Kamis, 19 Januari 2017

Cerdas yang Kandas


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Menghadirkan niat itu sangat sukar. Ini dibuktikan karena tidak semua orang cerdas, yang memiliki wawasan ilmu agama, bahkan tidak semua murid-murid para ulama, memiliki niat yang ikhlas. Salah satu contoh adalah Mu’tazilah. Apa kata para ulama’ tentang Mu’tazilah?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah mengatakan, Mu’tazilah, mereka diberi kecerdasan oleh Allah, tapi mereka tidak diberi kesucian hati, keikhlasan hati. Siapa yang tidak tahu kecerdasan Washil bin Atho’? Ia adalah seorang yang cerdas, murid dari Hasan Al-Bashri. Tapi ia tergelincir. Mengapa tergelincir? Ia tidak ikhlas.. ujub, sombong dengan kecerdasan yang mereka miliki (semoga menjadi nasihat untuk kita juga).

Kalau berbicara tentang kecerdasan, Washil bin Atho’ adalah seorang yang cerdas. Cerdas luar biasa..
Salah satu kisah yang mengisahkan tentang kecerdasannya, Washil bin Atho’ adalah seorang yang cadel. Berarti ia tidak bisa mengucapkan huruf Ra. Suatu ketika ada sebuah event yang membuat manusia berkumpul. Lalu dalam event tersebut, teman-teman Washil bin Atho’ ingin mempermalukan dirinya, ingin menjadikannya bahan tertawaan, bahan olok-olok. Ia didaulat secara spontanitas untuk berkhutbah pada event tersebut. Tanpa persiapan, tanpa oret-oretan, tanpa referensi. Agar apa? Agar manusia tahu kekurangan Washil bin Atho’, agar manusia tahu bahwa ia tidak bisa mengucapkan huruf Ra, dan mereka akan menertawakan Washil bin Atho’.

Coba anda bayangkan, anda shalat Jum’at, duduk di shaf pertama untuk mengerjakan shalat Jum’at, kira-kira jam 12.05 khatib  tidak datang. Karena anda yang duduk di shaf pertama, maka anda didaulat oleh semua jam’ah bahwa anda yang harus jadi khatib. Kira-kira bagaimana perasaan anda? Tidak ada persiapan, tidak ada contekan, tidak ada referensi, spontanitas. Itu mungkin mimbar bergetar, semua hafalan hilang, ketika kita berbicara terbata-bata, kira-kira itulah perasaan Washil bin Atho’.

Tapi mau tidak mau, karena ditunjuk oleh seluruh orang yang berada di sekitar itu, akhirnya dia berkhutbah, berpidato, dengan pidato yang akan dikenang oleh para ulama sampai detik ini, karena itu adalah salah satu pidato paling mengagumkan di dunia. Pidato itu tidak ada satupun huruf Ra! Seluruh huruf Ra yang akan dia ucapkan ia ganti dengan sinonim yang tidak menggunakan huruf Ra nya! Oleh karena itu, pidato tersebut, dari A-Z tidak ada satupun huruf Ra. Bisakah kita berpidato tidak dengan huruf R (Ra)? Washil bin Atho’ bisa membuat pidato seperti itu dengan tidak ada persiapan apapun, secara spontanitas. Semua kata dalam bahasa arab yang ada huruf Ra nya, ia ganti dengan spontan dengan sinonimnya yang tidak ada huruf Ra.

Ia menjadi buah bibir pada saat itu. Coba bayangkan, misalkan anda diberi waktu dua minggu, tolong buatkan khutbah tanpa menggunakan huruf R bisa tidak? Baru pembukaannya mungkin kita sudah gagal. “Bismillaahirrahmaanirrahiim..” dengan rahmat (R), karunia (R), susah untuk membuat pidato tanpa huruf R. Tapi Washil bin Atho' bisa membuatnya, tanpa ada persiapan. Cerdasnya luar biasa. Itulah Washil bin Atho’, namun tersesat. Ia cerdas namun tidak memiliki keikhlasan hati. Inti dari menuntut ilmu bukan kecerdasan, namun keikhlasan.

Al-Jahil, kurang semangat apa ia belajar, kurang kutu buku apa ia belajar?. Jahil, merupakan salah satu tokoh Mu’tazilah. Ia memiliki hobi yang unik. Mungkin, belum ada yang memiliki hobi seperti ia sampai detik ini. Ia senang menyewa toko buku, tidak boleh ada yang masuk ke dalamnya selain ia. Selama itu ia membaca seluruh buku yang ada. Mungkin kalo di Indonesia ia akan menyewa toko buku Gramedia untuk "melahap" seluruh buku-bukunya untuk dibaca. Berasa kecil ya kawan, ga ada apa-apanya. Ia membutuhkan privasi.

