Sabtu, 14 Mei 2016

Kriteria Jodoh Ideal

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shaleh, adalah mereka yang taat kepada Allah dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka)….”
QS.Annisa:34

            Kriteria suami yang ideal itu seperti apa sih? Yang Islami yang bagaimana? Mana kriteria yang berdasar iman dan yang mana yang berdasar syahwat. Ada seorang pemuda yang mengajukan biodata ta’aruf “Yang putih, cantik, tinggi, syukur-syukur sholihah” kriteria bukan agama tapi utama, misalnya lagi, “Yang S1” D1, D2, D3”, lewat.. ada yang SMA tapi hafidz Qur’an.. Ditolak…! Ada yang “harus mapan” kita harus open mindset. Dia mikirnya nikah itu bayangannya susah, maka dijadikan Allah susah. “Ukhti, nanti kalo sudah nikah, mungkin kita harus hidup susah dulu.” Kita menikahi seseorang karena kecantikannya, hartanya, nasabnya, atau karena agamanya. Maka yang kamu pilih adalah agamanya. Lainnya kalau perlu, kalau ada. Pernyataan diatas bukan berarti harus ada empat-empatnya, yang utama adalah agamanya.

Ada yang di biodata ta’aruf “Yang sholeh, tawadhu’, jujur, sabar, cantik…..” itu bukan kriteria prinsipal.. contoh kriteria prinsipal adalah ”Mau ikut suami, mau tinggal di Yogyakarta, tidak mau dipoligami..dsb” boleh boleh saja. Kalo di CV ta’aruf “Sholeh, jujur, cantik, sabar” itu sudah pasti setiap orang menginginkannya.

Syarat ideal bagi laki-laki sesuai dengan QS.Annisa:34

Tafsir dari kata Qawwum adalah pemimpin, yang bisa memimpin, ini adalah syarat agama. Suami jangan sampai menikmati ke-plegmatis-annya. Ada yang koleris adalah tipe yang semangat, grusa-grusu, ambisius, bawaannya tegang. Kalo sanguinis itu santai, ramaikan suasana, tapi ia pelupa, ia selalu dirindukan teman-temannya. Ada yang melankolis, ia perfeksionis, suka di perhatikan, orangnya sulit melupakan. Yang terakhir ini adalah plegmatis adalah yang cinta damai, ga pernah rebut, jadi tempat curhatan, ia pendengar setia yang baik. Nah kalo laki-laki jangan sampai seperti ini. Umar bin Khaththab bisa berubah, agama itu bisa merubah sifat. Umar adalah seorang koleris, tapi karena agamanya, terbimbing, setiap ia dengar ada yang menangis, ia ikut menangis.

Ketika ada yang ingin curhat  kepada Umar mengadukan istrinya yang sangat “crigis” ia malah terkaget-kaget, mengapa Umar di lur tampak berkuasa, kuat, tapi jika dirumah ia hanya diam saja ketika dimarahi istrinya. Umar diam karena istrinya telah menjaga hartanya, membutkannya makanan, susah payah menjaga anaknya, tidak tuntut apapun, juga telah menjaga keimanan Umar

Koleris ketemu koleris akan hancur. Ada yang suaminya Plegmatis, istrinya koleris, “Apa-apa kok aku terus.”  ia menikmati, masalah ekonomi kok juga biasa aja. Si istri juga mengingikan suami yang dapat memimpin, entah keputusan, ekonomi, dll

Yang kedua adalah suami dapat memberikan nafkah. Nafkah iman yang utama, yang kedua baru nafkah lahir. Suami di Kalimantan, istri di Surabaya, itu tidak akan berkah, suami-istri harus tinggal satu domisili. Ada yang mengatakan “Saya bahagia kok walaupun kami terpisah, soalnya kita malah damai, ga bertengkar.” Pilih mana pisah bahagia ataupun campur bahagia? Tentunya memilih campur bahagia. Diluar sana ada banyak godaan syaitan. Kita ga boleh sombong. Syaitan ahli neraka itu bisa ngalahin kita. Lalu dimana kita? Kita akan ada di kerak neraka…

Lalu bagaimana perempuan yang sholeh? Yaitu perempuan yang taat pada Allah, dan menjaga ketika suaminya tidak ada. Hanya taat kepada Allah. Berarti istri sholehah tidak harus taat pada suami, dengan catatan perintah suami menyimpang dari perintah Allah.

Dulu yang mengejar-ngejar Nabi Yusuf adalah Yulaikha. Namun setelah Yulaikha mendapat hidayah dari Allah berganti Yusuf yang mengejar Yulaikha. Sampai suatu saat Nabi Yusuf meminta untuk dilayani, namun Yulaikha tidak mau, akhirnya turunlah firman Allah, bahwa Yulaikha harus melayaninya. Yulaikha berkata, “Apakah itu benar perintah dari Allah?” Maka barulah Yulaikha melayaninya. Namun hal itu tidak berlaku untuk sekarang lho yaa.. ketika suami meminta dilayani, ya kita harus taat.

