“Nak, masih ada banyak dokumen yang harus saya periksa..”
(Top dan Analis Bank itu sama-sama terdiam)
“Baiklah, berikan saya satu kalimat yang bisa mengubah
pikiran saya.”
**
**
Top Ittipat. Pria berusia 19 tahun yang sangat menyukai game
(jangan tanya gamenya apa karena saya
jarang ngegame wkwk). Saat gurunya sedang menjelaskan program Microsoft Word, saat itu juga ia
mendapatkan keberuntungan dari “jual beli
senjata” 500 SGD (dollar Singapore, setara 12.000 Bath) dari sebuah game. Duh Mas Top, Mas Top, ini kan masih
pelajaraaaan :P
Ia meminjam rekening bank pamannya untuk transfer uang. Karena ia
masih sangat muda (high school),
sehingga belum memiliki rekening bank.
Cerita lucu ketika ia datang ke bank adalah, saat ia
menerima uang dari teller bank, ia memegang uangnya dengan terngangaa, Waaaaahh.
“Aku masih punya 8 sepatu lagi di game,
43 perisai, 40 pedang, belum lagi 17 baju perisai, gilaaaa!!!!” hahahahaa
:D :D Mas Top, Mas Top :P
Ya! Dia Kaya Mendadak!! Ia datang ke sekolah dengan mobil
barunya.
Dia memang berbeda dengan kakaknya. Sekolah pintar, otak
cerdas, dan dapat pekerjaan yang bagus di China.. ayahnya kerap kali
membandingkan dia, puncaknya adalah ketika Top tidak diterima di SNMPTN
(istilah di Indonesiaa.. :D) Orangtua TOP bersikukuh ingin masuk di PTN, biaya
lebih terjangkau jika dibanding swasta, karena disaat itu keadaan perekonomian
keluarga sedang sulit, dan dililit hutang. Tapi apalah daya.. akhirnya ia mau
juga kuliah walaupun di swasta (gapapa
Mas Top, aku juga kok, tapi semangat harus 45 kaya hari ini yang lagi anget
Indonesia Merdeka hehe).. Legaaa.. Ehh
***
Titik tolak kehidupannya adalah ketika ia tertipu membeli
DVD bajakan model terbaru. Orang tua marah besar, dan hampir diusir dari rumah.
Ditambah lagi akun gamenya yang masih banyak senjatanya itu di blokir!
Heeehhhhh??? Uangnya habis!!
“Realita tak semudah
main games online. Bisnis itu tidak
gampang, jangankan anak kecil, bahkan orang dewasa saja belum tentu bisa
bertahan. Kembalilah bersekolah. Ayah akan biayai dimanapun kamu bersekolah..”
kata babenya Mas Top sambil ngasih uang. I
see Pak, aku jugaaa hehe :,)
Jawaban tak terduga Top.. “Aku bukan karyawan ayah..” hmmm
yo wes yo wes babe ngalah ajaa batin babenya Mas Top. (Ini pilm mirip bangeet siihh, semoga suksesnya nular aamiin)
Top mulai berkuliah. Ia akhirnya menggadaikan kalungnya
diam-diam untuk biaya kuliahnya. “Memulai
bisnis itu setahap demi setahap, membutuhkan kerja keras dan kecerdasan yang
tinggi..” ujar bu dosen canteek..
“Jika kita berpikir
kaya, kita akan kaya. Jika kita berpikir sukses, kita akan sukses. Inilah teori
yang dipakai Perusahaan Sahaphat”
Bukan Top namanya kalo tidak unik. Dia menitipkan tape recorder untuk merekam suara dosen
waktu perkuliahan pada sahabat baiknya, Jack. Meskipun ia keluar dari ruang
perkuliahan, ia tetap memikirkan bisnis sendiri.
Suatu saat Top lapar. Ia keluar kampus dan mencari makan.
Kebetulan baru ada Expo makanan, jadi dia mampir.. sambil makan-makan gratis
hehe.. mulai dari bakpao, roti kecil, hingga ia menambatkan hatinya pada mesin
pengolah kacang wangiiii… hmmmmmm..
Ia mulai riset pasar untuk mengetahui apa yang diinginkan
pasar dan bagaimana cara pemasarannya, dari bagaimana cara memilih kacang yang
baik dan yang tidak baik, essence
untuk aroma kacang yang wangi, media menggoreng, semua dicatatnya.. sampai
suatu ketika ia kepletokan kepletokan kacang yang ia masak.. daaaaan.. akhirnya
berhaaaassssilllll yeeeeeeyyy.. ibu, ayah, paman Mas Top, hingga partner bisnis
ayahnya ketika bertandang ke rumah juga ikut cicip cicipp enyak enyaaak hehe :D
(aku aja yang ngiler disini :P)
Kuliah dulu lagi yaa.. “Pemasaran
hutan rimba adalah filosofi pemasaran kemana angin bertiup.”
***
Ia menempatkan usaha barunya di salah satu stand mall. Bukan Top namanya kalo ga
beda. Ia keluar melihat puluhan sampai ratusan kendaraan di parkiran motor. Tersenyum lebar 😁😁 tanda kesempatan produknya laku dipasaran terbuka lebaaar. Ia memikul karung kacangnya sendiri.
Saat ia mulai lelah, ia mengatakan, “Aku
tidak boleh gampang menyerah..!!” ia pikul lagi kacangnya..
Diawal penjualan hasilnya sangat sedikit. Riuh rendah sesama
penjual.. “Mungkin kurang teriak-teriak
kali yaa??” Kata paman Top. “Tak
penting suara bagus, ini bukan ajang American Idol, yang penting pembeli tahu
barang kita enaak..” katanya kepada pamannya.. (Aku nyengiir, nyengiiirr, paman kok lucu bingiiit siiih, kaya embahkuuu
wkwkwkwk)
Ehm Ehm Ehm.. “Kacangnya,
kacangnya, masih panas silakan dicoba-dicoba.. bagus-bagus, silakan, silakan
dicoba..” Aku ketawa ekspresi paman Top lucu bangeeeet wkwkwkwk :D ;D :P
pria tua ini membantu Top berjualan kacang.. Salluuuuuut!!! “Kacangnya, kacangnya, dibuat di Pecianan,
dibuat dengan setulus hatiii, sudah pasti enak rasanya…” diulang-ulang
sampe belepotaaan… ehehehehe ada-ada ajaaaa :D
Ketika mengantar temannya berbelanja di pasar ia melihat
beberapa riset pasar, dari penjual teriak-teriak berikan bonus, diskon
besar-besaran. Ia catatnya dengan seksama!
Pamannya mengabari kalo kacangnya tidak laku, sudah semua
dilakukan oleh pamannya, termasuk berteriak. Ia bingung kenapa.. sampai
akhirnya, ia menunggu temannya didepan toilet, dan didepan toilet tersebut
banyak orang meminta sumbangan. Ada banyak orang bersimpati memberikan uang.
Awalnya ia berpikir bahwa sumbangan adalah faktornya, hingga Top menyadari
bahwa LOKASI adalah hal yang sangat penting bagi sebuah bisnis.. (sedekah juga
penting yaa)
Yeeey Top beri bintang tiga pada point LOKASI saking
pentingnya!!
Go to part 2 yaaa :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar