'adz, "Kebahagiaan bagimu, Wahai Abu Amr."
46.Sa'ad Bin Ubadah, pembawa bendera Anshar.
47.Usamah Bin Zaid, The Beloved Son of The Beloved.
48.Abdurrahman Bin Abi Bakar, pahlawan sampai saat terakhir.
49.Abdullah Bin 'Amr Bin 'Ash, tekun beribadah dan bertaubat.
50.Abu Sufyan Bin Harits, habis gelap terbitlah terang.
51.Imran Bin Hushain, menyerupai malaikat.
52.Salamah Bin Al-Akwa, pahlawan pasukan jalan kaki.
53.Abdullah Bin Zubeir, seorang yang syahid luar biasa.
54.Abdullah Bin Abbas, kyai umat ini.
55.Abbad Bin Bisyir, selalu disertai cahaya Allah.
56.Suheil Bin 'Amr, dari golongan orang yang dibebaskan, masuk ke golongan pahlawan.
57.Abu Musa Al-Asy'ari, "Yang penting keikhlasan, kemudian terjadilah apa yang akan terjadi."
58.Thufeil Bin 'Amr Ad-Dausi, "Suatu fitrah yang cerdas."
59.Amr Bin 'Ash, pembebas Mesir dari cengkeraman Romawi.
60.Salim Maula Abu Hudzaifah, sebaik-baik pemikul Al-Qur'an.

 Wallahu'a'lam..

