Jumat, 10 Februari 2017

Rapor Akhirat..


Akan datang hari, mulut dikunci, kata tak ada lagi..
Akan tiba masa, tak ada suara, dari mulut kita..
Berkata tangan kita, tentang apa yang dilakukannya..
Berkata kaki kita, kemana saja dia melangkahnya?
Tidak tahu kita, bila harinya, tanggung jawab tiba..

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Anda tahu apakah yang ditunggu-tunggu anak sekolah ataupun mahasiswa dalam sekolah mereka? Seusai melaksanakan ujian sekolah, ataupun ujian mata kuliah, mereka pasti tidak sabar menunggu hasil ujiannya. Mereka akan sibuk menanyakan satu sama lain. “Berapa nilaimu hai Fulan?”; “Berapa IPK mu hai Fulanah?” Pertanyaan tersebut tak jarang terdengar menjelang kenaikan kelas ataupun peralihan semester. Ada yang bahagia, begitu pula sebaliknya.

Allah adalah pendidik, Dia memberikan ujian kepada hamba-hamba-Nya. Ujian hidup yang diberikan memang berliku, lahir ataupun batin. Ujian lahir seperti sakit, kecelakaan, ketidaksempurnaan fisik, dan lainnya. Ujian batin pun tidak kalah sulitnya seperti terjangkiti virus sum’ah, ujub, riya’, hasad. Disanalah peran syaitan menggoncang keimanan anak Adam. Jangankan kita, ulama yang telah mencapai keilmuan di atas kita juga begitu takut dengan ini. Sangat jelinya syaitan menggoda manusia dari arah manapun, dari lini manapun. Godaannya seperti buluh yang samar, hampir tak terdeteksi oleh hati.

Kesabaran adalah modal di dalam menjalani kehidupan. Tidak semua orang dapat bersabar, ini memang bukan perkara yang mudah. Bukan sabar jika ada batasnya, dan bukan ikhlas jika masih ada rasa sakit. Nasihat ini begitu indah, namun memerlukan effort yang powerful. Jatuh, sakit, perih, ancaman, air mata, underestimate, sampai prestasi ataupun pujian sekalipun. Semua adalah ujian. Ingatlah, kita tidak akan dikatakan beriman sebelum kita diuji.

Nah, setelah mengalami badai kehidupan dengan modal kesabaran, apakah yang kita tunggu-tunggu? Seperti kisah anak sekolah yang sebelumnya kita bahas, mereka menunggu rapor nilai ujian sekolahnya. Sama seperti kita, sebagai hamba Allah kita juga menunggu ‘rapor akhirat’ dari Sang Penguasa alam semesta, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menjelang penerimaan rapor sekolah, pasti mengalami debar-debar, “Naik atau tidak?”; “Lulus atau tidak?” Rapor akhirat memberikan pukulan yang istilahnya “lebih menonjok.” Tak tanggung-tanggung lagi, ini adalah penentuan surga atau neraka! Mengerikan, memberatkan!

Akankah kita berlari lagi menuju dunia? Itu tidak mungkin!

Kemana lagi kita bersembunyi? Tak ada tempat lagi!

Saat ini dunia memang nyata, sedangkan akhirat masih bayangan. Namun, setelah maut mendatangi setiap jiwa, dunia hanya kenangan sedangkan akhirat adalah kenyataan yang harus kita hadapi adanya. Sangat gembira jika kita lulus ujian. Kesuksesan yang kita dapat di dalam rapor akhirat membawa kita kepada kebahagiaan yang hakiki untuk bertemu Allah, Rasul-rasulnya, ulama-ulama yang kita rindukan dan ingini untuk meneladani keshalihannya. In syaa Allah.. bersabar, beramal, dan jangan lupa beriman, bertaqwa, serta tawakkal, karena kita akan menerima rapor akhirat kita sebantar lagi..

Inginkan surga ataukah neraka? Diri kitalah yang menentukannya. Penyesalan manusia yang tenggelam dalam kehidupan duniawi di hari kiamat tercantum di dalam QS.Al-Fajr 23-24 “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka  Jahannam, pada hari itu sadarlah manusia tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. Dia berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.

Sedangkan penghargaan Allah terhadap manusia yang imannya sempurna tercantum di surat ini juga, tercantum di ayat 27-30, “Hai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

Jadi, apakah pilihanmu?

Minggu, 29 Januari 2017

Ankabut, Allah Memilihmu


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Laba-laba. Tuhanku tak akan pernah salah menciptakannya. Laba-laba adalah salah satu simbol yang terpatri kuat didalam Al-Qur’an. Yaa.. Ankabut namanya! Ankabut adalah surat yang menggetarkan jiwa, bagaimana Tuhanku menjadikanmu pelajaran hidup bagi kita dan segenap insan di dunia. Surah ini merupakan salah satu peredam gejolak permasalahan kehidupan. Apapun itu. Tentunya, tidak menutup kemungkinan 113 surat lainnya yang perlu kita renungkan asbabun nuzulnya.