Yulaikha sangat mencintai Allah, ia tidak ngeh lagi dengan ketampanan Nabi Yusuf, karena ia sudah memiliki keimanan yang sempurna…

Contoh menjaga kehormatan dirinya (si istri). Ada sepasang suami istri, si istri bertanya, “Siapa orang yang engkau benci dan apa-apa saja yang tidak disukai?” Si suami menyampaikan “saya tidak suka si fulan, dan saya tidak menyukai hal ini… ini… dan ini…” Selama si suami menikah ia tak pernah mendapati bahwa istrinya memasukkan orang yang dibenci ke dalam rumah, dan tidak pernah melakukan sesuatu yang dibenci. Rumah tangga menjadi harmonis.. Wallahu ‘alam

Kajian Ust. Awan Abdullah

Sabtu, 07 Mei 2016

Allah, Aku, dan Sepotong Nasihat


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Allah telah memberikanku kemampuan terbaik, sudah selayaknya kuberikan yang terbaikku untuk-Nya juga

Allah membawaku di cerita kehidupan yang tak pernah terduga sebelumnya, sangat special
Dialah Tuhanku, tempatku bersandar, tetaplah denganku,

Dialah yang menjadikan aku tenang, tak kan tertukar rizkiku, cukuplah ku mengusahakannya saja..
Segala yang kucari hakikatnya untuk-Mu, lalu mengapa ku masih sulit melepas sesuatu?

Engkau jadikan teman-teman di sekelilingku, untuk membentuk kepribadianku, jadikanlah mereka beserta aku adalah hamba-Mu yang sholeh..

Engkau jadikan kesuksesan mereka masing-masing, ku tak perlu risau, motivasi dari-Mu akan jadi lebih baik. Buat rencana jitu dan laksanakan dengan maksimal..

Kenyataan terkadang tak sesuai harapan, Jangan putus asa.. Cari alternative..

Tahukah bumi ini lebih kecil dari matahari? Bagaimanakah matahari? Ia hanya seperti butiran debu di bandingkan alam semesta.. Apa yang ku sombongkan pada-Nya? Tak ada, dan tak kan pernah ada!

Penolakan yang kualami merupakan petunjuk Allah, bahwa aku tidak lebih baik jika kupertahankan pilihan itu.. Tahukah aku? Kurasa tidak

Allah membuat perupamaan dosa dan bau. Dosa diibaratkan bau. Semakin banyak kucetak dosa, semakin terasa busuk tubuhku,

Boleh jadi ku menyukai sesuatu, tapi itu tidak baik bagiku. Boleh jadi aku tak menyukai sesuatu, tapi di mata-Nya terasa begitu special. Semua ujian naik level.

Ujian naik level butuh bekal iman, sabar, ikhlas. Semua terasa berat, seperti ilmu tingkat tinggi, butuh ketahanan luar dan dalam!

Aku tak akan dikatakan beriman sampai aku diuji. Ibarat games Freeding frenzy yang berlevel-level itu..

Jika tak dapat berkata benar, lebih baik diam. Istighfar penjernih hatimu

Aku mampu mengenal Tuhanku itu lebih berarti dari apapun. Jika ku tak mengenal Tuhanku, maka yang ku kenal hanya emas dan berlian. Sedangkan jika Ia mau, Ia-pun akan memberiku lautan emas berlian itu

Bekerjalah untuk-Nya, Ia akan membayarmu. Apa konteks bekerja itu? Tentu saja amal ibadah dengan niat yang haniif

Jika usahaku terasa berat dan tiada dukungan siapapun, percayalah masih banyak urusan yang jauh lebih penting. Urusan umat dan dukungan Allah yang paling kuat !!

Jika shalat khusuk terasa susah, aku telah mengalami kegelisahan dihari-hariku.

Saat hidup terasa seperti terhalang batu yang amat bear, gelap, tiada jalan keluar. Allah adalah Maha Cahaya dan Maha Luas. Ia akan memberikan jalan keluar dari arah tak terduga

Zuhud ibarat angka nol= biasa aja kalii.. Jika susah senang ibaratnya biasa saja

Orang cerdas dapat mengeluarkan dirinya dari segala masalah dengan sumber daya yang ia miliki..

Tahukah kau bedanya balita dan seorang dewasa? Dewasa akan menyibakkan problem solving dari masalahnya, sebagai tanda kematangan pikirannya..