Rabu, 26 Maret 2014

EKONOMI SYARIAH, SOLUSI BIJAK DARI ALLAH

EKONOMI SYARIAH, SOLUSI BIJAK DARI ALLAH
oleh : Ika Devi Silviana
 
 
Bismillaahirrahmaanirrahiim…
“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada posisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).”
(QS.Ar-Ruum:39)
      Sistem ekonomi liberal kapitalis saat ini tengah merajai dunia. Namun  disayangkan sistem ini belum dapat mengentaskan permasalahan umat manusia. Dapat kita ingat permasalahan perekonomian Indonesia pada krisis moneter 1998 silam. Terjadinya inflasi besar-besaran, kenaikan harga-harga barang, penutupan bank-bank yang perlahan tapi pasti membunuh kehidupan bangsa. Saat itu mulai terjadi kenaikan mata uang dollar karena terjadinya permainan dollar oleh seorang hartawan George Soros. Ia membeli dollar besar-besaran, sehingga persediaan dollar mulai menipis. Dollar manjadi langka dan rupiah semakin melemah. Bank terpaksa menaikkan tingkat suku bunga bank untuk mengimbangi inflasi yang terjadi supaya mereka yang memiliki dana di bank tidak pergi dan kemudian menempatkan dana mereka pada investasi dollar. Saat itu terjadi keadaan yang sangat ekstrim, yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Bagi mereka yang memiliki dana di bank, tentunya mereka seperti di atas angin, karena tingkat suku bunga bank yang tinggi. Dampaknya terjadi pada para pengusaha yang mengambil kredit kepada bank. Bank juga memberikan suku bunga pinjaman yang amat tinggi untuk membayarkan bunga simpanan pada penabung. Akhirnya pengusaha gulung tikar, PHK besar-besaran, kemiskinan, kejahatan pun terjadi. Betapa dahsyatnya dampak sistem perekonomian liberal.
      Disisi lain terdapat kekuatan kecil ditengah badai krisis moneter yang melanda Indonesia 1998 silam. Sebuah bank syariah cetusan Majelis Ulama Indonesia yang berdiri sekitar tahun 1992 tetap kokoh dalam menjalankan kegiatan usahanya yaitu Bank Muamalat. Bank ini adalah bank syariah yang pertama hadir di Indonesia, murni menegakkan syariat Islam. Setelah keberadaan Bank Muamalat yang lolos dari terpaan badai krisis moneter 1998, maka mulai bermunculan bank-bank syariah seperti Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah, BRI Syariah, BTN Syariah. Bank syariah merupakan cikal bakal ekonomi syariah di Indonesia
      Ekonomi Islam (syariah) menurut Muhammad Abdul Mannan adalah ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang diilhami oleh nilai-nilai Islam. Sedangkan ekonomi konvensional seperti yang terjadi pada ekonomi liberal akan cenderung memisahkan ilmu dan nilai yang akan mengantarkan  manusia kedalam kehancuran.
      Sudarsono (2002) juga mengungkapkan bahwa masyarakat lebih mengenal konsep dan praktek ekonomi konvensional. Hal tersebut dikarenakan ekonomi konvensional lebih dahulu diterapkan. Dapat kita lihat bank-bank konvensional yang berada disetiap kecamatan, dan bahkan desa. Keberadaannya seperti jamur dimusim hujan. Mereka ikut melebur didalam kehidupan masyarakat, membantu aktivitas perekonomian rakyat. Namun disisi lain terdapat ekonomi syariah yang mempunyai keunggulan dan ketangguhan yang lebih baik dibandingkan dengan ekonomi konvensional.
      Ekonomi syariah adalah ekonomi yang tangguh dengan mengenal prinsip-prinsip universal. Pertama, prinsip keadilan yakni memberikan porsi pendapatan sesuai dengan usaha yang dilakukannya. Prinsip kebersamaan yang menekankan kepada kerja sama, semangat kemitraan, tidak ada kata “boss” dan “bawahan”, semua memiliki kedududakan yang sama dalam bersyirkah (kerja sama). Prinsip saling ridha (‘an taradin) yang menimbulkan keikhlasan yang hakiki dari dalam hati, tidak ada kedzaliman. Prinsip tolong menolong (ta’awun) yang membantu saudara kita keluar dari situasi sulit perekonomian, sehingga ia dapat mandiri untuk melanjutkan kehidupannya. Serta yang terakhir, bebas dari unsur MAGRIB. MAGRIB merupakan Maysir, Gharar, dan Riba. Maysir yaitu judi/spekulasi, Gharar yaitu mengandung unsur-unsur ketidakjelasan dari mana asalnya, apakah dzatnya halal ataukah haram, dan bagaimana akad yang dilakukannya, apakah telah memenuhi syarat dan rukunnya. Terakhir riba yaitu adanya tambahan dari pokok, besarnya telah disepakati diawal perjanjian. MAGRIB inilah yang menyebabkan hilangnya keberkahan dari Allah, mencekik kehidupan rakyat, dan cenderung merugikan salah satu pihak (hilangnya prinsip keridhaan).
      Dalam rangka pembangunan ekonomi umat, ekonomi syariah tidak lepas dari peran zakat. Zakat adalah menyerahkan sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Supadie (2013) menandaskan, zakat dapat menimbulkan multiplier effects bagi perekonomian Indonesia. Apabila seluruh penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam sadar untuk menunaikan zakat, betapa mandirinya negeri ini. Selain itu didukung para pengelola zakat yang handal dalam manajemen, memiliki sifat-sifat nabi shidiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), serta fatanah (cerdas). Perputaran harta akan lebih dinamis, dana tidak hanya berkutat di tangan mereka yang berkuasa saja, namun zakat juga akan menyelesaikan permasalahan sosial seperti pendidikan, kesehatan, pencurian, kelaparan dll. Setelah perekonomian mereka mandiri, mereka akan mampu menunaikan zakat dan akan membantu saudaranya yang masih membutuhkan.
