Minggu, 18 Desember 2016

Tabuk dan Sahabat



Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Beberapa waktu lalu saya sempat membaca tentang Al-Rajhi Bank di Saudi Arabia. Tahukah anda? Al-Rajhi merupakan bank Islam terbesar di dunia yang benar-benar bebas dari sistem ribawi. Sempat merasa takjub dan bangga lho kawan hehe..

Namun, anda perlu tahu juga, ternyata dibalik “raksasa”nya Al-Rajhi Bank ada seseorang yang menurut saya patut “diacungi jempol” Siapakah dia? Taraaa.. Beliau adalah Sulaiman Al-Rajhi, Ia pernah dikisahkan telah memiskinkan dirinya dengan menyerahkan semua kekayaan pada ahli waris dan program-program wakaf. Kisahnya yang membalas berkali-kali lipat kebaikan gurunya waktu kecil, sangat menginspirasi kaum muslimin di dunia.

Ia tidak meletakkan kekayaan di hatinya. Di masa tuanya kini ia telah membagi sekitar 6,7 trilyun hartanya kepada ahli waris dan kerabatnya serta fakir miskin hingga diibaratkan hanya memilih pakaian yang melekat di badan dan asset bisnis yang dikelola para professional yang hasilnya untuk amal sosial dakwah. Ia menegaskan telah lahir tanpa membawa apa-apa dan siap tidak tergantung pada harta sebelum meninggal dunia.

Yang itu ada di zaman sekarang kawan, nah mari kita sedikit bernostalgia dengan orang yang “Tak akan terganti” untuk kejayaan Islam di masa lampau. Mari kita simak kesungguhan hati para sahabat Rasulullah yang merelakan seluruh yang ia miliki untuk Islam, ya.. untuk Islam..

Tahukan anda tentang perang Tabuk? Pernah denger sii mbaak hehe..
Tabuk adalah suatu wilayah yang terletak sekitar 1000 km dari kota Madinah.. Jauh yaa.. Kalo di Indonesia mungkin dari Anyer sampai Panarukan kali yaa hehe..

Ketika perang Tabuk, Islam sangat membutuhkan infaq untuk bekal peperangan. Memang generasi disekeliling Rasulullah tidak diragukan lagi keimanan mereka. Kita lihat kesungguhan mereka untuk menyumbangkan apa yang mereka miliki. Semoga kita dapat meneladaninya.. Aamiin..

Muhammad bin Maslamah (semoga bener ejaannya), beliau menyumbangkan 200 uqiyah perak (Ust.Khalid Basalamah)
1 uqiyah perak = 119 gram perak x 200 uqiyah = 23.800 gram perak.
Kalau dikonversikan, begini kawan..
5 uqiyah perak = 595 gram perak (nisab zakat)
5 uqiyah perak = 85 gram emas
200 uqiyah perak = kira-kira 3400 gram emas x est. Rp.500.000,- = Rp 1,7 M weeewww :)

Ashim bin Adi, beliau menyumbangkan 90 wasaq kurma (Ust.Khalid Basalamah)
1 wasaq = 60 sha’
1 sha’= 4 mud (kira-kira 3 kg) ---> (sumber Rumaysho)
1 mud = 2 telapak tangan penuh dari pria sedang
Jadi, 60 sha’x 3 kg x 90 wasaq kurma = 16.200 kg x (est.kurma @kg Rp.30.000) = Rp  486 jutaa weeewww :)

Ibu-ibu juga tidak mau kalah, Ummu Sinan (semoga bener ejaannya) melihat selembar kain dibentangkan di rumah Aisyah Radhiyallahu’anha berisi gelang kaki, gelang bahu, anting, cincin, dll, untuk persiapan jihad ketika perang Tabuk. Perang Tabuk merupakan perang yang membutuhkan bekal yang besar karena jarak yang jauh dan terik, partisipan yang cukup besar approximately 30.000 pasukan woooww. Tolok ukur bukan jumlah ratusan atau miliar yang di sumbangkan, namun lebih kepada upaya yang dikeluarkan.

Abu Aqil, ia tidak memiliki pekerjaan tetap atau kebun. Kemudian ia pergi ke rumah muslimin untuk mengisi tandon air mereka yang kosong. Ia bekerja semalam suntuk, kemudian dibayar 2 sha’ kurma. 1 sha’ ia sumbangkan untuk jihad di jalan Allah, 1 sha’ untuk keluarganya. Maa syaa Allah :)

Utsman bin Affan melihat orang-orang berinfaq, kemudian ia menyumbangkan 1000 dinar di kantongnya. (Ust.Khalid Basalamah)
1 dinar = 4,25 gram emas
4,25 gram emas x 1000 dinar x est.emas@gram Rp 500 ribu = Rp 2,125 M

Kemudian, bekal masih kurang juga untuk persiapan perang Tabuk ini. Lalu Rasulullah menanyakan siapakah yang ingin berinfaq lagi? Utsman bin Affan kemudian menyerahkan 10.000 dinar (approximately 21 M). Rasulullah seperti tidak percayaa :(

Kemudian, bekal masih kurang juga untuk persiapan perang Tabuk ini. Lalu Utsman bin Affan menyerahkan 700 uqiyah emas. 1 uqiyah emas = 17 gram emas. Berarti, 17 gram emas x 700 uqiyah x est.Rp 500 ribu = Rp 5,950 M :( terharu saya..

Kemudian, bekal masih kurang juga untuk persiapan perang Tabuk ini. Lalu Utsman bin Affan menyerahkan 940 kuda, disempurnakan dengan 60 unta. Ada yang meriwayatkan sebaliknya (940 unta, dan disempurnakan 60 kuda) ---> Ust.Khalid Basalamah

Kuda yang digunakan pada masa lampau mungkin jika itu adalah kuda yang sekarang, merupakan kuda yang sudah terlatih handal (estimasi 1 M/ekor kuda). Unta yang digunakan pada masa lampau pun juga bukan unta sembarangan, namun juga sudah terlatih (estimasi 10 ribu-15 ribu real atau kalo di rupiahkan sekitar 40-50 juta/ekor unta) :( Speechless

Speechless, ketika Utsman mengatakan ia sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Rasulullah bersabda, Wahai Utsman, semoga Allah mengampunimu yang engkau sembunyikan dan engkau tampakkan. Kiamat tidak akan membahayakanmu.. (Aamiin.. :) )
Mereka semua memang tak akan terganti..

Tulisan diatas tidak bermaksud untuk mengungkit infaq para sahabat Rasulullah kawan, namun tulisan ini semata untuk menambah rasa cinta pada Allah, Islam, Rasulullah, dan para sahabat-sahabatnya. Semoga ridho Allah selalu menyertai mereka. Serta tak lupa, tulisan ini juga untuk menambah semangat untuk giat mencari rizki yang halal dan berkah, untuk ummat dan dakwah Islam, tentunya tidak meninggalkan ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Kalau bukan kita, siapa lagi kawan? Sermoga bermanfaat :)



Laa Taiasuu..


Laa Taiasuu..

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

“Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.”

(TQS.Yuusuf: 87)

Ada seorang yang melakukan maksiat, tapi disaat yang sama dia juga berusaha menta’ati Allah, beribadah mencari ilmu, tapi orang ini berputus asa karena belum bisa meninggalkan maksiatnya. Sedangkan setiap saat selalu berdo’a, adakah salafush sholeh yang bisa menjadi ibrah atas kejadian ini.

Beribadah pada Allah, ketika beribadah kita harus memiliki roja’ (harapan), bahwasanya kita tidak boleh putus asa dari rahmatnya Allah setiap waktunya.

Ada salah satu sahabat yang memiliki sifat semacam ini. Siapa yang bisa menyebutkan? Siapa sahabat yang taubat-balik lagi-taubat-balik lagi? Tapi akhirnya taubat. Ia adalah Abu Mihjan. Abu Mihjan itu kesukaannya apa? Minum khamr..
Minum khamr, dicambuk, minum khamr, dicambuk, minum khamr lagi, dicambuk..

