Minggu, 12 Maret 2017

Self Reminder

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Ikhlas itu..
Ketika nasihat, kritik, dan bahkan fitnah, tidak mengendorkan amalmu
dan tidak membuat semangatmu punah..

Ikhlas itu..
Ketika hasil tak sebanding usaha dan harapan,
tak membuatmu menyesali amal dan tenggelam dalam kesedihan..

Ikhlas itu..
Ketika niat baik disambut berbagai prasangka, kamu tetap berjalan tanpa berpaling muka..

Ikhlas itu..
Ketika sepi dan ramai, sedikit atau banyak, menang atau kalah,
kau tetap pada jalan lurus dan terus melangkah..

Ikhlas itu..
Ketika kau lebih mempertanyakan apa amalmu dibanding apa posisimu,
Apa peranmu dibanding apa kedudukanmu,
Apa tugasmu dibanding apa jabatanmu..

Ikhlas itu..
Ketika ketersinggungan pribadi tak membuatmu keluar dari barisan dan merusak tatanan..

Ikhlas itu..
Ketika posisimu diatas, tak membuatmu jumawa,
ketika posisimu dibawah tak membuatmu enggan bekerja..

Ikhlas itu..
Ketika kebodohan orang lain terhadapmu, tidak kau balas dengan kebodohamu terhadapnya..
Ketika kedzalimannya terhadapmu, tidak kau balas dengan kedzalimanmu terhadapnya..

Ikhlas itu..
Ketika kau bisa menghadapi wajah marah dengan senyum ramah,
Kau hadapi kata kasar dengan jiwa besar,
Ketika kau hadapi dusta dengan menjelaskan fakta..

Ikhlas itu..
Seperti surat Al-Ikhlas..
Tak ada kata ikhlas didalamnya..


(Source: Upgrade Mindset)

Kamis, 02 Maret 2017

35 Mutiara


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Tahukah anda mutiara? Mutiara adalah barang istimewa bagi kalangan mbak-mbak, ibu-ibu, bahkan sampai simbah-simbah yaa? Hehe bercandaa :D

Nah, mengapa mutiara begitu istimewa dan sempurna cantiknya? Gimana kalo cantik diibaratkan mutiara.. hayoo pasti mbak-mbak, ibu-ibu, sampai simbah-simbah berbusa-busa hatinya kalo diibaratkan cantik seindah mutiara. Iya kan? Hehe ngaku nih yee :D

Mutiara adalah barang langka, indah, mahal, dan nyaris sempurna. Ia dibentuk dengan proses yang sangat lama, terlindung dari cangkang, dan berada di hampir atau mungkin dasar lautan. Untuk mendapatkannya adalah hal yang tidak mudah, dibutuhkan penyelam yang handal, sabar, dan tentunya tidak pantang menyerah karena risiko untuk mendapatkannya adalah kematian. Itulah sebabnya mutiara sangat berharga, daaan hampir semua mbak-mbak, ibu-ibu, bahkan simbah-simbah tersenyum sangat manis jika digombalin kaya mutiara hehe..

Mutiara ibarat hati kita yang bersih. Hati terletak di dalam tubuh, dibalut kulit, tulang. Bukan sembarang Allah menciptakan hati. Hati akan dimintai pertanggung jawaban juga oleh Allah. Bukankah setiap hati akan dibuka? Coba bayangkan hati itu seperti komputer yang mampu membaca setiap hal. Ada yang baik, ada yang buruk. Ada yang lurus, ada yang bengkok. Ada yang keras, dan bahkan ada yang lembut. Bayangkan jika yang terbaca adalah hal yang buruk? Pasti malulah kita.. Naah jika hati kita sebening mutiara, maka yang akan keluar juga secantik mutiara.. bening.. indah..  Iya kan..? “Duuh mbakk jadi baper akuu hihihihi :D “

Masih tentang mutiara. Saya pernah mendapat nasihat bening nan cantik untuk “nutrisi hati”, jadi saya ibaratkan seperti mutiara.. :)

Berikut ini adalah nasihat dari Syaikh Aidh Al-Qorni dikutip dari buku “Lelaki yang Paling Bahagia” yang sayang untuk tidak diabadikan hehehe, Yuk kita simak 35 Mutiara indah ini;

1. Mulailah harimu dengan sholat fajr dan do’a-do’a di pagi hari agar kau mendapatkan keberuntungan dan kesuksesan. (Tentunya yang utama untuk Allah yaa)

2 .Lanjutkan dengan istighfar agar syaitan menghindar darimu.