Aku dan Kamu Bisa Kawan



Selasa, 19 April 2016

Hoki dalam Islam


Bismillaahirrahmaanirrahiim..
“Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, Dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz).”
(QS.Ar-Ra’d:39)
Setelah ayat tersebut dibaca, para ulama’ kemudian berdo’a:
“Jika Engkau tetapkan yang baik untukku, maka jangan diubah (tetap), namun jika Engkau tetapkan yang tidak baik untukku maka ubahlah.”
Sehingga kita harus senantiasa melakukan perbaikan-perbaikan didalam hidup, agar menjadi lebih baik.

Dalam islam tidak ada sesuatu yang kebetulan. “Hoki nih, apes nih, “ seolah kebetulan.  Itu semua disebabkan tangan kita sendiri. Ada yang ingin hoki, maka ia membawa sesuatu, jimat misalnya. Hal tersebut dikhawatirkan menimbulkan  kesyirikan. Di sisi lain ada orang yang menginginkan keberuntungan terus-menerus di hidupnya, namun harus diingat, roda kehidupan itu berputar. Terkadang di posisi atas, terkadang di posisi bawah. Orang-orang  yang beruntung adalah orang yang ber khusnudzon (baik sangka) terhadap segala ketetapan Allah.
Allah akan menguji kita dengan berbagai macam cara. Misalnya ketakutan, keterbatasan harta benda, dll, sampaikan kabar gembira bagi orang yang bersabar. Jadi kalau hidup kita sulit,berarti Allah sedang menguji keimanan kita. Mereka yang dikaruniai kesenangan itu juga merupakan ujian, apakah ia akan menjadi hamba yang bersyukur, atau malah kufur nikmat. Jika Allah memberikan kita kesedihan, tetaplah berkhusnudzon, ingatlah, bukankah kesenangan yang diberikan Tuhanmu adalah lebih besar dari kesulitan yang diturunkan-Nya? Sungguh telah beruntung orang yang memeluk Islam diberi riski yg cukup  dan ia qanaah..
Ada suatu kisah study tour anak sekolah ke Pyramid Fir’aun. Sebelum ke Pyramid, mereka dibawa ke rumah mewah.
 Mereka bertanya, “Apakah yang memiliki rumah mewah ini adalah orang yang kaya?”
“Ya”
“Apakah ia beruntung?”
“Ya”
Setelah mereka mengunjungi rumah mewah tadi, mereka bergegas menuju Piramid. Mereka menanyakan hal yang sama.
Mereka bertanya, “Apakah yang memiliki (Piramid) ini adalah orang yang kaya?”
“Ya”
“Apakah ia beruntung?”
Apakah jawabannya? Fir’aun memang orang kaya, namun ia bukan termasuk Muslim. Ia tidak termasuk orang yang beruntung..
Ada kisah lain tentang seorang pemuda, ia hendak pulang dari suatu pesta, kemudian ia memanggil taksi, di sisi sana ia juga melihat kakaknya. Pemuda tadi, kakaknya, beserta temannya (berempat) masuk taksi. Perjalanan mereka lumayan panjang, di tengah perjalanan mereka mendengar adzan… “Hayya ala sholah, hayya ala sholah..Hayya alal Falaah, hayya alal Falaah..”
Tiba-tiba sopir taksi tersebut berkata, “Ayo kita sama sama solat.”
“Ngapain sholat, saya terbiasa tidak sholat.” (adik)
“Kalian kan seorang muslim, kenapa kalian tidak sholat?” dengan sedikit memaksa
“Nanti saya solat dirumah saja.” Padahal di dalam hati enggan untuk sholat
Lalu sang kakak mengajak adiknya untuk sholat, “Mari kita berempat sholat ashar bersama, tidak enak kan pak sopirnya sudah mengajak..”
Pemuda tadi mengikuti sholat tersebut, ketika sujud terakhir, tahiyyat, ternyata kakaknya yg sedang sholat tidak bangun lagi, walaupun sudah di gerak-gerakkan. Pemuda itu menangis sejadi-jadinya.
Sopir taksi itu berkata, “Sudah jangan menangis..”
“Pak kakak saya selama 20 tahun tidak pernah sholat, dan dia meninggal dalam keadaan sholat. Sedangkan kita yang sholat setiap hari belum tentu dipanggil dalam posisi mulia ini.”
Ada beberapa perkara yang tidak boleh ditunada-tunda. Perkara itu adalah menyegerakan sholat, tobat, hutang, nikah, dan menguburkan orang mati. Sukses atau tidaknya orang dilihat diakhir hayatnya, su’ul atau khusnul khotimah. Ada suatu nasihat pilihlah pekerjaan yang tidak mengganggu waktu sholatmu, In syaa Allah akan memberikan keberkahan.

 Janganlah kita menyalahkan ataupun meremehkan sesuatu amalan. Jangan engkau gampangkan satu pahala sholat, jangan engkau gadai, solat sunnah fajar pahalanya adalah lebih baik dari dunia dan segala isinya. Kok ga seperti dia.. ? Kaya.. terlalu sedikit jika kita bandingkan harta dengan pahala sholat ataupun yang lainnya. Balasan didunia tidak bisa dibandingkan dengan balasan akhirat.. Wallahu a’lam.. 