Anda tahu sampai kapankah ia bertaubat?
Yaitu ketika dia, selain minum khamr, kecintaannya kepada jihad itu luar biasa, sampai ke ubun-ubun.. Itulah Maa syaa Allah nya yaa.. Ia seorang (maaf) preman, tapi ia preman yang suka berjihad. Jika kita bandingkan di zaman sekarang, orang berilmu belum tentu suka berjihad.

Minum khamr merupakan dosa besar. Ia minum khamr, dicambuk, minum khamr, dicambuk, minum khamr dicambuk, lalu sampai ketika ada pasukan peperangan yang kemudian sedang berjihad, sengaja dibawalah Abu Mihjan, kemudian ditali lah dia. Lalu terjadilah peperangan yang terdengar dengan telinganya. Dia tidak bisa ikut berperang. Kenapa?

Dia adalah peminum khamr. Peminum khamr dilarang untuk ikut, karena apa? Justru akan melambatkan kemenangan, karena orang yang berdosa justru akan membantu musuh. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran, jika kita ingin dimenangkan oleh Allah, minimal jangan membantu musuh dengan kemaksiatan dari dosa yang kita kerjakan. Itu akan menjadikan terlambatnya kemenangan datang kepada kaum muslimin.

Maka Abu Mihjan ketika saat itu mendengar suara peperangan yang luar biasa, dan dia terikat pada sebuah kayu, ia menangis.. :( Dia berkata, “Maa syaa Allah.. Gara-gara minuman laknat saya tidak bisa ikut berjihad untuk membela kalimat Allah.” hanya mendengar suaranya (peperangan) saja.

Ada salah satu isteri komandan yang hadir di saat itu. Akhirnya dia iba melihat Abu Mihjan yang menangis. Dilepaskan dengan syarat, “Nanti sebelum perang selesai balik lagi ya, ikat lagi tanganmu.” Abu Mihjan mengiyakan, In syaa Allah..

Abu Mihjan berperang, sampai kemudian dia menutupi wajahnya supaya tidak terlihat bahwasanya dia adalah Abu Mihjan. Perang dengan luar biasa, sampai komandannya berkata, “Kalaulah bukan Abu Mihjan yang sedang aku ikat di belakang, pasti ini adalah Abu Mihjan.” Padahal itu adalah benar Abu Mihjan. Sudah banyak orang-orang yang tertebas dan kemudian dia kembali lagi..

Maa syaa Allah, disitu kita melihat, jangan pernah berputus asa. Abu Mihjan itu taubat, minum lagi, taubat, minum lagi, taubat, minum lagi, taubat, minum lagi, tapi akhirnya taubat. Itulah yang menjadikan kita tidak berputus asa. Karena apa? Sebanyak apapun dosa yang menggunung tinggi, walaupun menyentuh pintu langit, tapi ketika kita bertaubat dan menyesal, maka Allah akan menerimanya. In syaa Allah..

Allah mencari manusia bukan hanya yang banyak shalatnya, tetapi Allah juga mencari manusia yang mereka itu melakukan dosa tetapi mereka kembali kepada Allah dengan menyesali dosanya..

Perhatikan, ketika Allah memerintahkan untuk shalat, Allah tidak mengatakan “bergegas.” Allah ketika memerintahkan untuk berpuasa, Allah tidak mengatakan “bergegas”. Allah ketika memerintahkan kita untuk bersedekah, tidak mengatakan “bergegas.” Tapi ketika Allah memerintahkan kita untuk bertaubat, Allah mengatakan apa? “Bergegaslah kamu..”

Maka tahulah kita, panah apa yang paling disenangi iblis? Bukan panah zina. Panah yang paling disenangi iblis bukan panah khamr. Panah yang disenangi iblis bukan panah membunuh. Tapi panah yang paing disenangi iblis adalah panah Taswif.

Apa itu panah Taswif? Yaitu, orang itu melambatkan taubat, dan selalu berkata, “Besok taubatnya kalau sudah punya anak satu”, “Besok kalau sudah pensiun”, “Besok taubatnya kalau sudah tidak punya uang.”

Tumben, tidak minum?”, “Iya, lagi bokek.” Nah itu bukan taubat. Itu namanya Taswif. Inilah yang menjadikan kita harus yakin kepada apa yang telah dijanjikan Allah Subhanahuwata’ala..

Sumber: Lampu Islam

Semoga bermanfaat..

Senin, 10 Oktober 2016

Tunggulah Kedudukan Itu

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

“Jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain sampai engkau mengetahui kedudukanmu di akhirat.”
--------------------------------
“Hai orang-orang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah, dan barangsiapa berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”
(QS.Al-Munafiqun:9)

Manusia berasal dari tanah, namun terkadang memiliki sifat langit. Tinggi, tak terjangkau. Godaan dapat timbul dari arah manapun.

Anda pernah bertemu dengan seorang tua, dengan peluh, kotor, mengayuh becak tuanya? Atau seorang “kuli” pasar tua dengan menggendong berpuluh kilo bahkan berkuintal barang dagangan para saudagar?

Pernahkah anda bertemu dengan seorang tua pengangkut sampah, mendorong gerobaknya, dengan aroma yang hidung saja “enggan” bertahan lama?

Ada lagi seorang bapak yang berkendara dengan sepedanya, dengan menggendong bekal perkakas tukang, penuh semangat, membawa sebungkus plastik putih di pengemudi depan sepeda berisi makanan dengan raut muka lelahnya?

Satu lagi pernahkah anda melihat seorang nenek tua, berjualan kacang, namun ternyata Ia sepi pengunjung. Ia menahan dirinya untuk meminta-minta, dan mengisi sela-sela waktunya dengan alunan Al-Qur’an?

Apa yang kan kita pikir? Mereka menjijikkan? Mereka kotor? Mereka tak berpendidikan? Mereka tak berharta, mereka ini.. mereka itu..?

Baik, mari sejenak kita berpikir.. terkadang mata manusia memang hanya melihat secara objektif kala itu. Memang benar, namun siapa yang menyangka kedudukan mereka akan jauh lebih tinggi dan mulia dibandingkan kita? Mereka bisa saja lebih mudah bersabar dibanding kita, lebih mudah mensyukuri sebutir nasi yang mereka dapatkan, lebih menghargai setiap rupiah yang mereka usahakan?

Bandingkan dengan kita..

Manusia akan diuji dengan beragam cobaan.. Perhatikan hikmah QS.Al-Kahfi. Manusia akan diuji dengan beberapa arah..

Pertama, manusia akan diuji dengan keyakinannya (iman), seberapa kuat dan tahannya ia pada Allah, sebagaimana kuatnya keyakinan para pemuda Ashabul Kahfi yang berpasrah dari kejaran raja yang dzalim kala itu.. Disini akan kita ambil hikmah, akan timbul titik remeh manusia satu kepada manusia yang lainnya. Mereka akan beranggapan imannya lebih sempurna dari yang lainnya, tak sadar ia terjangkiti virus takabbur. Iman kita belum tentu menjamin kemuliaan kita di hadapan Allah. Hayati betul sudah benar atau belum? Ini sangatlah sulit, sangat sulit..

Kedua, manusia akan diuji dengan hartanya, sebagaimana kisah pemilik kebun yang kafir dan sombong. Ia menafikkan karunia Tuhannya. Kemudian Allah membinasakan hartanya. Kita terlalu takabbur, rizki yang sudah ada didepan kita sudah pasti menjadi milik kita, kata siapa? Jikalau Allah tak menghendaki kita mau apa? Pernahkah anda makan, suapan sudah sampai tepat di depan mulut kita, lalu terjatuh.. Itulah rizki yang belum ditakdirkan menjadi rizki kita. Kuasa Allah jauh diatas segalanya. Sadarlah hal itu.. Kekayaan tak menjamin kemulian wajah kita di hadapan Allah..