Siapa yang tidak pernah memiliki permasalahan dalam hidupnya? Tentunya setiap insan memilikinya. Permasalahan sangat beragam. Allah telah memberikan “porsi” nya masing-masing. Beberapa waktu lalu di dalam QS.Al-Kahfi telah dijabarkan bahwa manusia akan mengalami beragam ujian kehidupan berupa ujian keimanan, harta, ilmu, serta kedudukan..

Nah, sekaranglah saatnya..

Ayat yang menjadi penetralisir kepenatan, stress, mungkin biar lebih adem kita namai Asy-Syifa (penyembuh, obat) kali yaa hehe..

Ini nih ayat jitu dalam surat laba-laba..
Jreng jreng jreng.. :)

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?”

(TQS.Al-Ankabuut:2)

Problem terkadang muncul seperti gigitan semut (kata guru SD sih pas di imunisasi dulu sakitnya kaya gini hehe) hampir kecil tak berasa, sampai pada tingkatan seperti tersambar petir (maaf ya nak,  sedikit alay hehe). Mungkin yang perlu kita pelajari untuk menghadapinya adalah masalah sikap. Yaa mungkin diawal sedikit berat, ibarat memulai usaha diperlukan langkah ekstrim untuk “mendobrak pintu besinya” setelah itu kita tinggal melebarkan sayap untuk mendesain ruangan yang indah, dan kita bisa menikmati ruangan yang indah yang kita usahakan tadi..

Disini poin pentingnya.. sangat penting. Allah masih memegangi kita, ibaratnya kita melepas apapun itu no problem. Tapi, jika kita lepas Allah, bisa majnuun kali yaah. Bagaimana tidak? Segala pengatur kehidupan kita hilang, dari bangun sampai tidur lagi kita membutuhkan Allah. Ingatlah segala problem pasti memiliki jalan keluarnya. Jarak antara permasalahan dengan problem solvingnya itu sedekat kedua kelopak mata, sedekat nafas kita, deket yaa..

Ini ada resep jitu kedua dalam surat laba-laba penguat tauhidik kita

Hai masalah.. kami masih memiliki Allah yang Maha Besar

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui.”

(TQS.Al-Ankabuut:41)

Ini juga ayat jitu lho kawan, jeratan rumah laba-laba memang melumpuhkan korban (laba-laba). Dari sini Allah memberikan bantuan kepada laba-laba, yang merupakan hewan yang kecil, tak berdaya, untuk memberikan rizki kehidupan berupa makanan. Tapi point of view nya ini, kita mengetahui bahwa rumah laba-laba adalah rumah yang unik, tapi sekali manusia memporak-porandakannya mungkin akan hilang. Iya kan? Sama, manusia juga memiliki ketergantungan yang begitu kuatnya akan Rabb-Nya. Itu memang seharusnya yang terjadi.

Nasihat menarik dari Fudhail bin Iyadh juga perlu kita terapkan,

“Hal yang membuatku malu pada Rabb-ku adalah amalku cacat, ibadahku berpenyakit, tapi karunia-Nya selalu sempurna.”

Indah ya kawan, memang benar adanya seperti itu keadaannya. Amal cacat karena kita kekurangan ilmu, ibadah berpenyakit karena kita tidak ikhlas, dan terakhir yang membuat hati tergerus, karunia-Nya selalu, selalu sempurna..

The Last..
Peganglah Allah selalu, Ia juga akan memegangmu.

Dan jika engkau lupa, alpha, khilaf, lihatlah jemarimu, gerakkan, rasakan sekelilingmu, yaa.. engkau bisa melihat, meraba, mendengar, berjalan, itu adalah nikmat-Nya yang perlu kita syukuri keadaannya..


Be wonderful, Allah is always by your side :)

Kamis, 19 Januari 2017

Cerdas yang Kandas


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Menghadirkan niat itu sangat sukar. Ini dibuktikan karena tidak semua orang cerdas, yang memiliki wawasan ilmu agama, bahkan tidak semua murid-murid para ulama, memiliki niat yang ikhlas. Salah satu contoh adalah Mu’tazilah. Apa kata para ulama’ tentang Mu’tazilah?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah mengatakan, Mu’tazilah, mereka diberi kecerdasan oleh Allah, tapi mereka tidak diberi kesucian hati, keikhlasan hati. Siapa yang tidak tahu kecerdasan Washil bin Atho’? Ia adalah seorang yang cerdas, murid dari Hasan Al-Bashri. Tapi ia tergelincir. Mengapa tergelincir? Ia tidak ikhlas.. ujub, sombong dengan kecerdasan yang mereka miliki (semoga menjadi nasihat untuk kita juga).

Kalau berbicara tentang kecerdasan, Washil bin Atho’ adalah seorang yang cerdas. Cerdas luar biasa..
Salah satu kisah yang mengisahkan tentang kecerdasannya, Washil bin Atho’ adalah seorang yang cadel. Berarti ia tidak bisa mengucapkan huruf Ra. Suatu ketika ada sebuah event yang membuat manusia berkumpul. Lalu dalam event tersebut, teman-teman Washil bin Atho’ ingin mempermalukan dirinya, ingin menjadikannya bahan tertawaan, bahan olok-olok. Ia didaulat secara spontanitas untuk berkhutbah pada event tersebut. Tanpa persiapan, tanpa oret-oretan, tanpa referensi. Agar apa? Agar manusia tahu kekurangan Washil bin Atho’, agar manusia tahu bahwa ia tidak bisa mengucapkan huruf Ra, dan mereka akan menertawakan Washil bin Atho’.