Senin, 11 April 2016

Allah Tahu yang Terbaik Untukmu

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Allah Subhanahuwata'ala mengingatkan di dalam Al-Qur'an
"...Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
(QS.Al-Baqarah:216)


            Seperti malam-malam sebelumnya seorang ibu melaksanakan shalat tahajud, witir, lalu ia berdoa. Ia kemudian mulai membuat tempe-tempenya, mengukus kedelai-kedelainya. Ia melakukan persiapan untuk berjualan tempe di pagi hari nanti di pasar. Selanjutnya ia memulai membaca Al-Qur'an. Subuh haripun datang, ibu tersebut membuka kukusan tempenya, namun apa yang terjadi? Ternyata... kedelai tersebut belum menjadi tempe, ia kembali menutupnya kemudian berdo'a, 
"Ya Allah, Ya Allah apakah engkau sedang mengujiku Ya Allah? Mengapa hal ini baru terjadi?" 

Ia tutup kembali dan berdo'a kembali "Ya Allah engkau sedang mengujiku aku harus bersabar." 

Namun, setelah shalat subuh fajarpun mulai menghilang dan matahari terbit. Ia berangkat ke pasar. Kembali ia membuka panci tersebut, namun apa yang terjadi? 

Alhamdulillaah.. belum menjadi tempe juga. "Ya Allah Engkau benar-benar mengujiku kali ini, ya Allah aku akan tetap bersabar." Ia tutup kembali. "Ya Allah aku harus segera berangkat ke pasar untuk menjual tempe ini. Kalau aku tidak menjualnya, apa yang akan aku beri makan pada keluargaku?" Ia tutup kembali tempenya, ia kembali berdo'a lebih khusuk."

"Ya Rahman Ya Rahiim bukakanlah pintu rizki-Mu kepadaku Ya Allah, jangan buat hambamu ini kecewa terhadap-Mu Ya Allah." 

Ia pun yakin, "Oh inilah yang terbaik buat saya" Ia buka lagi pancinya, dan apa yang terjadi? Alhamdulillaah belum menjadi tempe juga..

Ia pun terpaksa mengambil tempe yang belum jadi tersebut dan berangkat ke pasar. Sambil berdzikir, Subhanallah, Walhamdulillaah, Walaa ilaaha illallah, Allahu Akbar. "Ya Allah aku yakin rencana-Mu akan lebih baik. Aku tahu Engkau tidak akan melupakan hamba-Mu Ya Allah, Engkau tidak pernah menolak do'a-do'a hamba. Aku yakin, oh mungkin Allah akan mengabulkan do'a saya pas saya sudah di pasar, atau pas saya di tengah jalan, baru Allah kabulkan." Ia pun membawa keranjangnya, dan membawa tempe yang belum matang tadi. 

Sesampainya di tengah jalan, ia penasaran, "Ya Allah, apakah engkau sudah mengabulkan do'a saya?" Ia pun buka keranjangnya, dan apa yang terjadi? belum jadi tempe juga. Ia tutup lagi, dan kembali berjalan. Saat ini ia mulai ragu pada Allah dengan air mata yang berlinang "Ya Allah, Engkau tidak akan pernah meninggalkan aku, aku juga tidak akan pernah meninggalkan-Mu Ya Allah." 

Sesampainya di pasar ia pun berkata, "Kali ini pasti Allah sudah mengabulkan do'a saya. Aku tahu Allah tidak akan pernah mengecewakan  hamba-Nya, Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya, hamba-Nya lah sering meninggalkannya." 

Kali ini bagaimana Allah mengabulkan do'a ibu tadi? Ia kembali membuka keranjang tempenya, "Bismillaahirrahmaanirrahiim.." ternyata yang terjadi adalah keajaiban. Apa itu? belum jadi juga, belum jadi juga,, Ia kembali menutup tempenya. 

Lalu di sisi lain ada serang ibu berjalan, terlihat sangat sibuk berkeliling pasar. Kemudian ibu tersebut menemui ibu penjual tempe tersebut. 

"Assalaamu'alaikum.."
"Wa'alaikumussalaam.." sambil berlinang air mata
"Ibu, apakah ibu menjual tempe?"
"Betul saya menjual tempe, tapi...tapi..maafkan saya Bu.."
"Ibu, apakah ibu menjual tempe yang saya maksud adalah tempe yang  setengah matang Bu? Saya mempunyai anak yang kuliah di luar negeri dan saya ingin mengirimkan tempe setengah matang untuk dia, karena kalau saya kirimkan tempe yang sudah matang, nanti sampai disana sudah basi."

Dan inilah jawaban dari doa ibu tersebut. Kamu tidak menyukainya, padahal itu yang terbaik untukmu dari Allah. Allah selalu mengingatkan kita di dalam Al-Qur'an, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui..