Mengapa ia meninggal dunia? Ia meninggal dunia karena kejatuhan buku. Di kamarnya buku ber rak-rak, bertingkat-tingkat. Kita tahu, buku zaman dahulu lebih berat dibanding dengan buku sekarang. Kemudian ia sakit keras, ia mengambil sebuah buku, namun buku terjatuh, dan menimpanya semuanya, dan akhirnya ia meninggal dunia. Jahil, tersesat Mu’tazilah. Mereka cerdas, namun tidak diberi kesucian hati.. nasihat lagi ya.. :( 

Ibnu Abi Hamza berharap, ada seorang ulama yang mendedikasikan waktunya untuk mendirikan majlis ilmu, dan setiap mengisi kajian, ia isi dengan tema ikhlas. Ibaratnya, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at sampai Minggu tentang ikhlas! Karena inilah bahaya umat Islam, kita butuh materi keikhlasan. Jangankan kita, Imam besar Daruquthni, imam besar ilmu hadits, bagaimana ia awal thalabul ilmi, tidak ikhlas, awal kita terpaksa, diajak teman, tidak enak dengan panitianya, kebetulan mampir disebuah masjid, lagi bentrok dirumah lalu mencari perenungan, lalu kajian. Tidak ikhlas dalam menuntut ilmu agama. Namun ilmu itu dikaji dan dikaji, dan akhirnya mengantarkan ia pada keikhlasan untuk Allah. Itu Imam besar Daruquthni. Sehingga ulama tidak ada yang meng klaim bahwa dirinya ikhlas.

Imam Ahmad bin Hambal, penulis kitab Musnad, berjilid-jilid beliau bisa tuliskan dalam kitab tersebut. Orang yang sudah pernah disiksa, karena membela sebuah ideologi tentang Al-Qur’an. Beliau merupakan salah satu murid terbaik Imam Syafi’i, “Engkau lebih tahu hadits dibanding saya,” Allahu Akbar, Imam Syafi’i mengatakan demikian kepada Imam Ahmad..

Suatu ketika Imam Ahmad pernah ditanya oleh Imam Syafi’i, “Wahai Imam Ahmad, engkau melakukan ini, engkau melakukan itu, engkau mengajar disini, engkau mengajar disina ikhlas atau tidak?

Kalau pertanyaan itu diarahkan kepada kita, apakah jawabannya? “Tadi kita datang kajian ikhlas tidak?”

Waah ikhlas dong, lihat penampilan saya, lihat jenggot saya, masa’ ga ikhlas?” apakah itu yang akan kita katakan?

Imam Ahmad mengatakan, “Adapun ikhlas itu adalah perkara yang sangat berat, adapun saya hanya berusaha sekuat tenaga.” Allahu Akbar.. mereka tidak berani meng klaim dirinya ikhlas. Imam Ahmad bin Hambal..

Sekarang, kata-kata ikhlas sangat murah, semua meng klaim ikhlas, bahkan maksiat pun meng klaim ikhlas, misal perkara suap-menyuap, “Ini ikhlas ga nih?”; “Oh, ikhlas Pak, Ikhlas..” suap itu dalam keadaan kepepet, terdesak, tidak ada jalan lain..

Imam Sushi (semoga benar ejaannya) pernah mengatakan, barangsiapa meng klaim ibadahnya ikhlas, maka rasanya ikhlas itu perlu direvisi kembali. Mereka tidak gila pujian. Para ulama kita tidak gila gelar. Semoga Allah selalu membantu, Aamiin..

Semoga bermanfaat..

(Sumber: Kajian Ust.Nuzul)

Minggu, 18 Desember 2016

Tabuk dan Sahabat



Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Beberapa waktu lalu saya sempat membaca tentang Al-Rajhi Bank di Saudi Arabia. Tahukah anda? Al-Rajhi merupakan bank Islam terbesar di dunia yang benar-benar bebas dari sistem ribawi. Sempat merasa takjub dan bangga lho kawan hehe..

Namun, anda perlu tahu juga, ternyata dibalik “raksasa”nya Al-Rajhi Bank ada seseorang yang menurut saya patut “diacungi jempol” Siapakah dia? Taraaa.. Beliau adalah Sulaiman Al-Rajhi, Ia pernah dikisahkan telah memiskinkan dirinya dengan menyerahkan semua kekayaan pada ahli waris dan program-program wakaf. Kisahnya yang membalas berkali-kali lipat kebaikan gurunya waktu kecil, sangat menginspirasi kaum muslimin di dunia.

Ia tidak meletakkan kekayaan di hatinya. Di masa tuanya kini ia telah membagi sekitar 6,7 trilyun hartanya kepada ahli waris dan kerabatnya serta fakir miskin hingga diibaratkan hanya memilih pakaian yang melekat di badan dan asset bisnis yang dikelola para professional yang hasilnya untuk amal sosial dakwah. Ia menegaskan telah lahir tanpa membawa apa-apa dan siap tidak tergantung pada harta sebelum meninggal dunia.

Yang itu ada di zaman sekarang kawan, nah mari kita sedikit bernostalgia dengan orang yang “Tak akan terganti” untuk kejayaan Islam di masa lampau. Mari kita simak kesungguhan hati para sahabat Rasulullah yang merelakan seluruh yang ia miliki untuk Islam, ya.. untuk Islam..

Tahukan anda tentang perang Tabuk? Pernah denger sii mbaak hehe..
Tabuk adalah suatu wilayah yang terletak sekitar 1000 km dari kota Madinah.. Jauh yaa.. Kalo di Indonesia mungkin dari Anyer sampai Panarukan kali yaa hehe..

Ketika perang Tabuk, Islam sangat membutuhkan infaq untuk bekal peperangan. Memang generasi disekeliling Rasulullah tidak diragukan lagi keimanan mereka. Kita lihat kesungguhan mereka untuk menyumbangkan apa yang mereka miliki. Semoga kita dapat meneladaninya.. Aamiin..