Coba anda bayangkan, anda shalat Jum’at, duduk di shaf pertama untuk mengerjakan shalat Jum’at, kira-kira jam 12.05 khatib  tidak datang. Karena anda yang duduk di shaf pertama, maka anda didaulat oleh semua jam’ah bahwa anda yang harus jadi khatib. Kira-kira bagaimana perasaan anda? Tidak ada persiapan, tidak ada contekan, tidak ada referensi, spontanitas. Itu mungkin mimbar bergetar, semua hafalan hilang, ketika kita berbicara terbata-bata, kira-kira itulah perasaan Washil bin Atho’.

Tapi mau tidak mau, karena ditunjuk oleh seluruh orang yang berada di sekitar itu, akhirnya dia berkhutbah, berpidato, dengan pidato yang akan dikenang oleh para ulama sampai detik ini, karena itu adalah salah satu pidato paling mengagumkan di dunia. Pidato itu tidak ada satupun huruf Ra! Seluruh huruf Ra yang akan dia ucapkan ia ganti dengan sinonim yang tidak menggunakan huruf Ra nya! Oleh karena itu, pidato tersebut, dari A-Z tidak ada satupun huruf Ra. Bisakah kita berpidato tidak dengan huruf R (Ra)? Washil bin Atho’ bisa membuat pidato seperti itu dengan tidak ada persiapan apapun, secara spontanitas. Semua kata dalam bahasa arab yang ada huruf Ra nya, ia ganti dengan spontan dengan sinonimnya yang tidak ada huruf Ra.

Ia menjadi buah bibir pada saat itu. Coba bayangkan, misalkan anda diberi waktu dua minggu, tolong buatkan khutbah tanpa menggunakan huruf R bisa tidak? Baru pembukaannya mungkin kita sudah gagal. “Bismillaahirrahmaanirrahiim..” dengan rahmat (R), karunia (R), susah untuk membuat pidato tanpa huruf R. Tapi Washil bin Atho' bisa membuatnya, tanpa ada persiapan. Cerdasnya luar biasa. Itulah Washil bin Atho’, namun tersesat. Ia cerdas namun tidak memiliki keikhlasan hati. Inti dari menuntut ilmu bukan kecerdasan, namun keikhlasan.

Al-Jahil, kurang semangat apa ia belajar, kurang kutu buku apa ia belajar?. Jahil, merupakan salah satu tokoh Mu’tazilah. Ia memiliki hobi yang unik. Mungkin, belum ada yang memiliki hobi seperti ia sampai detik ini. Ia senang menyewa toko buku, tidak boleh ada yang masuk ke dalamnya selain ia. Selama itu ia membaca seluruh buku yang ada. Mungkin kalo di Indonesia ia akan menyewa toko buku Gramedia untuk "melahap" seluruh buku-bukunya untuk dibaca. Berasa kecil ya kawan, ga ada apa-apanya. Ia membutuhkan privasi.

Mengapa ia meninggal dunia? Ia meninggal dunia karena kejatuhan buku. Di kamarnya buku ber rak-rak, bertingkat-tingkat. Kita tahu, buku zaman dahulu lebih berat dibanding dengan buku sekarang. Kemudian ia sakit keras, ia mengambil sebuah buku, namun buku terjatuh, dan menimpanya semuanya, dan akhirnya ia meninggal dunia. Jahil, tersesat Mu’tazilah. Mereka cerdas, namun tidak diberi kesucian hati.. nasihat lagi ya.. :( 

Ibnu Abi Hamza berharap, ada seorang ulama yang mendedikasikan waktunya untuk mendirikan majlis ilmu, dan setiap mengisi kajian, ia isi dengan tema ikhlas. Ibaratnya, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at sampai Minggu tentang ikhlas! Karena inilah bahaya umat Islam, kita butuh materi keikhlasan. Jangankan kita, Imam besar Daruquthni, imam besar ilmu hadits, bagaimana ia awal thalabul ilmi, tidak ikhlas, awal kita terpaksa, diajak teman, tidak enak dengan panitianya, kebetulan mampir disebuah masjid, lagi bentrok dirumah lalu mencari perenungan, lalu kajian. Tidak ikhlas dalam menuntut ilmu agama. Namun ilmu itu dikaji dan dikaji, dan akhirnya mengantarkan ia pada keikhlasan untuk Allah. Itu Imam besar Daruquthni. Sehingga ulama tidak ada yang meng klaim bahwa dirinya ikhlas.

Imam Ahmad bin Hambal, penulis kitab Musnad, berjilid-jilid beliau bisa tuliskan dalam kitab tersebut. Orang yang sudah pernah disiksa, karena membela sebuah ideologi tentang Al-Qur’an. Beliau merupakan salah satu murid terbaik Imam Syafi’i, “Engkau lebih tahu hadits dibanding saya,” Allahu Akbar, Imam Syafi’i mengatakan demikian kepada Imam Ahmad..