3. Jangan putus berdo’a, karena sesungguhnya do’a merupakan tali kesuksesan.

4. Ingatlah bahwa apapun yang kau katakan akan dicatat oleh malaikat.

5. Senantiasalah optimis meskipun engkau dalam pucak kesusahan.

6. Jika engkau menghadapi kegelisahan dan berbagai kegundahan maka ucapkanlah “Laa ilaaha illallah.”

7. Belilah dengan uang dirhammu (berinfaklah) untuk mendapatkan do’a orang fakir dan kecintaan orang miskin. (Tentunya yang utama untuk Allah yaa)

8. Sujud panjang dengan khusyuk itu lebih baik daripada istana-istana yang megah.

9. Berfikirlah sebelum berkata, bisa jadi satu perkataanmu bisa mematikan (menyakiti hati orang lain).

10. Berhati-hatilah dengan do’a orang yang didzolimi dan air mata orang yang terampas haknya.

11. Sebelum engkau mmembaca buku, koran dan majalah, bacalah terlebih dahulu Al-Qur’an.

12. Jadilah kau sebab bagi keistiqomahan keluargamu.

13.Bersungguh-sungguhlah jiwamu melaksanakan keta’atan, karena jiwa manusia itu senantiasa mengajak kepada keburukan.

14. Ciumlah telapak tangan kedua orang tuamu, kau pasti mendapat keridhoan.

15. Baju-baju lamamu merupakan baju-baju baru menurut orang-orang fakir.

16. Janganlah kau marah, karena hidup ini sangat singkat dari yang kau bayangkan.

17. Engkau senantiasa bersama dzat yang Maha Kuat, Maha Kaya, Dialah Allah ‘Azza wa Jalla.

18. Jangan kau tutup pintu terkabulnya do’a dengan melakukaan maksiat.

19. Sholat adalah sebaik-baik penolongmu dalam menghadapi berbagai musibah dan kelelahan.

20. Hindari berburuk sangka, kau akan mendapatkan ketenangan dan kenyamanan.

21. Penyebab dari segala kegundahan adalah berpaling dari Allah, maka segeralah menuju kepada-Nya.

22. Sholatlah kau, karena sholatmu akan menemanimu di kubur.

23. Jika kau mendengar orang yang menggunjing (ghibah) maka katakanlah kepadanya, “Bertaqwalah kau kepada Allah.”

24. Dawamkanlah (senantiasa) kau baca surat Tabarak (QS.Al-Mulk) karena ia adalah penyelamat.

25. Orang yang mahruum (terhalang dari rahmat Allah) adalah orang yang terhalang dari mengerjakan sholat dengan khusyuk dan mengalirkan air mata.

26. Jangan kau hina orang mukmin yang sedang lalai.

27. jadikanlah semua rasa cinta itu karena Allah dan rasul-Nya.

28. Maafkanlah orang yang menggunjingmu, karena dia telah menghadiahkan kebaikannya untukmu.

29. Sholat, tilawah, dzikir, merupakan hiasan dadamu.

30.Barangsiapa mengingat panasnya neraka maka ia akan bersabar terhadap dorongan untuk melakukan maksiat.

31. Selama qiyamullail ditegakkan, maka segala penyakit akan hilang, krisis kan berlalu, dan kesusahan akan lenyap.

32.Jauhilah “katanya dan katanya” karena kau masih punya pekerjaan bak gunung.

33.Kerjakanlah sholat dengan khusyuk, karena segala hal yang menantimu selain sholat itu lebih rendah urusannya daripada sholat.

34.jadikanlah mushaf senantiasa disisimu, karena membaca satu ayat Al-Qur’an itu lebih baik daripada dunia dan isinya.

35.Kehidupan itu indah, dan lebih indah lagi jika kau serta iman.

Bagus kaan mutiara-mutiaranya? Semoga bermanfaat untukmu kawan J


Jumat, 10 Februari 2017

Rapor Akhirat..


Akan datang hari, mulut dikunci, kata tak ada lagi..
Akan tiba masa, tak ada suara, dari mulut kita..
Berkata tangan kita, tentang apa yang dilakukannya..
Berkata kaki kita, kemana saja dia melangkahnya?
Tidak tahu kita, bila harinya, tanggung jawab tiba..

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Anda tahu apakah yang ditunggu-tunggu anak sekolah ataupun mahasiswa dalam sekolah mereka? Seusai melaksanakan ujian sekolah, ataupun ujian mata kuliah, mereka pasti tidak sabar menunggu hasil ujiannya. Mereka akan sibuk menanyakan satu sama lain. “Berapa nilaimu hai Fulan?”; “Berapa IPK mu hai Fulanah?” Pertanyaan tersebut tak jarang terdengar menjelang kenaikan kelas ataupun peralihan semester. Ada yang bahagia, begitu pula sebaliknya.