Muhammad bin Maslamah (semoga bener ejaannya), beliau menyumbangkan 200 uqiyah perak (Ust.Khalid Basalamah)
1 uqiyah perak = 119 gram perak x 200 uqiyah = 23.800 gram perak.
Kalau dikonversikan, begini kawan..
5 uqiyah perak = 595 gram perak (nisab zakat)
5 uqiyah perak = 85 gram emas
200 uqiyah perak = kira-kira 3400 gram emas x est. Rp.500.000,- = Rp 1,7 M weeewww :)

Ashim bin Adi, beliau menyumbangkan 90 wasaq kurma (Ust.Khalid Basalamah)
1 wasaq = 60 sha’
1 sha’= 4 mud (kira-kira 3 kg) ---> (sumber Rumaysho)
1 mud = 2 telapak tangan penuh dari pria sedang
Jadi, 60 sha’x 3 kg x 90 wasaq kurma = 16.200 kg x (est.kurma @kg Rp.30.000) = Rp  486 jutaa weeewww :)

Ibu-ibu juga tidak mau kalah, Ummu Sinan (semoga bener ejaannya) melihat selembar kain dibentangkan di rumah Aisyah Radhiyallahu’anha berisi gelang kaki, gelang bahu, anting, cincin, dll, untuk persiapan jihad ketika perang Tabuk. Perang Tabuk merupakan perang yang membutuhkan bekal yang besar karena jarak yang jauh dan terik, partisipan yang cukup besar approximately 30.000 pasukan woooww. Tolok ukur bukan jumlah ratusan atau miliar yang di sumbangkan, namun lebih kepada upaya yang dikeluarkan.

Abu Aqil, ia tidak memiliki pekerjaan tetap atau kebun. Kemudian ia pergi ke rumah muslimin untuk mengisi tandon air mereka yang kosong. Ia bekerja semalam suntuk, kemudian dibayar 2 sha’ kurma. 1 sha’ ia sumbangkan untuk jihad di jalan Allah, 1 sha’ untuk keluarganya. Maa syaa Allah :)

Utsman bin Affan melihat orang-orang berinfaq, kemudian ia menyumbangkan 1000 dinar di kantongnya. (Ust.Khalid Basalamah)
1 dinar = 4,25 gram emas
4,25 gram emas x 1000 dinar x est.emas@gram Rp 500 ribu = Rp 2,125 M

Kemudian, bekal masih kurang juga untuk persiapan perang Tabuk ini. Lalu Rasulullah menanyakan siapakah yang ingin berinfaq lagi? Utsman bin Affan kemudian menyerahkan 10.000 dinar (approximately 21 M). Rasulullah seperti tidak percayaa :(

Kemudian, bekal masih kurang juga untuk persiapan perang Tabuk ini. Lalu Utsman bin Affan menyerahkan 700 uqiyah emas. 1 uqiyah emas = 17 gram emas. Berarti, 17 gram emas x 700 uqiyah x est.Rp 500 ribu = Rp 5,950 M :( terharu saya..

Kemudian, bekal masih kurang juga untuk persiapan perang Tabuk ini. Lalu Utsman bin Affan menyerahkan 940 kuda, disempurnakan dengan 60 unta. Ada yang meriwayatkan sebaliknya (940 unta, dan disempurnakan 60 kuda) ---> Ust.Khalid Basalamah

Kuda yang digunakan pada masa lampau mungkin jika itu adalah kuda yang sekarang, merupakan kuda yang sudah terlatih handal (estimasi 1 M/ekor kuda). Unta yang digunakan pada masa lampau pun juga bukan unta sembarangan, namun juga sudah terlatih (estimasi 10 ribu-15 ribu real atau kalo di rupiahkan sekitar 40-50 juta/ekor unta) :( Speechless

Speechless, ketika Utsman mengatakan ia sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Rasulullah bersabda, Wahai Utsman, semoga Allah mengampunimu yang engkau sembunyikan dan engkau tampakkan. Kiamat tidak akan membahayakanmu.. (Aamiin.. :) )
Mereka semua memang tak akan terganti..

Tulisan diatas tidak bermaksud untuk mengungkit infaq para sahabat Rasulullah kawan, namun tulisan ini semata untuk menambah rasa cinta pada Allah, Islam, Rasulullah, dan para sahabat-sahabatnya. Semoga ridho Allah selalu menyertai mereka. Serta tak lupa, tulisan ini juga untuk menambah semangat untuk giat mencari rizki yang halal dan berkah, untuk ummat dan dakwah Islam, tentunya tidak meninggalkan ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Kalau bukan kita, siapa lagi kawan? Sermoga bermanfaat :)



Laa Taiasuu..


Laa Taiasuu..

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

“Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.”

(TQS.Yuusuf: 87)

Ada seorang yang melakukan maksiat, tapi disaat yang sama dia juga berusaha menta’ati Allah, beribadah mencari ilmu, tapi orang ini berputus asa karena belum bisa meninggalkan maksiatnya. Sedangkan setiap saat selalu berdo’a, adakah salafush sholeh yang bisa menjadi ibrah atas kejadian ini.

Beribadah pada Allah, ketika beribadah kita harus memiliki roja’ (harapan), bahwasanya kita tidak boleh putus asa dari rahmatnya Allah setiap waktunya.

Ada salah satu sahabat yang memiliki sifat semacam ini. Siapa yang bisa menyebutkan? Siapa sahabat yang taubat-balik lagi-taubat-balik lagi? Tapi akhirnya taubat. Ia adalah Abu Mihjan. Abu Mihjan itu kesukaannya apa? Minum khamr..
Minum khamr, dicambuk, minum khamr, dicambuk, minum khamr lagi, dicambuk..