Suatu ketika Imam Ahmad pernah ditanya oleh Imam Syafi’i, “Wahai Imam Ahmad, engkau melakukan ini, engkau melakukan itu, engkau mengajar disini, engkau mengajar disina ikhlas atau tidak?

Kalau pertanyaan itu diarahkan kepada kita, apakah jawabannya? “Tadi kita datang kajian ikhlas tidak?”

Waah ikhlas dong, lihat penampilan saya, lihat jenggot saya, masa’ ga ikhlas?” apakah itu yang akan kita katakan?

Imam Ahmad mengatakan, “Adapun ikhlas itu adalah perkara yang sangat berat, adapun saya hanya berusaha sekuat tenaga.” Allahu Akbar.. mereka tidak berani meng klaim dirinya ikhlas. Imam Ahmad bin Hambal..

Sekarang, kata-kata ikhlas sangat murah, semua meng klaim ikhlas, bahkan maksiat pun meng klaim ikhlas, misal perkara suap-menyuap, “Ini ikhlas ga nih?”; “Oh, ikhlas Pak, Ikhlas..” suap itu dalam keadaan kepepet, terdesak, tidak ada jalan lain..

Imam Sushi (semoga benar ejaannya) pernah mengatakan, barangsiapa meng klaim ibadahnya ikhlas, maka rasanya ikhlas itu perlu direvisi kembali. Mereka tidak gila pujian. Para ulama kita tidak gila gelar. Semoga Allah selalu membantu, Aamiin..

Semoga bermanfaat..

(Sumber: Kajian Ust.Nuzul)

Minggu, 18 Desember 2016

Tabuk dan Sahabat



Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Beberapa waktu lalu saya sempat membaca tentang Al-Rajhi Bank di Saudi Arabia. Tahukah anda? Al-Rajhi merupakan bank Islam terbesar di dunia yang benar-benar bebas dari sistem ribawi. Sempat merasa takjub dan bangga lho kawan hehe..

Namun, anda perlu tahu juga, ternyata dibalik “raksasa”nya Al-Rajhi Bank ada seseorang yang menurut saya patut “diacungi jempol” Siapakah dia? Taraaa.. Beliau adalah Sulaiman Al-Rajhi, Ia pernah dikisahkan telah memiskinkan dirinya dengan menyerahkan semua kekayaan pada ahli waris dan program-program wakaf. Kisahnya yang membalas berkali-kali lipat kebaikan gurunya waktu kecil, sangat menginspirasi kaum muslimin di dunia.

Ia tidak meletakkan kekayaan di hatinya. Di masa tuanya kini ia telah membagi sekitar 6,7 trilyun hartanya kepada ahli waris dan kerabatnya serta fakir miskin hingga diibaratkan hanya memilih pakaian yang melekat di badan dan asset bisnis yang dikelola para professional yang hasilnya untuk amal sosial dakwah. Ia menegaskan telah lahir tanpa membawa apa-apa dan siap tidak tergantung pada harta sebelum meninggal dunia.

Yang itu ada di zaman sekarang kawan, nah mari kita sedikit bernostalgia dengan orang yang “Tak akan terganti” untuk kejayaan Islam di masa lampau. Mari kita simak kesungguhan hati para sahabat Rasulullah yang merelakan seluruh yang ia miliki untuk Islam, ya.. untuk Islam..

Tahukan anda tentang perang Tabuk? Pernah denger sii mbaak hehe..
Tabuk adalah suatu wilayah yang terletak sekitar 1000 km dari kota Madinah.. Jauh yaa.. Kalo di Indonesia mungkin dari Anyer sampai Panarukan kali yaa hehe..

Ketika perang Tabuk, Islam sangat membutuhkan infaq untuk bekal peperangan. Memang generasi disekeliling Rasulullah tidak diragukan lagi keimanan mereka. Kita lihat kesungguhan mereka untuk menyumbangkan apa yang mereka miliki. Semoga kita dapat meneladaninya.. Aamiin..

Muhammad bin Maslamah (semoga bener ejaannya), beliau menyumbangkan 200 uqiyah perak (Ust.Khalid Basalamah)
1 uqiyah perak = 119 gram perak x 200 uqiyah = 23.800 gram perak.
Kalau dikonversikan, begini kawan..
5 uqiyah perak = 595 gram perak (nisab zakat)
5 uqiyah perak = 85 gram emas
200 uqiyah perak = kira-kira 3400 gram emas x est. Rp.500.000,- = Rp 1,7 M weeewww :)

Ashim bin Adi, beliau menyumbangkan 90 wasaq kurma (Ust.Khalid Basalamah)
1 wasaq = 60 sha’
1 sha’= 4 mud (kira-kira 3 kg) ---> (sumber Rumaysho)
1 mud = 2 telapak tangan penuh dari pria sedang
Jadi, 60 sha’x 3 kg x 90 wasaq kurma = 16.200 kg x (est.kurma @kg Rp.30.000) = Rp  486 jutaa weeewww :)

Ibu-ibu juga tidak mau kalah, Ummu Sinan (semoga bener ejaannya) melihat selembar kain dibentangkan di rumah Aisyah Radhiyallahu’anha berisi gelang kaki, gelang bahu, anting, cincin, dll, untuk persiapan jihad ketika perang Tabuk. Perang Tabuk merupakan perang yang membutuhkan bekal yang besar karena jarak yang jauh dan terik, partisipan yang cukup besar approximately 30.000 pasukan woooww. Tolok ukur bukan jumlah ratusan atau miliar yang di sumbangkan, namun lebih kepada upaya yang dikeluarkan.

