Minggu, 11 Januari 2015

HANYA UNTUK 70 RIBU...

Bismillaahirrahmaanirrahiim..
      Dituturkan dari Ibn 'Abbas, r.a. (yang) berkata (bahwasanya) Rasulullah Sallallahu'alaihi Wasallam bersabda,
"Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat terdahulu. Aku melihat ada seseorang nabi yang disertai rombongan kecil. Ada seorang nabi yang disertai satu dua orang saja. Malah, ada seorang nabi yang tidak mempunyai pengikut seorangpun. Kemudian terlihat olehku satu rombongan besar yang kusangka mereka adalah umatku. Namun, dikatakan kepadaku, 'Ini adalah Musa dan kaumnya. Tetapi lihatlah di ufuk sana .' Ketika ufuk itu kulihat, dan tiba-tiba tampak olehku satu rombongan besar. Lantas dikatakan kepadaku, 'Lihatlah ke ufuk yang lain. 'Di sana, kulihat satu rombongan besar. Kemudian dikatakan kepadaku, 'Itu adalah umatmu.' Di dalamnya ada tujuh puluh ribu orang yang akan masuk surga tanpa dihisab dan tanpa disiksa terlebih dahulu."
     Beliau lalu bangkit dan masuk ke dalam rumah. Orang-orang pun ramai membicarakan masalah orang-orang yang akan msuk surga tanpa dihisab dan tanpa dihisab terlebih dahulu. Ucap salah seorang diantara mereka, "Barangkali mereka adalah sahabat Rasulullah Sallallahu'alaihi Wasallam." Ada pula yang berkata, "Barangkali mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam keadaan Islam, kemudian mereka tidak mempersekutukan Allah." Mereka pun mengemukakan berbagai perkiraan.
      Kemudian Rasulullah Sallallahu'alaihi Wasallam keluar dan bertanya kepada mreka, "Apa yang kalian bicarakan?" Kemudian mereka menceritakannya kepada Rasulullah. Beliaupun bersabda, "Mereka adalah orang-orang yang tidak menjampi, tidak pernah minta dijampi, dan tidak meramal. Hanya kepada Tuhan sajalah mereka bertawakal."
      Kemudian 'Ukkasyah bin Mihshan berkata, "Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar saya termasuk golongan mereka." Jawab beliau, "Engkau termasuk golongan mereka."
      Lantas seseorang lain berdiri seraya berkata, "Wahai Rasulullah, doakan kepada Allah agar saya termasuk golongan mereka." Jawab beliau, "Engkau telah didahului Ukkasyah."

(HR.Bukhari-Muslim)

Jumat, 09 Januari 2015

UNTUK SIAPA AMALMU?