Minggu, 10 April 2016

Bank Syariah, antara Konsep dengan Realita

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

"Orang orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni mereka, mereka kekal di dalamnya." 
(QS.Al-Baqarah:275)



          Sistem perekonomian tentu tak asing dengan istilah bank. Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana (dalam bentuk tabungan, giro, deposito) kemudian menyalurkannya kembali kepada nasabah (dalam bentuk kredit konsumsi, modal usaha, ataupun investasi). Di Indonesia aturan terkait bank ditentukan oleh Bank Indonesia. Bank Indonesia tak hanya mengatur tentang bank konvensional saja, namun juga bank syariah. Lalu apakah perbedaan keduanya? Mari kita simak ulasan berikut ini..

             Bank syariah adalah bank yang yang beroperasi dengan prinsip syariah, yaitu berlandaskan kepada Al-Qur'an dan hadist. Bank syariah lahir karena diadakannya lokakarya oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) di tahun 1991 karena pelarangan penerapan sistim riba (bunga). Kemudian pada tahun 1992 lahirlah bank syariah pertama di Indonesia yaitu Bank Muamalat. Jargon bank ini seperti sejarah pendiriannya yaitu "pertama, murni, syariah." Pada tahun 1998 terjadilah krisis ekonomi yang mengguncang Indonesia begitu dahsyatnya. Rupiah terpuruk, dollar menggeliat, dana dalam negeri mengalir kuat keluar. Orang berbondong-bondong berinvestasi dollar. Bank dalam negeri mengambil langkah untuk menarik dana investor dengan cara meninggikan bunga tabungan. Akibatnya bunga untuk kredit meninggi drastis. Pengusaha bingung bagaimana cara untuk mengembalikan dana bank dengan bunga yang sangat tinggi tersebut, sementara produktivitas dan daya beli masyarakat menurun drastis. Pengusaha gulung tikar, yang kaya makin kaya, dan yang miskin makin miskin. Banyak bank kolaps karena tidak mampu mengembalikan dana kepada pemilik dana dengan bunga yang sangat mencekik itu. Dari sanalah bank syariah mulai tumbuh dan berkembang.

              Bank syariah memiliki perbedaan mendasar dengan bank pada umumnya (konvensional). Perbedaan mendasar tersebut terletak pada sistemnya. Jika bank konvensional memakai prinsip bunga, maka untuk bank syariah sendiri menerapkan prinsip bagi hasil. Tentunya orang awam masih bingung dengan hal ini. Bukannya sama saja ya? mau bunga atau bagi hasil? itu kan cuma istilah untuk memperhalus bahasa saja, bank kan juga tetap ingin untung.. Memang tidak dapat dipungkiri keduanya beroperasi bertujuan untuk memperoleh profit (laba/keuntungan), namun ada satu hal lain yang menjadi tugas bank syariah selain memperoleh keuntungan tersebut, yaitu untuk dakwah islamiyah yang tidak dimiliki oleh bank konvensional. Di bank syariah juga terdapat istilah mudharabah, musyarakah, murabahah, ijarah, qardh, dll Semuanya memiliki fungsi yang berbeda. 

              Kembali ke prinsip bunga dan bagi hasil ya kawan, maksud dari bunga (bank konvensional) di analogikan begini, misalkan Musa meminjam dana ke bank konvensional untuk modal usaha sebesar 100 juta dengan bunga 10%, maka pengembalian adalah sebesar 100 juta + (10% x 100 juta) = 110 juta. Besarnya rupiah bunga ditentukan dari modal yang dipinjam, tidak mempedulikan berapa penghasilan yang didapat dari 100 juta tersebut, mau untung ataupun rugi bank tidak mau tahu, yang penting pengembaliannya sebesar 110 juta. Hal ini yang tidak diperbolehkan dalam Islam karena adanya unsur kedzaliman.

               Nah kalau di bank syariah perhitungannya seperti ini, misalkan Ibrahim meminjam dana ke bank syariah sebesar 100 juta juga untuk modal usaha. Bank syariah memiliki nisbah yaitu pembagian porsi sebesar 30%(bank):70%(nasabah). Misalkan dari dana tersebut diputar untuk usaha dan menghasilkan pendapatan sebesar 10 juta, maka inilah yang akan dibagi hasil antara nasabah dan bank. Pihak bank mendapatkan porsi 30% x 10 juta = 3 juta, pihak nasabah mendapatkan porsi 70% x 10 juta = 7 juta. Bank syariah mendasarkan perhitungan pada pendapatan yang diperoleh, bukan pada modal yang dipinjam. Jika pendapatan yang didapat tinggi, maka bagi hasil juga akan tinggi, begitu pula sebaliknya. Dalam aturan bamk, jika si mudharib (pengelola dana/peminjam) mengalami kerugian maka yang dibayar hanya sebatas pokok pinjamannya saja. Perhitungan konsep sederhananya seperti itu untuk membedakan bank syariah dan konvensional, namun mungkin pihak bank memiliki perhitungan uang lebih mendetail.