Abu Aqil, ia tidak memiliki pekerjaan tetap atau kebun. Kemudian ia pergi ke rumah muslimin untuk mengisi tandon air mereka yang kosong. Ia bekerja semalam suntuk, kemudian dibayar 2 sha’ kurma. 1 sha’ ia sumbangkan untuk jihad di jalan Allah, 1 sha’ untuk keluarganya. Maa syaa Allah :)

Utsman bin Affan melihat orang-orang berinfaq, kemudian ia menyumbangkan 1000 dinar di kantongnya. (Ust.Khalid Basalamah)
1 dinar = 4,25 gram emas
4,25 gram emas x 1000 dinar x est.emas@gram Rp 500 ribu = Rp 2,125 M

Kemudian, bekal masih kurang juga untuk persiapan perang Tabuk ini. Lalu Rasulullah menanyakan siapakah yang ingin berinfaq lagi? Utsman bin Affan kemudian menyerahkan 10.000 dinar (approximately 21 M). Rasulullah seperti tidak percayaa :(

Kemudian, bekal masih kurang juga untuk persiapan perang Tabuk ini. Lalu Utsman bin Affan menyerahkan 700 uqiyah emas. 1 uqiyah emas = 17 gram emas. Berarti, 17 gram emas x 700 uqiyah x est.Rp 500 ribu = Rp 5,950 M :( terharu saya..

Kemudian, bekal masih kurang juga untuk persiapan perang Tabuk ini. Lalu Utsman bin Affan menyerahkan 940 kuda, disempurnakan dengan 60 unta. Ada yang meriwayatkan sebaliknya (940 unta, dan disempurnakan 60 kuda) ---> Ust.Khalid Basalamah

Kuda yang digunakan pada masa lampau mungkin jika itu adalah kuda yang sekarang, merupakan kuda yang sudah terlatih handal (estimasi 1 M/ekor kuda). Unta yang digunakan pada masa lampau pun juga bukan unta sembarangan, namun juga sudah terlatih (estimasi 10 ribu-15 ribu real atau kalo di rupiahkan sekitar 40-50 juta/ekor unta) :( Speechless

Speechless, ketika Utsman mengatakan ia sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Rasulullah bersabda, Wahai Utsman, semoga Allah mengampunimu yang engkau sembunyikan dan engkau tampakkan. Kiamat tidak akan membahayakanmu.. (Aamiin.. :) )
Mereka semua memang tak akan terganti..

Tulisan diatas tidak bermaksud untuk mengungkit infaq para sahabat Rasulullah kawan, namun tulisan ini semata untuk menambah rasa cinta pada Allah, Islam, Rasulullah, dan para sahabat-sahabatnya. Semoga ridho Allah selalu menyertai mereka. Serta tak lupa, tulisan ini juga untuk menambah semangat untuk giat mencari rizki yang halal dan berkah, untuk ummat dan dakwah Islam, tentunya tidak meninggalkan ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Kalau bukan kita, siapa lagi kawan? Sermoga bermanfaat :)



Laa Taiasuu..


Laa Taiasuu..

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

“Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.”

(TQS.Yuusuf: 87)

Ada seorang yang melakukan maksiat, tapi disaat yang sama dia juga berusaha menta’ati Allah, beribadah mencari ilmu, tapi orang ini berputus asa karena belum bisa meninggalkan maksiatnya. Sedangkan setiap saat selalu berdo’a, adakah salafush sholeh yang bisa menjadi ibrah atas kejadian ini.

Beribadah pada Allah, ketika beribadah kita harus memiliki roja’ (harapan), bahwasanya kita tidak boleh putus asa dari rahmatnya Allah setiap waktunya.

Ada salah satu sahabat yang memiliki sifat semacam ini. Siapa yang bisa menyebutkan? Siapa sahabat yang taubat-balik lagi-taubat-balik lagi? Tapi akhirnya taubat. Ia adalah Abu Mihjan. Abu Mihjan itu kesukaannya apa? Minum khamr..
Minum khamr, dicambuk, minum khamr, dicambuk, minum khamr lagi, dicambuk..

Anda tahu sampai kapankah ia bertaubat?
Yaitu ketika dia, selain minum khamr, kecintaannya kepada jihad itu luar biasa, sampai ke ubun-ubun.. Itulah Maa syaa Allah nya yaa.. Ia seorang (maaf) preman, tapi ia preman yang suka berjihad. Jika kita bandingkan di zaman sekarang, orang berilmu belum tentu suka berjihad.