Allah adalah pendidik, Dia memberikan ujian kepada hamba-hamba-Nya. Ujian hidup yang diberikan memang berliku, lahir ataupun batin. Ujian lahir seperti sakit, kecelakaan, ketidaksempurnaan fisik, dan lainnya. Ujian batin pun tidak kalah sulitnya seperti terjangkiti virus sum’ah, ujub, riya’, hasad. Disanalah peran syaitan menggoncang keimanan anak Adam. Jangankan kita, ulama yang telah mencapai keilmuan di atas kita juga begitu takut dengan ini. Sangat jelinya syaitan menggoda manusia dari arah manapun, dari lini manapun. Godaannya seperti buluh yang samar, hampir tak terdeteksi oleh hati.

Kesabaran adalah modal di dalam menjalani kehidupan. Tidak semua orang dapat bersabar, ini memang bukan perkara yang mudah. Bukan sabar jika ada batasnya, dan bukan ikhlas jika masih ada rasa sakit. Nasihat ini begitu indah, namun memerlukan effort yang powerful. Jatuh, sakit, perih, ancaman, air mata, underestimate, sampai prestasi ataupun pujian sekalipun. Semua adalah ujian. Ingatlah, kita tidak akan dikatakan beriman sebelum kita diuji.

Nah, setelah mengalami badai kehidupan dengan modal kesabaran, apakah yang kita tunggu-tunggu? Seperti kisah anak sekolah yang sebelumnya kita bahas, mereka menunggu rapor nilai ujian sekolahnya. Sama seperti kita, sebagai hamba Allah kita juga menunggu ‘rapor akhirat’ dari Sang Penguasa alam semesta, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menjelang penerimaan rapor sekolah, pasti mengalami debar-debar, “Naik atau tidak?”; “Lulus atau tidak?” Rapor akhirat memberikan pukulan yang istilahnya “lebih menonjok.” Tak tanggung-tanggung lagi, ini adalah penentuan surga atau neraka! Mengerikan, memberatkan!

Akankah kita berlari lagi menuju dunia? Itu tidak mungkin!

Kemana lagi kita bersembunyi? Tak ada tempat lagi!

Saat ini dunia memang nyata, sedangkan akhirat masih bayangan. Namun, setelah maut mendatangi setiap jiwa, dunia hanya kenangan sedangkan akhirat adalah kenyataan yang harus kita hadapi adanya. Sangat gembira jika kita lulus ujian. Kesuksesan yang kita dapat di dalam rapor akhirat membawa kita kepada kebahagiaan yang hakiki untuk bertemu Allah, Rasul-rasulnya, ulama-ulama yang kita rindukan dan ingini untuk meneladani keshalihannya. In syaa Allah.. bersabar, beramal, dan jangan lupa beriman, bertaqwa, serta tawakkal, karena kita akan menerima rapor akhirat kita sebantar lagi..

Inginkan surga ataukah neraka? Diri kitalah yang menentukannya. Penyesalan manusia yang tenggelam dalam kehidupan duniawi di hari kiamat tercantum di dalam QS.Al-Fajr 23-24 “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka  Jahannam, pada hari itu sadarlah manusia tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. Dia berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.

Sedangkan penghargaan Allah terhadap manusia yang imannya sempurna tercantum di surat ini juga, tercantum di ayat 27-30, “Hai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

Jadi, apakah pilihanmu?

Minggu, 29 Januari 2017

Ankabut, Allah Memilihmu


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Laba-laba. Tuhanku tak akan pernah salah menciptakannya. Laba-laba adalah salah satu simbol yang terpatri kuat didalam Al-Qur’an. Yaa.. Ankabut namanya! Ankabut adalah surat yang menggetarkan jiwa, bagaimana Tuhanku menjadikanmu pelajaran hidup bagi kita dan segenap insan di dunia. Surah ini merupakan salah satu peredam gejolak permasalahan kehidupan. Apapun itu. Tentunya, tidak menutup kemungkinan 113 surat lainnya yang perlu kita renungkan asbabun nuzulnya.

Siapa yang tidak pernah memiliki permasalahan dalam hidupnya? Tentunya setiap insan memilikinya. Permasalahan sangat beragam. Allah telah memberikan “porsi” nya masing-masing. Beberapa waktu lalu di dalam QS.Al-Kahfi telah dijabarkan bahwa manusia akan mengalami beragam ujian kehidupan berupa ujian keimanan, harta, ilmu, serta kedudukan..

Nah, sekaranglah saatnya..

Ayat yang menjadi penetralisir kepenatan, stress, mungkin biar lebih adem kita namai Asy-Syifa (penyembuh, obat) kali yaa hehe..

Ini nih ayat jitu dalam surat laba-laba..
Jreng jreng jreng.. :)

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?”