        Bismillaahirrahmaanirrahiim..
     Allah Subhanahuwata'ala berfirman, Padahal mereka tidak disuruh kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan kataatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan agar mereka menegakkan shalat dan menunaikan zakat (QS. Al-Bayyinah [98]: 5). Lalu pernahkah kalian beramal? tentunya setiap hari kita beramal. Tapi tunggu dulu, untuk siapakah ama-amal yang kita lakukan? Apakah sudah benar ditujukan kepada Allah semata?
     Berbicara amal, maka tak akan lepas dari niat. Niat adalah hal kecil (sepele), namun menentukan diterima atau tidaknya sebuah amal. Dalam beramal, maka balasannya akan sesuai dengan apa yang ia niatkan, seperti sabda Rasulullah, "Sungguh, semua amal perbuatan bergantung niatnya dan sesuatu yang diperoleh seseorang adalah selaras dengan apa yang dia niatkan. Karena itu, barang siapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya tersebut akan diterima Allah dan Rasul-Nya. Dan, barang siapa hijrahnya karena memburu dunia atau karena perempuan yang akan dia nikahi, maka hijrahnya tersebut hanya meraih sesuatu (yang selaras dengan) yang diniatkannya dalam hijrah tersebut."
      Niat letaknya ada didalam hati. Hanya Allah dan yang bersangkutan yang mengetahui. Niat didalam hati dapat kita ibaratkan seperti sebuah botol, apabila botol itu berisi madu murni maka harganya akan sangat mahal. Bandingkan jika sebuah botol itu diisi dengan air limbah, tentu botol itu akan dibuang bukan? Sama seperti hati, apabila niat kita untuk beribadah semata karena Allah, maka kita akan meraih ridha-Nya, namun apabila kita niat  beribadah karena selain Allah, maka kita hanya akan dapat apa yang kita inginkan itu.
      Memang tidak mudah menata niat. Kita harus berperang dengan hawa nafsu kita, terkadang sikap riya', takabur, ingin didengar, melapisi amal yang kita kerjakan. Itulah perjuangan meraih ridha Allah. Jika kita meniatkan semua karena Allah, maka tidak akan ada kekecewaan. Semua yang kita kerjakan akan bernilai dimata Allah. Begitu baiknya Allah, disaat kita berniat melakukan suatu kebaikan, namun kita belum bisa merealisasikannya, Allah pun akan mencatatnya. Sekecil apapun amal yang kita kerjakan, maka akan mendapatkan balasan kebaikan dari Allah, meskipun hanya menyingkirkan krikil di jalan.
     Allah telah memberikan kita begitu banyak ni'mat jasmani maupun rohani. Ia telah mengaruniakan kepada kita mata yang sehat, pendengaran yang baik, hati untuk merasakan, bibir untuk berbicara, tangan untuk menggenggam, dan kaki untuk melangkah, dan masih banyak lagi. Dalam QS.Ar-Rahman [55]: 55) Allah berfirman, "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"  Nikmat itu akan dimintai pertanggungjawaban di yaumul akhir nanti, untuk apa nikmat-nikmat tersebut kita gunakan? akan menjawab apakah kita kelak? untuk apakah kekayaan kita, waktu kita, kesehatan kita?
         Kita diberi kesempatan oleh Allah hidup di dunia ini hanyalah sementara. Hidup kita ibarat pergantian malam ke siang, atau pergantian siang ke malam, sangat singkat. Gunakan lima kesempatan sebelum datangnya lima waktu yaitu sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, muda sebelum tua, lapang sebelum sempit, hidup sebelum mati. Kita tidak perlu menunda kebaikan selama masih diberi kesempatan yang lebih baik oleh Allah.
     Senangkah kita jika kita dicintai oleh seseorang? tentunya ya bukan? sama seperti Allah, jika seorang manusia mencintai Allah, maka Allah akan senang terhadap kita. Jika Allah sudah mencintai kita, maka tidak hanya penduduk bumi saja yang mencintai kita, bahkan penduduk langitpun akan mencintai kita pula, alangkah indahnya. Bandingkan jika kita melakukan ibadah karena selain Allah, misalkan dengan orang yang kita sukai, maka kita akan sekedar mendapatkan apa yang kita inginkan itu. Namun jika kita melakukan segala hal dari yang kecil dan yang paling besar sekalipun hany semata karena Allah, maka kita akan dicintai Allah, penduduk langit, dan penduduk bumi. Apakah sebanding? Tentu tidak. Dengan demikian, cobalah melakukan segala sesuatu hanya karena Allah, bukan yang lain, maka kita akan mendapatkan ketenangan dan keberkahan hidup, serta tentunya kasih sayang yang tiada putus-putusnya dari Allah. I Love Allah :)