Minum khamr merupakan dosa besar. Ia minum khamr, dicambuk, minum khamr, dicambuk, minum khamr dicambuk, lalu sampai ketika ada pasukan peperangan yang kemudian sedang berjihad, sengaja dibawalah Abu Mihjan, kemudian ditali lah dia. Lalu terjadilah peperangan yang terdengar dengan telinganya. Dia tidak bisa ikut berperang. Kenapa?

Dia adalah peminum khamr. Peminum khamr dilarang untuk ikut, karena apa? Justru akan melambatkan kemenangan, karena orang yang berdosa justru akan membantu musuh. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran, jika kita ingin dimenangkan oleh Allah, minimal jangan membantu musuh dengan kemaksiatan dari dosa yang kita kerjakan. Itu akan menjadikan terlambatnya kemenangan datang kepada kaum muslimin.

Maka Abu Mihjan ketika saat itu mendengar suara peperangan yang luar biasa, dan dia terikat pada sebuah kayu, ia menangis.. :( Dia berkata, “Maa syaa Allah.. Gara-gara minuman laknat saya tidak bisa ikut berjihad untuk membela kalimat Allah.” hanya mendengar suaranya (peperangan) saja.

Ada salah satu isteri komandan yang hadir di saat itu. Akhirnya dia iba melihat Abu Mihjan yang menangis. Dilepaskan dengan syarat, “Nanti sebelum perang selesai balik lagi ya, ikat lagi tanganmu.” Abu Mihjan mengiyakan, In syaa Allah..

Abu Mihjan berperang, sampai kemudian dia menutupi wajahnya supaya tidak terlihat bahwasanya dia adalah Abu Mihjan. Perang dengan luar biasa, sampai komandannya berkata, “Kalaulah bukan Abu Mihjan yang sedang aku ikat di belakang, pasti ini adalah Abu Mihjan.” Padahal itu adalah benar Abu Mihjan. Sudah banyak orang-orang yang tertebas dan kemudian dia kembali lagi..

Maa syaa Allah, disitu kita melihat, jangan pernah berputus asa. Abu Mihjan itu taubat, minum lagi, taubat, minum lagi, taubat, minum lagi, taubat, minum lagi, tapi akhirnya taubat. Itulah yang menjadikan kita tidak berputus asa. Karena apa? Sebanyak apapun dosa yang menggunung tinggi, walaupun menyentuh pintu langit, tapi ketika kita bertaubat dan menyesal, maka Allah akan menerimanya. In syaa Allah..

Allah mencari manusia bukan hanya yang banyak shalatnya, tetapi Allah juga mencari manusia yang mereka itu melakukan dosa tetapi mereka kembali kepada Allah dengan menyesali dosanya..

Perhatikan, ketika Allah memerintahkan untuk shalat, Allah tidak mengatakan “bergegas.” Allah ketika memerintahkan untuk berpuasa, Allah tidak mengatakan “bergegas”. Allah ketika memerintahkan kita untuk bersedekah, tidak mengatakan “bergegas.” Tapi ketika Allah memerintahkan kita untuk bertaubat, Allah mengatakan apa? “Bergegaslah kamu..”

Maka tahulah kita, panah apa yang paling disenangi iblis? Bukan panah zina. Panah yang paling disenangi iblis bukan panah khamr. Panah yang disenangi iblis bukan panah membunuh. Tapi panah yang paing disenangi iblis adalah panah Taswif.

Apa itu panah Taswif? Yaitu, orang itu melambatkan taubat, dan selalu berkata, “Besok taubatnya kalau sudah punya anak satu”, “Besok kalau sudah pensiun”, “Besok taubatnya kalau sudah tidak punya uang.”

Tumben, tidak minum?”, “Iya, lagi bokek.” Nah itu bukan taubat. Itu namanya Taswif. Inilah yang menjadikan kita harus yakin kepada apa yang telah dijanjikan Allah Subhanahuwata’ala..

Sumber: Lampu Islam

Semoga bermanfaat..

Senin, 10 Oktober 2016

Tunggulah Kedudukan Itu

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

“Jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain sampai engkau mengetahui kedudukanmu di akhirat.”
--------------------------------
“Hai orang-orang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah, dan barangsiapa berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”
(QS.Al-Munafiqun:9)

Manusia berasal dari tanah, namun terkadang memiliki sifat langit. Tinggi, tak terjangkau. Godaan dapat timbul dari arah manapun.

Anda pernah bertemu dengan seorang tua, dengan peluh, kotor, mengayuh becak tuanya? Atau seorang “kuli” pasar tua dengan menggendong berpuluh kilo bahkan berkuintal barang dagangan para saudagar?

Pernahkah anda bertemu dengan seorang tua pengangkut sampah, mendorong gerobaknya, dengan aroma yang hidung saja “enggan” bertahan lama?

Ada lagi seorang bapak yang berkendara dengan sepedanya, dengan menggendong bekal perkakas tukang, penuh semangat, membawa sebungkus plastik putih di pengemudi depan sepeda berisi makanan dengan raut muka lelahnya?

Satu lagi pernahkah anda melihat seorang nenek tua, berjualan kacang, namun ternyata Ia sepi pengunjung. Ia menahan dirinya untuk meminta-minta, dan mengisi sela-sela waktunya dengan alunan Al-Qur’an?