Ketiga, manusia akan diuji dengan ilmunya, sebagaimana kisah Nabi Musa yang tidak bersabar atas hikmah yang akan diajarkan Allah melalui Nabi Khidr. Nabi Khidr melubangi perahu, membunuh seseorang, kemudian membetulkan dinding yang roboh. Tahukah apa hikmahnya? Ketika nabi Khidr melubangi perahu, ia telah mengetahui bahwa akan ada perampok yang akan merampas harta. Kedua, Nabi Khidr membunuh seseorang? Tahukah apa hikmahnya? Ketika Nabi Khidr membunuh seseorang itu dikarenakan ia adalah seorang kafir, dan Nabi Khidr khawatir pemuda tersebut akan memaksa orang tuanya untuk murtad. Nabi Khidr menginginkan Allah akan menggantinya dengan anak yang sholeh. Terakhir, Nabi Khidr membetulkan dinding yang roboh, apa hikmahnya? Di dalam bangunan yang roboh itu tinggallah anak yang ditinggal mati orang tuanya, dan Allah menginginkan anak tersebut  mengeluarkan harta yang tersimpan yang ditinggalkan oleh orang tuanya kelak jika mereka dewasa. Disini kita petik hikmah pengetahuan juga dapat membinasakan jika kita meninggi, takabbur. Kebanyakan manusia tertipu dengan ilmunya, apa yang mereka ketahui adalah lebih sedikit dibandingkan apa yang mereka tidak tahu. Ilmu Allah sangat luas. Jangan sampai jenjang pendidikan kita memang tinggi, S1, S2, bahkan S3 tapi menutup diri kepada tanda kekuasaan Allah. Ilmu (dunia) tak akan menjamin kemuliaan wajah kita di hadapan Allah jika penggunaannya salah.

Keempat, manusia akan diuji dengan kedudukannya. Didalam QS.Al-Kahfi disebutkan bahwa Raja Zulkarnain menggunakan kekuasaannya untuk melindungi penduduk dari serangan Ya’juj dan Ma’juj, ia membuat pagar pembatas diantara bukit. Raja Zulkarnain mempergunakan kekuasaannya di jalan Allah. Ingatkah kisah Fir’aun, ia beranggapan berkuasa atas manusia, bisa mematikan dan menghidupkan. Ia tidak menggunakan tampuk kekuasaannya di jalan Allah.

“Jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain sampai engkau mengetahui kedudukanmu di akhirat.”

Sebanyak apapun hartamu, setinggi apapun ilmumu, dan seluas apapun kekuasaanmu

It’s so difficult, but we must try..

“Whoever turns away from the remembrance of the Most Merciful, We will appoint for him a devil as his companion”


(QS.[43]:36)

Jumat, 19 Agustus 2016

Orang Hebat yang Dibabat

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Beberapa waktu terakhir ini situasi politik di Indonesia tengah goyah. Bagaimana tidak? Negara kita sedang dilanda ketidakpastian, khusus yang baru-baru ini adalah resuffle cabinet. Tahukah anda? Archandra Tahar, beliau adalah Menteri ESDM yang baru dilantik, serta periode kementriannya hanya berumur 20 hari.  Sosok yang lurus agamanya, jenius luar biasa, akuntabel, strict, tak berpihak pada mafia. Pengalamannya sudah melalang buana, lulusan ITB, seorang peneliti offshore, dan terakhir beliau sempat menjabat sebagai presdir perusahaan besar di Amerika, yaitu Petroneering. Sayangnya, orang hebat ini malah dibabat di negaranya sendiri.

Archandra diibaratkan seperti kertas putih, ditengahnya ada titik kecil noda hitam. Kecil, kecil sekali. Namun itu yang saya rasa tepat untuk menggambarkan sosok beliau. Kecewa rasanya, bagaimana tidak, manusia selalu menilai seseorang dari titik kecil itu, tak “mau tahu” multiple effectnya nantinya. Bagaimana tidak, sosok yang lurus agamanya, menjadi guru ngaji di lingkungannya tinggal, jenius luar biasa, disia-siakan, sedangkan bangsa lain malah berharap kontribusi “otak jeniusnya” Inilah yang Islam butuhkan, sosok seperti ini yang akan menjadikan Islam bangkit. Shidiq, Amanah, Tabligh, apalagi Fathonah nya.. tak diragukan komplitnya hehe..

Indonesia sedang membutuhkan public figure yang lurus agamanya, cemerlang otaknya. Maaf sedikit menyentak, karena penekanan yang dirasa sangat. Indonesia sedang krisis energi, mirisnya sekarang baru mempermasalahkan dwikenegaraan yang melilit Archandra. Sangat disayangkan, mengapa tidak dikaji lebih mendalam sebelum pemilihan dan pelantikannya menjadi Menteri ESDM. Menurut saya masalah itu terkesan tidak adil, Indonesia seolah mempermasalahkan masalah yang sepele (dwikenegaraan) karena Archandra memiliki paspor Amerika Serikat. Tidak sebanding dengan problem solving yang ditawarkan nantinya. Juga, kita nalar saja, seorang yang gajinya sudah kisaran miliaran per bulan, RELA untuk pulang ke Indonesia, yang gaji seorang menteri itu hanya bekisar 40 juta saja. Miris kan kawan? Itulah nasionalisme..

Archandra sosok Idaman. Penuh manuver-manuver jitu. Sangat cocok untuk Indonesia. Beliau menggunakan masa singkatnya menjadi seorang mentri ESDM dengan cukup baik.

Beliau memasukkan agenda revisi UU Migas, sehingga inefisiensi alur perizinan dan bisnis investasi energi dapat dipangkas. Disini mafia pemalak investor energi tidak bisa berkutik lagi.

Beliau memasukkan revisi PP 79/2010. Targetnya, akan berkurang pajak untuk bisnis migas, sehingga investor terpacu berbisnis sektor migas. Jadi, walau pajak menurun, profit share bagi pemerintah meningkat, target produksi yang masuk dalam indicator APBN juga bisa ditingkatkan.

Setelah dilantik, beliau membentuk taskforce blok gas LNG Masela di lepas pantai laut Arafura, Maluku. Hasil revisi PoD (Plan of Development) versi beliau, bisa efisiensi investasi pembangunan blok Masela di darat (onshore) dari sebelumnya bekisar USD 19,3 miliar (253,5 Triliun) menjadi bekisar USD 15 miliar (197 triliun), berarti Indonesia melakukan penghematan sebesar 56,5 Triliun.. sangat signifikan bukan?

Taskforce yang dibentuk memotong banyak negosiasi dan inefisiensi waktu , sehingga PoD dapat dihasilkan tepat waktu, yang berujung percepatan waktu proyek Masela. Hal ini juga memangkas banyak sekali mafia pemalak investor yang menjanjikan kemudahan approval pada tiap tahapan.
Sebagai seorang presdir Petroneering yang terbiasa memperhatikan manpower, accountability, dan business process, ia menemukan indikasi inefisiensi dan penyimpangan di sektor energi.

Ketika Archandra diwawancara oleh wartawan, beliau menuturkan, “Kami mau pencegahan ke depan di kementrian kami dilakukan sejak awal agar lebih baik menangani sektor ini, terutama soal transparansi.”

Aksi “bersih-bersih” beliau ini amat cemerlang. Mafia-mafia itu seperti dijemur di bawah sinar matahari dengan jarak satu hasta. Kepanasan.. Hehe bercanda, biar ndak stress ya kawan.. mafia bingung bagaimana nasibnya nanti..

Bergulirlah dengan kencang masalah dwikenegaraan ini. Kita do’akan semoga Indonesia berhasil membentuk negeri baldatun thayyibatunnya.. pemimpin yang adil, zakatnya orang kaya, do’anya kaum dhuafa, serta do’anya para ulama’.. serta semoga orang-orang hebat (khususnya lurus agamanya) tidak dibabat lagi seperti beliau dan ilmunya dapat bermanfaat bagi kemaslahatan umat Islam.. Aamiin.. Semoga bermanfaat..
(dari berbagai sumber)



Selasa, 19 Juli 2016

Ta’aruf Seumur Hidup


Bismillaahirrahmaanirrahiim..