Sabtu, 03 Januari 2015

HIDUP ADALAH KESEMPATAN

Oleh : Ika Devi Silviana
      Pernahkah kalian mendengar seseorang yang mati bunuh diri karena suatu permasalahan? Kasus ini sering terjadi di tengah masyarakat, bisa karena permasalahan perekonomian, atau bahkan karena cinta buta. Memang jalan pikir manusia sulit ditebak, hanya Allah lah yang tahu. Bunuh diri merupakan tindakan yang amat berdosa karena mendahului takdir yang telah Allah tetapkan. Ancamannya pun tak main-main, yaitu neraka. Alangkah menyesalnya mereka, karena anggapan mereka yang menginginkan kematian untuk mengakhiri masalah justru menimbulkan masalah baru yang sangat besar.
     Allah memberikan nikmat kita untuk hidup. Selama manusia hidup, maka pintu rizki akan selalu terbuka, contoh kecilnya kita dapat bernafas tanpa harus membayar tagihannya. Allah juga memberikan rizki kepada kita berupa suara agar kita mempergunakannya di jalan kebaikan dengan menyebutkan hal-hal yang bermanfaat. Alangkah mulianya apabila setiap kata yang terucap adalah kalimat mutiara, kalimat yang terpuji, kalimat yang disukai oleh Allah. Nikmat hidup adalah kesempatan untuk manusia menjadi insan yang sukses di dunia maupun di akhirat.
      Apabila kita melewati kuburan, maka yang terbesit didalam benak kita adalah kematian. Kematian adalah pemutus amal-amal kita. Banyak orang yang telah meninggal, ingin kembali hidup di dunia untuk kembali beribadah kepada Allah. Allah telah menunjukkan kekuasaannya kepada orang-orang yang mati suri. Mereka telah sakitnya kematian, kemudian mengunjungi alam kubur, sehingga mereka mengetahui apa saja yang ada disana termasuk nikmat dan siksa kubur itu sendiri. Banyak orang yang telah mengalami mati suri mereka kembali ke jalan Allah serta menasihati saudara-saudaranya yang masih diberi kesempatan untuk hidup di dunia untuk senantiasa beribadah dan taat kepada Allah. Mengapa kita tidak mengambil pelajaran dari kuasa Allah tersebut.
      Kembali pada kasus bunuh diri diatas. Orang-orang yang telah memilih jalan mereka untuk bunuh diri, berarti mereka belum mengerti apakah tujuan hidup di dunia. Manusia diciptakan oleh Allah bukan tanpa tujuan yaitu sebagai khalifah untuk kemakmuran bumi (QS.Al-Baqarah:30), beribadah kepada Allah (Adz-Dzariyaat:56), kemudian sebagai penyeru kebaikan/dai untuk sesama manusia (QS.Ali Imron:104). Jika kita tahu apakah maksud Allah menciptakan manusia, tentunya mereka akan berpikir ulang untuk bunuh diri. Tugas manusia sungguh berat, kita pengemban amanah dari Allah.
      Manusia diciptakan Allah bermacam-macam, ada yang selalu berfastabiqul khairat, biasa-biasa saja, atau bahkan membangkang perintah Allah. Semua ada perhitungannya dimata Allah. Orang yang selalu berfastabiqul khairat atau orang yang senantiasa berbuat kebaikan akan menuai nikmat yang sangat besar di akhirat kelak, begitupula dengan orang yang biasa-biasa saja, atau bahkan membangkang perintah Allah, semua ada balasannya. Bisa kita bayangkan apabila kita beramal biasa-biasa saja, maka Allah juga akan memperlakukan kita biasa-biasa saja. Relakah jika teman kita yang mendapatkan perlakuan yang lebih istimewa dari Allah karena ia senantiasa berfastabiqul khairat dibandingkan dengan diri kita sendiri yang biasa-biasa saja? tentu tidak bukan? Mari senantiasa perbaiki diri agar menjadi insan yang disayangi tidak hanya oleh penduduk bumi, tapi juga oleh seluruh penduduk langit. Alangkah bahagianya diri ini, jika seluruh kesempatan yang Allah berikan berupa nikmat-nikmat tersebut dapat kita pergunakan untuk meraih kasih sayang dari Allah.