(TQS.Al-Ankabuut:2)

Problem terkadang muncul seperti gigitan semut (kata guru SD sih pas di imunisasi dulu sakitnya kaya gini hehe) hampir kecil tak berasa, sampai pada tingkatan seperti tersambar petir (maaf ya nak,  sedikit alay hehe). Mungkin yang perlu kita pelajari untuk menghadapinya adalah masalah sikap. Yaa mungkin diawal sedikit berat, ibarat memulai usaha diperlukan langkah ekstrim untuk “mendobrak pintu besinya” setelah itu kita tinggal melebarkan sayap untuk mendesain ruangan yang indah, dan kita bisa menikmati ruangan yang indah yang kita usahakan tadi..

Disini poin pentingnya.. sangat penting. Allah masih memegangi kita, ibaratnya kita melepas apapun itu no problem. Tapi, jika kita lepas Allah, bisa majnuun kali yaah. Bagaimana tidak? Segala pengatur kehidupan kita hilang, dari bangun sampai tidur lagi kita membutuhkan Allah. Ingatlah segala problem pasti memiliki jalan keluarnya. Jarak antara permasalahan dengan problem solvingnya itu sedekat kedua kelopak mata, sedekat nafas kita, deket yaa..

Ini ada resep jitu kedua dalam surat laba-laba penguat tauhidik kita

Hai masalah.. kami masih memiliki Allah yang Maha Besar

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui.”

(TQS.Al-Ankabuut:41)

Ini juga ayat jitu lho kawan, jeratan rumah laba-laba memang melumpuhkan korban (laba-laba). Dari sini Allah memberikan bantuan kepada laba-laba, yang merupakan hewan yang kecil, tak berdaya, untuk memberikan rizki kehidupan berupa makanan. Tapi point of view nya ini, kita mengetahui bahwa rumah laba-laba adalah rumah yang unik, tapi sekali manusia memporak-porandakannya mungkin akan hilang. Iya kan? Sama, manusia juga memiliki ketergantungan yang begitu kuatnya akan Rabb-Nya. Itu memang seharusnya yang terjadi.

Nasihat menarik dari Fudhail bin Iyadh juga perlu kita terapkan,

“Hal yang membuatku malu pada Rabb-ku adalah amalku cacat, ibadahku berpenyakit, tapi karunia-Nya selalu sempurna.”

Indah ya kawan, memang benar adanya seperti itu keadaannya. Amal cacat karena kita kekurangan ilmu, ibadah berpenyakit karena kita tidak ikhlas, dan terakhir yang membuat hati tergerus, karunia-Nya selalu, selalu sempurna..

The Last..
Peganglah Allah selalu, Ia juga akan memegangmu.

Dan jika engkau lupa, alpha, khilaf, lihatlah jemarimu, gerakkan, rasakan sekelilingmu, yaa.. engkau bisa melihat, meraba, mendengar, berjalan, itu adalah nikmat-Nya yang perlu kita syukuri keadaannya..


Be wonderful, Allah is always by your side :)

Kamis, 19 Januari 2017

Cerdas yang Kandas


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Menghadirkan niat itu sangat sukar. Ini dibuktikan karena tidak semua orang cerdas, yang memiliki wawasan ilmu agama, bahkan tidak semua murid-murid para ulama, memiliki niat yang ikhlas. Salah satu contoh adalah Mu’tazilah. Apa kata para ulama’ tentang Mu’tazilah?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah mengatakan, Mu’tazilah, mereka diberi kecerdasan oleh Allah, tapi mereka tidak diberi kesucian hati, keikhlasan hati. Siapa yang tidak tahu kecerdasan Washil bin Atho’? Ia adalah seorang yang cerdas, murid dari Hasan Al-Bashri. Tapi ia tergelincir. Mengapa tergelincir? Ia tidak ikhlas.. ujub, sombong dengan kecerdasan yang mereka miliki (semoga menjadi nasihat untuk kita juga).

Kalau berbicara tentang kecerdasan, Washil bin Atho’ adalah seorang yang cerdas. Cerdas luar biasa..
Salah satu kisah yang mengisahkan tentang kecerdasannya, Washil bin Atho’ adalah seorang yang cadel. Berarti ia tidak bisa mengucapkan huruf Ra. Suatu ketika ada sebuah event yang membuat manusia berkumpul. Lalu dalam event tersebut, teman-teman Washil bin Atho’ ingin mempermalukan dirinya, ingin menjadikannya bahan tertawaan, bahan olok-olok. Ia didaulat secara spontanitas untuk berkhutbah pada event tersebut. Tanpa persiapan, tanpa oret-oretan, tanpa referensi. Agar apa? Agar manusia tahu kekurangan Washil bin Atho’, agar manusia tahu bahwa ia tidak bisa mengucapkan huruf Ra, dan mereka akan menertawakan Washil bin Atho’.