               Perbedaan antara bank syariah dan konvensional tidak hanya itu. Jika di bank konvensional maka ia akan terpengaruh kondisi makroekonomi seperti inflasi. Kondisi inflasi mencerminkan keadaan menurunnya keberhargaan mata uang. Bank akan mengambil suku bunga yang tinggi. Suku bunga yang tinggi akan mempengaruhi kredit nasabah. Teringat pada kondisi pengusaha yang gulung tikar akibat tak bisa mengembalikan dana bank dengan bunga yang sangat mencekik. Begitu memprihatinkan. Keadaan yang dicerminkan bank syariah adalah tergantung pendapatan yang diperoleh, jadi inflasi tidak akan mempengaruhi pembiayaannya.

             Terkait Dewan Syariah Nasional (DSN), jika di bank konvensional DSN ini tidak ditemukan, namun jika di bank syariah akan ada DSN ini yang bertugas untuk memantau sistem operasional bank syariah agar tetap pada alurnya (sesuai dengan Al-Qur'an dan hadist). DSN berada di bawah Majelis Ulama Indonesia (MUI).
       
           Berbicara tentang syariah atau tidaknya bank syariah, maka ada sebagian orang yang masih meragukannya. Prinsip syariah mengutamakan kepercayaan, namun realitanya di lapangan jika hendak mengajikan pembiayaan di bank syariah maka harus ada jaminan (collateral). Hal ini dikarenakan penilaian karakter nasabah yang terkadang mengkhawatirkan. Memakai jaminan saja masih mungkin terjadi pembiayaan macet, apalagi tidak memakai? bank juga tidak mau merugi.

            Dalam perhitungan angsuran mislanya, bank syariah juga membuat daftar angsuran sesuai dengan plafond pembiayaan dengan masa angsuran. Bank syariah juga memakai bentuk persen (%) untuk mempermudah nasabah membandingkan dengan bank konvensional meskipin niat bank syariah tidak untuk memungut bunga. Masih banyak masyarakat awam yang salah persepsi bahwa bank syariah itu sama saja denga bank konvensional, istilahnya saja yang di arab-arabkan.

             Dalam penentuan pendapatan yang diinginkan (saya) juga sempat terganjal dengan perjanjian yang dibuat oleh bank dan nasabah (seolah-olah) ditentukan oleh bank saja. Jika bank ingin pendapatan sekian juta, maka kalau nasabah oke ya terus, kalau tidak oke ya silakan cari yang lain, terkesan memaksa salah satu pihak. Memang ada pilihan untuk cari yang lain, tapi musyawarah akan jauh lebih baik dan terbuka. Ada salah satu alasan dari seorang dosen, jika pendapatan (nisbahnya;tabungan, giro, deposito) ditentukan bank saja itu untuk memudahkan sistem informasi bank menghitung bagi hasil. Nah kalo satu orang dngan yang lain beda-beda kan tugas bank lebih berat.

             Sistem operasional bank syariah di Indonesia memang belum sepenuhnya syariah. Ini menjadi tantangan cendekiawan muslim untuk menyelesaikan permasalahan bank syariah ini agar masyarakat tidak berpikir bank syariah sama dengan bank konvensional. Bank syariah sebetulnya menerapkan bagi hasil yang adil antara kedua belah pihak, adil disini tidak harus sama 50%;50%, boleh seperti itu, boleh 30%;70%, 40%;60%, 20%;80% asalkan keduanya sama-sama ridho dengan nisbah (porsi) yang ditetapkan di awal akad (perjanjian). Sebagai umat Islam sudah seharusnya kita mendakwahkan ekonomi Islam, meskipun belum sempurna.. kalau tidak kita siapa lagi kawan? :) 











Minggu, 01 November 2015

Keluarga Tauladan dalam Al-Qur’an


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

“Katakanlah (Muhammad), “Taatilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan Keluarga ‘Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing), (sebagai) satu keturunan, sebagiannya adalah (keturunan) dari sebagian yang lain. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS.Ali ‘Imran:32-34).