Anda tahu sampai kapankah ia bertaubat?
Yaitu ketika dia, selain minum khamr, kecintaannya kepada jihad itu luar biasa, sampai ke ubun-ubun.. Itulah Maa syaa Allah nya yaa.. Ia seorang (maaf) preman, tapi ia preman yang suka berjihad. Jika kita bandingkan di zaman sekarang, orang berilmu belum tentu suka berjihad.

Minum khamr merupakan dosa besar. Ia minum khamr, dicambuk, minum khamr, dicambuk, minum khamr dicambuk, lalu sampai ketika ada pasukan peperangan yang kemudian sedang berjihad, sengaja dibawalah Abu Mihjan, kemudian ditali lah dia. Lalu terjadilah peperangan yang terdengar dengan telinganya. Dia tidak bisa ikut berperang. Kenapa?

Dia adalah peminum khamr. Peminum khamr dilarang untuk ikut, karena apa? Justru akan melambatkan kemenangan, karena orang yang berdosa justru akan membantu musuh. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran, jika kita ingin dimenangkan oleh Allah, minimal jangan membantu musuh dengan kemaksiatan dari dosa yang kita kerjakan. Itu akan menjadikan terlambatnya kemenangan datang kepada kaum muslimin.

Maka Abu Mihjan ketika saat itu mendengar suara peperangan yang luar biasa, dan dia terikat pada sebuah kayu, ia menangis.. :( Dia berkata, “Maa syaa Allah.. Gara-gara minuman laknat saya tidak bisa ikut berjihad untuk membela kalimat Allah.” hanya mendengar suaranya (peperangan) saja.

Ada salah satu isteri komandan yang hadir di saat itu. Akhirnya dia iba melihat Abu Mihjan yang menangis. Dilepaskan dengan syarat, “Nanti sebelum perang selesai balik lagi ya, ikat lagi tanganmu.” Abu Mihjan mengiyakan, In syaa Allah..

Abu Mihjan berperang, sampai kemudian dia menutupi wajahnya supaya tidak terlihat bahwasanya dia adalah Abu Mihjan. Perang dengan luar biasa, sampai komandannya berkata, “Kalaulah bukan Abu Mihjan yang sedang aku ikat di belakang, pasti ini adalah Abu Mihjan.” Padahal itu adalah benar Abu Mihjan. Sudah banyak orang-orang yang tertebas dan kemudian dia kembali lagi..

Maa syaa Allah, disitu kita melihat, jangan pernah berputus asa. Abu Mihjan itu taubat, minum lagi, taubat, minum lagi, taubat, minum lagi, taubat, minum lagi, tapi akhirnya taubat. Itulah yang menjadikan kita tidak berputus asa. Karena apa? Sebanyak apapun dosa yang menggunung tinggi, walaupun menyentuh pintu langit, tapi ketika kita bertaubat dan menyesal, maka Allah akan menerimanya. In syaa Allah..

Allah mencari manusia bukan hanya yang banyak shalatnya, tetapi Allah juga mencari manusia yang mereka itu melakukan dosa tetapi mereka kembali kepada Allah dengan menyesali dosanya..

Perhatikan, ketika Allah memerintahkan untuk shalat, Allah tidak mengatakan “bergegas.” Allah ketika memerintahkan untuk berpuasa, Allah tidak mengatakan “bergegas”. Allah ketika memerintahkan kita untuk bersedekah, tidak mengatakan “bergegas.” Tapi ketika Allah memerintahkan kita untuk bertaubat, Allah mengatakan apa? “Bergegaslah kamu..”

Maka tahulah kita, panah apa yang paling disenangi iblis? Bukan panah zina. Panah yang paling disenangi iblis bukan panah khamr. Panah yang disenangi iblis bukan panah membunuh. Tapi panah yang paing disenangi iblis adalah panah Taswif.

Apa itu panah Taswif? Yaitu, orang itu melambatkan taubat, dan selalu berkata, “Besok taubatnya kalau sudah punya anak satu”, “Besok kalau sudah pensiun”, “Besok taubatnya kalau sudah tidak punya uang.”

Tumben, tidak minum?”, “Iya, lagi bokek.” Nah itu bukan taubat. Itu namanya Taswif. Inilah yang menjadikan kita harus yakin kepada apa yang telah dijanjikan Allah Subhanahuwata’ala..

Sumber: Lampu Islam

Semoga bermanfaat..

Senin, 10 Oktober 2016

Tunggulah Kedudukan Itu

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

“Jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain sampai engkau mengetahui kedudukanmu di akhirat.”
--------------------------------
“Hai orang-orang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah, dan barangsiapa berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”
(QS.Al-Munafiqun:9)

Manusia berasal dari tanah, namun terkadang memiliki sifat langit. Tinggi, tak terjangkau. Godaan dapat timbul dari arah manapun.

Anda pernah bertemu dengan seorang tua, dengan peluh, kotor, mengayuh becak tuanya? Atau seorang “kuli” pasar tua dengan menggendong berpuluh kilo bahkan berkuintal barang dagangan para saudagar?

Pernahkah anda bertemu dengan seorang tua pengangkut sampah, mendorong gerobaknya, dengan aroma yang hidung saja “enggan” bertahan lama?

Ada lagi seorang bapak yang berkendara dengan sepedanya, dengan menggendong bekal perkakas tukang, penuh semangat, membawa sebungkus plastik putih di pengemudi depan sepeda berisi makanan dengan raut muka lelahnya?