      Hendaknya zakat disalurkan kepada orang-orang yang tepat seperti yang tertuang didalam QS.At-Taubah(9):60) :
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
      Keunggulan ekonomi syariah memang tidak perlu diragukan. Ia memiliki peran dalam mengentaskan masalah kemiskinan. Ekonomi syariah yang dekat dengan rakyat salah satunya adalah BMT. BMT merupakan lembaga keuangan seperti bank, namun BMT bukan bank. Disinilah yang membedakan BMT dengan lembaga keuangan lainnya, BMT mengandung pengertian Baitul Maal (rumah zakat) dan Baitul Tamwil (rumah usaha). Baitul Maal merupakan penghimpunan zakat, infak, dan sedekah, kemudian disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan produksi (modal usaha). Sedangkan Baitul Tamwil berarti BMT menjalankan kegiatan usaha pembiayaan konsumsi, investasi, dan modal kerja. Dari kegiatan pembiayaan tersebut akan dihasilkan pendapatan, kemudian pendapatan akan dibagi hasil sesuai nisbah (porsi) yang telah disepakati. Peran BMT menjadi strategis dengan berkecimpung di usaha sektor mikro, karena tidak semua masyarakat kecil mampu mengakses bank yang skala pembiayaannya sudah makro (besar) dan memiliki ketentuan dan syarat yang rumit.
      BMT memiliki beberapa produk pembiayaan. Untuk langkah penyelamatan ekonomi umat dapat melalui pembiayaan Qardhul Hasan. Qardhul Hasan merupakan pinjaman kebajikan yang diambil dari pengumpulan zakat, infak, maupun sedekah. Pinjaman ini sesuai untuk disalurkan kepada masyarakat kurang mampu yang ingin memulai usaha untuk meningkatkan taraf hidupnya.  Peminjam tidak harus memberikan bagi hasil, namun ia bertanggung jawab mengembalikan pokok pinjamannya kepada pihak lembaga keuangan syariah. Lembaga keuangan syariah khususnya BMT juga melakukan pengawasan dan pembinaan agar usaha yang dijalankan tetap berjalan.
      Allah telah memberikan solusi perekonomian yang bijak, yaitu ekonomi syariah. Namun sampai saat ini permasalahan perekonomian Indonesia tidak kunjung berakhir dikarenakan terjebak dalam naungan politik ribawi yang menghancurkan. Indonesia masih mengandalkan pinjaman dari World Bank, dimana ia memberikan suku bunga pinjaman yang tinggi, Hutang negara dari tahun ke tahun semakin membengkak, kemiskinan tidak kunjung terselesaikan, dan kejahatan masih saja merajalela. Alasan pemerintah mempertahankan ini dikarenakan kepentingan politik. World bank memiliki negara-negara anggota yang memiliki posisi strategis untuk menjalin atau memutuskan hubungan kerjasama disegala bidang, baik ekonomi, politik, sosial, budaya, dll. Diperlukan langkah perubahan untuk hal ini. Memang tidak secepat membalikkan telapak tangan, namun kita hendaknya ikut meluruskan sistem perekonomian yang saat ini masih jauh dari kebenaran.
      Untuk mewujudkan ekonomi syariah yang tangguh diperlukan beberapa langkah. Langkah awal kita memulai dengan menggalakkan gerakan berzakat, aktif mensosialisasikan ekonomi syariah yang dapat merangkul diseluruh lapisan masyarakat. Memperbanyak dan meningkatkan kualitas instansi-instansi pendidikan yang lebih fokus pada perekonomian syariah itu sendiri. Dengan demikian terciptalah sumber daya manusia yang  mengerti apakah hakikat ekonomi syariah itu, sehingga mereka dapat memperbaiki dan bahkan memberikan solusi bagi permasalahan perekonomian syariah di Indonesia. Selain itu, lembaga keuangan syariah juga harus aktif dalam kegiatan sosialisasi, sehingga masyarakat akan tahu tentang kegiatan lembaga keuangan syariah itu. Masih banyak orang beranggapan ekonomi syariah dengan ekonomi konvensional adalah sama, padahal hakikatnya berbeda. Kita perlu memperbaiki sistem yang ada dalam lembaga keuangan syariah, karena dikhawatirkan lembaga keuangan berlabel syariah, namun dalam sistem operasionalnya tidak jauh berbeda dengan apa yang ada di dalam lembaga keuangan konvensional. Hal tersebut akan memperburuk citra perekonomian Islam. Terakhir, dibutuhkan dukungan kuat dari pemerintah. Beberapa tahun silam telah diluncurkan GRES (Gerakan Ekonomi Syariah) oleh presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Peran serta pemerintah sangat penting, karena hal ini memberikan perkembangan positif terhadap ekonomi syariah di Indonesia melalui peraturan-peraturan yang dikeluarkannya.

Gambar : Hubungan Islam dalam perekonomian negara
Referensi Bacaan :
Sholahuddin, M, 2007. Asas-Asas Ekonomi Islam, Jakarta : Rajawali Pers
Sudarsono, Heri, 2002. Konsep Ekonomi Islam :Suatu Pengantar, Yogyakarta : Ekonisia
Supadie, Didiek Ahmad, 2013. Ekonomi Syariah Dalam Pemberdayaan Ekonomi Rakyat, Semarang : Pustaka Rizki Putra
Suwiknyo, Dwi, 2010. Ayat-Ayat Ekonomi Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.