Apa yang kan kita pikir? Mereka menjijikkan? Mereka kotor? Mereka tak berpendidikan? Mereka tak berharta, mereka ini.. mereka itu..?

Baik, mari sejenak kita berpikir.. terkadang mata manusia memang hanya melihat secara objektif kala itu. Memang benar, namun siapa yang menyangka kedudukan mereka akan jauh lebih tinggi dan mulia dibandingkan kita? Mereka bisa saja lebih mudah bersabar dibanding kita, lebih mudah mensyukuri sebutir nasi yang mereka dapatkan, lebih menghargai setiap rupiah yang mereka usahakan?

Bandingkan dengan kita..

Manusia akan diuji dengan beragam cobaan.. Perhatikan hikmah QS.Al-Kahfi. Manusia akan diuji dengan beberapa arah..

Pertama, manusia akan diuji dengan keyakinannya (iman), seberapa kuat dan tahannya ia pada Allah, sebagaimana kuatnya keyakinan para pemuda Ashabul Kahfi yang berpasrah dari kejaran raja yang dzalim kala itu.. Disini akan kita ambil hikmah, akan timbul titik remeh manusia satu kepada manusia yang lainnya. Mereka akan beranggapan imannya lebih sempurna dari yang lainnya, tak sadar ia terjangkiti virus takabbur. Iman kita belum tentu menjamin kemuliaan kita di hadapan Allah. Hayati betul sudah benar atau belum? Ini sangatlah sulit, sangat sulit..

Kedua, manusia akan diuji dengan hartanya, sebagaimana kisah pemilik kebun yang kafir dan sombong. Ia menafikkan karunia Tuhannya. Kemudian Allah membinasakan hartanya. Kita terlalu takabbur, rizki yang sudah ada didepan kita sudah pasti menjadi milik kita, kata siapa? Jikalau Allah tak menghendaki kita mau apa? Pernahkah anda makan, suapan sudah sampai tepat di depan mulut kita, lalu terjatuh.. Itulah rizki yang belum ditakdirkan menjadi rizki kita. Kuasa Allah jauh diatas segalanya. Sadarlah hal itu.. Kekayaan tak menjamin kemulian wajah kita di hadapan Allah..

Ketiga, manusia akan diuji dengan ilmunya, sebagaimana kisah Nabi Musa yang tidak bersabar atas hikmah yang akan diajarkan Allah melalui Nabi Khidr. Nabi Khidr melubangi perahu, membunuh seseorang, kemudian membetulkan dinding yang roboh. Tahukah apa hikmahnya? Ketika nabi Khidr melubangi perahu, ia telah mengetahui bahwa akan ada perampok yang akan merampas harta. Kedua, Nabi Khidr membunuh seseorang? Tahukah apa hikmahnya? Ketika Nabi Khidr membunuh seseorang itu dikarenakan ia adalah seorang kafir, dan Nabi Khidr khawatir pemuda tersebut akan memaksa orang tuanya untuk murtad. Nabi Khidr menginginkan Allah akan menggantinya dengan anak yang sholeh. Terakhir, Nabi Khidr membetulkan dinding yang roboh, apa hikmahnya? Di dalam bangunan yang roboh itu tinggallah anak yang ditinggal mati orang tuanya, dan Allah menginginkan anak tersebut  mengeluarkan harta yang tersimpan yang ditinggalkan oleh orang tuanya kelak jika mereka dewasa. Disini kita petik hikmah pengetahuan juga dapat membinasakan jika kita meninggi, takabbur. Kebanyakan manusia tertipu dengan ilmunya, apa yang mereka ketahui adalah lebih sedikit dibandingkan apa yang mereka tidak tahu. Ilmu Allah sangat luas. Jangan sampai jenjang pendidikan kita memang tinggi, S1, S2, bahkan S3 tapi menutup diri kepada tanda kekuasaan Allah. Ilmu (dunia) tak akan menjamin kemuliaan wajah kita di hadapan Allah jika penggunaannya salah.

Keempat, manusia akan diuji dengan kedudukannya. Didalam QS.Al-Kahfi disebutkan bahwa Raja Zulkarnain menggunakan kekuasaannya untuk melindungi penduduk dari serangan Ya’juj dan Ma’juj, ia membuat pagar pembatas diantara bukit. Raja Zulkarnain mempergunakan kekuasaannya di jalan Allah. Ingatkah kisah Fir’aun, ia beranggapan berkuasa atas manusia, bisa mematikan dan menghidupkan. Ia tidak menggunakan tampuk kekuasaannya di jalan Allah.

“Jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain sampai engkau mengetahui kedudukanmu di akhirat.”

Sebanyak apapun hartamu, setinggi apapun ilmumu, dan seluas apapun kekuasaanmu

It’s so difficult, but we must try..