Satu lagi pernahkah anda melihat seorang nenek tua, berjualan kacang, namun ternyata Ia sepi pengunjung. Ia menahan dirinya untuk meminta-minta, dan mengisi sela-sela waktunya dengan alunan Al-Qur’an?

Apa yang kan kita pikir? Mereka menjijikkan? Mereka kotor? Mereka tak berpendidikan? Mereka tak berharta, mereka ini.. mereka itu..?

Baik, mari sejenak kita berpikir.. terkadang mata manusia memang hanya melihat secara objektif kala itu. Memang benar, namun siapa yang menyangka kedudukan mereka akan jauh lebih tinggi dan mulia dibandingkan kita? Mereka bisa saja lebih mudah bersabar dibanding kita, lebih mudah mensyukuri sebutir nasi yang mereka dapatkan, lebih menghargai setiap rupiah yang mereka usahakan?

Bandingkan dengan kita..

Manusia akan diuji dengan beragam cobaan.. Perhatikan hikmah QS.Al-Kahfi. Manusia akan diuji dengan beberapa arah..

Pertama, manusia akan diuji dengan keyakinannya (iman), seberapa kuat dan tahannya ia pada Allah, sebagaimana kuatnya keyakinan para pemuda Ashabul Kahfi yang berpasrah dari kejaran raja yang dzalim kala itu.. Disini akan kita ambil hikmah, akan timbul titik remeh manusia satu kepada manusia yang lainnya. Mereka akan beranggapan imannya lebih sempurna dari yang lainnya, tak sadar ia terjangkiti virus takabbur. Iman kita belum tentu menjamin kemuliaan kita di hadapan Allah. Hayati betul sudah benar atau belum? Ini sangatlah sulit, sangat sulit..

Kedua, manusia akan diuji dengan hartanya, sebagaimana kisah pemilik kebun yang kafir dan sombong. Ia menafikkan karunia Tuhannya. Kemudian Allah membinasakan hartanya. Kita terlalu takabbur, rizki yang sudah ada didepan kita sudah pasti menjadi milik kita, kata siapa? Jikalau Allah tak menghendaki kita mau apa? Pernahkah anda makan, suapan sudah sampai tepat di depan mulut kita, lalu terjatuh.. Itulah rizki yang belum ditakdirkan menjadi rizki kita. Kuasa Allah jauh diatas segalanya. Sadarlah hal itu.. Kekayaan tak menjamin kemulian wajah kita di hadapan Allah..

Ketiga, manusia akan diuji dengan ilmunya, sebagaimana kisah Nabi Musa yang tidak bersabar atas hikmah yang akan diajarkan Allah melalui Nabi Khidr. Nabi Khidr melubangi perahu, membunuh seseorang, kemudian membetulkan dinding yang roboh. Tahukah apa hikmahnya? Ketika nabi Khidr melubangi perahu, ia telah mengetahui bahwa akan ada perampok yang akan merampas harta. Kedua, Nabi Khidr membunuh seseorang? Tahukah apa hikmahnya? Ketika Nabi Khidr membunuh seseorang itu dikarenakan ia adalah seorang kafir, dan Nabi Khidr khawatir pemuda tersebut akan memaksa orang tuanya untuk murtad. Nabi Khidr menginginkan Allah akan menggantinya dengan anak yang sholeh. Terakhir, Nabi Khidr membetulkan dinding yang roboh, apa hikmahnya? Di dalam bangunan yang roboh itu tinggallah anak yang ditinggal mati orang tuanya, dan Allah menginginkan anak tersebut  mengeluarkan harta yang tersimpan yang ditinggalkan oleh orang tuanya kelak jika mereka dewasa. Disini kita petik hikmah pengetahuan juga dapat membinasakan jika kita meninggi, takabbur. Kebanyakan manusia tertipu dengan ilmunya, apa yang mereka ketahui adalah lebih sedikit dibandingkan apa yang mereka tidak tahu. Ilmu Allah sangat luas. Jangan sampai jenjang pendidikan kita memang tinggi, S1, S2, bahkan S3 tapi menutup diri kepada tanda kekuasaan Allah. Ilmu (dunia) tak akan menjamin kemuliaan wajah kita di hadapan Allah jika penggunaannya salah.

Keempat, manusia akan diuji dengan kedudukannya. Didalam QS.Al-Kahfi disebutkan bahwa Raja Zulkarnain menggunakan kekuasaannya untuk melindungi penduduk dari serangan Ya’juj dan Ma’juj, ia membuat pagar pembatas diantara bukit. Raja Zulkarnain mempergunakan kekuasaannya di jalan Allah. Ingatkah kisah Fir’aun, ia beranggapan berkuasa atas manusia, bisa mematikan dan menghidupkan. Ia tidak menggunakan tampuk kekuasaannya di jalan Allah.

“Jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain sampai engkau mengetahui kedudukanmu di akhirat.”

Sebanyak apapun hartamu, setinggi apapun ilmumu, dan seluas apapun kekuasaanmu

It’s so difficult, but we must try..