Beberapa waktu lalu saya lihat di media sosial rata-rata teman-teman muda-mudi saya kompak posting mengenai ta’aruf dan menikah.. kadang sempat terpikir, “Apakah hal ini yang dirasakan muda-mudi usia 20 an ya?” tak sadar di berbagai pertemuan, obrolan-obrolan singkat menggiring pada argumentasi dari kelas ringan sampai berat terkait menikah..

Lucunya lagi, ada meme yang mengundang gelak tawa yang settingnya akhwat yang menyeret seorang ikhwan ke Kantor Urusan Agama (KUA), dengan berbagai macam setting nya menolak dinikahi,  ada yang cuma di PHP-in, ada yang belum kelar skripsi, ada yang belum bekerja, dan malah ada yang sudah menikah dan mau dijadikan yang kedua hehe..

Tak mau kalah, ada yang membuat meme tandingan ikhwan yang menyeret seorang akhwat ke KUA, dengan berbagai alasannya menolak dinikahi, ada yang belum bekerja, belum punya mobil, dan belum punya, belum punya lainnya.. Complete..

Obrolan singkat seputar menikah biasanya mengenai bagaimana kriteria calon ideal, pendidikan, fizikly (ala bahasa Malaysia gitu hehe), restu orang tua, keinginan setelah menikah, rencana pendidikan anak, hobby, ketrampilan, dll nya..

Baiklah.. saya ingin mengulas tulisan di Islampos (bersumber pada tulisan Salim A Fillah) oleh Eva Fatmah, mungkin saja anda tahu beliau ya? Menurut saya beliau ustadz faforit remaja hingga dewasa karena beliau aktif menulis (khususnya) tentang ta’aruf dan menikah.. tapi ndak cuma itu ya kawan, harus di garis bawahi lhoo hehehe..

Di tulisan tersebut diceritakan bahwa ada seorang  ikhwan yang ingin ta’aruf dengan akhwat, sebelumnya ikhwan tersebut telah mengetahui CV/biodata si akhwat. Akhwat tersebut bekerja di apotek sebagai asisten apoteker (AA) yang meracik obat di dalam. Ketika si ikhwan ingin melihat si akhwat, di setting sang ikhwan membeli obat di apotek, momennya sangat singkat karena si akhwatnya bekerja di belakang, dan hanya sebentar ke depan untuk mengantar obat racikannya. Itupun dengan wajah malu-malu (sepertinya dengan menunduk juga)..

“Lihatlah wanita yang akan kau nikahi itu, karena yang demikian lebih mungkin melanggengkan hubungan di antara kalian berdua.” (HR.An-Nasa’a/3235, At-Tirmidzi/1087)

Pertemuan awal belum berhasil, lalu dirancanglah untuk pertemuan kedua. Pertemuan kedua ini baru berhasil, karena meja ruang tamu tersebut terbuat dari kaca, beniiiing sekali..

Dibrondongilah si akhwat itu dengan berbagai pertanyaan, “Visi misi pernikahan menurut Anda?”, “Bagaimana konsep pendidikan anak yang tepat?”, “Apa pandangan Anda tentang istri yang berkarir?”, “Seperti apa proyeksi nafkah nantinya?”, “Bagaimana pendapat Anda tentang homeschooling?”, “Rencana tempat tinggal dan penataannya?” seperti ujian pendadaran hehe..

Yang mengagetkan di tulisan tersebut adalah pengakuan dari akhwat tersebut..

“Maaf, saya tidak bisa masak.”

Si pemuda bergumam dalam hati, “Ya Allah aku kemarin minta yang shalihah dan menshalihkan. Mengingati Ibunda ‘Aisyah, rupanya pandai memasak belum termasuk di situ. Ya Allah apakah Kau menguji kesungguhan kriteriaku?” Lalu dia kuatkan hati, “Tidak apa Ukhti. Di kota ini banyak rumah makan. Murah-murah lagi.”

“Saya juga tidak terbiasa mencuci.”

“Alamak”, batin hati si pemuda. Tapi mengingat hal yang sama, dia berkata lagi, “Tidak apa Ukhti. Di kota ini banyak laundry. Kiloan lagi.”

“Saya bukan mencari tukang masak dan tukang cuci. Melainkan seorang istri. Kalau diperkenankan, saya akan segera menghadap pada Ayah Anda.” Maka hari itu, tanggal lamaran pun ditetapkan pada enam hari kemudian, tepatnya 18 Juli.

Begitu percakan di tulisan tersebut..

Dan ditulisan itu ada pertanyaan yang sangat menarik untuk saya yaitu “Bagaimana ta’aruf yang hakiki?” ternyata jawabannya seperti ini kawan..

Ta’aruf itu seumur hidup. Sebab manusia adalah makhluk penuh dinamika. Dia sedetik lalu takkan persis serupa dengan kini adanya. Ta’aruf itu seumur hidup. Sebab kenal sejati adalah saat bergandengtangan dalam surgaNya.

Dua belas tahun berta’aruf, pemuda itu masih terus belajar mengenal istrinya. Dan selalu ada kejutan ketika prasangka baik dikedepankan. Misalnya, si dia yang mengaku tak bisa memasak itu, pada HUT RI ke-60 setahun kemudian, menjadi juara lomba masak Agustusan. Tingkat RT. Lumayan bukan?

Kisah romantis teman saya yang tak kalah menginspirasi yaitu ketika sang suami berkata pada istrinya, “Mengapa Allah tampakkan kekuranganmu dihadapanku?” sang istri mulai bersedih, ia khawatir jika suaminya tidak menyukainya lagi..

Dan apakah jawaban sang suami? “Jangan bersedih, Allah menampakkan kekuranganmu di hadapanku, dan menampakkan kekuranganku di hadapanmu, bukan karena aku kecewa terhadapmu, supaya apa? Supaya kita tahu bahwa hanyalah Allah Yang Maha Sempurna, supaya kita hanya cinta pada-Nya, dan kita dipersatukan karena cinta kita kepada Allah..” 

Sang istri kemudian memeluk erat suaminya dengan air mata bahagia..

Satu lagi, gombal manis nan romantis Siti Fatimah kepada Ali bin Abi Thalib..

“Maafkan aku jika sebelum menikah denganmu, aku telah jatuh cinta kepada seorang pemuda.”

(Ali mulai bersedih mendengar pernyataan itu)

“Lalu mengapa kau mau menikahiku?”

“Tahukah kau, pemuda itu adalah engkau..”


Eaaaaa.. pasti guling-guling bahagia...Rayakan cinta dengan yang halal.. semoga bermanfaat.. J

Sendiri


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus."

(QS.Al-Bayyinah:5)

Pernah saya membaca nasihat yang menarik tentang ikhlas dan sabar, seperti ini "bukan ikhlas jika masih ada rasa sakit, dan bukan sabar jika ada batasnya." Nasihat itu seketika membuat diri terhempas.. jauh.. mana ada orang yang ikhlas, coba anda ditendang, dipukul, dikeroyok beramai-ramai? Apakah anda akan membalasnya? Maybe yes, maybe no. Pernah juga anda memberikan sesuatu kepada orang lain, apakah yang anda harapkan? ingin didengar? dilihat? atau disanjung? Maybe yes, maybe no. Semua tergantung hati manusia.

"Hati ibarat raja, sedangkan anggota badan adalah pasukannya. Apabila baik rajanya maka baik pula pasukannya, apabila buruk rajanya maka buruk pula pasukannya."

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).” HR.Bukhori

Itulah hati.. Unik bukan?

Namun perlu kita ingat kawan, iman kita kadang naik, kadang turun. Kadang ingat, kadang alpha. Jika suatu saat timbul rasa aneh didalam hati, membuat gelisah, membuat takut, membuat khawatir, membuat kotor. Itulah indikasi hati kita mulai aneh pada Allah juga. Saya pun tidak memungkiri pernah mengalami hal tersebut. Tersiksa? Jangan tanya.. pasti iya!