Coba anda bayangkan, anda shalat Jum’at, duduk di shaf pertama untuk mengerjakan shalat Jum’at, kira-kira jam 12.05 khatib  tidak datang. Karena anda yang duduk di shaf pertama, maka anda didaulat oleh semua jam’ah bahwa anda yang harus jadi khatib. Kira-kira bagaimana perasaan anda? Tidak ada persiapan, tidak ada contekan, tidak ada referensi, spontanitas. Itu mungkin mimbar bergetar, semua hafalan hilang, ketika kita berbicara terbata-bata, kira-kira itulah perasaan Washil bin Atho’.

Tapi mau tidak mau, karena ditunjuk oleh seluruh orang yang berada di sekitar itu, akhirnya dia berkhutbah, berpidato, dengan pidato yang akan dikenang oleh para ulama sampai detik ini, karena itu adalah salah satu pidato paling mengagumkan di dunia. Pidato itu tidak ada satupun huruf Ra! Seluruh huruf Ra yang akan dia ucapkan ia ganti dengan sinonim yang tidak menggunakan huruf Ra nya! Oleh karena itu, pidato tersebut, dari A-Z tidak ada satupun huruf Ra. Bisakah kita berpidato tidak dengan huruf R (Ra)? Washil bin Atho’ bisa membuat pidato seperti itu dengan tidak ada persiapan apapun, secara spontanitas. Semua kata dalam bahasa arab yang ada huruf Ra nya, ia ganti dengan spontan dengan sinonimnya yang tidak ada huruf Ra.

Ia menjadi buah bibir pada saat itu. Coba bayangkan, misalkan anda diberi waktu dua minggu, tolong buatkan khutbah tanpa menggunakan huruf R bisa tidak? Baru pembukaannya mungkin kita sudah gagal. “Bismillaahirrahmaanirrahiim..” dengan rahmat (R), karunia (R), susah untuk membuat pidato tanpa huruf R. Tapi Washil bin Atho' bisa membuatnya, tanpa ada persiapan. Cerdasnya luar biasa. Itulah Washil bin Atho’, namun tersesat. Ia cerdas namun tidak memiliki keikhlasan hati. Inti dari menuntut ilmu bukan kecerdasan, namun keikhlasan.

Al-Jahil, kurang semangat apa ia belajar, kurang kutu buku apa ia belajar?. Jahil, merupakan salah satu tokoh Mu’tazilah. Ia memiliki hobi yang unik. Mungkin, belum ada yang memiliki hobi seperti ia sampai detik ini. Ia senang menyewa toko buku, tidak boleh ada yang masuk ke dalamnya selain ia. Selama itu ia membaca seluruh buku yang ada. Mungkin kalo di Indonesia ia akan menyewa toko buku Gramedia untuk "melahap" seluruh buku-bukunya untuk dibaca. Berasa kecil ya kawan, ga ada apa-apanya. Ia membutuhkan privasi.

Mengapa ia meninggal dunia? Ia meninggal dunia karena kejatuhan buku. Di kamarnya buku ber rak-rak, bertingkat-tingkat. Kita tahu, buku zaman dahulu lebih berat dibanding dengan buku sekarang. Kemudian ia sakit keras, ia mengambil sebuah buku, namun buku terjatuh, dan menimpanya semuanya, dan akhirnya ia meninggal dunia. Jahil, tersesat Mu’tazilah. Mereka cerdas, namun tidak diberi kesucian hati.. nasihat lagi ya.. :( 

Ibnu Abi Hamza berharap, ada seorang ulama yang mendedikasikan waktunya untuk mendirikan majlis ilmu, dan setiap mengisi kajian, ia isi dengan tema ikhlas. Ibaratnya, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at sampai Minggu tentang ikhlas! Karena inilah bahaya umat Islam, kita butuh materi keikhlasan. Jangankan kita, Imam besar Daruquthni, imam besar ilmu hadits, bagaimana ia awal thalabul ilmi, tidak ikhlas, awal kita terpaksa, diajak teman, tidak enak dengan panitianya, kebetulan mampir disebuah masjid, lagi bentrok dirumah lalu mencari perenungan, lalu kajian. Tidak ikhlas dalam menuntut ilmu agama. Namun ilmu itu dikaji dan dikaji, dan akhirnya mengantarkan ia pada keikhlasan untuk Allah. Itu Imam besar Daruquthni. Sehingga ulama tidak ada yang meng klaim bahwa dirinya ikhlas.

Imam Ahmad bin Hambal, penulis kitab Musnad, berjilid-jilid beliau bisa tuliskan dalam kitab tersebut. Orang yang sudah pernah disiksa, karena membela sebuah ideologi tentang Al-Qur’an. Beliau merupakan salah satu murid terbaik Imam Syafi’i, “Engkau lebih tahu hadits dibanding saya,” Allahu Akbar, Imam Syafi’i mengatakan demikian kepada Imam Ahmad..