“Whoever turns away from the remembrance of the Most Merciful, We will appoint for him a devil as his companion”


(QS.[43]:36)

Jumat, 19 Agustus 2016

Orang Hebat yang Dibabat

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Beberapa waktu terakhir ini situasi politik di Indonesia tengah goyah. Bagaimana tidak? Negara kita sedang dilanda ketidakpastian, khusus yang baru-baru ini adalah resuffle cabinet. Tahukah anda? Archandra Tahar, beliau adalah Menteri ESDM yang baru dilantik, serta periode kementriannya hanya berumur 20 hari.  Sosok yang lurus agamanya, jenius luar biasa, akuntabel, strict, tak berpihak pada mafia. Pengalamannya sudah melalang buana, lulusan ITB, seorang peneliti offshore, dan terakhir beliau sempat menjabat sebagai presdir perusahaan besar di Amerika, yaitu Petroneering. Sayangnya, orang hebat ini malah dibabat di negaranya sendiri.

Archandra diibaratkan seperti kertas putih, ditengahnya ada titik kecil noda hitam. Kecil, kecil sekali. Namun itu yang saya rasa tepat untuk menggambarkan sosok beliau. Kecewa rasanya, bagaimana tidak, manusia selalu menilai seseorang dari titik kecil itu, tak “mau tahu” multiple effectnya nantinya. Bagaimana tidak, sosok yang lurus agamanya, menjadi guru ngaji di lingkungannya tinggal, jenius luar biasa, disia-siakan, sedangkan bangsa lain malah berharap kontribusi “otak jeniusnya” Inilah yang Islam butuhkan, sosok seperti ini yang akan menjadikan Islam bangkit. Shidiq, Amanah, Tabligh, apalagi Fathonah nya.. tak diragukan komplitnya hehe..

Indonesia sedang membutuhkan public figure yang lurus agamanya, cemerlang otaknya. Maaf sedikit menyentak, karena penekanan yang dirasa sangat. Indonesia sedang krisis energi, mirisnya sekarang baru mempermasalahkan dwikenegaraan yang melilit Archandra. Sangat disayangkan, mengapa tidak dikaji lebih mendalam sebelum pemilihan dan pelantikannya menjadi Menteri ESDM. Menurut saya masalah itu terkesan tidak adil, Indonesia seolah mempermasalahkan masalah yang sepele (dwikenegaraan) karena Archandra memiliki paspor Amerika Serikat. Tidak sebanding dengan problem solving yang ditawarkan nantinya. Juga, kita nalar saja, seorang yang gajinya sudah kisaran miliaran per bulan, RELA untuk pulang ke Indonesia, yang gaji seorang menteri itu hanya bekisar 40 juta saja. Miris kan kawan? Itulah nasionalisme..

Archandra sosok Idaman. Penuh manuver-manuver jitu. Sangat cocok untuk Indonesia. Beliau menggunakan masa singkatnya menjadi seorang mentri ESDM dengan cukup baik.

Beliau memasukkan agenda revisi UU Migas, sehingga inefisiensi alur perizinan dan bisnis investasi energi dapat dipangkas. Disini mafia pemalak investor energi tidak bisa berkutik lagi.

Beliau memasukkan revisi PP 79/2010. Targetnya, akan berkurang pajak untuk bisnis migas, sehingga investor terpacu berbisnis sektor migas. Jadi, walau pajak menurun, profit share bagi pemerintah meningkat, target produksi yang masuk dalam indicator APBN juga bisa ditingkatkan.

Setelah dilantik, beliau membentuk taskforce blok gas LNG Masela di lepas pantai laut Arafura, Maluku. Hasil revisi PoD (Plan of Development) versi beliau, bisa efisiensi investasi pembangunan blok Masela di darat (onshore) dari sebelumnya bekisar USD 19,3 miliar (253,5 Triliun) menjadi bekisar USD 15 miliar (197 triliun), berarti Indonesia melakukan penghematan sebesar 56,5 Triliun.. sangat signifikan bukan?

Taskforce yang dibentuk memotong banyak negosiasi dan inefisiensi waktu , sehingga PoD dapat dihasilkan tepat waktu, yang berujung percepatan waktu proyek Masela. Hal ini juga memangkas banyak sekali mafia pemalak investor yang menjanjikan kemudahan approval pada tiap tahapan.
Sebagai seorang presdir Petroneering yang terbiasa memperhatikan manpower, accountability, dan business process, ia menemukan indikasi inefisiensi dan penyimpangan di sektor energi.

Ketika Archandra diwawancara oleh wartawan, beliau menuturkan, “Kami mau pencegahan ke depan di kementrian kami dilakukan sejak awal agar lebih baik menangani sektor ini, terutama soal transparansi.”

Aksi “bersih-bersih” beliau ini amat cemerlang. Mafia-mafia itu seperti dijemur di bawah sinar matahari dengan jarak satu hasta. Kepanasan.. Hehe bercanda, biar ndak stress ya kawan.. mafia bingung bagaimana nasibnya nanti..

Bergulirlah dengan kencang masalah dwikenegaraan ini. Kita do’akan semoga Indonesia berhasil membentuk negeri baldatun thayyibatunnya.. pemimpin yang adil, zakatnya orang kaya, do’anya kaum dhuafa, serta do’anya para ulama’.. serta semoga orang-orang hebat (khususnya lurus agamanya) tidak dibabat lagi seperti beliau dan ilmunya dapat bermanfaat bagi kemaslahatan umat Islam.. Aamiin.. Semoga bermanfaat..
(dari berbagai sumber)



Selasa, 19 Juli 2016

Ta’aruf Seumur Hidup


Bismillaahirrahmaanirrahiim..


Beberapa waktu lalu saya lihat di media sosial rata-rata teman-teman muda-mudi saya kompak posting mengenai ta’aruf dan menikah.. kadang sempat terpikir, “Apakah hal ini yang dirasakan muda-mudi usia 20 an ya?” tak sadar di berbagai pertemuan, obrolan-obrolan singkat menggiring pada argumentasi dari kelas ringan sampai berat terkait menikah..