Dosa adalah candu. Canduu yang ingin diulang terus-menerus, lagi dan lagi, tak pernah kenyang.. dan itu harus diakhiri, dan prosesnya sangatlah sulit, sangat sulit. Ibarat merehabilitasi korban NAPZA, perlu waktu dan tenaga yang kuat. Tekad yang kuat dari pelakunya.

Namun ingatlah..

Ketika kau sedang sendiri, sedang sakit, ada masalah, dalam situasi genting sekali..
Orang terdekatmu pun tak ada, sahabat karib, dosen, boss, atau orang yang selalu menari-nari dibenakmu ketika kau telah tumbuh dewasa..

Apakah mereka bersamamu?

Coba pikir.. Siapa yang ada? Adakah orang yang kau harapkan pujiannya ketika kau beri sesuatu yang akan datang merawatmu? Apakah mereka yang tertawa riang bersamamu ketika berkumpul? Ataukah mereka yang selalu kau ceritakan pada setiap orang dengan bangganya?

Saat kau sendiri.. tahukah kau? Kau hanya bersama Allah mu kawan, dzat yang sering kita lupakan di kala kita kejatuhan nikmat, dzat yang sangat romantis denganmu, ya.. Ia ingin bersamamu, berdua saja, tak ada yang mengganggu. Kau bisa tumpahkan seluruh air matamu, segala peluhmu, segala deritamu.

Betapa romantisnya Ia, Ia tuliskan asmanya yang indah di tanganmu, mata untuk melihat indahnya cinta-Nya, telinga untuk mendengar bait-bait nama-Nya, mulut manis mengucap asma-Nya..
Saat kau sendiri, saat kau bersama-Nya, kau akan tahu posisimu di hadapan-Nya, begitu hina, begitu banyak bintik-bintik noda bertambah di relung hatimu..

Saat itu, terasa sekali mengapa kita duakan Ia dengan suatu yang lain. Amat menyakitkan, amat tak adil, bagaimana tidak? Dikala teman yang kita harapkan hadirnya, namun hanya ada Ia saja. Ketika kita hujan nikmat kita meninggalkannya. Belum lagi penyakit hati yang sangat bermacam-macam menduakan keesaan-Nya. Apakah Ia meninggalkan kita? tidak bukan? tangan-Nya terbuka lebar, menerima kita, mengampuni kita, memeluk kita dalam kasih sayang-Nya, memberi kita rahmat, hikmah yang sangat indah dari masalah kita. Bukankah kita mendapatkan yang berlapis-lapis? Iya..

Saat kita mengeluh dan mengeluh, saat itu kita belum bisa membaca rencana-Nya, saat kita dapat menerima ketentuan-Nya, kita bahkan bisa tersenyum-senyum sendiri seperti anak kecil yang mendapat permen karena rencana-Nya buat kita yang sangaaaat indah dan spesial.. Pernah seperti itu? hehe

Ia hanya ingin hatimu untuk-Nya, dalam QS.Al-Kahfi:110

Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan denganTuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya."


Aku dan kamu bisa kawan.. semoga bermanfaat

Jumat, 24 Juni 2016

High Class Love


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

“Salah satu diantara mereka yang mendapatkan naungan Allah Subhanahuwata’ala di hari kiamat adalah orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul karena Allah, berpisahpun karena Allah.”

Let’s check it out!

Hari kiamat. Hari kiamat, Ya! Hari kiamat. Penjelasan mengenai hari kiamat sudah sangat sering kita dengar. Ingatkah anda di tahun 2012 lalu? Sebuah ramalan yang menggemparkan Indonesia, bahkan sampai “melancong” ke luar negeri. Filmnya pun sangat ngeri terasa, ya! “2012” Tentang terjadinya kiamat,  tergulungnya lautan, hancurnya alam semesta, runtuhnya jalan, jembatan, dan fasilitas umum lainnya. Semua orang berlari kencang, ada yang pakai mobil juga, berharap mereka mampu menyelamatkan diri dari kekacauan kiamat. Namun yang tersebut adalah versi film, versi aslinya tak ada yang mengetahui kapan pastinya, termasuk orang terkasih Allah Subhanahuwata’ala yaitu Rasulullah Sallallahu’alaihi Wasallam sendiri..

Yuk mari saya mengajak pembaca memaknai arti “High Class Love” bagaimana anda sekalian memaknai istilah ini? Maknanya bermacam-macam, mungkin ada yang mengartikan cinta sejati,... yaaa, bolehlah J atau mencintai orang yang high/tinggi? Kalo itu kriteria mungkin iya.. apalagi ditambah putih, elok paras, berada, strata sosial yang wow.. siapa yang tak tertarik? Tapi kita tepiskan dulu pandangan itu ya...

High Class Love disini berarti cinta tingkat tinggi, cinta yang mana itu mah, Mbak? Cinta tingkat tinggi yaitu dimana dua orang/lebih yang saling mencintai karena Allah, mereka berpisahpun karena Allah juga.. So sweet kan? Misalnya begini, Abu Bakar dan Rasulullah adalah contoh simpelnya. Beliau berdua ibarat surat dan perangkonya, amplop dan lemnya, gelas dan tutupnya, yap tak terpisahkan. Sahabat tingkat tinggi, cintanya juga tingkat tinggi. Jika Abu Bakar melakukan suatu kesalahan, maka Rasulullah menasihatinya, Rasulullah melakukan ini, Abu Bakar juga ayuk, ketika Abu Bakar khawatir dalam kejaran kaum kafir ketika berada di gua, Rasulullah pun menenangkannya, “Innallaha ma’ana..” Sesungguhnya Allah bersama kita.. Do’anya untuk dua orang lho.. Bahkan anda pasti tahu Aisyah putri Abu Bakar, beliau dinikahkan dengan Rasulullah ketika usianya sangat belia.. Bukan main tingkat tingginya (persahabatannya)..

Dari kisah Rasulullah dan Abu Bakar kita dapat menarik kesimpulan, high class love adalah ketika kamu mencintai Allah, aku juga mencintaimu. Ketika kamu masih di koridor/ jalan Islam aku “yuk mari” sama kamu (akidah), kita adalah satu. Jika kamu salah, aku bertugas meluruskanmu. Jika aku salah, maka tolong luruskan aku. Jika kamu butuh bantuan, In Syaa Allah aku menolongmu selama dalam kebaikan dan untuk kepentingan Islam. Kita kuat karena Islam.. Terkadang ada kebingungan yang mengganjal antara meluruskan dan “kekuatan” untuk men-judge.

“Kamu itu gini ya ternyata, ga nyangka aku.”

“Kamu..! Yang kamu lakukan itu..*****! Pasti kamu ikut aliran ini kan?”

Kalimat itu hal sepele, tapi dalam maknanya. Terkadang untuk mengungkapkan sesuatu, namun jika salah bahasa/ penggunaan kalimat bisa jadi negative effect buat diri sendiri.

Alangkah lebih bagus jika kita menggunakan tutur kata yang lebih sopan dan ramah untuk meluruskan sesuatu. Misal, ada dua orang sahabat Adam dan Muhammad. Kisahnya begini. Adam adalah seorang yang berisbal (belum bercelana diatas mata kaki), nah sebagai sahabat yang baik Muhammad menyeru kepada yang haq (benar) untuk mengajak Adam mulai tidak berisbal (bercelana sedikit atas dari mata kaki).

Akhi Adam, oh ya kemarin saya dapat info dari ustadz saya ada kajian menarik di Masjid Sakinah lho..”

“Wah iya kah? Temanya tentang apa ya akhi Muhammad?”

“Wah itu rahasia, nanti ndak surprise lagi dong, In Syaa Allah kajiannya bermanfaat dan menarik. Ikut ya akhi, temani saya hehe, besok saya jemput dehh..” (kalimat ini menasihati secara tidak langsung (lewat kajian), tidak menjudge secara langsung, ada akhlaknya (tolong menolong)..

Teman mana yang tidak melting coba? Sudah diajak, dijemput, tambah di traktir lagi hehe.. berlapis-lapis berkahnya J Daaaaann keesokan harinya.. Taraaa...