Suatu ketika Imam Ahmad pernah ditanya oleh Imam Syafi’i, “Wahai Imam Ahmad, engkau melakukan ini, engkau melakukan itu, engkau mengajar disini, engkau mengajar disina ikhlas atau tidak?

Kalau pertanyaan itu diarahkan kepada kita, apakah jawabannya? “Tadi kita datang kajian ikhlas tidak?”

Waah ikhlas dong, lihat penampilan saya, lihat jenggot saya, masa’ ga ikhlas?” apakah itu yang akan kita katakan?

Imam Ahmad mengatakan, “Adapun ikhlas itu adalah perkara yang sangat berat, adapun saya hanya berusaha sekuat tenaga.” Allahu Akbar.. mereka tidak berani meng klaim dirinya ikhlas. Imam Ahmad bin Hambal..

Sekarang, kata-kata ikhlas sangat murah, semua meng klaim ikhlas, bahkan maksiat pun meng klaim ikhlas, misal perkara suap-menyuap, “Ini ikhlas ga nih?”; “Oh, ikhlas Pak, Ikhlas..” suap itu dalam keadaan kepepet, terdesak, tidak ada jalan lain..

Imam Sushi (semoga benar ejaannya) pernah mengatakan, barangsiapa meng klaim ibadahnya ikhlas, maka rasanya ikhlas itu perlu direvisi kembali. Mereka tidak gila pujian. Para ulama kita tidak gila gelar. Semoga Allah selalu membantu, Aamiin..

Semoga bermanfaat..

(Sumber: Kajian Ust.Nuzul)

Minggu, 18 Desember 2016

Tabuk dan Sahabat



Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Beberapa waktu lalu saya sempat membaca tentang Al-Rajhi Bank di Saudi Arabia. Tahukah anda? Al-Rajhi merupakan bank Islam terbesar di dunia yang benar-benar bebas dari sistem ribawi. Sempat merasa takjub dan bangga lho kawan hehe..

Namun, anda perlu tahu juga, ternyata dibalik “raksasa”nya Al-Rajhi Bank ada seseorang yang menurut saya patut “diacungi jempol” Siapakah dia? Taraaa.. Beliau adalah Sulaiman Al-Rajhi, Ia pernah dikisahkan telah memiskinkan dirinya dengan menyerahkan semua kekayaan pada ahli waris dan program-program wakaf. Kisahnya yang membalas berkali-kali lipat kebaikan gurunya waktu kecil, sangat menginspirasi kaum muslimin di dunia.

Ia tidak meletakkan kekayaan di hatinya. Di masa tuanya kini ia telah membagi sekitar 6,7 trilyun hartanya kepada ahli waris dan kerabatnya serta fakir miskin hingga diibaratkan hanya memilih pakaian yang melekat di badan dan asset bisnis yang dikelola para professional yang hasilnya untuk amal sosial dakwah. Ia menegaskan telah lahir tanpa membawa apa-apa dan siap tidak tergantung pada harta sebelum meninggal dunia.

Yang itu ada di zaman sekarang kawan, nah mari kita sedikit bernostalgia dengan orang yang “Tak akan terganti” untuk kejayaan Islam di masa lampau. Mari kita simak kesungguhan hati para sahabat Rasulullah yang merelakan seluruh yang ia miliki untuk Islam, ya.. untuk Islam..

Tahukan anda tentang perang Tabuk? Pernah denger sii mbaak hehe..
Tabuk adalah suatu wilayah yang terletak sekitar 1000 km dari kota Madinah.. Jauh yaa.. Kalo di Indonesia mungkin dari Anyer sampai Panarukan kali yaa hehe..

Ketika perang Tabuk, Islam sangat membutuhkan infaq untuk bekal peperangan. Memang generasi disekeliling Rasulullah tidak diragukan lagi keimanan mereka. Kita lihat kesungguhan mereka untuk menyumbangkan apa yang mereka miliki. Semoga kita dapat meneladaninya.. Aamiin..