Lucunya lagi, ada meme yang mengundang gelak tawa yang settingnya akhwat yang menyeret seorang ikhwan ke Kantor Urusan Agama (KUA), dengan berbagai macam setting nya menolak dinikahi,  ada yang cuma di PHP-in, ada yang belum kelar skripsi, ada yang belum bekerja, dan malah ada yang sudah menikah dan mau dijadikan yang kedua hehe..

Tak mau kalah, ada yang membuat meme tandingan ikhwan yang menyeret seorang akhwat ke KUA, dengan berbagai alasannya menolak dinikahi, ada yang belum bekerja, belum punya mobil, dan belum punya, belum punya lainnya.. Complete..

Obrolan singkat seputar menikah biasanya mengenai bagaimana kriteria calon ideal, pendidikan, fizikly (ala bahasa Malaysia gitu hehe), restu orang tua, keinginan setelah menikah, rencana pendidikan anak, hobby, ketrampilan, dll nya..

Baiklah.. saya ingin mengulas tulisan di Islampos (bersumber pada tulisan Salim A Fillah) oleh Eva Fatmah, mungkin saja anda tahu beliau ya? Menurut saya beliau ustadz faforit remaja hingga dewasa karena beliau aktif menulis (khususnya) tentang ta’aruf dan menikah.. tapi ndak cuma itu ya kawan, harus di garis bawahi lhoo hehehe..

Di tulisan tersebut diceritakan bahwa ada seorang  ikhwan yang ingin ta’aruf dengan akhwat, sebelumnya ikhwan tersebut telah mengetahui CV/biodata si akhwat. Akhwat tersebut bekerja di apotek sebagai asisten apoteker (AA) yang meracik obat di dalam. Ketika si ikhwan ingin melihat si akhwat, di setting sang ikhwan membeli obat di apotek, momennya sangat singkat karena si akhwatnya bekerja di belakang, dan hanya sebentar ke depan untuk mengantar obat racikannya. Itupun dengan wajah malu-malu (sepertinya dengan menunduk juga)..

“Lihatlah wanita yang akan kau nikahi itu, karena yang demikian lebih mungkin melanggengkan hubungan di antara kalian berdua.” (HR.An-Nasa’a/3235, At-Tirmidzi/1087)

Pertemuan awal belum berhasil, lalu dirancanglah untuk pertemuan kedua. Pertemuan kedua ini baru berhasil, karena meja ruang tamu tersebut terbuat dari kaca, beniiiing sekali..

Dibrondongilah si akhwat itu dengan berbagai pertanyaan, “Visi misi pernikahan menurut Anda?”, “Bagaimana konsep pendidikan anak yang tepat?”, “Apa pandangan Anda tentang istri yang berkarir?”, “Seperti apa proyeksi nafkah nantinya?”, “Bagaimana pendapat Anda tentang homeschooling?”, “Rencana tempat tinggal dan penataannya?” seperti ujian pendadaran hehe..

Yang mengagetkan di tulisan tersebut adalah pengakuan dari akhwat tersebut..

“Maaf, saya tidak bisa masak.”

Si pemuda bergumam dalam hati, “Ya Allah aku kemarin minta yang shalihah dan menshalihkan. Mengingati Ibunda ‘Aisyah, rupanya pandai memasak belum termasuk di situ. Ya Allah apakah Kau menguji kesungguhan kriteriaku?” Lalu dia kuatkan hati, “Tidak apa Ukhti. Di kota ini banyak rumah makan. Murah-murah lagi.”

“Saya juga tidak terbiasa mencuci.”

“Alamak”, batin hati si pemuda. Tapi mengingat hal yang sama, dia berkata lagi, “Tidak apa Ukhti. Di kota ini banyak laundry. Kiloan lagi.”

“Saya bukan mencari tukang masak dan tukang cuci. Melainkan seorang istri. Kalau diperkenankan, saya akan segera menghadap pada Ayah Anda.” Maka hari itu, tanggal lamaran pun ditetapkan pada enam hari kemudian, tepatnya 18 Juli.

Begitu percakan di tulisan tersebut..

Dan ditulisan itu ada pertanyaan yang sangat menarik untuk saya yaitu “Bagaimana ta’aruf yang hakiki?” ternyata jawabannya seperti ini kawan..

Ta’aruf itu seumur hidup. Sebab manusia adalah makhluk penuh dinamika. Dia sedetik lalu takkan persis serupa dengan kini adanya. Ta’aruf itu seumur hidup. Sebab kenal sejati adalah saat bergandengtangan dalam surgaNya.

Dua belas tahun berta’aruf, pemuda itu masih terus belajar mengenal istrinya. Dan selalu ada kejutan ketika prasangka baik dikedepankan. Misalnya, si dia yang mengaku tak bisa memasak itu, pada HUT RI ke-60 setahun kemudian, menjadi juara lomba masak Agustusan. Tingkat RT. Lumayan bukan?

Kisah romantis teman saya yang tak kalah menginspirasi yaitu ketika sang suami berkata pada istrinya, “Mengapa Allah tampakkan kekuranganmu dihadapanku?” sang istri mulai bersedih, ia khawatir jika suaminya tidak menyukainya lagi..