“Whoever turns away from the remembrance of the Most Merciful, We will appoint for him a devil as his companion”


(QS.[43]:36)

Jumat, 19 Agustus 2016

Orang Hebat yang Dibabat

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Beberapa waktu terakhir ini situasi politik di Indonesia tengah goyah. Bagaimana tidak? Negara kita sedang dilanda ketidakpastian, khusus yang baru-baru ini adalah resuffle cabinet. Tahukah anda? Archandra Tahar, beliau adalah Menteri ESDM yang baru dilantik, serta periode kementriannya hanya berumur 20 hari.  Sosok yang lurus agamanya, jenius luar biasa, akuntabel, strict, tak berpihak pada mafia. Pengalamannya sudah melalang buana, lulusan ITB, seorang peneliti offshore, dan terakhir beliau sempat menjabat sebagai presdir perusahaan besar di Amerika, yaitu Petroneering. Sayangnya, orang hebat ini malah dibabat di negaranya sendiri.

Archandra diibaratkan seperti kertas putih, ditengahnya ada titik kecil noda hitam. Kecil, kecil sekali. Namun itu yang saya rasa tepat untuk menggambarkan sosok beliau. Kecewa rasanya, bagaimana tidak, manusia selalu menilai seseorang dari titik kecil itu, tak “mau tahu” multiple effectnya nantinya. Bagaimana tidak, sosok yang lurus agamanya, menjadi guru ngaji di lingkungannya tinggal, jenius luar biasa, disia-siakan, sedangkan bangsa lain malah berharap kontribusi “otak jeniusnya” Inilah yang Islam butuhkan, sosok seperti ini yang akan menjadikan Islam bangkit. Shidiq, Amanah, Tabligh, apalagi Fathonah nya.. tak diragukan komplitnya hehe..

Indonesia sedang membutuhkan public figure yang lurus agamanya, cemerlang otaknya. Maaf sedikit menyentak, karena penekanan yang dirasa sangat. Indonesia sedang krisis energi, mirisnya sekarang baru mempermasalahkan dwikenegaraan yang melilit Archandra. Sangat disayangkan, mengapa tidak dikaji lebih mendalam sebelum pemilihan dan pelantikannya menjadi Menteri ESDM. Menurut saya masalah itu terkesan tidak adil, Indonesia seolah mempermasalahkan masalah yang sepele (dwikenegaraan) karena Archandra memiliki paspor Amerika Serikat. Tidak sebanding dengan problem solving yang ditawarkan nantinya. Juga, kita nalar saja, seorang yang gajinya sudah kisaran miliaran per bulan, RELA untuk pulang ke Indonesia, yang gaji seorang menteri itu hanya bekisar 40 juta saja. Miris kan kawan? Itulah nasionalisme..

Archandra sosok Idaman. Penuh manuver-manuver jitu. Sangat cocok untuk Indonesia. Beliau menggunakan masa singkatnya menjadi seorang mentri ESDM dengan cukup baik.

Beliau memasukkan agenda revisi UU Migas, sehingga inefisiensi alur perizinan dan bisnis investasi energi dapat dipangkas. Disini mafia pemalak investor energi tidak bisa berkutik lagi.

Beliau memasukkan revisi PP 79/2010. Targetnya, akan berkurang pajak untuk bisnis migas, sehingga investor terpacu berbisnis sektor migas. Jadi, walau pajak menurun, profit share bagi pemerintah meningkat, target produksi yang masuk dalam indicator APBN juga bisa ditingkatkan.

Setelah dilantik, beliau membentuk taskforce blok gas LNG Masela di lepas pantai laut Arafura, Maluku. Hasil revisi PoD (Plan of Development) versi beliau, bisa efisiensi investasi pembangunan blok Masela di darat (onshore) dari sebelumnya bekisar USD 19,3 miliar (253,5 Triliun) menjadi bekisar USD 15 miliar (197 triliun), berarti Indonesia melakukan penghematan sebesar 56,5 Triliun.. sangat signifikan bukan?

Taskforce yang dibentuk memotong banyak negosiasi dan inefisiensi waktu , sehingga PoD dapat dihasilkan tepat waktu, yang berujung percepatan waktu proyek Masela. Hal ini juga memangkas banyak sekali mafia pemalak investor yang menjanjikan kemudahan approval pada tiap tahapan.
Sebagai seorang presdir Petroneering yang terbiasa memperhatikan manpower, accountability, dan business process, ia menemukan indikasi inefisiensi dan penyimpangan di sektor energi.

Ketika Archandra diwawancara oleh wartawan, beliau menuturkan, “Kami mau pencegahan ke depan di kementrian kami dilakukan sejak awal agar lebih baik menangani sektor ini, terutama soal transparansi.”

Aksi “bersih-bersih” beliau ini amat cemerlang. Mafia-mafia itu seperti dijemur di bawah sinar matahari dengan jarak satu hasta. Kepanasan.. Hehe bercanda, biar ndak stress ya kawan.. mafia bingung bagaimana nasibnya nanti..

Bergulirlah dengan kencang masalah dwikenegaraan ini. Kita do’akan semoga Indonesia berhasil membentuk negeri baldatun thayyibatunnya.. pemimpin yang adil, zakatnya orang kaya, do’anya kaum dhuafa, serta do’anya para ulama’.. serta semoga orang-orang hebat (khususnya lurus agamanya) tidak dibabat lagi seperti beliau dan ilmunya dapat bermanfaat bagi kemaslahatan umat Islam.. Aamiin.. Semoga bermanfaat..
(dari berbagai sumber)