Islam mewajibkan keluarga kita menjadi keluarga teladan. Sebuah keluarga yang sukses (dunia-akhirat) harus diiringi akhlak yang bagus.  Anak bisa durhaka karena didikan keluarganya. Apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dan Ismail adalah kisah teladan. Seorang ayah menuntun anaknya untuk berbuat baik, termasuk peran serta dalam membangun Ka’bah. Melakukan kebaikan bukan hanya mengajak, namun dengan langsung menuntun. Di dalam Al-Qur’an telah menunjukkan perintah untuk saling melihara diri dan keluarga dari siksa neraka.
Ada seorang ayah datang ke Umar, mengeluh tentang anaknya yang durhaka. Kemudian sang anak dipanggil oleh Umar bin Khaththab.
Sang anak kemudian menanyakan kepada Amirul Mu’minin, “Apakah ada hak anak terhadap bapaknya? “Ya, ada. Pertama adalah mempunyai ibu yang baik (sholekha). Kedua, memberi nama yang baik. Ketiga, memberikan ajaran Al-Qur’an.” Jawab Umar. Sang anak menjawab, “Dari ketiga perbuatan itu, ayahku tak satupun melakukannya.” Umar mengatakan bahwa sang bapak menceritakan anakmu durhaka, namun dia sendiri yang durhaka.
Anak diibaratkan sebuah kanvas. Orang tuanya adalah pelukis. Mau dilukis seperti apa, maka lukisan itu tidak akan hilang. Tokoh Lukman Al-Hakim adalah salah satu tokoh yang diabadikan kisahnya di dalam Al-Qur’an. Ia bukan seorang nabi, tapi apakah keistimewaannya? Keistimewaannya adalah kehandalannya dalam mendidik anaknya. Tanamkan Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Syukur kepada Allah tidak akan sempurna jika tidak bersyukur pada orang tua. Nabi bermimpi di surga, beliau mendengar suara mengaji, Siapa dia?. Inilah Haritsah bin Nu’man. Ketika ia hendak meninggalkan rumah, ia selalu menyambangi ibunya. Ibu titip apa? Beliau selalu mengurusi ibunya. Pernahkah kita makan, namun kita menyempatkan untuk membungkuskan orang tua kita? Mobil yang mewah juga dapat membawa ke neraka, disebabkan karena sang anak mengendarai mobil, namun sang ibu dengan peluh berjalan kaki. Uwais Al-Qarni juga salah satu tokoh yang menghormati ibunya.
Airmata ibu dan peluh ayah adalah kesuksesan kita.  Pahala sedekah dapat dihadiahkan pada orang tua yang sudah meninggal. Perintahkan keluargamu untuk sholat dan sabarlah dengan sholat itu. Jaga sholat kita. In syaa Allah kita akan menciptakan generasi Qur’ani.
Langit yang Allah pancangkan sangat kokoh. Tegaklah keseimbangan itu. Alam semesta akan tegak, karena sistem keadilan juga tegak. Rumah tangga akan kokoh jika rumah tangga  adil. Negeri juga akan kokoh jika keadilan selalu dijunjung. Awal kehancuran jika kedzaliman merajalela.
Bagaimana seorang ayah dan ibu adil pada anaknya? Kita harus paham makna adil. Adil artinya mengikuti aturan. Kalau solat subuh dua rekaat, maka solatlah dua rekaat saja. Jangan ditambah meski niat kita baik. Misal adil pada warisan. Bukan karena kita sayang, maka warisan ditambah, karena buruk maka warisan dikurangi. Itu tidak adil. Banyak orang yang tidak ikut aturan Allah. Banyak dibagi rata dengan alasan kesepakatan. Padahal laki-laki mendapat dua kali lipat dari hak dari perempuan. Meskipun sudah sepakat, berarti sepakat melanggar ajaran allah. Adil bukan berarti sama, tapi sesuai ukuran. Jangan sampai orang tua membuat anak membenci karena ketidakadilan. Ini bahaya, akan timbul iri dan dengki.
Membangun keseimbangan anak jangn hanya mengajari jasmani saja, namun juga rohani. Jangan hanya sibuk dengan pelajaran matematika saja, namun melalaikan Al-qur’an. Bersikap sama dalam bermuamalah. Ingat kedzaliman pada Nabi Yusuf karena saudara-saudara beranggapan ayah mereka lebih mencintai nabi Yusuf.
Keluarga teladan karena pendidikan yang baik. Dalam bahasa arab pendidikan adalah at-tarbiyah. “Alhamdulillaahirobbil ‘aalamiin (QS.Al-Fatihah:2). Rabb satu kata dengan tarbiyah yang artinya pendidik. Allah merupakan pendidik. Allah menjadikan anak sebagai ujian, Dan kalau kita diuji berarti kita diminta untuk lakukan yang terbaik. Orang-orang salah paham, jika belajar di luar negeri akan lebih baik. Itu memang benar, namun tidak sepenuhnya benar. Ada yang kembali ke tanah air sudah rusak, karena tidak belajar iman. Berhasil di dalam dunia itu kesalahpahaman. Kesuksesan yang hakiki adalah di akhirat. Pendidikan terbaik artinya memberi pemahaman yang baik kepada anak yaitu sebagai hamba allah dan sebagai penolong Allah.
Mendidik anak memiliki banyak cara. Misal, perbanyaklah bermusyawarah dengan anak. Anak akan merasa diikutsertakan dalam pemecahan masalah sehingga anak menjadi dewasa. Ketika Nabi Ibrahim hendak menyembelih Ismail beliau meminta pendapat Nabi Ismail tentang mimpi dari Allah tersebut. Berdoa agar dikaruniai keluarga yang baik Rabbana hablana min azwajina wa dhurriyatina qurrata a’yun, wajalna lil muttaqina imama. Selanjutnya memanggil dengan sebutan yang berkarakter. Nabi Muhammad memanggil Umar dengan sebutan Al-Faruq yang artinya pembeda (yang baik dan buruk).
Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu mengenalkan anak kepada rabbnya. Pada zaman jahiliyah, anak perempuan dibunuh karena ia tidak bisa diajak untuk berperang. Perempuan dianugerahi perasaan yang lebih daripada laki-laki. Perempuan harus siap haid, hamil, nifas, menyusui. Kalau perempuan dikaruniai lebih banyak akal, maka akan susah. Ia harus siap menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya kelak. Perempuan yang baik di dalam Al-Qur’an dicontohkan dengan kisah Maryam Puteri Imran. QS. At-Tahrim 12 menyatakan, “Dan Maryam putrid ‘Imran yang memelihara kehormatannya, maka kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya; dan dia termasuk orang-orang yang taat.”