“Akhi Adam, Alhamdulillaah antum semakin handsome sekarang, saya senang dengan perubahan akhi sekarang, In Syaa Allah akan berkah, saling mendo’akan ya Akhi..”

“Syukron ya akhi Muhammad, kajian kemarin sangat membekas di hati saya, do’akan saya istiqomah seperti ini ya Akhi..”

“Waiyyaka akhi Adam, semoga kita selalu diberi rahmat, ilmu, dan hikmah selalu Aamiin..”

“Wah, akhi Muhammad kapan-kapan saya mau dong diajak kajian lagi hehe..”

“In Syaa Allah, In Syaa Allah akhi.. saya sangat senang sekali.. Semoga Allah mempertemukan kita di hari kiamat, di naungan arsy Allah, dimana dua orang yang saling mencintai dan berpisah karena Allah. Aamiin, Aamiin, Aamiin..”

“In Syaa Allah akhi...” (ditambah jabat tangan, peluk, salam, daaaannn dobel dobel berkahnya) hehe
Semoga bermanfaat...

 “Change your word Friends J


Aku, Kamu, dan 1,5 Jam


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

“Dan mereka meminta kepadamu (Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”

(QS.Al-Hajj:47)

Waktu.. adalah kesempatan yang tak terulang lagi, mahal, unik, dan tentunya satu yang harus diingat tanggung jawab. Mengapa seperti itu? Waktu itu tak bisa terulang kembali, dapatkah anda mengulang peristiwa sepuluh tahun lalu? Lima tahun lalu? Kemarin? Oh tidak usah jauh-jauh.. satu menit yang lalu.. saja? Bisa? Kita tidak bisa mengulangnya lagi. Lalu, mahal? Kenapa mahal? Karena waktu itu tak terkira harganya.. coba anda bayangkan ketika orang tua anda meninggal, tetapi saat itu anda tengah ada di luar kota, tempat yang berbeda.. Disaat sakaratul maut anda tidak bisa menemaninya, jika anda bisa, mungkin anda akan membayar beberapa puluh juta, bahkan ratus juta untuk waktu yang sangat singkat. Unik? Kenapa unik? Disetiap detik waktu memiliki momennya sendiri, tidak akan sama, mungkin bisa berkisah bahagia atau penuh air mata. Dan, terakhir penuh tanggung jawab, ini yang berat! Waktu yang diberikan kita tidak cuma-cuma, Allah akan meminta pertanggungjawabannya. Miris ya kawan, mungkin menurut saya, mengelola waktu bukan perkara mudah, terlebih lagi banyak godaan-godaan di luar sana yang sangat WOW, tapi marilah kita ingat sejenak 1,5 jam kawan, meski “aku dan kamu” bukanlah yang sempurna. Let’s check it out...!

“Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” Trus kok bisa 1,5 jam ya mbak? Mungkin ada sebagian orang yang sudah tahu asal 1,5 jam ini, tapi saya akan coba paparkan 1,5 jam ini seperti apa. Oke..

Asumsi kita mulai..

Satu hari akhirat = 1000 tahun dunia
24 jam akhirat = 1000 tahun dunia
Tiga jam akhirat = 125 tahun dunia
1,5 jam akhirat = 62,5 tahun dunia

Begitulah asumsinya kawan.. Umat Nabi Muhammad di prediksikan masa hidupnya hanya sekitar 63 tahun, seperti usia wafat Rasulullah. Terasa lama jika hidup selama 63 tahun di dunia ini. Tapi realitanya jika memakai perhitungan akhirat masa hidup kita hanya 1,5 jam saja. Kalau di dunia mungkin waktu 1,5 jam itu jika kita gunakan untuk reuni dengan teman-teman akan terasa cepat, pergi bersama, minum bersama, dan pulang lagi. Yah hidup kita juga seperti itu. Ibarat kata, kita ini musafir di padang pasir, hauuusss banget, terus nemu sumur di tengah Sahara, seneng? Ya tentu seneng dong? Sama! Kemudian musafir tersebut lanjut perjalanan. Kita menemukan dunia ini, mencari dunia ini penuh dengan kesenangan, tapi ujungnya kita akan kembali pada Allah...

Waktu yang kita peroleh dari Allah merupakan rizki juga. Jangan terus kita asumsikan RIZKI = UANG. Boleh seperti itu, tapi hendaknya kita harus jeli terhadap nikmat Allah. Jika kita tidak punya uang, Allah berikan gantinya waktu luang. Eeehh jangan salah ya kawan, waktu luang itu kalo kita cerdas manfaatin bisa jadi ladang amal buat kita lhoo. Kita bisa belajar, berdzikir, mengaji, menulis, dan membaca, asal tepat apa yang di belajarin, dzikirin, ngajiin, tulisin, dan yang di baca hehehe.. Daaan pahala akan mengalir dengan derasnya.. Kayak lautan aja mbak..

Ada satu lagi yang membuat saya khususnya takut.. mungkin anda juga ya? Bisa jadi.. “Kenapa takut mbak? Kayak ketemu Valak The Conjuring aja?” Begini kawan, maksiat kita definisikan sebagai perbuatan yang menjerumuskan pelakunya ke perbuatan dosa, meninggalkan yang wajib, dan melakukan yang haram, serem kan? Apa akibatnya? Tentu tak tanggung-tanggung lagi adalah Naar nya Allah, dijeburin, ditanyain, disiksa, balik lagi keawal, disiksa, balik lagi ke awal, disiksa lagi, begitu seterusnya..

Melakukan kemaksiatan adalah suatu kebodohan. Mengapa demikian? Karena orang yang melakukan maksiat ia tak sadar dilihat oleh Allah, berkurangnya kadar keimanan kita, mendapat kemurkaan Allah, dan satu hal yang penting lagi, yaitu terhambatnya rizki. Rizki itu banyak macamnya, kalo kita hitung rizki Allah susaaah banget. Bayangkan saja, Oksigen, jika Allah tidak menciptakan Oksigen (O2) lalu bagaimana air (H2O) akan diikat? Jika dalam suatu wadah (bayangkan saja Bumi), Hidrogen yang terlalu banyak bisa menyebabkan ledakan atau kehancuran.

Maksiat beragam macamnya seperti syirik/meragukan keesaan Allah, seperti percaya primbon, ramalan bintang, Capricorn, Aquarius, Pisces, Aries, dan teman-temannya, hari lahir, arah rumah, meski hanya iseng-iseng aja nih.. konsekuensinya sholat kita tidak diterima selama 40 hari. Sepele kan sepertinya? Tapi dampaknya luar biasa!

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS.Al-Bayyinah:5)

Lalu maksiat lain seperti mempermainkan hukum Allah. Ini juga sulit, sangat sulit. Berjalan di jalan kebenaran sangat banyak onak dan durinya, Misal kita ingin istiqomah di jalan Allah dengan memakai hijab, namun lingkungan sekitar tidak mendukung seperti keluarga, teman, lingkungan sekolah, akhirnya buka tutup hijab, nah disini pentingnya lingkungan yang baik untuk memantapkan iman kita, bergaullah dengan orang sholeh-sholehah supaya terjaga pula iman kita.


Jenis maksiat lainnya adalah seperti durhaka pada orang tua, membunuh muslim tanpa alasan yang jelas (alasan agama), berzina, berzina jangan diartikan hanya hubungan pasutri saja lho, zina juga ada banyak jenisnya seperti zina mata, tangan, jari, telinga, kaki, hati, dan banyak lagi. Zina hati (qolbi) yaitu dengan memikirkan lawan jenis dengan perasaan senang terhadapnya. Zina lisan (ucapan) yaitu membincangkan lawan jenis dengan perasaan senang terhadapnya. Zina Zadin (tangan) yaitu dengan memegang tubuh lawan jenis dengan perasaan senang terhadapnya. Zina mata dengan memandang, zina hidung dengan mencium, zina telinga dengan mendengarnya, zina kaki dengan melangkah ke tempat maksiat.. Banyak kan kawan? Saya pribadi juga belum bisa untuk total terbebas dari maksiat, tapi setidaknya kita berusaha, dan saling nasihat-menasihati dalam kebaikan. Saya berharap jika kelak kalian di surga, maka ingatlah aku, ajaklah aku bersamamu ya kawan, tak peduli siapapun kamu, apa latar belakangmu, yang terpenting adalah iman dan takwamu pada Allah. Peganglah tauhid dengan kuat, gigitlah dengan gigi gerahammu, karena sekarang perpecahan umat telah nampak adanya, Semoga bermanfaat... J

Minggu, 12 Juni 2016

Hijrah? Why Not?