Dan apakah jawaban sang suami? “Jangan bersedih, Allah menampakkan kekuranganmu di hadapanku, dan menampakkan kekuranganku di hadapanmu, bukan karena aku kecewa terhadapmu, supaya apa? Supaya kita tahu bahwa hanyalah Allah Yang Maha Sempurna, supaya kita hanya cinta pada-Nya, dan kita dipersatukan karena cinta kita kepada Allah..” 

Sang istri kemudian memeluk erat suaminya dengan air mata bahagia..

Satu lagi, gombal manis nan romantis Siti Fatimah kepada Ali bin Abi Thalib..

“Maafkan aku jika sebelum menikah denganmu, aku telah jatuh cinta kepada seorang pemuda.”

(Ali mulai bersedih mendengar pernyataan itu)

“Lalu mengapa kau mau menikahiku?”

“Tahukah kau, pemuda itu adalah engkau..”


Eaaaaa.. pasti guling-guling bahagia...Rayakan cinta dengan yang halal.. semoga bermanfaat.. J

Sendiri


Bismillaahirrahmaanirrahiim..

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus."

(QS.Al-Bayyinah:5)

Pernah saya membaca nasihat yang menarik tentang ikhlas dan sabar, seperti ini "bukan ikhlas jika masih ada rasa sakit, dan bukan sabar jika ada batasnya." Nasihat itu seketika membuat diri terhempas.. jauh.. mana ada orang yang ikhlas, coba anda ditendang, dipukul, dikeroyok beramai-ramai? Apakah anda akan membalasnya? Maybe yes, maybe no. Pernah juga anda memberikan sesuatu kepada orang lain, apakah yang anda harapkan? ingin didengar? dilihat? atau disanjung? Maybe yes, maybe no. Semua tergantung hati manusia.

"Hati ibarat raja, sedangkan anggota badan adalah pasukannya. Apabila baik rajanya maka baik pula pasukannya, apabila buruk rajanya maka buruk pula pasukannya."

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).” HR.Bukhori

Itulah hati.. Unik bukan?

Namun perlu kita ingat kawan, iman kita kadang naik, kadang turun. Kadang ingat, kadang alpha. Jika suatu saat timbul rasa aneh didalam hati, membuat gelisah, membuat takut, membuat khawatir, membuat kotor. Itulah indikasi hati kita mulai aneh pada Allah juga. Saya pun tidak memungkiri pernah mengalami hal tersebut. Tersiksa? Jangan tanya.. pasti iya!

Dosa adalah candu. Canduu yang ingin diulang terus-menerus, lagi dan lagi, tak pernah kenyang.. dan itu harus diakhiri, dan prosesnya sangatlah sulit, sangat sulit. Ibarat merehabilitasi korban NAPZA, perlu waktu dan tenaga yang kuat. Tekad yang kuat dari pelakunya.

Namun ingatlah..

Ketika kau sedang sendiri, sedang sakit, ada masalah, dalam situasi genting sekali..
Orang terdekatmu pun tak ada, sahabat karib, dosen, boss, atau orang yang selalu menari-nari dibenakmu ketika kau telah tumbuh dewasa..

Apakah mereka bersamamu?

Coba pikir.. Siapa yang ada? Adakah orang yang kau harapkan pujiannya ketika kau beri sesuatu yang akan datang merawatmu? Apakah mereka yang tertawa riang bersamamu ketika berkumpul? Ataukah mereka yang selalu kau ceritakan pada setiap orang dengan bangganya?

Saat kau sendiri.. tahukah kau? Kau hanya bersama Allah mu kawan, dzat yang sering kita lupakan di kala kita kejatuhan nikmat, dzat yang sangat romantis denganmu, ya.. Ia ingin bersamamu, berdua saja, tak ada yang mengganggu. Kau bisa tumpahkan seluruh air matamu, segala peluhmu, segala deritamu.

Betapa romantisnya Ia, Ia tuliskan asmanya yang indah di tanganmu, mata untuk melihat indahnya cinta-Nya, telinga untuk mendengar bait-bait nama-Nya, mulut manis mengucap asma-Nya..
Saat kau sendiri, saat kau bersama-Nya, kau akan tahu posisimu di hadapan-Nya, begitu hina, begitu banyak bintik-bintik noda bertambah di relung hatimu..

Saat itu, terasa sekali mengapa kita duakan Ia dengan suatu yang lain. Amat menyakitkan, amat tak adil, bagaimana tidak? Dikala teman yang kita harapkan hadirnya, namun hanya ada Ia saja. Ketika kita hujan nikmat kita meninggalkannya. Belum lagi penyakit hati yang sangat bermacam-macam menduakan keesaan-Nya. Apakah Ia meninggalkan kita? tidak bukan? tangan-Nya terbuka lebar, menerima kita, mengampuni kita, memeluk kita dalam kasih sayang-Nya, memberi kita rahmat, hikmah yang sangat indah dari masalah kita. Bukankah kita mendapatkan yang berlapis-lapis? Iya..

Saat kita mengeluh dan mengeluh, saat itu kita belum bisa membaca rencana-Nya, saat kita dapat menerima ketentuan-Nya, kita bahkan bisa tersenyum-senyum sendiri seperti anak kecil yang mendapat permen karena rencana-Nya buat kita yang sangaaaat indah dan spesial.. Pernah seperti itu? hehe

Ia hanya ingin hatimu untuk-Nya, dalam QS.Al-Kahfi:110

Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa." Barangsiapa mengharap perjumpaan denganTuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya."


Aku dan kamu bisa kawan.. semoga bermanfaat