Senin, 26 Oktober 2015

Rasulullah Tauladan Umat

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Jika ditanya siapakah pemimpin paling hebat maka jawabannya adalah Nabi Muhammad. Jika ditanya siapakah pemimpin paling berani maka Nabi Muhammad adalah orangnya, pemimpin yang paling banyak pengikutnya sampai sekarang,  tidak ada tim sukses ketika menjadi pemimpin, tidak ada dana sosial, maka Nabi Muhammad tetap orangnya. Sampai menjadi suami dan ayah yang hebat bagi keluarga yang handal tetap beiau lah orangnya.

Sampai suatu ketika sahabat nabi penasaran mengapa Rasulullah dapat seperti itu. Kemudian ia bertanya kepada orang terdekat dengan Nabi yaitu Aisyah. Siti Aisyah menyatakan bahwa seluruh tindakan Rasul, akhlak rasul adalah Al-Qur’an, tidur Rasulullah sedikit, waktu malamnya diisi dengan qiyamullail yaitu sholat malam, jika hendak makan jangan tabdir (sia-sia), makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Jika ada permasalahan maka akan diselesaikan dengan musyawarah bersama umat, jika ia merasa benar maka akan dilakukan dengan percaya diri.

Lalu mengapa doa Rasul selalu dikabukan oleh Allah? Ketika Rasul dikepung, maka beliau membaca do’a Nabi Ibrahim hasbunallah wa nikmal wakil (QS.Ali Imran:173), ketika krisis ekonomi maka beliau membaca do’a Nabi Adam Rabbana dholamna anfusana waillam taghfirlana wa tarhamnaa lana kunanna minal khaasiriin (QS.Al-A’raf:73). Bangun lagi, tidur lagi, semua berlandaskan Al-Qur’an yang mulia. Praktik kejawantahan Al-qur’an, tak satupun beliau tinggalkan. Ingin berhasil membina keluarga bacalah Al-Qur’an, kemudian amalkan.

Ketika beliau hendak berdakwah, maka ia membaca kisah dakwah nabi musa, berdo’a dengan do’a Nabi Musa ketika berdakwah Rabbis rohli sodri wayassirlii amri, wahlul uqdatammillisaani yafqahu qouli (QS.Thoha:25) agar tetap lemah lembut. Ketika ingin melunakkan besi yg keras cukup dipanaskan, tanpa harus dipukul. Begitupula manusia punya tabiatnya sendiri-sendiri. Tentu semua ada alasan mengapa ada yang lembut dan ada yang tidak. Rasul bisa disemua bidang karena membaca Al-qur’an dan mengamalkannya, karena yang pernah di lalui rasul terdahulu adalah pilihan Allah yang berhasil.  Ketika Nabi dianggap gila seperti Nabi Nuh, maka beliau membaca doa Nabi Nuh, bacaan kita sehari-hari adalah yang tetrtuang di Al-Qur’an dan Hadist.


Setelah kita yakin manusia yang berhasil seperti Nabi Muhammad, maka ketika ada pemimpin yang ingin berhasil, jadilah seperti Rasulullah, meskipun tidak sesempurna Rasulullah. Jika ingin menjadi suami yang handal, jadilah separti akhak Rasulullah, meskipun tidak sesempurna Rasulullah. Jika ingin menjadi ayah yang baik, maka didiklah anak-anak kita dengan cara Rasul. Jika ingin mustajab doanya, berdoalah seperti Rasulullah. Jadikanlah Al-Qur’an pedoman hidup kita.