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

“Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka terbunuh atau mati, sungguh, Allah akan memberikan kepada mereka rizki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah pemberi rizki yang terbaik.”
(QS.Al-Hajj:58)

Apa sih hijrah itu? “Eh gue pingin hijrah nih..”; “Aku harus hijrah!”; Lalu apakah hijrah itu? Hijrah dapat kita maknai perpindahan, meninggalkan, menjauhi. Hijrah dapat dimaknai secara fisik dan psikis (batin). Di zaman Rasulullah telah ada perintah hijrah, hijrah Rasulullah ini bermakna hijrah secara fisik dan psikis. Hijrah fisik kaum muhajirin dengan perpindahan dari Mekkah menuju Madinah. Sedangkan hijrah psikis kaum muhajirin dikarenakan keinginan untuk melepaskan diri dari nilai-nilai yang dianut kebanyakan kaum kafir di Mekkah.

Kawanku, disini kita akan membahas hijrah, hijrah disini adalah hijrah secara psikis (batin). Kehidupan juga mesti mengalami perpindahan, tentunya perpindahan ke arah yang lebih baik. Misal, dulunya preman , sekarang bertaubat. Ada lagi dulunya seorang jahiil, sekarang berkat semangat belajar menjadi seorang alim yang dapat mengeluarkan dirinya dan orang lain dari permasalahan. Dulunya tidak berhijab, sekarang menjadi berhijab syar’i. Dulu bekerja di dunia hiburan, sekarang sukses berwirausaha, dsb.

Kehidupan yang telah kita capai sekarang bukanlah perkara instan. Ibarat besi atau baja, mereka mengalami proses penyepuhan terlebih dahulu dengan api yang sangat panas untuk mendapatkan baju besi yang kokoh, keras, dan indah. Ibarat pelangi, pelangi muncul setelah adanya hujan atau bahkan ditambah badai. Ibarat bawang merah, untuk mendapat bawang merah yang bersih, ia harus merasakan sakit ketika dikuliti, pedih di mata ketika di kupas. Sama… hijrah juga demikian… terkadang seorang muallaf harus rela berpisah dengan keluarganya untuk mencicipi, menelan, mencerna, dan akhirnya mengalir di aliran darahnya dengan Islam. Seseorang yang memutuskan mengikuti sunnah nabinya, tak jarang mendapatkan judge fanatic, ekstrimis, dan bahkan aliran sesat.

Dapat kita simak perjalanan hijrah para sahabat nabi seperti Hamza Radhiyallahu’anhu. Di awal beliau memeluk Islam begitu mengejutkan. Siapa sangka beliau dulunya adalah seorang pemburu singa di padang pasir, beralih gelar menjadi singa Allah. Siapa sangka Khalid bin Walid yang dulunya pembenci Islam, beralih gelar menjadi pedangnya Allah. Bahkan Hindun dan Abu Sufyan yang dulunya musuh besar Islam berbalik menjadi memeluk Islam. Sungguh Allah benar-benar Maha Pembolak-balik hati. Terkadang kita berpikir apakah kita layak diterima oleh Allah, mengingat dosa-dosa kita yang mengucur begitu derasnya dari sela-sela jari tangan, kaki, hati, kerlingan mata, gerakan lidah, dan telingapun tak luput darinya.

Ada sajak menarik saya pikir, bunyinya sebagai berikut, “Meskipun kita tak sekaya Abu Bakar, seberani Umar bin Khaththab, setampan Utsman bin Affan, sebijaksana Ali bin Abi Thalib, apakah lantas kita berhenti menjadi hamba Allah yang terbaik? Bukankah status yang membuat kita bangga adalah ketika kita menyandang status hamba Allah, apapun latar belakangnya, apapun pekerjaannya, dan apapun-apapun lainnya.

Begitupula jika kita seorang wanita, tak ada batasan untuk menjadi Abdullah yang terbaik, meskipun kita tak sekaya Siti Khadijah, sejelita Siti Yulaikha, sekuat Siti Fatimah, secerdas Siti Aisyah, apapun gelarnya, apapun pekerjaannya, apapun latar belakangnya.

Pernah dahulu ada seorang akhwat berhijrah menjadi seorang muslimah, In Syaa Allah.. Ketika itu Allah pertemukan keduanya disebuah acara dakwah kampus. Si akhwat dan si ikhwan. Ikhwan tersebut menjadi pembicara. Si Ikhwan memiliki tutur bahasa yang sopan, terstruktur. It’s so perfect. Apalagi menurut informasi si ikhwan adalah seorang yang berprestasi, relatif baik parasnya, keturunan agamis. Saat itu dalam pandangan sang akhwat, “wah ini mungkin yang dikirim untuk saya dari Allah.”

Usut punya usut, ternyata si akhwat tadi satu kos dengan adik si ikhwan. Si akhwat pun baru dipertemukan dengan adik si ikhwan secara tidak sengaja di sebuah masjid. Beberapa bulan kemudian, si akhwat menyampaikan maksud hatinya untuk ta’aruf dengan ikhwan tersebut dengan perantara adik perempuan si ikhwan. Si akhwat mulai memantaskan diri untuk menjadi gadis shalihah seutuhnya. Memang diawal proses hijrah sangatlah tidak mudah, yang awalnya berbusana belum seutuhnya syar’i berusaha untuk lebih baik, mulai membiasakan dengan sapaan hangat pada teman sekitar, dan terus membekali diri dengan ilmu pengetahuan lainnya.. Namun kuasa Allah, si ikhwan dan si akhwat belum berjodoh..

Suatu saat, si akhwat membaca sebuah hadits Rasulullah yang berbunyi sebagai berikut:

“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).


Si akhwat mulai berpikir, apakah niat saya salah? apakah niat saya karena ingin ta’aruf saja? mengapa saya kesampingkan Allah? Seiring berjalannya waktu, si akhwat mulai memperbaiki niatnya, meluruskan semuanya, lama-kelamaan ia menikmati proses hijrahnya. Mungkin Allah memberikan hidayah kepada si akhwat melalui perantara si ikhwan tadi. Kesimpulannya jangan men-judge seseorang itu lebih buruk daripada kita, karena kita tak pernah tahu bagaimana usahanya untuk merubah dirinya menjadi lebih baik, tentunya dengan mengalahkan ego dirinya sendiri. Semoga bermanfaat..

Sabtu, 11 Juni 2016

Fase Tenar Uang Palsu

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Uang merupakan alat penukar yang dapat diterima secara umum. Mengapa kita menggunakan uang? Selain dapat diterima secara umum, uang juga lebih mudah dibawa, dan tahan lama. Untuk mencetak uang, Perum Peruri menggunakan kertas khusus yang harganya tak biasa (baca cukup mahal). Dalam peng-katagori-an uang, tentunya memiliki beberapa syarat yaitu:

1.      Acceptability (dapat diterima)
2.      Durability (tahan lama)
3.      Uniformity (kesamaan kualitas)
4.      Portable (mudah dibawa)
5.      Divisibility (mudah dibagi)
6.      Stability of value (stabil)
7.      Mendapat jaminan pemerintah
8.      Jumlahnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat
9.      Dan, terakhir Scarcity (tidak mudah dipalsukan)

Tapi mengapakah uang mudah dipalsukan? Tentunya dikarenakan kebutuhan yang sangat tinggi. Selain itu oknum-oknum pengedar uang palsu didasari faktor unemployment (pengangguran), inflasi (kenaikan harga barang), spekulasi (keuntungan, untuk dijual belikan), dsb. Uang palsu biasanya “tenar” di bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri seperti sekarang ini, tapi tidak menutup kemungkinan di hari-hari lain. Deputi Gubernur BI Ronald Waas, mengemukakan telah ditemukan 18.000 lembar uang palsu, yang mayoritas beredar di Pulau Jawa. (sumber:Tempo).