Muhammad bin Maslamah (semoga bener ejaannya), beliau menyumbangkan 200 uqiyah perak (Ust.Khalid Basalamah)
1 uqiyah perak = 119 gram perak x 200 uqiyah = 23.800 gram perak.
Kalau dikonversikan, begini kawan..
5 uqiyah perak = 595 gram perak (nisab zakat)
5 uqiyah perak = 85 gram emas
200 uqiyah perak = kira-kira 3400 gram emas x est. Rp.500.000,- = Rp 1,7 M weeewww :)

Ashim bin Adi, beliau menyumbangkan 90 wasaq kurma (Ust.Khalid Basalamah)
1 wasaq = 60 sha’
1 sha’= 4 mud (kira-kira 3 kg) ---> (sumber Rumaysho)
1 mud = 2 telapak tangan penuh dari pria sedang
Jadi, 60 sha’x 3 kg x 90 wasaq kurma = 16.200 kg x (est.kurma @kg Rp.30.000) = Rp  486 jutaa weeewww :)

Ibu-ibu juga tidak mau kalah, Ummu Sinan (semoga bener ejaannya) melihat selembar kain dibentangkan di rumah Aisyah Radhiyallahu’anha berisi gelang kaki, gelang bahu, anting, cincin, dll, untuk persiapan jihad ketika perang Tabuk. Perang Tabuk merupakan perang yang membutuhkan bekal yang besar karena jarak yang jauh dan terik, partisipan yang cukup besar approximately 30.000 pasukan woooww. Tolok ukur bukan jumlah ratusan atau miliar yang di sumbangkan, namun lebih kepada upaya yang dikeluarkan.

Abu Aqil, ia tidak memiliki pekerjaan tetap atau kebun. Kemudian ia pergi ke rumah muslimin untuk mengisi tandon air mereka yang kosong. Ia bekerja semalam suntuk, kemudian dibayar 2 sha’ kurma. 1 sha’ ia sumbangkan untuk jihad di jalan Allah, 1 sha’ untuk keluarganya. Maa syaa Allah :)

Utsman bin Affan melihat orang-orang berinfaq, kemudian ia menyumbangkan 1000 dinar di kantongnya. (Ust.Khalid Basalamah)
1 dinar = 4,25 gram emas
4,25 gram emas x 1000 dinar x est.emas@gram Rp 500 ribu = Rp 2,125 M

Kemudian, bekal masih kurang juga untuk persiapan perang Tabuk ini. Lalu Rasulullah menanyakan siapakah yang ingin berinfaq lagi? Utsman bin Affan kemudian menyerahkan 10.000 dinar (approximately 21 M). Rasulullah seperti tidak percayaa :(

Kemudian, bekal masih kurang juga untuk persiapan perang Tabuk ini. Lalu Utsman bin Affan menyerahkan 700 uqiyah emas. 1 uqiyah emas = 17 gram emas. Berarti, 17 gram emas x 700 uqiyah x est.Rp 500 ribu = Rp 5,950 M :( terharu saya..

Kemudian, bekal masih kurang juga untuk persiapan perang Tabuk ini. Lalu Utsman bin Affan menyerahkan 940 kuda, disempurnakan dengan 60 unta. Ada yang meriwayatkan sebaliknya (940 unta, dan disempurnakan 60 kuda) ---> Ust.Khalid Basalamah

Kuda yang digunakan pada masa lampau mungkin jika itu adalah kuda yang sekarang, merupakan kuda yang sudah terlatih handal (estimasi 1 M/ekor kuda). Unta yang digunakan pada masa lampau pun juga bukan unta sembarangan, namun juga sudah terlatih (estimasi 10 ribu-15 ribu real atau kalo di rupiahkan sekitar 40-50 juta/ekor unta) :( Speechless

Speechless, ketika Utsman mengatakan ia sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Rasulullah bersabda, Wahai Utsman, semoga Allah mengampunimu yang engkau sembunyikan dan engkau tampakkan. Kiamat tidak akan membahayakanmu.. (Aamiin.. :) )
Mereka semua memang tak akan terganti..

Tulisan diatas tidak bermaksud untuk mengungkit infaq para sahabat Rasulullah kawan, namun tulisan ini semata untuk menambah rasa cinta pada Allah, Islam, Rasulullah, dan para sahabat-sahabatnya. Semoga ridho Allah selalu menyertai mereka. Serta tak lupa, tulisan ini juga untuk menambah semangat untuk giat mencari rizki yang halal dan berkah, untuk ummat dan dakwah Islam, tentunya tidak meninggalkan ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Kalau bukan kita, siapa lagi kawan? Sermoga bermanfaat :)



Laa Taiasuu..


Laa Taiasuu..

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

“Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.”

(TQS.Yuusuf: 87)

Ada seorang yang melakukan maksiat, tapi disaat yang sama dia juga berusaha menta’ati Allah, beribadah mencari ilmu, tapi orang ini berputus asa karena belum bisa meninggalkan maksiatnya. Sedangkan setiap saat selalu berdo’a, adakah salafush sholeh yang bisa menjadi ibrah atas kejadian ini.

Beribadah pada Allah, ketika beribadah kita harus memiliki roja’ (harapan), bahwasanya kita tidak boleh putus asa dari rahmatnya Allah setiap waktunya.