Untuk mengelabui korbannya agar tidak kentara salah satunya dilakukan dengan mengoplos uang asli dengan uang palsu di selang-seling. Biasanya di tempat-tempat penukaran uang,  masyarakat tidak mau mengantri, buru-buru, disanalah sasaran empuk oknum pengedar uang palsu. Untuk THR, silaturahim, anak-anak, pemilihan jabatan tertentu, dll

Ada dua kelompok masyarakat pencetak uang palsu:

Kelompok oknum, mereka adalah masyarakat pencetak uang palsu. Kedua adalah kalangan pejabat. Di Amerika latin, untuk membeli senjata, maka bisa menggelontorkan uang yang sangat besar, disana rawan pencucian uang, uang palsu, karena jumlah uang yang beredar sangat sedikit. Namun apabila jumlah uang beredar  sangat besar juga akan menghancurkan sistem perekonomian, apalagi uang itu uang palsu. Security untuk sistem uang palsu ini harus sangat kuat.

Mekanisme hubungan melambungnya jumlah uang beredar (JUB) terhadap kehancuran sistim perekonomian adalah sebagai berikut:

Harga barang akan dipengaruhi oleh perbandingan jumlah uang dan ketersediaan barang. Jika barang yang tersedia lebih besar daripada JUB, maka harga akan cenderung turun. Begitu pula sebaliknya, jika barang yang tersedia lebih sedikit dari JUB, maka harga akan cenderung naik (inflasi).

Lalu bagaimanakah jika suatu Negara terus-menerus mencetak uang? Meski terus mencetak uang, hasilnya Negara itu bukan berarti bertambah kaya, namun malah sebaliknya, inflasi, nilai uang tersebut cenderung semakin merosot. Di Indonesia pernah terjadi kegiatan mencetak uang besar-besaran di jaman Presiden Soekarno karena pajak yang dihasilkan dalam sistem perekonomian  masih sangat minim. Dampaknya adalah terjadi inflasi, kemiskinan, pengangguran, merosotnya pertumbuhan ekonomi, kriminalitas, dll sehingga rakyat menuntut penurunan harga di Tritura (Tri Tuntutan Rakyat).

Pandangan diatas merupakan selayang pandang tentang sistem perekonomian. Kembali ke ulasan utama terkait uang palsu. Uang ini beredar di masyarakat, maka masyarakat dihimbau. Masyarakat harius aware terhadap kasus ini. Namun masyarakat tidak perlu khawatir, lakukan analisa 3D, dengan dilihat, diraba, diterawang untuk mengetahui ke-orisinil-an uang.


Dilihat, kita melihat bentuk fisik uang tersebut. Bagaimanakah warnanya baik, ada tanda air, kertas, dan tali pengaman yang ada di uang tersebut. Diraba, bagaimanakah teksturnya, apakah kasar atau soft? Di gambar pahlawan dan nominal angka biasanya dicetak menonjol. Kita bisa raba-raba disini. Kemudian diterawang dengan bantuan lampu atau sinar matahari, lihatlah bagian tali pengaman dan tanda airnya. Jika dalam kondisi baik, maka diindikasikan uang tersebut adalah uang asli. Semoga bermanfaat..

Selasa, 17 Mei 2016

Tanda Orang Shalih

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Sesungguhnya seseorang hamba beroleh derajat yang shalih lagi shalihah karena ketinggian ilmunya akan ajaran syar’I yang lurus lagi mengikuti segala apa-apa yang diperintahkan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala dan meninggalkan segala apa-apa yang dilarang.
Berpenampilan syar’I, bertutur bahasa yang lembut lagi santun. Wajahnya bercahaya karena ibadahnya, lagi bersikap halus pada sesama..

1.Berakhlak mulia
Akhlak adalah sesuatu yang adanya didalam diri seorang hamba menurut pola pikir serta cara berpikirnya, yang sebagaimana orang lain menilai atas dirinya atau yang berarti dari luar diri ke dalam diri
Firman Allah Ta’ala
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.”
(QS.Al-Fath:29)

2. Beramal shaleh
Allah berfirman
“Kecuali yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh dan nasihat-menasihati supaya menta’ati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.”
(QS.Al-Asr:3)

3. Sedekah
Firman Allah Ta’ala
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.”
(Al-Baqarah:276)

4. Menjaga lisan
Dari Muadz bin jabal Radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Aku pernah berkata: Wahai Rasulullah beritakan kepadaku amal yang dapat memasukkan ke dalam surga dan menjauhkan dari neraka?”
singkatnya Rasulullah bersabda :Maukah kalian kuberitahu kunci dari semua itu?
Aku menjawab, “Mau wahai Rasulullah”
maka beliau menunjukkan lidahnya seraya bersabda, “Kendalikan ini.”
Aku bertanya, “Wahai nabiyullah apakah kami akan diminta pertanggungjawaban dengan apa yang kami katakan?
Beliau bersabda, “Celakalah engkau hai Muadz. Bukankah yang menjerumuskan manusia ke dalam api neraka dengan tersungkur adalah akibat lidah mereka.
(HR.Tirmidzi, dia berkata hadits ini hadits hasan)

5. Memberi Maaf
 Firman Allah Ta’ala:
“Dan bagi orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka member maaf.”
(QS.As-Syuura:37)

6. Memiliki Malu
Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Anshari Al Badri Radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Sesunguhnya Rasulullah bersabda: Sesungguhnya  sebagian dari apa yang telah dikenal orang dari perkataan kenabian yang pertama ialah, “bila engkau tidak malu (berbuat dosa) maka berbuatlah sekehendak hatimu.”
(HR.Bukhori)

7. Ikhlas
Firman Allah Ta’ala:
“Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah.”
(QS.An-Nisaa’:146)

8. Bersyukur
Firman Allah Ta’ala:
“Dan Kami akan member balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
(QS.Ali Imron:145)

9. Bersabar
Firman Allah Ta’ala:
“kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal shaleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.”
(QS.Huud:11)

10. Tawakkal
Artinya berserah diri sepenuhnya kepada Allah lagi rela atas apa-apa yang dikehendaki Allah atas dirinya

11. Shidiq
Yaitu senantiasa berperilaku yang benar dalam kesehariannya lagi senantiasa benar dalam perkataan dan perbuatannya

12. Tafakkur
Yaitu memikirkan lagi mengakui serta menyesali atas sekalian dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat hingga kemudian iapun segera bertaubat atas dosa-dosanya itu.

13. Taubat
Firman Allah Ta’ala:
“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang melakukan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(QS.An-Nisaa’17)

14. Tidak Marah
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menerangkan bahwa ada seseorang lelaki berkata kepada Nabi Sallallahu’alaihi wasallam, “Berilah aku nasihat,”
Beliau menjawab, “Jangan marah.”
maka diulanginya bertanya beberapa kali,
Kemudian nabi bersabda, “Jangan marah.”
(HR.Bukhori)

15. Tawadhu’ dan Tidak Takabbur
Tawadhu adalah sifat yang kiranya menunjukkan kekuasaan akal dan kebaikan pandangannya, sedang takabbur adalah perilaku amat buruk yang menunjukkan sifat yang keji lagi berlebih-lebihan adanya atas tiap-tiap sesuatu barang kehendaknya.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orng-orang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka mengucapkan kata-kata yang baik.”
(QS.Al-Furqaan:63)

16. Ta’at
Firman Allah Ta’ala:
“Dan barangsiapa yang ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah, bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.”
(QS.An-Nuur:52)

17. Zuhud
Yaitu lebih mengutamakan kehidupan akhirat yang kekal. Kehidupan di muka bumi hanya ia jadikan sebagai jalan untuk mempersipkan bekal menuju akhirat..