Ada salah satu sahabat yang memiliki sifat semacam ini. Siapa yang bisa menyebutkan? Siapa sahabat yang taubat-balik lagi-taubat-balik lagi? Tapi akhirnya taubat. Ia adalah Abu Mihjan. Abu Mihjan itu kesukaannya apa? Minum khamr..
Minum khamr, dicambuk, minum khamr, dicambuk, minum khamr lagi, dicambuk..

Anda tahu sampai kapankah ia bertaubat?
Yaitu ketika dia, selain minum khamr, kecintaannya kepada jihad itu luar biasa, sampai ke ubun-ubun.. Itulah Maa syaa Allah nya yaa.. Ia seorang (maaf) preman, tapi ia preman yang suka berjihad. Jika kita bandingkan di zaman sekarang, orang berilmu belum tentu suka berjihad.

Minum khamr merupakan dosa besar. Ia minum khamr, dicambuk, minum khamr, dicambuk, minum khamr dicambuk, lalu sampai ketika ada pasukan peperangan yang kemudian sedang berjihad, sengaja dibawalah Abu Mihjan, kemudian ditali lah dia. Lalu terjadilah peperangan yang terdengar dengan telinganya. Dia tidak bisa ikut berperang. Kenapa?

Dia adalah peminum khamr. Peminum khamr dilarang untuk ikut, karena apa? Justru akan melambatkan kemenangan, karena orang yang berdosa justru akan membantu musuh. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran, jika kita ingin dimenangkan oleh Allah, minimal jangan membantu musuh dengan kemaksiatan dari dosa yang kita kerjakan. Itu akan menjadikan terlambatnya kemenangan datang kepada kaum muslimin.

Maka Abu Mihjan ketika saat itu mendengar suara peperangan yang luar biasa, dan dia terikat pada sebuah kayu, ia menangis.. :( Dia berkata, “Maa syaa Allah.. Gara-gara minuman laknat saya tidak bisa ikut berjihad untuk membela kalimat Allah.” hanya mendengar suaranya (peperangan) saja.

Ada salah satu isteri komandan yang hadir di saat itu. Akhirnya dia iba melihat Abu Mihjan yang menangis. Dilepaskan dengan syarat, “Nanti sebelum perang selesai balik lagi ya, ikat lagi tanganmu.” Abu Mihjan mengiyakan, In syaa Allah..

Abu Mihjan berperang, sampai kemudian dia menutupi wajahnya supaya tidak terlihat bahwasanya dia adalah Abu Mihjan. Perang dengan luar biasa, sampai komandannya berkata, “Kalaulah bukan Abu Mihjan yang sedang aku ikat di belakang, pasti ini adalah Abu Mihjan.” Padahal itu adalah benar Abu Mihjan. Sudah banyak orang-orang yang tertebas dan kemudian dia kembali lagi..

Maa syaa Allah, disitu kita melihat, jangan pernah berputus asa. Abu Mihjan itu taubat, minum lagi, taubat, minum lagi, taubat, minum lagi, taubat, minum lagi, tapi akhirnya taubat. Itulah yang menjadikan kita tidak berputus asa. Karena apa? Sebanyak apapun dosa yang menggunung tinggi, walaupun menyentuh pintu langit, tapi ketika kita bertaubat dan menyesal, maka Allah akan menerimanya. In syaa Allah..

Allah mencari manusia bukan hanya yang banyak shalatnya, tetapi Allah juga mencari manusia yang mereka itu melakukan dosa tetapi mereka kembali kepada Allah dengan menyesali dosanya..

Perhatikan, ketika Allah memerintahkan untuk shalat, Allah tidak mengatakan “bergegas.” Allah ketika memerintahkan untuk berpuasa, Allah tidak mengatakan “bergegas”. Allah ketika memerintahkan kita untuk bersedekah, tidak mengatakan “bergegas.” Tapi ketika Allah memerintahkan kita untuk bertaubat, Allah mengatakan apa? “Bergegaslah kamu..”

Maka tahulah kita, panah apa yang paling disenangi iblis? Bukan panah zina. Panah yang paling disenangi iblis bukan panah khamr. Panah yang disenangi iblis bukan panah membunuh. Tapi panah yang paing disenangi iblis adalah panah Taswif.

Apa itu panah Taswif? Yaitu, orang itu melambatkan taubat, dan selalu berkata, “Besok taubatnya kalau sudah punya anak satu”, “Besok kalau sudah pensiun”, “Besok taubatnya kalau sudah tidak punya uang.”

Tumben, tidak minum?”, “Iya, lagi bokek.” Nah itu bukan taubat. Itu namanya Taswif. Inilah yang menjadikan kita harus yakin kepada apa yang telah dijanjikan Allah Subhanahuwata’ala..

Sumber: Lampu Islam

Semoga bermanfaat..